Semesta 2

Semesta 2
For What?


__ADS_3

Dua hari setelahnya.


Sudah lebih dari 48 jam ia berada di rumah sakit, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat dengan jelas.


Brushh


Indah membasuh wajahnya dengan air secara kasar agar ia bisa menghilangkan rasa kantuknya dan tetap terjaga.


“Sebentar lagi, hanya sebentar lagi ia akan kembali ke rumah dan bisa beristirahat” gumam Indah di dalam hatinya.


Indah beranjak dari tempatnya, dengan tubuh yang masih menghadap ke arah cermin.


Lengannya bergerak mengambil dua lembar tisu dan menggunakannya untuk mengeringakn wajahnya.


“Ayo” ajak Vio, muncul di belakang tubuh Indah.


“Ke?” tanya Indah, bingung.


“Aula mini”


***


09.00 wib


Indah menghentikan langkahnya, berdiri berjajaran dengan beberapa residen yang juga hadir di pertemuan.


“Kenapa harus kesini?” tanya Indah dalam hatinya dengan dahi yang mengernyit.


Bola matanya tak berhenti bergerak, memperhatikan setiap sudut ruangan.


“Kenapa cuma mereka yang ada disini?” Indah kembali mengajukan perrtanyaan kepada dirinya sendiri. Di tempat ini hanya ada dua puluh orang yang hadir dan kebanyakan yang datang didisi oleh anak-anak residen dan staff yang tidak di ketahuinya.


tak tak


Dua ketukan yang berhasil membuat suara gemuruh menjadi sunyi. Semuanya serempak menatap ke arah mardi yang berada di podium.


Trek


Akbar masuk lewat pintu bagian belakang, langkahnya terhenti beberapa langkah dari pintu. berhenti hanya beberapa langkah dari sini.


“Mohon perhatiannya, jika kalian kooperatif.


Ini, tidak akan memakan waktu yang lama” ujar Mardi berbasa-basi sebelum menyampaikan pesan utama kepada seluruh hadirin.


Seluruh audiens yang hadir di aula, mengangguk setuju.


“Berikut beberapa kebijakan rumah sakit yang baru”


“Memasuki bulan yang baru, dengan ini kami akan memberi tunjangan untuk para residen setiap bulannya. Tunjangan ini bisa di gunakan untuk menambah keperluan kalian”


Suara riuh kembali terdengar, kali ini di dominasi dengan rasa senang yang begitu meluap-luap.

__ADS_1


Sudut bibir Akbar tersenyum, ikut merasa senang dan bahagia. Satu persatu list dalam keinginannya tercapai.


Tap tap


Mardi kembali mengetuk-etuk mic, kembali menarik perhatian dan meminta agar para audiens bisa tenang.


“Keputusan ini di setujui oleh pak Adjie atas pengawasan pak Atma” lanjutnya.


Indah menghela nafas lega, setidaknya dengan ini ia tidak perlu mencari pekerjaan paruh waktu lagi.


Akbar memutar tubuhnya, kembali keluar dari ruangan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.


“Dengan ini kami berharap, loyalitas kalian terhadap rumah sakit bisa semakin di tingkatkan” lanjut Mardi menyampaikan pesan dan harapannya sebelum mengakhiri pertemuan kali ini.


###


Akbar menengadahkan kepalanya, menatap ke arah langit-langit atap ruangannya.


Sudah lebih dari tiga hari namun rasa sakit yang menyerang tubuhnya tidak kunjung reda, yang ada hanya bertambah semakin parah.


Bagian kepalanya terasa sangat pusing, tubuhnya lemas, rasa sakit di perutnya semakin tajam membuat ia terus merasa mual dan mengalami diare.


Akbar memejamkan matanya, apa yang di rasakan nya membuat ia banyak kehilangan tenaganya. Rasa panas yang membakar bagian dalam perutnya terus menimbulkan rasa perih dan panas dan ia tak tahu harus meredamnya dengan cara apa. Semua obat yang di rekomendasikan di apotik juga tidak mempan.


Tuk-tuk


Suara ketukan pintu.


Tak lama setelahnya, seorang sekertaris masuk dengna membawa map di lengannya.


“Ini laporan yang bapak minta” ujarnya.


Sekertaris menyerahkan, laporan keuangan yang berisi data para residen yang menerima tunjangan beserta kisarannya. Akbar sengaja memintanya agar ia bisa memeriksa apakah ini sudah sesuai dengan apa yang di ajukannya.


