Semesta 2

Semesta 2
Props


__ADS_3

Tring


Indah meletakkan nampan, dia tas meja. Lalu, dududk berdampingan dengan Vio salah satu temannya. Dari sepuluh menit yang lalu Vio menunggu ke datangan Indah. untuk menikamati jamuan makan siang bersama.


"Abis ini mau kemana Ndah?" tanya Vio, menanyakan tujuan Indah.


"langsung pulang" balas Indah singkat.


"Serius, ngga kemana-mana?" tanya VIo, memastikan.


Indah mengangguk, mengiyakan.


"Mau ngga temenin gue ngemall? Lumayan, mumpung pulang sang kita" ajak Vio.


Indah terdiam, ia tak yakin bi bepergian dalam keadaan seperti ini. Seluruh badanya terasa sakit dan ia perlu berisitirahat. Namun sebagai peole pleaser, Sulit untuk Indah menolak ajakan Vio, Kepadanya.


"Lama nggak?" Indah mengajukan pertanyaannya, agar ia bisa memiliki waktu untuk berfikir lagi.


"Nggak kok, benataran aja" balas Vio.


Tak lama setelahnya, kepala INdah mengangguk, mengiyakan ajakan VIo.


Bola matanya bergerak mengelilingi setiap sudut kantin yang terlihat sepi.


"Kemana dia?" tanya Indha dalam hatinya, mempertanyakan keberadaan Akbar.


sikap dingin yang Akbar berikan kepadanya. Tanpa sadar, membuat perempuan itu mengkhawatirkannya.


Biasanya, ia tak pernah absen menikmati setiap makanana di kantin.


"Lo nya ri siapa, Ndah?" tanya Vio, menyadari pergerakan yang Indah buat.


Indah menggeleng, tak menjawab pertanyaan yang VIo berikan kepadanya.


kepala Indah menunduk, memperhatikan piring mannya yang menyisakan setengah porsi makanannya.


"Anton?" tanya VIo, menyimpulkan.


"Nggak" Elak Indah.


"Kenapa VIo bisa berfikir seperti itu. APa kedekatannya dengan Anton terlihat begtu jelas?' tanya Indah daldam hatinya.


"Apa jangan-jangan hal itu juga yng buat Akbar ngejauh?" Indah terus berbicara kepada dirinya sendiri.


"Orang-orang pada kemana, tumben sepi" ujar Indah. mengatakan sebuah kalimat yang sejak tadi berada di ujung lidahnya.


"Lo nggak tahu Ndah? Hari ini kan rapat bulanan RS. Para atasan, pemilik saham, staff juga ikut"

__ADS_1


"Cuma, tenaga medis aja yang ngga. Sama seperti biasanya kta cuman bakal dengar hasil rapatnya aja" ucap Vio menjelaskan.


Indah mengangguk, mengerti.


mendengar penjelasan yang Vio berikan, Kembali membuat Indah mengkhawatirkan AKbar.


"Bagaimana keadaannya? apa IA bisa mengatasinya? bukankah ini pertama kalinya Akbar berhadapan dengan banyak orang?" tanya INdah dalam hatinya.


"PTSD kamu, udah sembuh bar?" gumam Indh, mempertanyakan kesehatan mental AKbar.


"Gangguan panik yang kamu miliki, udah bisa kamu atasi?" tanyanya, lagi.


###


16.00 wib


Rapat sedang berlangsung di sebuah ruang auditorium. RApat kaliini berlangsung lebih lama, beda dari biasanya.


sudah enam jam berlalu.


Namun, belum semua hal di bahs hingga rmpung.


Akbar ia duuk berdampingan dengan TAa yang duduk di bagian Center, di sebelah kirinya terlihat Adjie ayah Anton ikut hadir, Berjajaran dengan para wakil direktur lainnya, sekertaris juga bagian Bendahara.


Di baris ke dua hingga keempat diisi oleh para pemegang saham. Dan di bagian baris tengah hingga belakang terlihat para Staff datang untuk memberi saran, kritik dan mengawal jalannya agenda hari ini.


Akbar bergerak, mendekati tubuh TAma, lalu berbisik.


"Ada yang ingin saya sampaikan" ujar Akbar, mengatakan keinginannya.


Tama mengangguk, mengiyakan.


"Bisa saya mengatakannya, disini?" lanjut Akbar meminta sebuah perijinan.


"Kami berharap dengan adanya ecvaluasi dari rapat ini. Bisa memberikan perkembangan yang lebih baik ke arah yang positif." ujar Mardi, ia bernecana mengakhiri agenda hari ini.


