
Miko menyesuaikan langkahnya disamping Yos.
"Yos nanti jangan lupa ya!"
"Emang jadi?" Yos merangkul pundak temannya itu.
"Jadi lah."
"Gue sama angga ikut." Sahut Wilson.
"Ee busett emang rumah gue tempat penginapan." Jawab Yos sedikit terkejut karena semua temannya mau menginap dirumahnya.
Biasanya hanya Miko yang menginap, jarang sekali semua member ikut.
"Gue kangen nyokap lo masa iya ngga bolehh ikutt." Kata Wilson dengan memasang popy eyes andalannya.
Siapa yang sanggup menolak jika Wilson sudah memasang popy eyes andalanya itu, lucu polos bukan main.
Meskipun anaknya ngga sepolos itu.
"Acara apaan nih main kangen nyokap gue?" Yos memandang Wilson sinis.
__ADS_1
"Maksutnya kangen sebagai anak ke orang tua, jangan ngadi ngadi lo," sahut Wilson tidak terima.
"Kalo gue sih pengen kakak lo mwheheh." Sahut seseorang yang dari tadi diam lalu membuka suara.
"Hiyaaa pengen apanihh hahaha." Miko tertawa keras mendengar suara Angga.
"Elo dari tadi diem sekali buka suaranya yang ga mungkin banget." Yos mencolek dagu Angga gemas.
"Apa salahnya ngayal dulu," sahut Angga disusul tawa semua member.
"Ngayal sih gapapa ngga, tapi kan kalo lo lagi liat langit, ya lo harus memandang dia sebagai langit, mana bisa untuk memeluknya." Wilson si raja quotes membuka suara.
Sepanjang perjalanan mereka menuju parkiran Yos hanya bergidik ngeri. Laki-laki itu tak sanggup jika harus membayangkan kakaknya mempunyai pacar, bukan karena tidak rela melepaskan kakaknya bersama laki-laki lain, melainkan ia tidak tega kepada laki-laki yang akan bersama kakaknya nanti.
Yos berfikir kalau kakaknya masih belum lulus jika masalah percintaan, sejauh mata memandang ia masih belum pernah melihat kakaknya berpacaran lagi setelah kejadian hari itu.
"Aduh nanti kalo rubik punya pacar gimana nasib pacarnya ya."
"Apa iya kalo pacarnya salah langsung di ancem mau di bunuh? Kan ngeri pisan euu."
Banyak pertanyaan yang muncul di benak Yos, selain bergidik ngeri ia juga sesekali tertawa membayangkan jika nanti kakaknya berpacaran.
__ADS_1
"Mau pake metode apa rubik nanti ya? Hmm hahaha." Fikir Yos dengan tersipu, membayangkannya saja ia tidak mampu.
Empat sekawan tiba di parkiran, mereka berpisah untuk pulang kerumah masing masing terlebih dulu.
Yos langsung lari ngibrit menuju mobil sedan hitam di tepi jalan gerbang sekolah, "Yuk pak pulang duluan aja." Kata Yos dengan semangat.
"Tapi nona tuan belum keluar." Sahut seorang supir paruh baya dengan suara serak miliknya.
"Yaelah tinggal aja pak, nungguin dia bisa bisa mati kelaperan aku."
"Nanti tuan putri marah lho, bisa di bunuh nanti tuan." Goda pak supir pribadinya, Yos yang mendengar itu juga sedikit ngilu.
Yos menunggu Rubik di dalam mobil sambil bermain game di ponselnya, kaca mobil yang ia biarkan terbuka membuat pesonanya terlihat dengan jelas.
Rambut hitam pekat yang ia biarkan menari ditiup angin membuat auranya menjadi combo.
Sementara itu di penghujung jalan seorang wanita tidak berhenti memandangi Yos dari kejauhan. Pandangannya tidak luput sedikitpun dari laki-laki dalam mobil itu.
Sesekali ia bergumam, memang benarr.
"Terkadang sesuatu yang indah tidak untuk di miliki, cukup di pandangi dari jauh bahwa ia tercipta untuk di kagumi dalam diam."
__ADS_1