Semesta 2

Semesta 2
Answr


__ADS_3

Akbar menghela nafasnya, di bawah meja terlihat lengannya yang mengepala dengan kuat.


Indah, ia berusaha menghabiskan makanannya dan mengabaikan semua hal yang di lakukan Akbar.


“Kamu tahu? Setelah malam itu aku ngga pernah bisa tidur dengan tenang.”


“Setiap hari, pertanyaan-pertanyaan baru terus muncul di kepalaku.”


“Apa keputusan yang aku ambil itu benar? Apa mungkin dengan keputusan itu kamu hidup baik-baik saja dan sesuai dengan apa yang aku rencanakan?” Akbar terus mengatakan apa yang ingin di sampaikan nya, tatapan matanya terus menatap ke arah Indah.


Tring


Indah meletakkan sendok miliknya di atas piring, mengakhiri sesi makan malamnya.


Selanjutnya pandangannya beralih, menatap ke arah jengdela.


Apa yang Akbar katakan menimbulkan rasa sesak yang menyerang dadanya.


Ia tidak mengerti kenapa Akbar membicarakan hal yang sudah berlalu, sebanyak apapun hal yang ingin di katakan nya. Tetap tidak akan mengubah perasaan Indah terhadapnya.


“Jika itu benar, kenapa rasanya masih ada yang mengganjal?”


“Rasanya, seperti aku melakukan kesalahan yang sangat besar dan kesalahan itu membuat aku sangat menderita, bahkan untuk bernafas pun rasanya sangat sulit” lanjut Akbar terengah-engah.


“Huh” helaan nafas berat keluar dari mulut Indah. Saat ini, rasanya ia ingin segera pergi.


Akbar kembali mengumpulkan keberaniannya.


“Sampai satu hari, sore di musim dingin.” Lanjut Akbar bercerita, kali ini terlihat ia memejamkan kedua matanya. Mengingat sebuah hal mustahil, yang menjadi kenangan indah untuknya.


“Di depan sungai aare, aku melihat kamu."


"Kamu juga, lihat aku kan ndah? kita juga lakuin kontak mata" ujar Akbar bercerita penuh semangat.


Indah berdecak kesal, mendengar hal gila yang Akbar sampaikan kepadanya.


“Rasanya seperti mimpi”


“Di tengah keputusasaan yang aku miliki saat itu, entah kenapa sosok kamu hadir begitu saja”


Semua ingatan yang di miliki nya saat itu, terasa begitu nyata.


Bola mata Akbar bergerak mengikuti pergerakan Indah yang beranjak dari tempatnya.


“Emang gabisa ya? Kalau lo makan aja dengan tenang, ngga usah bicara ngelantur” ucap Indah, kesal.


Lengannya bergerak, mengambil paper bag yang berada di sisi kiri kursinya.


“Jangan salah paham, gue ngelakuin ini karena tugas gue sebagai dokter” timpal Indah sambil berancang-ancang meninggalkan tempatnya.


“Kalau gitu, kenapa ngga langsung pulang aja?” tanya Akbar membalikkan keadaan.


“Emang harus ya nungguin sampe nyiapin makan segala?” lanjutnya menambahkan.


Lengan Indah mengepal kuat, menahan rasa marah atas sikap tak tahu diri yang Akbar buat.


“Seharusnya, kamu biarin ja aku mati” lanjut Akbar.


Indah berdecak kesal, merasa terganggu dengan ucapan yang Akbar berikan kepadanya.


“Lo pikir gue mau ngelakuin ini?” ujar Indah balik bertanya.


"Seandainya Jenny ngga titipin lo, udah pasti gue balik duluan bar” lanjutnya memberi alasan yang sebenrnya.


“Lo tahu kalau sesuatu terjadi ke elo.


Masalah gue akan bertambah lebih banyak, Jenny pasti akan nyalahin gue atas apa yang terjadi. Bukan Cuma itu, dia pasti laporin gue.”

__ADS_1


“Ujungnya, semua hal yang udah gue perjuangin sampai saat ini. Akan sia-sia hanya karena manusia kayak lo”


Akbar terdiam, ternyata selama ini ia hanya salah paham saja.


Trek


Akbar beranjak, mengikuti Indah.


Lengannya menghadang pintu, menahan Indah agar kembali masuk dan tetap mau berbicara dengannya.


Indah menatap tajam ke arah Akbar.


“Berhenti bar” ujar Indah, memperingatkan.


“Aku antar yah” dengan suara yang terdengar lembut Akbar menawarkan diri untuk mengantar perempuan itu pulang.


“Aaah” suara Indah terus berdecak kesal. Ia tak tahu harus berbicara dengan bagaimana, agar Akbar bisa mengerti arti ucapan Indah.


