
"Lo nggak salah liat kan?" tanya Rebecca lagi karena dirinya tak percaya.
"Nggak lah, orang Dixon aja liat gue tadi, tanya aja kalo ga percaya." Rebecca yang mendengar hal itu terkejut, ia binggung harus percaya Galuh atau Dixon, pacarnya.
Tapi yang jauh membuatnya binggung adalah siapa wanita yang bersama Dixon di kamar mandi itu.
"Oh hm iya lupa gue, sory ya tadi kirain lo guru, jadi gue cepet cepet masuk." Kata Rebecca, ia tak mau terlihat gelisah di depan teman temannya. Meskipun dalam hati sudah ingin mengumpat kepada wanita ****** itu.
"Gue duluan ya!" pamit Rebecca kepada teman temannya.
Bel istirahat sudah nyaring berbunyi, dari setiap sudut pintu kelas sudah banyak murid yang berhamburan keluar kelas.
Rebecca berjalan menyusuri ujung lorong untuk ke kelas Dixon, kelas Dixon adalah kelas yang paling ujung, berdekatan dengan kamar mandi siswa.
Selama langkahnya menuju kelas Dixon ia bergulat dengan fikiranya, entah benar atau tidak yang Galuh katakan tadi.
"Hei jambul, tolong panggilin Dixon." Rebecca yang sudah berdiri di depan kelas Dixon bertemu dengan Latonda, atau yang biasa di panggil jambul.
Latonda mengangguk lalu memanggil Dixon.
Tidak lama kemudian Dixon keluar menemui Rebecca yang sedang duduk di bawah pohon besar depan kelasnya.
"Hey by, udah lama disini?" tanya Dixon sambil mengelus rambut Rebecca.
Rebecca terpaku seperti tak tahu kalau Dixon sedang duduk di sebelahnya, fikirannya tidak karuan menebak gadis mana yang ia temui di kamar mandi tadi.
"By?" Dixon membangunkan Rebecca dari lamunannya.
__ADS_1
"Eh emm iya?" Rebecca kaget karena tangan Dixon menyentuh kepalanya.
"Lagi mikirin apasih sayangkuu ini."
"Em enggak kok."
"By tadi aku nyariin kamu di aula tapi kamunya nggak ada, kamu kemana by?"
"Ketiduran di kelas he he he."
"Ha ha ha ya Tuhan gemes banget pacarku ini." kata Dixon sambil mencubit kedua pipi Rebecca gemas.
Rebecca hanya duduk termenung, tidak mengubris cubitan mesra pacarnya, jangankan mengubris untuk ia kembali fokus saja rasanya susah.
Setelah lama ia berkutat dengan isi kepalanya Rebecca memutuskan untuk bertanya, "Aku boleh nanya sesuatu nggak sama kamu?"
"Kamu istirahat kemana?"
"Dari aula kan by."
"Habis dari aula?"
"Dari aula aja kurang 10 menit langsung masuk by, nggak kemana kemana aku." Jawab Dixon.
"10 menit itu kamu ngapain?"
Dixon berhenti memainkan anak rambut Rebecca, tampak sekali saat ini Dixon sedang berfikir keras mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Hmm ngapain ya by, ngga ngapa ngapain kayanya." Jawabnya namun terlihat tak yakin.
"Kamu serius? nggak ada yang kamu sembunyikan dari aku kan by?" Rebecca memastikan.
"Nggak ada by, aku nggak macem macem kok, tadi paling cuma main game sama Okta."
"Aku nggak mau kalo nanti kamu ada nyeleweng ke aku, aku udah percaya banget sama kamu, percayaku ini lebih dari aku percaya ke diri aku sendiri."
Dixon meraih kedua tangan munggil Rebecca.
"Iya by aku ngerti kok, aku janji ga bakal ngecewain kamu."
Rebecca diam tak berkutip, Sebagai pacar yang baik harusnya ia percaya kepada pasanganya.
Berulang kali ia meyakinkan diri agar percaya kepada Dixon, tapi entah datang darimana rasanya agak sedikit gusar.
Galuh yang terkesan tidak akan melebih lebihkan sesuatu akan terlihat naif jika sampai berbohong akan hal itu, toh tidak ada untungnya juga kalau ia berbohong.
"Yaudah aku ke kelas dulu." Rebecca meninggalkan Dixon.
Keduanya sama sama menuju kelasnya masing masing.
Dixon yang belum sepenuhnya masuk ke dalam kelasnya sedang menunggu balasan telepon dari seseorang.
Setelah lama menunggu, seseorang mengangkat panggilannya.
"Aku kan udah bilang kalo disekolah jangan ketemu dulu."
__ADS_1