Senja Milik Rebecca

Senja Milik Rebecca
eps 3. Tidak Harus Sempurna


__ADS_3

"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain, mungkin bangi-Nya ini jalan yang paling baik."


2 wanita di depan Dokter Debora menangis terisak dengan kencang, mereka jatuh tersungkur bukan karena bersyukur, melainkan kesal kepada sang pencipta mengapa tidak menyamakan keinginannya.


"Sudah bu sudah jangan menangis lagi, ayah sudah bahagia disana, ayah nggak sakit lagi bu," kata seorang gadis dengan isak tangis yang ia tahan agar tidak terlihat rapuh.


Sementara sang ibu yang sudah tua tetap tidak bisa terima, mengapa sang suami cepat meninggalkannya, padahal dahulu mereka sudah berjanji akan terus bersama sama.


Dokter Debora berlutut untuk menyamakan posisinya dengan sang ibu, "Yang kuat ya bu, semua sudah jalan-Nya," ucap Dokter Debora menguatkan sang ibu sambil menepuk pundaknya.


Namun yang sedang di kuatkan tidak mampu, sesekali ia mengutuki dirinya bahwa semua yang telah terjadi mungkin adalah keteledorannya, andai saja ia lebih cepat membawa suaminya kerumah sakit mungkin ini semua tidak akan terjadi, ia tak henti menangis karena baginya separuh dari hidupnya sudah tidak ada.


Lalu untuk apa aku ada jika kamu tidak ada?


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam.


Ddrttt ddrrttt


"Papa sudah di parkiran." Ponsel Dokter Debora menyala menunjukkan sebuah pesan singkat dari suamiku.


Dokter Debora berjalan pelan di lorong lorong rumah sakit, dengan wajah yang lesu ia mengabaikan ponselnya yang sedari tadi sudah bergetar.


Baginya kejadian tadi adalah kesalahannya, bagaimana bisa seorang dokter tidak bisa menyelamatkan pasien, bagaimana bisa seorang dokter membuat wali pasien mendapat kabar buruk hingga menangis, bagaimana bisa ia disebut Dokter?


Ia merasa bersalah kepada ibu yang baru saja di tinggalkan suaminya, ibu yang sudah berharap banyak kepadanya untuk bisa menyembuhkan sang suami, namun ternyata ia gagal.


"Kenapa ma? Kok loyo gitu?" tanya Pak Alex yang sudah berdiri di depan mobil sedannya.


Yang ditanya hanya menatap lalu tersenyum miris.


"Pulang yuk pa, mama capek."


Mereka masuk kedalam mobil bergegas untuk pulang, dalam perjalanan Pak Alex tetap setia bertanya ada apa, namun tetap tak ada jawaban yang pasti, yang ada hanya jawaban nggakpapa.

__ADS_1


Untungnya jalanan tidak terlalu macet sehinga mereka cepat tiba di rumahnya.


Mereka bersiap untuk mandi sebelum mereka makan malam bersama, "Pah." Kata mama Debora lirih.


Ia tak berani menatap mata suaminya, ia hanya duduk dan memandangi lantai bawah yang bermotif kotak kotak itu.


"Ada apa mah? Coba cerita kalau ada apa apa di kantor," jawab Pak Alex dengan mengelus rambut istrinya.


"Mama udah gagal pa," tangis Mama Debora pecah, ia sudah tak sanggup lagi rasanya, ia terus saja menyesal bahwa ia sudah gagal menolong pasien yang ia tangani.


Dengan sigap Pak Alex langsung memeluk istrinya yang sedang menangis sejadi jadinya, "Ngakpapa mah, nggak semua yang terjadi bisa sesuai sama kehendak kita."


"Mama udah gagal jadi Dokter Pa, Mama kasian sama ibu yang tadi, pasti sakit banget rasanya ditinggal suami," jawab Mama Debora dengan tangis yang semakin menjadi.


Pak alex tidak menjawab apapun, ia tetap memeluk erat istrinya tanpa ingin melepaskannya, ia tau bagaimana berada di posisi sang istri yang merasa bersalah padahal itu mutlak bukan kesalahnya.


