Senja Milik Rebecca

Senja Milik Rebecca
eps 1. Dilema Rasa


__ADS_3

Tok tok tok


"Kak cepet turun udah ditunggu Mama sarapan!" teriak seseorang di balik pintu kamar.


Teriakan itu adalah milik adik Rebecca, Yosia.


Sudah menjadi jadwal tetap bagi Yosia jika ia setiap pagi harus pergi membangunkan kakaknya.


Bukan karena keinginannya, namun jika ia tidak membangunkan Rebecca alias putri tidur, mau sampai magrib pun Rebecca ga akan bangun.


2 menit berlalu


Yos tetap berdiri di depan pintu kamar Rebecca yang tepat di depan matanya tertuliskan, "Dilarang masuk jika tidak ada kepentingan."


"Ya." Suara lirih dari dalam kamar.


"Bagus udah bangun, cepet makan Mama udah nungguin dari tadi."


"Ya."


Yosia pergi meninggalkan pintu kayu milik Rebecca, ia dengan segera menemui Mama dan Papanya yang sedari tadi sudah menunggu di meja makan untuk sarapan.


Duk duk duk


Suara kaki Yosia menuruni anak tangga dengan berlari karena ia sudah tak sabar untuk makan.


Sepertinya cacing-cacing di perut Yosia sudah meronta ingin mendapat hak nya.


"*P*elan pelan aja yos jangan lari nanti jatuh."


Suara berat milik Papa Alex yang membuat langkah Yosia menjadi sedikit pelan.


"Hehe udah laper soalnya." Jawab Yosia dengan cengirannya.


"Yos, kakakmu sudah bangunkan?" tanya Mama Debora dengan ragu.


"Swudah, twadi cumwa jawab wyha." Jawab Yosia dengan mulut yang penuh roti.


"Hahaha ngomong apa kamu Yos, coba di telan dulu baru ngomong," sahut Papa Alex.


Yosia tidak menjawab karena ia sibuk dengan rotinya.


"Sini nak sarapan dulu, itu rotinya sudah Mama kasih telur, kan kamu sukanya telur." Kata Mama Debora kepada Rebecca yang baru saja ikut gabung untuk sarapan.


Rebecca membenarkan posisi duduknya dan mulai menyantap roti miliknya.


"Ish jorok banget sih." Kata Rebecca sambil menatap risih ke arah Yosia karena ia makan dengan belepotan sehingga mulutnya penuh dengan selai stawbery.


"Sirik lo!" sahut Yosia tidak terima.


"Pelan pelan aja makannya nak, masih pagi kok ini ngga mungkin telat." Jawab Mama nya.


Keluarga Rebecca adalah yang paling sibuk, Papa Alex adalah pemilik Perusahaan Kertas di Surabaya, sementara Mama Debora adalah seorang Dokter ternama di Rumah Sakit Mulia, sudah di pastikan bahwa mereka sangat sibuk.


Namun meskipun begitu, Mama Debora selalu bisa membangi waktunya untuk anak-anaknya tanpa pilih kasih.


Bukankah memang sudah menjadi keseharusan orang tua untuk tidak pilih kasih?

__ADS_1


Setelah mereka selesai sarapan mereka pergi menuju tujuannya masing masing.


Papa dan Mama Rebecca pergi untuk bekerja dengan mobil pribadi mereka.


Sementara sikembar diantar oleh supir mereka untuk ke sekolah.


Usia Rebecca dan Yosia hanya selisih 1 tahun, dimana sekarang Rebecca kelas 3 SMA dan Yos 2 SMA.


Keduanya memilih jurusan yang sama, yaitu IPS.


"Tas lo jangan taruh sini, sempit." Kata Rebecca sambil melempar tas milik Yosia.


Dengan sigap di tangkap oleh pemilik tas tersebut, "Ewhhh tau gitu tadi gue duduk depan aja bareng Pak Supir."


Rebecca membuka handphone lalu memasangkan earphone untuk mendengarkan sebuah lagu demi menjaga kewarasannya.


Memang keduanya jarang sekali untuk akur, karena Rebecca sendiri adalah gadis cuek yang ngga suka ruwet, berbeda dengan Yosia.


10 menit berlalu dengan hening dalam mobil mereka, sampai mereka tiba di sekolah SMA Harapan Bangsa.


Keduanya turun dari mobil.


Seperti biasa Yosia selalu tampil keren, dengan tas yang ia kenakan satu di bahu, dan rambut hitam pekat yang menari nari dalam alunan angin pagi.


"Heh Rubik tungguin!" teriak Yosia sambil berlari mengejar Rebecca dan segera menyamakan langkahnya.


Yang dituju tidak merespon, bahkan dengan lirikan mata pun tidak.


"Kalo jalan barengan sama gue aja, biar lo ikut famous nanti mwehehe."


"Dih!"


"Jauh jauh, gue ngga mau orang-orang tau kalo lo adik gue." Jawab Rebecca sadis.


