Semesta 2

Semesta 2
Way


__ADS_3

10.00 pagi


trek


pintu kafe terbuka.


“Lo udah bangun Ndah?” tanya Icha berdiri di ambang pintu.


Indah mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang Icha berikan.


Serapih mungkin ia berusaha menyembunyikan kesedihan yang tengah menyelimuti hatinya dari Icha.


Sekeras apapun keadaan menyerangnya. Dunia terus berputar, hari tetap berganti dan detik jarum jam terus berdetak tanpa terlambat.


Membuat Indah harus terus mengesampingkan apa yang tengah di rasakannya.


“Ayo, sarapan bareng” ajak Indah.


“Fadly mana?” lanjutnya, bertanya.


“Masih di luar, bentar lagi sampe”


####


Akbar memarkinkan foodtruck miliknya, di depan sebuah gedung pusat perbelanjaan. Di waktu yang sama di jalan utama terlihat orang-orang berlalu lalang menikmati akhir pekannya.


Sudah menjadi kebiasaan di hari minggu jalan ini di tutup dan diperbolehkan untuk di gunakan jalan santai maupun bersepeda.


Sudut bibir akbar terangkat, ia merasa puas karena memilih tempat yang tepat untuk memulai berjualan.


Lengan Akbar terangkat, melambai menyapa kehadiran Jenny yang datang untuk membantunya.


Sama seperti akbar, jenny juga mengenakan kaos seragam berwarna merah yang beberapa hari lalu Akbar berikan kepadanya.


Melebihi Akbar, Jenny merasa lebih antusias. Ini, sebuah hal yang tidak pernah terpikir bisa di lakukan olehnya. Selama ini kebutuhannya sudah bisa terpenuhi, sehingga ia tidak mempunyai alasan untuk melangkah keluar dari zona nyamannya.


Namun, berkat kehadiran Akbar, Jenny bisa mencoba lebih banyak hal.


“Ayo bar” ujar Jenny mengajak Akbar masuk ke dalam foodtruck.


Akbar mengikutinya, di dalam truck terlihat Defa yang tengah menyiapkan bahan-bahan dan meletakkannya sesuai dengan tempat yang sudah di beri nama oleh Akbar.


“Nih, selamat” ujar Jenny memberikan sebuah kue ke arah Akbar.


“Makasih jen” balas Akbar antusias.


Lengannya bergerak menepuk bahu Defa agar ikut bergabung.


“Semoga hari ini berjalan dengan lancar, orang-orang suka makanannya”


“Dan kita di berikan kesehatan agar terus bisa melanjutkan usaha ini” ucap Jenny memimpin doa yang diikuti harapannya.


“Aamiin” balas Akbar dan Defa bersamaan, mengamini ucapan Jenny.


***

__ADS_1


“Cha” panggil Indah, meminta ia menemuinya.


Icha tengah berada di dapur bersama Fadly dan putrinya. Mendengar panggilan dari Indah membuat Icha menoleh, lengannya bergerak menyerahkan mangkuk ke lengan Fadly. Meminta laki-laki itu untuk menyuapi Dira, putrinya.


“Kenapa?” tanya Icha, dengan langkah yang berjalan menghampiri Indah.


“Duduk” ujar Indah, memintanya.


Icha menuruti, permintaan Indah. ia duduk berhadapan denganpria itu.


tap


Indah meletakkan tiga amplop putih di meja.


icha mengernyitkan dahinya, tak mengerti.


“Udah akhir bulan kan yah?” tanya Indah.


“Sorry, gue telat banget kan Cha” lanjut Indah kembali bertanya.


Icha menggeleng, justru kali ini lebih awal dari biasanya.


“Ini punya lo” ujar Indah lengannya menunjuk ke salah satu amplop.


“Yang ini buat Fadly” lanjut Indah menunjuk ke arah amplop di sebelahnya.


Selanjutnya, pandangan Icha tertuju ke sebuah Amplop yang muncul di bawah amplopnya.


“Itu buat Dira” ujar Indah, menyebut nama putri Icha.


“Ih apaan sih ndah? ngga perlu tahu”


“Gaji kita berdua aja udah lebih dari cukup!” tegas Icha menolak pemberian dari sahabatnya.


“Udah terima aja” ucap Indah memohon.


“Sorry banget Cha gue selalu ngerepotin kalian berdua” ujar Indah meminta maaf.


