Senja Milik Rebecca

Senja Milik Rebecca
eps 8. Samar


__ADS_3

Rubik melihat sekilas ke arah ponselnya, tertulis jelas DM masuk dari Dixon.


"Kangen."


Tak ada niatan untuk membalasnya, wanita itu hanya berdiri termenung sambil melihat lagi isi pesan di ponselnya.


Satu kata yang membuat sekujur tubuhnya kaku, fikirannya berfikir tak karuan, dan hatinya berdegub kesal.


Seorang laki-laki yang dulu pernah mengisi hatinya sebelum ia meluluh lantakan semuanya kembali muncul di layar ponsel Rubik, kesal bukan main.


Sebenarnya Rubik sudah menghapus semua kenangan tentang Dixon, kekasih nya dulu. Sudah 2 tahun berlalu yang Rubik lalui dengan kewalahan karena ulah mantan kekasihnya itu, tapi sekarang laki laki itu muncul seperti tidak punya dosa kepadanya.


Bagi Rubik, Dixon adalah luka yang paling dalam.


***


Tampak seorang laki-laki berbadan kekar dan dada yang lebar sedang duduk di bawah pohon besar sambil membawa buku di tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk dengan ponsel hitam yang sedari tadi ia pandangi namun tak ada balasan yang ia harapkan.


Laki-laki itu tampak tertunduk lesu, raut wajahnya yang tak karuan membuatnya sulit di tebak, namun yang pasti rasa sesal yang ia rasakan membeludak saat ini.


Ingin rasanya dia mengutarakan kesalahan yang dulu pernah di buatnya.


Setidaknya membuat lega meski tak sepenuhnya bisa menghapus dosa.


"Maafin aku by." Ucapnya lirih.


***


Waktu memang cepat berlalu.


Wilson terkejut bukan main ketika ia sedang tertidur pulas namun alarm miliknya berbunyi nyaring tepat di sebelah telinganya.


"Ya allah gue kaget bgst." Sambil memukul alrm spongebob mini miliknya.


Bukan Wilson namanya kalo ngga aneh, masa iya dia keget bilang-bilang, mana sambil mukul jam alrm lagi, kan yang atur jam juga dia sendiri.


Setelah lega memukul alarm spongebob nya ia lanjutkan dengan ngelamun terlebih dulu di atas kasur, siapa peduli dengan penampilannya kali ini, toh tidak ada yang tahu.

__ADS_1


Dada lebar penuh dengan roti sobek ia biarkan terbuka, yap betul! Telanjang dada lebih tepatnya.


Wilson termenung di tengah tengah kasur


miliknya, ia sedang berfikir keras entah apa yang akan ia lakukan sebentar lagi.


"Gue mau ngapain ya idupin alarm." Dengan suara berat miliknya karena laki-laki itu baru saja bangun dari tidurnya.


Wilson mengibas rambutnya kasar untuk merapikan anak rambut yang sedikit berantakan itu, "Ada janji kemana ya kok tiba-tiba lupa gini."


Ddrtt drttt


"Eh kok geter anying hahaha." Ia tertawa karena pas di bawah pantat nya bergetar karena ponsel yang ia duduki, Wilson meraba mencari ponsel di bawah pantatnya lalu dengan segera membalas pesan yang baru saja masuk.


Belum saja di balas, seorang yang mengirimkannya pesan sedang memaki maki dirinya.


"Lo dimana monyet?"


"Jadi nggakk tolll."


"Dari tadi gue tungguin udah jam berapa ini hoe!"


4 pesan dari Angga berhasil membuat ingatan Wilson kembali, laki-laki itu lupa jika ia sudah punya janji untuk pergi menginap di rumah Yosia.


"Mampus gue." Kesalnya karena ia pelupa, Wilson tak enak hati karena sudah membuat Angga menunggu.


Wilson segera membalas pesan Angga, bestienya itu. "Tunggu sebentar ya sayang, aku mau mandi dulu." Goda Wilson dengan tawa andalannya.


"Najis lo ******." Balas Angga.


Sudah menjadi hobi Wilson untuk menggoda Angga, ditambah lagi Wilson memang super jahil anaknya, tidak bisa diam.


Tidak heran jika teman temannya menyebutnya 'Si tampan tapi autis' begitulah kira kira.


Wilson segera mandi dan menyiapkan diri untuk menjemput Angga sang pujaan hatinya.


Tidak lama dari itu suara sepeda motor berhenti tepat di depan rumah Angga, Angga yang menyadari itu langsung keluar membukakan pintu

__ADS_1


"Lama banget lo taik!" Angga menatap Wilson kesal.


"ketiduran aku, jangan ngambek beib." Goda Wilson sambil mencolek dagu temannya itu.


Angga yang bergidik ngeri langsung mendorong tubuh Wilson ditambah i dengan pukulan yang mendarat di atas kepalanya, "Najis ngen lo!"


"Yuk! Hehehe." Goda Wilson mengiyakan ajakan tak senonoh Angga itu.


"Emang gendeng arek iki." Logat jawa milik Angga keluar tepat di hadapan Wilson. "Miko udah di rumah Yos, ayo cepet kasian lama nunggu." Tambah Angga.


"Iya sayang yuk cap cus." Jawab Wilson sudah siap di atas sepeda motornya.


Wilson menoleh kearah Angga terheran heran kenapa anak itu tak kunjung naik di sepeda motor miliknya.


"Eee buseett tadi ngajakin berangkat giliran berangkat beneran malah ga naik naik, susah emang ya sama anak perawan."


"Eeee buseettt mau lo dorong itu motor ke rumah Yos? Kunci motor lo noh di meja!" jawab Angga dengan logat suara yang disamakan seperti Wilson barusan.


"Lahh si anyinkk hahaha." Wilson menepuk jidatnya sambil tertawa, "Ambilin dong beib." Tambahnya lagi.


"Nih!" Angga yang sudah geram melemparkan kunci motor milik Wilson, kesal bukan main dari tadi yang dia rasakan.


Mereka melaju menyusuri jalan raya yang tidak terlalu macet, tidak ada obrolan dalam perjalanan, atau lebih tepatnya Angga tidak mau merespon Wilson yang sedari tadi mengoceh.


Entah apa yang dia bicarakan sepertinya Angga sudah muak untuk menjawab.


10 menit berlalu tanpa obrolan hanya monolog Wilson yang di hiraukan Angga saja yang terdengar.


Mereka sampai di rumah besar dengan pagar hitam megah yang sudah di bukakan oleh pak supir pribadi Yosia.


Wilson memarkirkan motornya di bagasi tepat bersebelahan dengan motor KLX king milik Miko.


Angga sudah turun lebih dulu, hanya Wilson sendiri yang ada di bagasi, laki-laki dengan sweater abu-abu itu dengan segera melepas helm yang ia gunakan.


"Kinclong bener ini motor." Wilson menggosok motor Miko dengan jari telunjuknya.


Motor yang mirip dengan motor pembalap cross itu adalah motor kesayangan Miko, jadi sudah tidak kaget lagi jika motor itu akan kinclong, Miko akan selalu merawat apa yang ia sayangi dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Jangankan motor yang kinclong, kamu kalo udah di sayang Miko bisa jadi glowing semriwing.


"Yuhuuu I'm comeback!"


__ADS_2