
Entah sesak yang bagaimana yang dirasakan oleh Rebecca saat ini.
Satu sisi dirinya merasa lega karena sudah mengungkapkan isi hati yang selama ini sudah ia pendam, namun disisi lainnya ia merasa sesak sakit tak karuan karena ia harus menerima kenyataan bahwa ia sudah kehilangan dua orang yang dulunya pernah ia sayangi.
Ocha yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri justru malah tega berkhianat kepadanya.
Rubik menangis tak bersuara di balik selimut tebal miliknya, padahal ia sudah mencoba menahan laju air matanya untuk tidak jatuh, namun tetap saja ia tidak mampu.
*heyy bukan kah rasa sakit yang begitu hebat jika kau menangis tanpa suara?
Pyarrr
Diluar kendali emosi Rubik membeludak, ia melampiaskan amarahnya dengan melempar ponsel yang sedari tadi ia genggam ke arah kaca kamar miliknya.
Kaca yang semula putih dan mulus sekarang sudah hancur lebur, retak di setiap bagian sisinya membuat barang itu tak berguna.
Yosia dan duo sejoli yang berdiri tepat di depan pintu kamar Rubik terkejut mendengar suara itu.
"Bukain pintunya rubik!" teriak Yos yang mulai panik, ia mencoba membuka pintu kamar kakaknya dengan kasar, sesekali ia mendobraknya namun tak ada hasil apapun.
"Lo kenapa sih kak! Cerita sini ke gue! Jangan gini dong ah!" Yos mulai kesal karena tak ada balasan apapun dari dalam pintu.
"Eh lo jangan diem aja dong! Bantuin biar mau keluar." Yos menatap duo sejoli yang sedang ikut panik namun tak ada aksi apapun itu.
"Kak Rebecca yuk bisa yuk!"
"Keluar ya ges ya, kalo ngga mau keluar abang yang keluarin nih." Goda Wilson sambil mendekatkan bibir sexy nya kedekat pintu.
Yos menjambak rambut Wilson yang membuat laki laki itu meringis kesakitan, "Maksut lo apa?"
"Maksut gue, gue yang ngeluarin dia, yang nyelametin maksutnya."
"Jangan main main lo." Jawab yosia lalu melepaskan tangannya dari rambut laki laki itu.
__ADS_1
"Lha, lo mikirnya yang kaya gimana heh?" Wilson merapikan rambutnya yang berantakan karena yosia.
"Iya elo ngapain pake bilang mau di keluarin segala."
"Sialan kan elo yang nyuruh." Wilson dan Yosia saat ini sedang bertatapan dan beradu mulut, sementara Angga hanya menggeleng kepala tak tau lagi dengan temannya itu.
"Bagus, punya temen sinting semua." Kata Angga sambil berjalan mendekati pintu kamar Rebecca.
"Kak makan malam dulu yuk, sedihnya nanti lagi, sudah di tunggu mami lho di bawah." Ucap Angga dengan lembut.
"Semua punya titik sedihnya masing-masing kok kak, kita juga ngakpapa buat merasa nggak baik baik aja, tapi perut tetap harus diisi, menangis juga butuh energi kak." Tambah Angga.
***
Rebecca menyerka air matanya, ia juga merapikan rambutnya yang berantakan itu, ia tidak ingin terlihat rapuh di depan siapapun termasuk adiknya.
Baginya apa yang ia rasakan harus ia saja yang mengerti, Rebecca tidak mau merepotkan orang lain karena masalah pribadinya.
Tidak lama setelah ia menyiapkan diri untuk terlihat baik-baik saja, ia membuka pintu dan mendapati Yosia dan duo sejoli sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kenapa nggak lo buka dari tadi sih, gue khawatir sama lo." Kata Yosia tetap memeluk kakaknya.
Duo sejoli yang melihat hal itu ikut terharu, mereka juga berpelukan mesra satu sama lain.
Rebecca dengan segera melepas pelukan dari adiknya itu, "Apaan sih."
"Lha kok apaan sih?" tanya Yosia keheranan.
Rebecca melihat adiknya itu dan duo sejoli dengan tatapan dingin, "Ngapain teriak teriak? Ganggu orang lagi tidur aja."
Duo sejoli yang mendengar hal itu saling bertatapan dengan heran, "Lahh?" Kata Wilson dan Angga bersamaan.
Yosia yang mendengar hal itu menjadi kesal "Kenapa kunci kamar? Gue udah bilang jangan pernah kunci kamar lo." Yosia kesal bukan main kepada kakaknya itu.
__ADS_1
"Kamar gue kenapa lo yang atur?" jawab Rebecca langsung turun meninggalkan yosia dan duo sejoli.
Yosia melirik ke arah duo sejoli, "Lo kalo ngasih informasi yang akurat dong!"
"Lahh si blekok di kasih tau yang bener kaga percaya." Jawab Wilson.
"Tau tuh." Sahut Angga.
Mereka yakin jika melihat Rebecca menaiki anak tangga dengan menangis tersedu, tapi wanita itu tidak mau mengaku dan beralasan hanya sedang tidur.
"Serah lo deh gue turun dulu." Yosia pergi meninggalkan duo sejoli.
Tidak lama dari itu duo sejoli juga ikut turun mengekori Yosia.
***
Miko yang baru saja selesai mandi masih berkutat di kamar Yosia.
"Kemana nih para setan." Gumamnya karena tidak mendapati seorang pun di dalam kamar.
Saat ini laki-laki itu hanya memakai boxer warna hitam milik Yosia, lalu segera membuka lemari besar milik temannya itu dan mulai mencari kaos yang menurutnya cocok untuk ia pakai.
Setelah ia menemukan yang cocok untuknya, ia segera memakai dan pergi meninggalkan kamar.
***
Di meja makan personil sudah lengkap, hanya saja kurang Miko yang belum gabung, mama Debora dan duo sejoli yang duduknya berhadapan sedang bercanda tentang hal sepele.
Begitu juga dengan papa Alex yang terus saja sibuk memberikan pertanyaan seputar kehidupan kepada anak laki-laki nya itu.
Sementara Rebecca duduk termenung sambil menyangga kepalanya dengan tangannya, tatapanya kosong dan dengan wajah yang sepertinya lelah, sesekali ia memainkan sendok dengan tangan kanannya.
Di sela-sela pertanyaan papanya, Yosia melirik kearah Rubik yang dari tadi tidak bersuara sedikitpun, ia sedikit khawatir kepada kakaknya, namun Yos tidak tahu harus berbuat bagaimaa.
__ADS_1
"JANGAN PAKE KOLOR GUE!"