“Nggaklah, lagian berkat lo kita bisa kerja barengan gini” sanggah Icha. Lengannya bergerak mengusap bagian punggung lengan Indah.


Ia bersyukur, karena dengan ini hubunganya dengan Indah masih dekat. Ia tak perlu merasa khawatir karena bisa mengetahui hal-hal yang terjadi kepada Indah.


##


Akbar merapihkan headband yang ia pasang di kepalanya. Ia sengaja memakai itu agar rambutnya tidak mengganggunya.


Lengannya kembali bergerak memasangkan celemek di tubuhnya.


Seperti dengan yang di rencanakannya, Di hari minggu pagi ia akan menjual beragam menu sandwich. Semua yang ia jual berasal dari resepnya sendiri dan menu ini tiga teratas dari sandwich yang sesuai dengan selera dan gayanya.


“Bar lihat sini” ucap Jenny.


Akbar menoleh.


trek

__ADS_1


Jari telunjuk Jenny menekan tombol shuter kamera polaroidnya, menjadikan Akbar sebagai objek dari fotonya.


“Senyum dong” memprotes, kurang puas dengan hasil yang di terimanya.


“Coba sekali lagi” lanjutnya, kembali memberi perintah kepada Akbar.


Akar mengangguk, ia membenahkan posisinya lengan kanannya terangkat membentuk huruf v dengan kedua jarinya. Tak lama setelahnya, senyum mengembang ia tujukan kea rah kamera.


“Nah, gitu dong” ujar Jenny memberi pujian.


Lengkah Akbar mendekat ke arah Jenny dengan cepat lengannya mengambil alih kamera yang berada dalam genggaman perempuan itu.


“Ayo bareng-bareng! Defa sini” ucap Akbar memanggil Defa agar bergabung bersamanya.


Defa mengangguk mengiyakan. ia berjalan mendekat ke arah keduanya.


“Biar saya aja mas, dari sini” ujar Defa memberi saran agar mengambil potret dari luar foodtruck.


Akbar setuju dengan saran yang Defa berikan. lengannya bergerak menyerahkan kea rah Defa.


Ketiganya serempak mengambil posisi, lengan Akbar terlihat merangkul Jenny di sisi kirinya, Di bagian paling depan terlihat Defa yang berusaha menjulurkan lengannya. Memastikan, ketiganya berada dalam satu gambar yang tepat.


“Permisi” ujar seorang Ibu menghampiri lokasi foodtruck.


Dengan cepat Defa menurunkan kamera dari lengannya.


“Disini sudah buka?” tanyanya.


Defa mengangguk mengiyakan.


“Silahkan memesan disini” ujar Defa memberi tahu, agar pembeli pertama memesan langsung kepada Jenny.


Mendengar hal itu, Akbar langsung melangkah mundur.


Pelanggan itu terlihat tengah melihat menu yang tertera di papan. Bola matanya tertuju ke arah baris menu yang menunjukkan beberapa macam riebowl.


“Saya pesan oyakadon sama wagyu ricebowl masing-masing satu” ujarnya.


Sudut mata Akbar terlihat memperhatikan Jenny yang terlihat kebingungan dengan pesanan ibu itu.


Saat ini menu ricebowl belum tersedia.


Tanpa sadar tubuh Akbar bergerak mendekat, untuk membantu Jenny.


“Mohon maaf bu” satu kalimat keluar dari mulut Jenny. Hal itu, membuat langkah kaki Akbar terhenti dan kembali memerhatikan Jenny dari tempatnya.


“Saat ini menu itu belum tersedia. Di pagi hari kami hanya menyediakan berbagai sandwich” lanjut Jenny lengannya bergerak menunjuk ke tiga menu sandwich dan menjelaskannya satu persatu menu secara rinci dan singkat.


“Kalau begitu, saya pesan satu master sandwich, satu sandwich tuna dan dua botol air mineral” ucap perempuan itu, meskipun merasa sedikit kecewa ia tetap memesan.


“Untuk airnya jangan yang dingin ya” lanjutnya, menambahkan sedikit catatan ke dalam pesanannya.


“Baik” balas Jenny. Lengannya bergerak menyentuh layar membuat struk pesanan.


Kurang dari tiga menit transaksi pertamanya selesai, Jenny berjalan mendekat ke arah Akbar memberikan struk berisi pesanan.

__ADS_1


“Kerja bagus” puji Akbar, kengannya mengusap-usap uncak kepala Jenny.


__ADS_2