
“Bar, makasih udah mau nurutin permintaan gue” isi pesan dari Icha.
Akbar mengalihkan pandangannya, kemudian memasukkkan ponsel ke dalam sakunya lagi.
Mengabaikan pesan yang Icha kirimkan kepadanya.
“Selesai mas, semua meja udah di bersihkan” ucap Defa sambil berjalan mendekat ke arah Akbar.
“Oke” balas Akbar singkat.
“Def, lo punya emen yang lagi nganggur nggak?” lanjutnya, di tambah dengan satu pertanyaan.
Defa terdiam, sejenak ia berfikir memikirkan beberapa teman yang dekat dengannya.
“Cewek atau cowok?” balas Defa, balik bertanya.
“Terserah. kalau beneran ada ajak aja gabung kesini. biar lo ada yang bantuin” jawab Akbar dengan menjelaskan sedikit.
“Interviewnya kapan, besok?” Defa kemballi bertanya secara detail.
Akbar menggelengkan kepalanya,
“Ngga usah pake interview segala. besok langsung kerja” tegas Akbar.
##
pukul 11.15 malam
Tap
Lengan kanan Akbar bergerak meraih segelas kopi hangat yang ia buat beberapa menit yang lalu, Bagian rambutnya terlihat masih basah.
Sudah larut malam, namun masih banyak hal yang harus di kerjakannya.
Buk
Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan menghadap ke arah meja kerjanya.
Tak lama kemudian, terlihat ia mengeluarkan sebuah buku catatan dan juga dompet besar hasil dari jualannya tadi malam.
Ia kembali mengecek jumlah uang yang di dapatnya, menyamakan dengan jumlah dari struk yang di keluarkan mesin kasir. Lalu, memisahkan sebagian untuk belanja bahan-bahan, gaji pegawai, transportasi dan sisanya ia masukan ke dalam buku tabungannya.
Sesekali Akbar terlihat meneguk kopi miliknya, berusaha agar matanya tetap terjaga dan tidak mengantuk.
Setelah semua hal yang berkaitan dengan bisnisnya di rasa selesai Akbar menutup bukunya, dan langsung menyingkirkan dari meja kerjanya. Meletakkannya kembali ke dalam tas kerjanya.
Layar laptopnya menyala, Akbar kembali membuka lembar kerjanya yang belum sempat di selesaikannya.
Ia kembali membaca ulang laporan yang tengah di susunnya, menambahkan beberapa perbandingan yang ia dapat setelah melakukan riset.
Bahan yang Akbar pilih untuk meeting kali ini terdengar sensitive, ia memilih untuk mengajukan anggaran untuk para residen yang membantu di rumah sakit.
Menurutnya, ini tidak masuk akal. sudah seharusnya para tenaga medis di beri imbalan atas kerja kerasnya dalam melayani pasien yang secara langsung memberi keuntungan bagi rumah sakit.
__ADS_1
Pukul 01.00 dini hari.
Kepala Akbar mendongak ke arah atas, menatap langit-langit kamarnya. Lengan kanannya bergerak meneteskan obat tetes mata di kedua bola mata Akbar secara bergantian.
Tak bisa dipungkiri, berdiam diri dan terus terpaku menatap layar laptop memuat matanya terasa perih dan gatal.
Ia beranjak dari tempatnya, berjalan-jalan sebentar untuk meregangkan urat-uratnya yang tegang.
brukk
Akbar menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, ia tidak bisa menahan rasa lelah yang masih berada di tubuhnya. Mata Akbar terpejam dengan posisi tubuh tengkurap ia menanamkan wajahnya diantara bantal.
Pesan yang Icha berikan kembali terlintas di kepala Akbar, membuatnya kembali terbangun.
“Bar, makasih udah mau nurutin permintaan gue” isi pesan dari Icha.
Tidak, sebenarnya Akbar tidak benar-benar menuruti permintaan Icha.
Saat ini terlalu banyak hal yang harus Akbar kerjakan, sehingga ia harus mengesampingkan perasaannya. Meskipun begitu, dari tempatnya Akbar berusaha tetap memperhatikan kondisi Indah.
Akbar sadar, kesibukkan yang tengah di jalaninya terlihat seperti ia yang tengah menjauh atau menghindar dari Indah.
Namun, itu bukan hal yang sebenarnya ingin ia lakukan.
