Semesta 2

Semesta 2
are u, Ok?


__ADS_3

Indah menutupi seluruh wajahnya di antara kedua lengannya. Ia masih tidak percaya dengan situasi yang ada di hadapannya.


Beberapa saat yang lalu Indah berharap ia bisa segera pulang dan beristirahat. Namun, kurang dari satu jam ia sudah berada di tempat ini Bertemu dengan Akbar juga seorang wanita yang di rumorkan menjadi tunangannya.


“Sadar Ndah” gumam Indah menggerutu dalam hatinya.


Terlihat lengannya yang meremas rambutnya sendiri, Ia tidak percaya bisa melakukan hal bodoh seperti ini.


“Nanti, kalau Akbar tanya gue harus jawab apa? masa iya, salah tempat?” Indah berfikir mencari alasan yang paling masuk akal.


“Huh” helaan nafas yang terdengar berat dan terus berulang.


Kali ini terlihat kedua lengan Indah yang turun dari wajahnya, menampilkan raut wajah yang sangat kebingungan.


Bola mata Indah bergerak, memperhatikan setiap sudut.


Aneh. itu yang kini muncul di benak Indah.


“Kenapa tempat ini memiliki kesan yang di dominasi warna perempuan” gumam Indah.


“Meskipun udah tunangan, nggak seharusnya tinggal bareng kan?” Indah kembali mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri.


Pandangan Indah terhenti, bola matanya tertuju ke sebuah foto berukuran sedang tergantung di tembok.


Sebuah foto yang sama persis dengan yang Akbar miliki. Foto Akbar, Jenny juga Ravi temannya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.


Enam tahun lalu, foto itu juga terpajang di vila milik Akbar yang berada di bali.


Bruk


Suara benturan keras terdengar keluar dari dalam ruangan.


“Aaahh” Akbar mengerang dengan keras setelah kepalanya terbentur dengan bagian sudut ranjang.


Indah terperanjat dari tempatnya, suara itu membuat Indah bergerak menerobos ke dalam pintu Akbar.


“Lo kenapa? lagi ngapain hah?” ucap Indah, mengomeli Akbar yang terkapar di lantai.


Hening, tak ada jawaban yang di berikan Akbar.


Beberapa saat lalu, Akbar hanya berniat untuk mengganti pakaiannya. Ia sadar jika baju yang di pakainya sudah terkontaminasi bau menyengat dari percikan muntahan yang ia keluarkan sebelumnya dan Akbar tidak ingin Indah merasa terganggu dengan bau yang menyengat ini.


Namun, setelah lima menit berdiri. Sesuatu terasa menghantam tubuhnya dan membuatnya terjatuh begitu saja.


Ia benar-benar kehilangan banyak tenaga.


Indah bergerak menghampiri Akbar, ia menyadari pakaian Akbar yang kini sudah berubah. Ia memakai bawahan celana pendek selutut dan atasan yang memakai hoodie berwarna hijau army.


Color tune yang Akbar pakai terasa serupa dengan pakaian yang ia pakai saat keduanya berada di Bali.

__ADS_1


Indah menghentikan langkahnya, selanjutnya tubuhnya terlihat turun agar sejejar dengan Akbar.


TAP


Untuk pertama kalinya lengan Indah menyentuh pria itu lagi. Panas, suhu tubuhnya sangat tinggi, bagian bajunya juga terlihat basah karena keringat dingin yang terus keluar dari permukaan kulitnya.


Kedua lengan Indah merangkul tubuh Akbar, mencoba membenahkan posisinya.


“Aisss” Indah berdecak kesal, setelah melihat darah di bagian pelipis matanya.


“Ayo, pindah” ajak Indah membantu Akbar berdiri.


Akbar mengangguk, mengiyakan.


“Pelan-pelan” ujar Indah mengingatkan.


telapak kaki Akbar menapak di lantai, dengan sisa tenaganya Akbar berusaha untuk kembali berpindah.


Dengggg


Rasa pusing hebat menyerangnya, kali ini diikuti dengan suara berdenging yang muncul di telinganya.


Brukkk


Akbar kembali kehilangan keseimbanganya, dan membuatnya terjatuh. Kejadian itu berhasil menambah luka baru di ujung bibirnya.


Indah menatap tajam ke arah Akbar, kesal dan marah karena harus melihatnya seperti ini.


“Maaf” ujar Akbar dengan suara yang parau. Ia mengusap wajah dengan kedua lengannya.


