Semesta 2

Semesta 2
Broth


__ADS_3

Senin, 28 november 2022


17.00 wib


Indah berdiri di depan lobi, kakinya terlihat bergerak memainkan sepatu yang terpasang. Kepalanya menunduk, ia tak bisa menyembunyikan resah yang berada di dalam hatinya.


Sesekali ia mendongakkan kepalanya, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang melewatinya.


“Kenapa, dia belum datang?” tanya Indah, menanyakan keberadaan Atma kepada dirinya sendiri.


“Huh” helaan nafas berat terdengar.


Indah tidak tahu harus menghuubunginya dengan cara seperti apa. Karena, ia belum sempat menyimpan nomor ayahnya.


“Ayo” ajak seseorang dari arah belakang.


Indah menoleh, melihat ke arah Atma yang berada di belakangnya. Bola mata Indah bergerak memeriksa setiap jengkal tubuh pria paruh baya itu.


Semua yang di kenakannya terlihat baru dan memiliki warna yang begitu mencolok.


“Gimana penampilan ayah? bagus bukan?” ujar Atma memuji dirinya sendiri.


Indah mengalihkan pandangannya, mengabaikan setiap kata yang Atma ucapkan kepadanya.


Kepala Indah kembali menunduk, sadar menjadi pusat perhatian orang lain.


“Setelah ini, mari makan malam bersama” ujar Atma mengajak Indah.


Indah menggeleng, menolaknya.


“Kenapa? padahal ayah pengen loh makan masakan kamu lagi” lanjut Atma mengatakan keinginannya.


“Indah belum bisa pulang, masih harus jaga sampai besok” jelas Indah.


“Sayang sekali. Untuk makanan tepo hari, terimakasih ayah menikmatinya dengan baik” ujar Atma, mengucapkan rasa terimakasih.


Dahi Indah mengernyit, untuk pertama kalinya ia mendengar ucapan terima kasih dari Atma.


“Apa ini benar ayah?” tanya Indah di dalam hatinya.


Tap


Langkah Indah berjalan mundur, menghindari sentuhan yang Atma berikan kepadanya.


Kepalanya menggeleng, menolak.


Hal itu, membuat lengan Atma kembali turun dan ia mengurungkan niatnya untuk mengusap puncak kepala Indah.


Rasa trauma yang ia dapat dari masa kecilnya, masih membekas lekat di ingatan Indah.


Karena itu pula, saat keduanya berbicara Indah selalu memberi jarak beberapa meter dan untuk tinggal satu rumah bersama Indah belum bisa mengatasinya.


Tring


Pintu lift terbuka.


Tiga orang berjalan keluar dari dalam pintu di bagian paling belakang tubuh tinggi semampai, bahunya yang bidang terlihat.


“Itu, Akbar” gumam Indah.

__ADS_1


Kedua matanya saling bertemu, membuat kontak mata.


“Apakah kali ini ia mengabaikannya lagi?” tanya Indah dalam hatinya.


Dug


Sesuatu terasa menghantam ke dalam hatinya membuat tubuh Akbar mematung.


Bola mata Akbar membelalak tak bisa menutupi rasa terkejut yang menghampirinya. Di dalam kepalanya berbenturan mencari jawaban mencari tahu keberadaan Atma di rumah sakit.


Tap


Dengan cepat Akbar mengambil langkah besar berjalan keluar dan membiarkan Indah dan Atma masuk ke dalam lift.


‘Huh” helaan nafas kembali keluar dari mulut Indah.


“Kamu, serius mau jauhin aku?" tanya Indah dalam hati kecil.


“Pria yang tadi, sepertinya ayah mengenalnya” ujar Atma.


“Heh?” balas Indah, kaget.


“Iya, dia pria yang tangannya patah itu kan?” tanya Atma memastikan.


Dahi Indah kembali mengernyit tak mengerti dengan ucapan yang Atma berikan.


“Kenapa ayah mengenalnya? memang kapan mereka bertemu?” Indah kembali bergumam.


Indah menatap dirinya di balik bayangan pintu lift. pikirannya kembali berkeliaran memikirkan jawaban atas ucapan yang keluar dari mulut Atma secara acak.


##


Suara pintu mobil Akbar tertutup.


Ia menyandarkan kepalanya di bgaian paling atas jok mobil.


Berpapasan dengan Atma, membuat detak jantung nya berdegup kencang.


“Apakah ia masih mengenalinya? tentang apa yang ia katakan malam itu, apakah Indah juga mengetahuinya?” tanya Akbar.


Kedua lengannya terlihat memegang erat kemudi setir.