"Wahh pasti nyesel sih lo bilang gitu, sementara dari kelas satu sampe kelas 3 udah tau seorang Yosia yang tampan nan menggoda ini."


"Harusnya lo bersyukur punya adek yang imut kaya gue ini." Tambah Yosia dengan percaya diri.


"Dih gila gilaan lo, bye!" jawab Rebecca dengan enggan meninggalkan Yos lalu pergi ke kelasnya.


Mereka berpisah di perempatan lorong sekolah, karena kelas mereka juga berbeda.


Sepanjang lorong selalu ada saja yang menyapa Yosia, yang tak lain adalah kaum hawa.


Yaa mereka lebih ke menyapa untuk mengoda sih hahaha


"Ohh heyy whatsup bro!" sapa Yosia dengan menepuk pundak seorang laki-laki yang tak lain adalah Wilson, bestienya.


"Euuu si tampan udah datengg, tumben ga telat." Sahut Wilson dengan kekehannya.


"Nggak, Rubik bangun pagi tadi."


"Yos pinjem MTK dong!" teriak Miko dari dalam kelas lalu menghampiri Yosia.


plukkk


"Aww."

__ADS_1


"Ah elu mau pinjem apa mau minta jawaban hah?" sahut Wilson sambil menjitak kepala Miko.


"Dua dua nya deh." Jawab Miko dengan terkekeh.


"Ambil aja di tas, gue mau kedepan bentarr."


"Ehhh mau ngapain Yoshh? gue ikut!" sahut Wilson.


"Ngapain ikut orang gue mau tebar pesona dulu pumpung belum masukk." Jawab Yosia dengan percaya diri.


"Hoalah pancen arek seweng."


"Hahaha, plus e dee ganteng gur minus e ae seweng." Sahut Angga yang disusul tawa oleh teman sekelasnya, bagaimana tidak tertawa jika mereka mengatai Yosia "seweng."


***


Rebecca masih setia dengan earphone yang menancap di telinganya sedari tadi.


Ia duduk dengan tenang, dan sesekali ia memejamkan matanya untuk menikmati setiap lagu yang ia dengarkan.


Rebecca selalu duduk bersebelah dengan jendela karena menurutnya itu adalah yang paling menyenangkan, dengan sebelah kanan mata Rebecca sudah pemandang yang hijau, banyak tumbuhan besar yang tumbuh liar di sebelah sekolah Rebecca.


Sesekali ia ingin sekali untuk duduk di bawah pohon paling besar disana, tapi ia masih belum juga menemukan cara untuk pergi kesana, karena tidak ada jalan juga, semua buntu.


Rebecca menambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya, ia menatap kabel yang melilit dan menancap dalam handphone yang ia letakkan di atas meja. handphone yang selalu saja menyala karena notif dari seseorang, namun Rebecca tidak ingin membalas satu pun dari siapapun termasuk Yosia, adik nya sendiri.


Tidak ada buku satupun di atas meja, hanya ada seuntaian kabel dan juga handphone, ia menyilangkan tangannya, lalu membuatnya menjadi bantal untuk tempat tidurnya.


Jduakk


Sebuah tendangan yang mengenai meja Rebecca yang membuatnya harus bangun dari tidur pagi nya.


"Eh aduh em-anu maaf tadi ngga sengaja," ucap seorang laki-laki yang tidak sengaja menendang meja Rubik.


Yang terusik hanya melihat kearah laki-laki tersebut dengan acuh, Rubik hanya mengangukan kepala tanpa memberi suara apapun.


"Maaf ya ca, ngga sengaja." Tambah laki-laki itu yang tak lain adalah Hemi teman sekelasnya.


Sementara itu di pojok kiri kelas sepasang mata tak berhenti menatap Rebecca.


"Jangan diliatin aja, ungkapin kalo perlu." Sahut seseorang membuyarkan pandangan Axell.


"Emang harus di ungkapin?"


"Ya kalo nggak nanti keburu di ambil sama yang lain."


"Emang lo tau apa yang mau gue ungkapin ke Rebecca?"


"Ya lo suka sama Rebecca, orang dari tadi ngeliatin sampe ga kedip, apa ga perih itu mata?" jawab Andre dengan melengos karena Axell selalu saja mengelak, padahal Andre yakin betul kalau Axell menyukai Rebecca.


"Hm malu ih mau ungkapin." Goda Axell.


"Ngapain malu, tinggal bilang gue suka sama lo Rubik, wanna be my girlfriend? beresss."


"Bukan itu, orang gue cuma mau bilang kalo gue pengen pinjem duit ke Rubik hahaha." Sahut Axell sambil tertawa tak karuan.


"Serah lo yee kimak." Jawab Andre sudah tak sanggup meladeni Axell yang selalu saja mengelak.

__ADS_1


Heyyy bukankah lebih baik di ungkapkan saja? meskipun jawabanya tidak selalu ya, setidaknya sudah dapat jawaban bukan?


__ADS_2