
Keesokan harinya.
17.00 wib
Langkah Akbar bejalan melewati lorong, lengan kirinya terlihat menenteng tas, sementara kepalanya menunduk menatap ke arah ponsel yang di genggam lengan kanannya.
Tap
Akbar menghentikan langkahnya di depan lift, lengannya bergerak memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
tring
Pintu lift terbuka.
Pandangan Akbar terhenti, tertuju ke arah seseorang yang muncul di balik pintu lift. Perempuan itu terlihat begitu cantik, meskipun hanya bagian mata dan dahinya yang terlihat.
Cahaya yang tersorot dari matanya yang berbinar berhasil masuk ke dalam hati Akbar dan membuatnya berdebar kencang.
“Akbar” panggil Mardi berteriak memanggil Akbar.
Akbar menoleh, ia melihat mardi yang berada di belakangnya dengan jarak kurang dari lima meter dari tempatnya.
“Bisa bicara sebentar?” tanya Mardi.
Akbar mengangguk, mengiyakan.
ia melangkahkan kakinya berjalan menghampiri Mardi, dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift.
Dahi Indah mengernyit melihat Akbar yang pergi begitu saja meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. jangankan kata, ia pergi tanpa melihat ke arahnya.
Tap
jari Indah menekan tombol, menutup pintu lift. diiringi helaan nafas setelahnya.
###
Lampu lalu lintas terlihat menyala berwarna merah, memberi tahu agar para pengendara berhenti sebelum garis berwarna putih dan membiarkan kendaraan dari arah lain lewat secara bergantian.
Kepala Akbar menoleh ke sebelah kiri.
Pandangannya kembali tertuju setelah melihat Indah yang tengah duduk di halte bus.
“Apa benar, aku Cuma bawa penderitaan buat kamu?” pertanyaan itu terlintas di kepalanya.
Dari dalam mobilnya, Akbar memperhatikan Indah.
hati kecilnya, sangat ingin memberi tumpangan untuk Indah. Tapi, ada hal lain yang menahannya.
perbincangannya dengan Icha dua hari lalu masih terekam jelas dalam memorinya.
Flashback dua malam yang lalu.
“Gue tahu semuanya” tegas Icha.
“Dan karena itu gue ngga bisa biarin shabat gue menderita lagi” lanjut Icha.
Kali ini tak terdengar elakan yang Akbar keluarkan dari mulutnya. Ia hanya terus mengeluarkan ******* nafas yang memiliki arti yang beragam.
__ADS_1
“Jangan mempersulit Indah, gue mohon” Icha kembali melanjutkan ucapannya.
“Keadaan dia lagi ngga baik, dia kesulitan cari cara biar bisa keluar dari setiap masalah yang datang ke hidupnya. dan jangan lo tambahin lagi bar”
“Lo ngga tahu hal rumit apa yang coba dia selesain” terus Icha.
Akbar menatap sayu kea rah perempuan itu.
“Maka dari itu gue butuh lo. Kasih tahu semua hal yang gue ngga tahu” gumam Akbar dalam hatinya.
“Dan lo ngga perlu tahu juga. karena, itu ngga akan merubah apapun” tegas Icha mengakhiri kalimatnya.
####
Indah berjalan menuruni bus.
kali ini rute yang ia pilih untuk jalan pulang nya sedikit berbeda. Indah sengaja menyempatkan pulang ke apartemen agar bisa memeriksa keadaan ayahnya.
Tap
Indah menghentikan langkahnya, tepat di depan pintu.
Tak lama kemudian terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut Indah.
Ia berdiam sejenak, mencoba mengumpulkan keberaniannya.
krek
Indah membuka pintu.
Hening, tak ada balasan salam yang terdengar dari dalam.
namun Indah tak bisa melihat sosok Atma di rumahnya.
“Kemana dia?” tanya Indah dalam hatinya.
Indah terus beralan mengarahkan tubuhnya ke kamar.
“Disini juga ngga ada” ujar Indah setelah melihat ke dalam kamarnya.
Kamar milik Indah terlihat masih rapi. sama, seperti saat ia meninggalkannya. Apakah itu berarti Atma tidak pernah memasuki kamarnya? pikir Indah.
Tap
Indah kembali menutup pintu kamar.
