
Keduanya saling menyuruh satu sama lain, tapi keduanya juga sama sama menolak, hasilnya mereka ribut di depan pintu kelas.
Pak Andi yang menyadari kebisingan di luar segera membuka pintu. "Kalian ngapain disini! Sudah jam berapa ini!" Bentak pak Andi.
Rebecca dan Ocha langsung kicep di buatnya.
Siapa juga yang tidak ngeri kalau guru paling killer sudah murka.
"Tujuh le lebih 30 pak." Jawab Ocha terbata-bata.
Dua gadis itu tidak berani menatap pak Andi, keduanya menundukkan kepala takut bukan main.
Mereka lupa kalau hari rabu ini jam pertama adalah jam pak Andi, seharusnya tidak sampai terlambat agar tidak kena omelan guru killer itu.
"Hampir semua guru mengeluh kalau kalian sering terlambat masuk kelas, kalian ini sudah dewasa, mau jadi apa kalian kalau tidak disiplin mulai dari sekarang."
"Iya pak." Jawab kedua gadis itu tetap dengan kepala menunduk.
"Iya apa?"
"Itu yang tadi bapak bilang iya pak."
"Saya serius ya! Jangan main-main sama saya, saya bisa tidak meluluskan kalian meskipun saya bukan wali kelas kalian, sekarang kalian masuk!"
"Iya pak."
Rebecca dan Ocha masuk kedalam kelas lalu segera duduk dan membuka buku paket yang setebal buku sejarah itu.
"Itu tadi yang datang terlambat maju kedepan!"
Rebecca dan Ocha saling memandang sebelum akhirnya mereka maju kedepan kelas.
"Buku paketnya dibawa, kalian belajar sambil berdiri sampai bel istirahat."
Keduanya melongo tak percaya, siapa yang tahan harus berdiri sampai jam 10 nanti.
"I-iya pak." Rebecca dan Ocha berdiri di depan kelas dengan menenteng buku paket di tangannya, sementara pak Andi sedang menjelaskan materinya.
"Bisa semaput gue kalo sampe jam 10 berdiri." Bisik Ocha.
"Semaput bareng aja kalo gitu."
"Sekarang?"
"Ya jangan lah, baru berdiri masa mau semaput, nanti aja rada lamaan dikir biar percaya."
40 menit berlalu hanya suara pak Andi saja yang memenuhi ruangan kelas. Memang tipikal semua guru killer cara mengajarnya pasti dengan berbicara.
"Capek?" Pak Andi menoleh ke arah dua gadis yang sedang berdiri di depan kelas itu.
__ADS_1
"He he he anu enggak kok pak." Jawab Rebecca.
"Yaudah kalau belum capek berdiri terus sampai bel istirahat, yang lain kerjakan paketnya halaman 108."
Rebecca yang melongo karena ucapan pak Andi, sedangkan Ocha sibuk melototi temannya itu.
Bagaimana bisa dia ditanya malah menjawab belum capek, padahal kakinya sudah kram bukan kepalang.
"Lo ngapain bilang belum capek? Gue udah pegel ini."
"Cielah emang lo doang yang pegel, gue juga anyink."
"Lha terus ngapain bilang belum capek tadi."
"gue ngeri kampret, gue bilang aja belum capek."
"Gila gilaan emang lo." Ocha menutupi wajahnya dengan buku paket tebal miliknya. Rasanya ia terlalu geram dengan jawaban Rebecca.
15 menit berlalu hening tak ada suara.
"20 menit lagi bel, gue udah ga sanggup berdiri ******."
"Ssttt jangan berisik."
"Ayo semaput aja."
"Lo duluan."
"Iya nanti gue panik kalo lo semaput, terus gue nyusul deh, kan dikirain gue shock liat lo semaput."
"Bener juga."
Ocha mengambil ancang ancang untuk akting nya, belum saja mulai ada seorang mengetuk pintu dari luar, "Waduh gagal semaput kita."
"Permisi." Kata seorang perempuan diluar pintu yang dari suaranya saja bisa di tebak dia siapa.
"Ya, masuk." Jawab pak Andi yang tahu bu Evita sedang di luar pintu.
Bu Evita adalah guru bagian administrasi di sekolah ini, jika ada bu Evita sampai masuk ke kelas, sudaj pasti ada beberapa informasi yang akan di sampaikan.
"Maaf pak menganggu waktunya, ada sedikit pengumuman untuk kelas 10." Pak Andi menganggukan kepala.
"Untuk kelas 10 saat ini pada pukul setengah 10 lebih 5 menit diharapkan menuju ruang aula untuk pembahasan lomba classmet, jika sudah berada di aula diharapkan baris menurut kelas masing masing dengan urutan laki laki di depan."
"Iya bu." Serentak semua murid mengiyakan.
"Baik itu saja, maaf menganggu waktunya, terimakasih." Kata bu Evita di depan kelas, "Mari, pak." Tambahnya berpamitan kepada pak Andi.
Bu Evita pergi meninggalkan kelas, lalu pak Andi terlihat sibuk membereskan beberapa buku yang berantakan di mejanya.
__ADS_1
"Tugas dilanjutkan minggu depan, jika minggu depan ada yang belum selesai akan dapat hukuman lari keliling lapangan sesuai dengan jumlah halaman."
Semua murid melongo mendengarnya, kali ini halaman 109, itu berarti jika tidak mengerjakan akan lari 109 putaran. Sadis memang, tapi begitulah cara mengajar guru satu ini.
"Rebecca dan Ocha bisa duduk, kalau kalian terlambat lagi kalian saya jemur dilapangan."
"iya pak."
"jangan iya iya aja, saya tandai wajah kalian."
"i-iya pak." Jawab Rebecca dan Ocha bersamaan.
Semua murid berhamburan keluar kelas menuju ruang aula sesuai perintah Bu Evita, lain dengan Rebecca dan Ocha yang memilih untuk duduk terlebih dulu karena kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri.
"Lo aja yang pergi." Kata Rebecca.
"Lah ngapa jadi gue."
"Perwakilan aja, gue ga sanggup mau berdiri."
"Mana bisa perwakilan anyink, ga dateng satu yaudah ga dateng semua, ga bestie banget sih lo."
"Yaudah kita disini aja." Ocha berbaring di lantai bawah tanpa memakai alas apapun.
"Heh sini! enak banget dingin!" ajak Ocha kepada Rebecca agar ia mau tidur di sebelahnya. Rebecca mengiyakan lalu tidur di sebelah Ocha.
"Hufftt enak bangettt anyinkk." Rebecca lega karena bisa membaringkan tubuhnya.
Suara kaki yang terus terusan terdengar karena semua murid sedang menuju aula.
Tidak lama dari itu suara langkah kaki sedikit demi sedikit menjadi tidak terdengar.
"Bangunin gue kalo bel masuk."
"Terus yang bangunin gue siapa dong?"
"Lo mau tidur?"
"Iye."
"Yaudah kita tidur aja, nanti juga kebangun sendiri."
"Kalo nggak?"
"Bodoamat aing teh yang penting tidur." Ocha mulai memejamkan matanya.
Dua gadis yang berbaring di pojok belakang kelas tidak disangka sudah terlelap, Meskipun seseorang masuk ke dalam kelasnya namun jika tidak berjalan kebelakang maka mereka tidak akan tahu jika ada dua orang murid yang sedang tertidur.
Kringggg
__ADS_1
"HALO GAESS ENAK BANGET TIDUR PULESS! BANGUN NGGAKK LO!"