Ucapan Mardi terhenti, pandanganny terytuju ke arah Tama yang memberi isyarat kepadanya. LAlu, lengan pria itu terliht menunjuk ke arah Akbar.


Dengan satu gerakan, Mardi mengerti dengan arahan yang Tama berikan kepadanya.


"Terakhir, mari kita dengar sapaan dari pak Akbar selaku Wakil Direktur baru di Rumah Sakit Motekar ini" ujar Mardi, mempersilahkan Akbar.


Mendengar hal itu, membuat kepala Adjie menoleh menatap ke arah Tama, ayahnya.


"ejak kapan ada WaDir baru di rumah sakitnya? Kenapa ia tak megetahui tentang hal apapun yang terjadi ?" tanya Tama dalam hatinya.


'"Siapa dia? pa berasal dari tempat yang sama?" tanya Adjie, berbisik kepada Tama. Menanyakan asal Akbar, Untuk mempercayainya, Adjie perlu mengetahui asal usul anak itu. Koneksi dan uang seberapa besar yang AKbar miliki. Sehngga, ia bisa menepati posisi itu.

__ADS_1


Dari sorot matanya, terlihat begitu jelas bahwa Adjie benar-benar tidak mengenali Akbar.


"Dia AKbar, putra Dharma pemilik Shakti Grup saat ini" jawab Tama menjelaskan, Sejak peninggalan Shakti semua aset yang i miliki jatuh secara mutlak ke lengan Dharma, putra semata wayangnya.


Dahi Ajdie mengerut dengan mulutnya yang terbuka ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Shakti Grup, bukan kah itu saingan utama dari perusahaannya." gumam Adjie. Terlepas dari persahabata yang terjalin oleh Shakti dan Tama, Bisnis tetaplah bisnis.


Keduanya mempunyai peran penting di perusahaan ang sama-sama bergerak di bidang kesehatan.


"Lantas kenapa calon pewaris utama, mau kerja di tempat ini?" pertanyaan lain uncul di kepalanya, mempertanyakan keberadaan Akbar di daerah kekuasaan miliknya.


"Bukankah ini, hanya strategi yang Dharma buat. Kenapa ayah begitu bodoh mau menerima anak itu?" pertanyaan baru terus muncul di benaknya. Menguasai perasaan dan pikiran Adjie.


***


Sudut bibir Indah tersenyum, melihat tingkah random yang VIo berikan.


Lengan kirinya terlihat mengendalikan setir mobil, sementara lengan kanannya terlihat memcua keluar dari jendela mobil. Melambai--lambai, menyapa Indah.


"Lets Go, Ndah" Ajak Vio, bersemangat.


Ia menghentikan mobilnya tepat di hadapan Indah, mengajak perempuan itu agar segera naik ke mobilnya.


Indah berjalan, menuju pintu penumpang. Duduk di bagian depan berdampingan dengan Vio.


Tap


Vio menyerahkan sebuah kacamata hitam kepada Indah.


Indah menaikkan sebelah alisnya, mempertanyakan tindakkan yang temannya berikan.


"Pake, biar ga silau" ucap Vio, memberi saran.


TIdak, sebenarnya itu bukan alasan yang tepat. Vio sengaja memberikan kacamatanya, agar lingkaran hiam yang berada di bawah mata Indah bisa tertutupi.


Selain itu, ia juga sengaja mengajak Indah bepergian. Agar perempuan itu bisa melepas penatnya. Dnegan itu, ia harap semangat yang Indah bawa di tahun pertamanya bia ia bawa kembali.


Dua bulan terakhir, Indah menunjukkan sisi yang tak di kenalnya. Entah kenapa, perempuan itu terlihat lebih iam dan berusaha menutupi dirinya. Memasang tembok yang sanagat kuat hingga sulit untuk Vio bisa memasukinya.


Nasib, kurang baik yang di terima Indah. Membuat hati Vio tergerak dan ingin lebih dekat dengannya.


Tanpa sengaja, ia mengetahui hal-hal yang berusaha Indah tutupi.


Bekerja sebagai residen saja sudah tersa sulit dan cukup menguras tenaga fisik maupun mentalnya. Apalagi dengan Indah, ia harus kembali menerima keberadaan ayahnya, keadaan sulit yang mengharuskan ia menjual mobilnya dan hal-hal lain yang terus menghimpitnya.


Kehidupan yang di jalani Indah terasa menyekik dan menyesakkannya..

__ADS_1


.


__ADS_2