Berharap apa yang terlintas di pikirannya, tidak benar.


**


18.30 wib


Langkah kaki Indah berjalan, di lengan kanannya terlihat ia memegang satu wadah obat.


“Ahhh” ujarnya, kemudian membuat langkah kakinya ikut terhenti.


“Benar, malam itu keduanya bertemu” ucap Indah mengingat kejadian beberapa tahun lalu.


Malam itu, di hari kepulangan Akbar dari rumah sakit. Indah mengajaknya agar tinggal di kafe untuk sementara waktu.


Dengan lengan yang masih memakai gips, bagian dahi yang di baluti perban, Indah mengajak Akbar berbelanja untuk kebutuhan sehari harinya.


Kepulangan Indah dan Akbar, disambut dengan kehadiran Atma yang sudah menunggu Indah sejak tadi. Sama seperti biasnaya, Atma meminta jatah bulanannya kepada Indah.

__ADS_1


Akbar berada disana, bahkan ia menyuguhkan segelas air untuk Indah untuk menenangkannya.


“Itu pertemuan pertama keduanya. Tapi, kenapa ayah bisa mengenali Akbar dengan mudah?” Indah kembali mengajukan pertanyaan yang tidak bisa di jawabnya.


“Ini obatnya” ujar Indah menyerahkannya kepada Atma yang tengah duduk di ruang tunggu.


“Minum secara teratur, sampai habis. Jangan, dibuang” ucap Indah tegas, memperingatkan.


Atma mengangguk, ia mengambil alih wadah yang Indah serahkan kepadanya. Kemudian, meninggalkan Indah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Indah memutar tubuhnya, berbalik menuju bangsal tempat ia jaga malam ini. Ia sudah terbiasa dengan sikap dan perlakuan yang selalu Atma berikan kepadanya.


semua yang di lakukannya, hanya meninggalkan kenangan yang kurang baik di pikiran Indah. Meskipun begitu, ia tetap berusaha melanjutkan apa yang harus di lakukannya tanpa merasa terganggu oleh hal-hal kecil yang mengganggu dan menggerogoti hatinya.


“Anton, kemana dia?” tanya Indah. Hari ini, ia belum melihat batang hidung anak itu.


"Apakah hari ini, hari liburnya? atau dia sengaja mengambil cuti?" ujar Indah berbicara sendiri.


##


Satu jam berlalu.


Akbar, pria itu masih terdiam di dalam mobil yang masih terparkir di parkiran rumah sakit.


Trng


Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya.


Lengannya bergerak mengeluarkan ponsel dari bagian dalam saku miliknya.


“Brother” nama itu tertera di layar ponsel.


“Sudah dapat?" tanya Akbar, menanyakan jawaban dari hal yang ingin di ketahuinya.


“Iya, pak” jawab pria yang selalu menghubungi Akbar.


“Saya sudah mendapat Info dari orang dalam”


“Penyakit yang Pak Atma derita, kembali kambuh. Oleh karena itu, ia harus melakukan pemeriksaan setiap dua minggu sekali secara berkala” jelasnya.


Akbar mengangguk, mengerti.


“Dia di rawat, di rumah sakit tempat bapak bekerja”


“Jika berpapasan, abaikan saja. Bersikap seolah bapak tidak mengenalnya” ucap Brother, mengingatkan Akbar agar bersikap biasa saja.


Ia tidak ingin rasa gugup yang Akbar rasakan. membuatnya, menjadi salah langkah dan mengacaukan semuanya.


Akbar kembali mengatur nafasnya.


perkataan Brother benar, tidak seharusnya Akbar gugup oleh hal yang tidak mempunyai kaitan dengannya sama sekali.


Selama ini yang selalu di temui Atma adalah brother, bukan dirinya.


Malam itu, tanpa di ketahui Indah. Akbar datang menemui Atma dan memintanya untuk menjauh, pergi dan berhenti mengganggu kehidupan putrinya. Sebagai gantinya ia yang akan memenuhi semua kebutuhan Atma dari biaya pengobatan hingga pengeluaran sehari-harinya.


Melalui brother Akbar menggelontorkan uang itu untuk di sampaikan kepada Atma. Bahkan, setelah ia berhasil selamat dari penyakitnya. Akbar tetap mengirimkan tunjangan kepada Atma secara rutin.


Melihatnya, masih memperlakukan Indah dengan cara yang sama membuat hati dan pikiran Akbar berubah.

__ADS_1


Dengan hal ini pula Akbar memutuskan untuk berhenti mengirimi tunjangan kepada Atma.


__ADS_2