Berbeda dengan kamarnya, bagian dapur dan ruang tengah apartemen terlihat berantakan.
Dengan cepat Indah bergegas merapihkan rumahnya melupakan rasa lelah yang menyerang tubuhnya.
Tak hanya itu, setelah berganti baju Indah juga terlihat menyiapkan makan malam untuk Atma.
Ia memasak dengan bahan-bahan yang di belinya di mini market tadi. Telur gulung dan sayur sop Indah memasak kedua hidangan itu, makanan yang terliha sederhana namun mampu menggugah nafsu makan siapapun yang melihatnya.
Indah duduk di kursi meja makan, menunggu Atma, agar bisa makan bersama.
Sudah pukul delapan malam. Namun, pria paruh baya itu belum terlihat.
__ADS_1
Ada rasa khawatir yang menyelimuti hati Indah. namun ia tak bisa melakukan apa-apa karena tidak memiliki nomor ponsel Atma.
trek
Pintu terbuka.
Indah beranjak dari tempatnya, berdiri dua meter dari pintu.
Rasa bahagia yang menyelimuti hati Indah pudar dalam hitungan detik. Senyum yang mengembang terlihat menurun dari sudut bibirnya.
Kilatan petir terasa menyengat tepat ke dalam hatinya.
Kepercayaannya hilang, ia tak tahu harus bereaksi apa.
Atma berdiri di depan pintu, tubuhnya terlihat begitu sehat dan bugar. Kedua lengannya di penuhi dengan barang belanjaan.
“Bisa membeli semua ini dari mana?” tanya Indah dalam hatinya.
“Bukankah semua aset miliknya sudah di sita bank?” lanjutnya bertanya kepada dirinya sendiri.
Atma mematung, tak bisa memberi penjelasan apapun kepada Indah.
Indah memutar tubuhnya, kakinya melangkah dengan cepat memasuki kamarnya.
kurang dari satu menit ia kembali dengan lengan yang menenteng tasnya.
bruk
Atma melepaskan barang belanjaannya di lantai. Ia mengambil langkah besar mencoba memperdekat jaraknya dengan Indah.
“Kamu mau kemana?” tanya Atma menahan putrinya.
Indah menghentikan langkahnya, kedua lengannya mencoba menepis lengan Atma dari tubuhnya.
“Sepertinya keadaan ayah sudah membaik” ucap Indah suaranya terdengar bergetar. Matanya berkaca-kaca, cairan bening menumpuk di sudut matanya.
“Tunggu dulu, ayah bisa jelaskan” ujar Atma.
Indah menggeleng, saat ini ia tak bisa menerima penjelasan atau pembelaan diri dari ayahnya.
“Meskipun begitu. mari lakukan pemerikasaan sekali lagi” ucap Indah, mengajak Atma untuk kembali memeriksa kondisinya.
“Senin sore, Indah tunggu di rs” timpal Indah sebelum mengakhiri kalimatnya.
Ia melangkahkan kakinya dengan cepat pergi meninggalkan Atma di apartemennya. ia tak bisa berdiam diri lebih lama di tempat itu.
Ia senang bisa melihat ayah nya hidup dengan baik. Bahkan, ia bisa membeli barang-barang yang ingin di milikinya sejak dulu. Namun, ada satu hal yang mengusik hati Indah.
"Dari mana ia bisa menerima semua barang itu? apa yang sebenarnya di lakukan ayah?"
Indah kembali menaiki bus. Kali ini ia tak tahu harus pergi kemana, tak ada tempat yang bisa di jadikan pelariannya.
Pulang ke kafe? sepertinya bukan hal yang tepat. Ia tidak ingin terus menambah beban untuk Icha, ia sudah terikat dengan sebuah pernikahan yang tentu saja bukan suatu hal yang mudah.
Lengan Indah bergerak memasangkan earphone di telinganya. Dengan cara itu, Indah berusaha menenangkan gemuruh yang terdengar di telinganya.
Indah tak bisa menahannya lagi, air mata yang sejak tadi menumpuk di pelupuk matanya. Lengannya bergerak mengusap pipi yang basah karena air matanya.
__ADS_1
Kepalanya menunduk, mencoba bersembunyi dari banyaknya orang, Di dalam hatinya terdengar suara rintihan yang terus keluar dari hati kecilnya.