
Plakkk
Pukulan keras mendarat mulus di wajah Yos.
"Aww sakit kampret! Lo nggak tau ini harta berharga gue?" Yos merintih kesakitan sambil mengusap wajahnya yang baru saja di tampar kakaknya.
"Aish ini kalo sampe lecet mampus gue," Yos berkaca di depan cermin sambil menunjuk bagian wajahnya yang memerah.
Rubik alias Rebecca membenarkan posisi duduknya menjadi rebahan diatas kasur.
Yosia tetap setia dengan kacanya sesekali ia mengusap wajahnya yang membekas memerah, laki-laki itu tidak berhenti menggerutu, "Kok bisa sih mama lahirin dia dulu, harusnya gue dulu biar gue bisa bunuh dia." Ucap Yosia pelan yang tidak bisa di dengar oleh Rubik karena suara hujan.
"Eh nggak ngaruh juga sih mau duluan siapa, sekarang kayanya gue bisa bunuh dia, cuma belum berani aja eheh." Lanjut Yos di depan cermin dengan penuh sesal memandangi wajahnya.
Padahal merah tidak seberapa, namun paniknya sudah minta ampun.
Yos selalu memperhatikan penampilannya, karena dia tau bahwa dia adalah incaran para wanita, bagi Yos wajahnya adalah harta berharga.
Yos memutar badan dan menghadap Rubik yang sedang rebahan diatas kasur, dengan mata yang sedikit terpejam namun bisa merasakan seseorang berdiri tepat disebelahnya.
"Mau apa lo?" kata Rubik dengan mata tertutup.
"AAAAA ITUU APAAA!!! TALI KUT*NG LO BUKAN SIHHH?" Yos terkejut karena mendapati bra milik kakaknya yang bercecer di atas kasur.
Mungkin ini adalah hari malas Rebecca sehingga ia tidak membersihkan kamarnya.
"Emang kenapa? Mau pake?"
Dengan santai Rebecca melempar tali penghubung dua gunungnya kepada Yos.
Yos terkejut dengan sigap laki laki itu menghindar.
"Ngadi ngadi lo." Jawab Yos ngeri "Kalo lagi nggak pake masukin lemari kek, gatau malu banget lo dasar Rubik sialan." Tambah Yos.
"Ini gue lagi pake." Rebecca mengoda adiknya dengan senyum jahil.
"Maksut guee kalo ini lagi nggak di pake masukin lemari, ngapain lo taruh bececeran dimana mana, kan kasian mata gue udah berdosa." Yos frustasi melihat tingkah kakaknya yang menurutnya sembrono dan tidak tahu malu.
Bagaimana bisa kakaknya tidak menyimpan tali penghubungnya di dalam lemari, apa tidak kaget kalo nanti ada temannya yang masuk kamar dan melihat pemandangan yang tidak senonoh itu. Yos membayangkannya saja sudah ngeri.
__ADS_1
"Ya Allah ampuni hambamu ini, jangan kau tarik daya pikat dan ketampanan hamba ya Allah, ini murni salah rubik sialan itu." pinta Yos dengan sujud di depan jendela sambil melipat tangannya.
Jduakkk
Bantal besar melayang tepat mengenai kepala Yos, laki-laki itu ambruk dari sujudnya. Ia merintih karena kepalanya kejedot jendela di depannya.
Pelaku yang diduga adalah kakaknya sendiri tersenyum kemenangan "Yash, tepat sasaran!"
"Ya Allah jadi combo deh muka gue."
*
Hujan semakin deras mengguyur Surabaya, tetesan air yang jatuh membuat iramanya sendiri.
Tidak ada yang lebih nyaman selain kasur diwaktu hujan.
Mama Debora sedang membantu mbok Sri menyiapkan makan malam, sementara papa Alex membangunkan kedua anaknya.
Laki-laki paruh baya yang masih kekar itu berjalan menaiki tangga, kamar pertama yang ia tuju adalah kamar putranya, namun ia tidak mendapati siapa-siapa di dalamnya. "Kemana anak ini." Pikir Pak Alex karena kamar putranya sepi tidak berpenghuni.
Lanjut kamar putrinya, Pak Alex berhenti di depan pintu kamar Rebecca, laki laki itu tertawa mendapati tulisan besar. DILARANG MASUK JIKA TIDAK ADA KEPENTINGAN.
"Keluar nak, waktunya makan." Begitu terkejutnya pak Alex karena Yos yang membuka pintu
"Loh kok anak ganteng yang keluar? Kakakmu mana?"
Yos menunjuk dengan jari jempolnya ke arah Rubik yang sedang asik rebahan dengan ponsel diatas wajahnya.
"Papa jangan masuk, banyak yang ga beres di dalem," bisik Yos kepada papanya.
Pak Alex menaikkan alisnya satu karena penasaran. Laki laki itu binggung apa arti dari kalimat anaknya.
"Kenapa to le?" tanya Pak Alex penasaran sambil mengintip sedikit ke dalam kamar Rubik, namun ia tidak mendapati apa-apa karena gelap.
Yang ia dapati hanya pemandangan bulan setengah bulat dari jendela yang masih terbuka.
"Nak cepet turun kita makan." Kata Pak Alex kepada Rebecca dari luar kamar.
Sementara Yos sudah ngacir duluan untuk menyarap.
__ADS_1
"Kakakmu sudah bangun kan Yos?" tanya mamanya dengan membagikan nasi ke piring Yosia.
"Nggak bangun." Jawab Yosia.
"Loh kan ini waktunya makan malam Yos, kasian kakakmu kalo nggak makan."
"Yaiyalah nggak bangun, orang dia nggak tidur hahaha," jawab Yosia sambil menaruh sup di mangkuknya.
"Lah itu si kasar turun sama papa," Yos menunjuk Rubik dengan sendok yang sedang turun dari tangga.
Rubik sekilas melihat kearah Yos yang sedang menunjuknya dengan sendok lalu ia menaikkan satu bibirnya melambangkan kemenangan.
"Dasar adek laknat, bisa-bisanya masuk kamar gue " Gerutu Rubik.
Rubik dan papanya segera duduk di kursi untuk makan malam bersama, Yos yang paling bawel tengah bercerita tentang tadi di sekolah, padahal tidak terjadi apa-apa, hanya saja ia suka membicarakan hal sepele kepada keluarganya.
Rubik menikmati makan malamnya dengan damai, tidak bersuara sedikitpun. Menurutnya makan sambil berbicara adalah tidak sopan.
"Tadi gimana di sekolah nak?" tanya mama Debora kepada Rubik.
Rubik menelan makanannya lalu menjawab, "Ya gitu."
"Mamah jangan tanya dia, jawabannya tiap hari juga sama ya gitu," cela Yos yang disambut kekehan oleh kedua orang tuanya. Sementara rubik tidak menggubris.
~
Mereka selesai dengan makan malamnya.
Yos kembali kedalam kamarnya untuk beristirahat.
Hujan tak kunjung reda. Laki laki tampan itu membuka jendela kamarnya untuk menikmati sejuknya angin malam dan hujan.
Ia duduk di sofa dengan menyilangkan lengannya, tatapannya tidak luput dari jendela.
Seketika mulutnya mengucap sesuatu.
"Bulan yang selalu menyimpan rahasianya untuk dibagikan kepada sang malam.
Dan pohon yang selalu menantikan hujan untuk mencurahkan segala kerinduannya.
__ADS_1
Begitu juga denganku yang menyukai suara rintik melodimu."