Jelas, keinginan Akbar untuk tetap bersama Indah sangatlah besar. Tapi, untuk sampai di titik itu banyak hal yang harus Akbar persiapkan. Agar tak ada lagi rasa kecewa yang Indah terima, darinya.
"Huh" helaan nafas beras keluar dari mulut Akbar.
"Dengan segala keberanian yang aku punya, aku bisa genggam tangan kamu. Bareng-bareng kita lewatin semua badai yang datang" mengatakan harapannya.
"Dan semoga sampai waktunya tiba, kamu masih mau nerima aku lagi Ndah" gumam Akbar, ia berharap seiring berjalannya waktu Indah bisa memaafkan dan menerimanya lagi.
Apa yang ia lakukan sekarang adalah bentuk dari sebuah usaha yang Akbar keluarkan untuk menebus dosa-dosanya.
Jika, semua tindakan yang ia lakukan membuat orang salah paham. Akbar hanya akan membiarkannya, ia tidak ingin membuang energinya untuk meluruskan setiap pandangan orang terhadapnya.
Perasaan yang tengah di rasakannya, rencana besar yang di tujunya. Biarlah, hanya Akbar yang mengetahuinya.
05.00 pagi
Suara telpon bordering, membuat akbar terbangun.
“Jenny” nama itu tertera di layar ponselnnya.
Jari Akbar bergerak mengusap layar ponsel, menerima panggilan yang terhubung.
Tak lama setelahnya ia kembali meletakkan ponsel di atas ranjang dan mengaktifkan pengeras suara.
“Kenapa?” tanya Akbar, suaranya terdengar serak.
“Lo masih tidur? bukannya, harusnya belanja” balas Jenny memprotes.
Akbar mengabaikannya, rasa kantuk masih menyerangnya dan membuat ia setengah sadar.
__ADS_1
“Gimana, tesisnya udah di periksa? ada yang salah atau perlu di tambahin ngga?” ucap Jenny memberikan rentetan pertanyaan kepada Akbar.
mendengar hal itu, membuat Akbar beranjak dari tempatnya. lengannya segera bergerak memasangkan kacamata di bagian bawah matanya.
lengannya bergerak dengan cepat membuka laptop. mengarahkan email dan membukanya ke pesan yang jenny berikan kepadanya.
akbar kembali mengusap wajahnya, ia belum sempat membaca hasil akhir tesis perempuan itu.
“Belum selesai” balas Akbar, menyadari ia melupakan bantuan yang jenny minta kepadanya.
“Ih gimana sih?” jawab jenny, kembali memberikan protes.
“Sidangnya kapan?” tanya Akbar.
“Jadwalnya, jam satu siang” balas Jenny.
“Lo dateng kan?” lanjutnya bertanya.
“Kayana ngga bisa deh Jen” balas Akbar ia memelankan nada suaranya, merasa bersalah.
“Kenapa, lo kan udah janji?” tanya Jenny, tak terima.
“Bentrok, hari ini ada rapat”
“Jamnya sama, terus ada yang mau di bahas kayanya sih bakal sampai malam”
“Foodtruck juga bukanya bakal agak maleman” jelas Akbar.
“Tergantung situasi sama kondisninya. Kalau emang ngga sempat, hari ini tutup” tambahnya.
Jenny terdiam, ia merasa kecewa dengan jawaban yang Akbar berikan kepadanya.
“Malam nanti, lo pasti langsung hangout sama temen-temen kan?” tanya Akbar.
“Iya” balas Jenny, ia memang memiliki rencana dengan teman-temannya.
“Ya udah have fun aja, sebagai gantinya besok kita lunch bareng” ucap Akbar memberikan saran.
“Lo mau hadiah apa, biar sekalian gue bawain nanti”
Jenny terdiam, ia tak bisa membalas ucapan Akbar.
“Kenapa. belum kepikiran?” tanya Akbar.
Akbar menghentikan perkataannya, memberi waktu untuk Jenny agar berfikir.
“Nanti, gue pikirin dulu” jawab Jenny lima menit setelahnya.
“Yaudah tar sebelum jam delapan gue kasih review tesisnya ya” ujar Akbar, sebelum mematikan sambungan telponnya.
Tut
Jenny menganggukkan kepalanya, bersamaan dengan suara yang menandakan sambungan telponnya terhenti.
__ADS_1