Bagaimana bisa kehendak Tuhan menjadi kesalahanya? Bukankah itu adalah sebuah takdir?


"Kita cuma manusia biasa nggak harus jadi sempurna kok ma, ini juga toh bukan kesalahannya mama, Mama sudah melakukan yang terbaik kok papa percaya," sambungnya.


Mama Debora hanya menganguk, ia juga berfikir yang sama bahwa ini sudah menjadi ketentuan-Nya.


Pak Alex menyerka air mata di wajah mama Debora, wajahnya basah di penuhi air mata. "Sudah ma jangan nangis lagi, jelek." Kata Pak Alex sambil mencubit hidung istrinya itu.


"Papa ih," jawab Mama Debora dengan malu, dengan segera ia berdiri bergegas untuk mandi, ia mengambil handuk di sebelah lemari namun langkahnya terhenti karena suara sang suami.


"Mah," panggil Pak Alex lembut yang seketika Mama Debora berbalik dan menatap Pak Alex.


"Nggak harus sempurna ya ma, kita cuma manusia biasa." Sambung Pak Alex yang langsung mendapat anggukan dari istrinya.


~


Suara hujan mengguyur Surabaya, tidak ada lagi yang terdengar selain tetesan suara hujan. Suasana yang seperti ini Yosia suka, rasanya dingin dan tentram.

__ADS_1


Berbeda dengan Rubik, ia tidak suka hujan, baginya senja lebih menarik karena senja tidak pernah ingkar, senja selalu berjanji bahwa ia akan selalu datang membawa kedamaian, bukan hanya damai, senja adalah menawan baginya.


Ceklekk


Yosia membuka pintu kamar Rubik lalu segera masuk kedalamnya, hari ini ia tidak perlu izin untuk masuk ke dalam kamar kakaknya, meskipun ia tahu kalau sebentar lagi kakaknya akan murka.


"Tulisan segede gaban ga keliatan?" kata Rubik dengan memandang adiknya yang sedang duduk sambil memakan roti coklat miliknya.


"Ini gue masuk soalnya ada kepentingan." Jawab Yos santai meskipun sebenarnya ia takut setengah mati kalau mungkin kakaknya akan murka.


"Ada apa?" sahut Rubik dengan membuka lemari untuk mencari baju yang akan ia gunakan, saat ini Rubik hanya memakai tangtop hitam dan celana pendek saja. Meskipun begitu ia tidak pernah malu dihadapan adiknya.


"Lah ini," jawab Yos sambil menunjuk roti coklat yang sedang ia makan.


"Bawa aja keluar, ngapain makan disini."


"Yaelah nggak peka banget, gue disini mau nememin lo, kan kasian sendirian, mana kamar lo gelap banget lagi," hening tak ada jawaban, "Ini kamar apa hati lo? Ga bewarna banget." Tambah Yos menggoda kakaknya.


"Lo kali yang kesepian, makanya kesini," sahut Rubik.


"HAHAHA menusuk, tapi iya juga sih." Jawab Yos sambil tertawa miris.


Yos berdiri mencari sakelar lampu, ia nyaris tak melihat apapun karena gelap, yang ada hanya lampu tidur yang tidak seberapa nyala.


"Jangan pake lampu, gue bunuh lo!" Yos kaget bukan main mendengar teriakan kakanya dari sudut kamar.


"Lah ngapa dah teriak, kaya sesuatu yang berbahaya aja mau nyalain lampu, gelap tau! Emang lo mau transaksi narkoba disini gelap-gelapan? Atau," Yos berjalan mendekati Rubik, ia sengaja mendempetkan tubuhnya dengan kakaknya, sementara Rubik sudah bersandar di tembok dan ia tidak bisa menghindar kemanapun lagi.


Meskipun Yos adalah adik Rubik, tapi tetap saja masalah tinggi badan Yos yang menang.


Kedua tangan Yos berada tepat disebelah kepala Rubik, kedua hidung mereka saling bertemu, nafas mereka terasa satu dengan yang lain.


Yos menatap mata Rubik dalam-dalam dan menyeringai "Lo suka gelap gelapan bukan karena anu kan? Mwehehe atau jangan jangan..."

__ADS_1


__ADS_2