“Oh ya, dan soal keputusan lo waktu itu. Itu udah benar bar. Gue bisa hidup baik -baik aja, bahkan tanpa manusia kayak lo. Jadi, sebaiknya sekarang lo balik ke rencana awal yang udah lo buat. Dan, berhenti mengusik kehidupan gue!” tukas Indah.


“Awas” perintah Indah, meminta Akbar menurunkan lengannya dari pintu.


Akbar tak bergeming, ia masih tetap berada di posisinya.


Akbar menelan ludahnya, memasahi tenggorokan yang terasa kering. Tatapan yang Indah berikan terasa semakin tajam dan menusuk ke arahnya


.


“Semudah itu, kamu lupain tentang aku Ndah?” tanya Akbar, mengungkapkan perasaannya.


Indah mengalihkan pandangannya, ia benar-benar muak melihat sikap Akbar yang ke kanak-kanakan seperti ini.


“Iya, termasuk hari ini”


“Gue bakal lupain kejadian dan apapun perkataan yang lo ucapin tadi” tukas Indah.


Dengan langkah tegas Indah meninggalkan apartemen yang Akbar tempati.


Sementara tubuh pria itu mematung, tak bisa berkutik dengan apapun yang di ucapkan Indah.


Semua perkataan yang Indah ucapkan terasa melukai hatinya, namun entah kenapa ia masih ingin terus berbicara dengan Indah lagi.


***


Bola mata Indah menatap ke bawah, memperhatikan kakinya yang bergerak-gerak di atas tanah. Setelah percakapannya dengan Akbar terjadi. Memori tentang keduanya kembali naik ke atas permukaan. Membuat luka lama terulang kembali dan saat ini Indah tidak tahu harus mengendalikan perasaannya seperti apa.


Rasanya setiap hari semakin rumit.


Ckitttt


Sebuah taxi berhenti di hadapan Indah.


Lengan Indah bergerak membuka pintu belakang, lalu kaki kanannya bergerak membawa tubuhnya masuk ke dalam taxi.


Bug


Mata Indah membelalak, melihat Akbar yang masuk mengikutinya.


“Jalan pak, ke raksa kafe"


“Isshh” Indah berdecak kesal.


Akbar mengeluarkan ponselnya, menulis sesuatu. Kemudian menunjukkannya kepada Indah.


“Aku hanya akan mengantar” tulisan itu bergerak ke pinggir di layar ponsel Akbar.


Indah mengerti ia memalingkan pandangannya ke arah jendela sebelah kanan mobil. Enggan melihat, Akbar lebih lama lagi.

__ADS_1


Mobil itu melaju, dengan keheningan yang berada di dalamnya.


***


Tiga puluh menit berlalu.


Taxi berhenti tepat di depan kafe Indah.


Indah berjalan keluar, setelah menyerahkan kartu untuk membayar argo taxi miliknya.


“Sebentar pak, nanti antar saya ke tempat yang tadi”


“Baik”


Akbar berjalan keluar dari dalam mobil.


“indah” panggilnya, menghentikan langkah kaki perempuan itu.


Indah berbalik.


“Apa lagi?” balas Indah


“Sebentar” ujar Akbar meminta lebih banyak waktu.


Perlahan tubuhnya mendekat ke arah Indah.


“Berhenti” ucap Indah, menghentikan langkah Akbar untuk memberi jarak di antara keduanya.


“Bicara dari sana saja” tambahnya.


Akbar mengiyakan, menuruti perkataan Indah.


“Soal tadi, aku minta maaf” ujarnya.


“Terus?” tanya Indah.


“Aku tahu aku kehilangan kendali dan terlalu banyak omong kosong” lanjut Akbar.


Indah mengangguk, mengiyakan.


“Terlepas apapun alasan kamu tadi”


“Aku Cuma mau bilang, makasih. Karena kamu udah selalu nepatin janji kamu buat bantu ngobatin semua lukaku, dan buat aku pulih lebih awal” ucap Akbar menjelaskan.


Kali ini, tak ada sanggahan dari perempuan itu.


Ia hanya terdiamx dengan pandangan yang memperhatikan tubuh Akbar yang perlahan meninggalkannya.


Indah menghela nafasnya.


Tring


Indah berjalan memasuki, kafe miliknya.


“Siapa Ndah?”


“Akbar? Kenapa ngga mampir?” tanya Icha.


“Huh” Indah menghela nafas kasar.


“Pokonya, nanti mau ada gue atau ngga. Kalau dia datang, usir aja!” ujar Indah memberi perintah dengan tegas.


Icha terdiam, mendengar perkataan Indah yang terdengan kasar untuknya.


Ucapan itu jelas, mengundang perhatian dari para tamu kafe.


Semua energi yang di miliki nya terasa terkuras habis, sehingga apapun ucapan yang di dengarnya benar-benar membuat Indah muak.

__ADS_1


__ADS_2