Di rapat terakhir kemarin, Akbar sudah menjelaskan secara rinci kepada Atma, sumber anggaran yang akan di berikan.


Ia ingin tahu, apakah kali ini Atma akan langsung menyetujui atau akan kembali menentangnya.


Akbar mengangguk, mengiyakan.


“Untuk pertemuan hari ini, tolong di jadwalkan ulang ke hari senin” ujar Akbar , meminta bantuan. Dalam kondisinya yang seperti ini tidak mungkin untuk Akbar bisa bertemu dengan para klien.


“Baik pak” balas Sekertaris.


###


“Rasanya mustahil banget ngga sih, keputusan ini di buat?” ujar salah seorang staff yang tadi ikut di aula.


Keduanya merasa senang dengan kebijakan baru yang di keluarkan rumah sakit. Sama seperti Indah mereka juga tidak perlu bekerja paruh waktu lagi. Meskipun ada asrama dan layanan internet, tetap saja mereka membutuhkan uang tambahan untuk membantu menghidupi keluarganya yang berada di rumah.


“Mustahil, tapi setelah kedatangan pak Akbar semuanya jadi mungkin-mungkin aja." balas staff 2.

__ADS_1


tap tap


Indah sejak tadi ia berada di belakang keduanya, perempuan itu sengaja memperlambat langkah kakinya tertarik dengan perbincangan yang di bahas keduanya.


“Maksud lo?” tanya Staff 1, penasaran.


“Jadi keptusan itu ada, karena usulan yang pak Akbar buat. Ngga Cuma ngusulin dia juga nawarin seluruh gajinya buat di pakai nge gaji kita” balas staff 2, menjelaskan.


“Beneran?” Staff 1 kembali bertanya.


"Iya beneran gue dapet info dari pacar gue.” jawab staff 2, sembari menceritakan pacarnya yang juga bekerja di rumah sakit yang sama.


“Kemaren waktu rapat bulanan, pak Akbar ngusulin ini”


“Dan Lo tahu apa, sebelum pak Akbar bicara lebih jauh seluruh staff langsung di seluruh keluar dari aula” jelas Staff 2 menjelaskan apa yang di ketahuinya.


tap


Langkah Indah terhenti.


Tubuhnya berbalik, dengan langkah cepat ia berjalan menuju ruangan Akbar.


Ia tak tahu apa yang kini ada di pikiran Akbar.


“Untuk apa ia melakukan ini? apakah ia seorang relawan yang bekerja secara suka rela?” tanya Indah dalam hatinya.


“Seharusnya Akbar tidak melakukan ini, disini. melainkan di tempat lain yang kebih terpencil bukan rumah sakit kaya seperti ini” lanjut Indah menggerutu dalam hatinya, ia berharap bisa menghentikan pria itu dengan segala pikiran gilanya.


“Maaf dok, mau kemana?” tanya seorang sekertaris menghadang kedatangan Indah.


“Huh” Indah mencoba mengatur nafasnya.


“Saya mau bertemu pak Akbar, ada yang perlu saya bicarakan” balas Indah, menjelaskan.


“Maaf, baru saja pak Akbar meninggalkan ruangan” jawab Sekertaris memberitahukan kepergian Akbar.


Indah membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


“Secepat ini, kenapa bisa? bukankah sepuluh menit yang lalu ia berada di aula?” tanya Indah dalam hatinya.


“Ada meeting?” tanya Indah, penasaran.


“TIdak, setelah mengatur ulang jadwalnya. Beliau langsung pulang, sepertinya kurang sehat” jelas sekertaris.


“Boleh saya minta alamatnya?” tanya Indah, cepat.


Bola mata sekertaris terlihat bergerak dari atas sampai bawah, memeriksa setiap inci tubuh Indah dan berulang melihat ke arah id card yang tertempel di bagian jasnya.


####


Ting tong

__ADS_1


Indah kembali mengatur nafasnya, beriringan dengan suara bel yang berbunyi setelah di sentuhnya. Perempuan itu berdiri di depan pintu apartemen tipe studio dengan bagian atas dan bawahnya terlihat masih menggunakan baju scrub yang di baluti jas, id card lengkap juga stetoskop yang masih melingkar di lehernya.


Entah apa yang Indah pikirkan, sehingga membuatnya tidak sempat mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


__ADS_2