“Ayo, coba sekali lagi” lanjut Akbar, menyarankan.


Indah menggeleng, terlihat lengannya yang mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya untuk memanggil ambulance.


Tap


Akbar mengambil alih ponsel milik Indah dan langsung menyimpannya di saku celananya.


“Rawat saja disini” ujar Akbar meminta bantuan. Meskipun bekerja di rumah sakit Akbar masih enggan untuk melakukan pemeriksaan disana.


Indah mengangguk setuju, tanpa melakukan sedikit penolakan.


Lengannya kembali merangkul tubuh Akbar, membantunya berdiri dan memindahkannya ke ranjang.


“Ada kotak p3k?” tanya Indah.


Akbar mengangguk dengan setengah sadar.


Srrrp

__ADS_1


Indah mendorong keluar sebuah laci.


“PTSD yang dia miliki, apa masih belum sembuh?” tanya Indah dalam hatinya, setelah melihat beberapa botol obat penenang di laci samping ranjang.


Untuk beberapa saat, hening kembali muncul membuat suasananya kembali canggung.


Akbar menatap ke arah Indah, yang terdiam mematung.


“Bukan disitu, tapi di laci yang ada di dapur” ucap Akbar terengah-engah.


Suara itu menyadarkan Indah, selanjutnya Indah segera beranjak berjalan dengan tergesa-gesa mengambil kotak p3k di tempat yang di tunjukan Akbar sebelumnya.


“Sebelum focus melakukan pemeriksaan pada penyakitnya, gue juga harus ngobatin lebih dulu lukanya” pikir Indah.


Kurang dari lima menit Indah kembali.


Lengan Indah bergerak mengelap bekas darah yang berada di pelipis dan ujung sudut bibir Akbar, lalu mengoleskan salep obat luka dan membalutinya dengan sebuah plester transparan.


Tit


Suara thermometer berbunyi, sebuah angka 39,5 derajat celcius muncul memberi hasil suhu tubuh yang Akbar miliki. Selanjutnya terlihat Indah yang memakai stetoskop di telinganya kemudian mendekatkannya ke arah bagian dada dan pergelangan lengan Akbar, memeriksa denyut jantung nya secara bergantian.


Dugdug Dugdug


Indah merasakannya, setiap detupan jantung Akbar yang berdetak semakin cepat.


Akbar memalingkan wajahnya, tak berani menatap Indah secara langsung dan lebih dekat dari biasanya.


Tap


“Ahhh” suara erangan kecil Akbar keluarkan, setelah dua jari milik Indah menekan bagian perutnya.


“Disini?” tanya Indah, dengan kembali menekan bagian perut Akbar.


Akbar mengangguk dan meringis, merasa seolah jarum menusuknya dengan begitu tajam.


“Tunggu sebentar” ujar Indah sebelum meninggalkan Akbar dari tempatnya.


Lengan kanan Akbar bergerak, menutupi wajah di antara lengannya.


Ia merasa bersyukur atas kedatangan Indah yang mau menemuinya. Tapi entah kenapa Rasa malu, tiba-tiba menghantamnya dengan keras.


“Seharusnya Indah tak melihatnya seperti ini” gumam Akbar dalam hatinya.


Alih-alih terlihat sebagai pria yang keren, kali ini ia hanya laki-laki bodoh yang terlihat sekarat karena gangguan pencernaan yang di deritanya.


Jauh dalam lubuk hatinya, Akbar ingin melakukan banyak hal di waktu luang yang Indah miliki. Seperti memasak makanan favoritnya, pergi ke tempat-tempat hiburan yang ingin Indah kunjungi atau sekedar menonton film terbaru di rumah. Terdengar sederhana, namun sulit untuk Akbar bisa merealisasikannya.


Perempuan itu selalu memberikan penolakan yang terus terang. Membuat Akbar sempat kehabisan cara untuk mendekatinya.

__ADS_1


Tapi, apa ini? ia malah kembali merepotkan Indah, menambahkan pekerjaan di luar jam kerjanya dan membuatnya harus menanggung lelah yang berkali-kali lipat.


Helaan nafas berat, keluar dari mulut Akbar. Ia tenggelam dalam pikiran yang di buat sendiri, dan dalam keheningan ia juga terus mengutuk dirinya sendiri. Dan di saat yang bersamaan Akbar berharap jika rasa sakitnya akan segera mereda. Sehingga, ia bisa memanfaatkan kesempatan yang tidak mungkin datang kepadanya lagi.


__ADS_2