Senja Milik Rebecca

Senja Milik Rebecca
eps 14. Rebecca dan Masalalu


__ADS_3

Flashback on


"Maaf sayang hari ini nggak jadi dulu, besok aja jalannya."


Rebecca seakan muak mendengarkan kalimat pacarnya itu, bukan hanya satu dua kali saja, bahkan ini sudah yang kesekian kalinya.


Rebecca mematikan ponselnya dan tidak ingin membalas pesan pacarnya itu.


Entah apa alasan Dixon untuk menolak Hang Out dengan Rebecca yang statusnya saat ini adalah pacarnya.


"Hadeh, bosen ampe mampus gabisa mulu." Rebecca berbaring di atas kasurnya, meskipun dia sangat ingin tahu apa alasan laki-laki itu selalu tidak bisa untuk Hang Out dengannya, Rebecca tidak pernah bertanya mengapa.


Jika bukan malasah yang serius, Rebecca akan memilih untuk memendamnya.


Jika karena alasan tugas itu pasti tidak mungkin, mereka sama sama kelas 12 dan satu sekolah, hanya saja mereka berbeda kelas.


Rebecca 12 ips 2 sementara Dixon 12 ips 3.


Namun jika memang karena tugas Dixon menolaknya, tidak mungkin bisa sesering itu, guru juga tidak akan memberikan tugas setiap hari, pasti ada sesuatu yang lain yang Dixon sembunyikan.


Meskipun Rebecca ingin tahu, Dia tidak pernah mencurigai pacarnya itu, bukan karena apa tapi memang Rebecca sudah menaruh semua kepercayaannya pada laki-laki itu.


***


Rebecca sedang menunggu Ocha untuk berangkat ke sekolah bersama.


"Udah beres kan lo?" tanya Ocha di seberang ponsel sana.


"Beres, cepet udah telat ini." Rebecca membalas pesan sahabatnya itu.


5 menit menunggu, akhirnya Ocha datang ke rumah Rebecca dengan sepeda motor scoopy kesayangannya.


"RUBIK GUE UDAH DI DEPAN RUMAH LO!" Ocha tidak berniat turun dari motornya, dengan sekuat tenaga ia berteriak agar sahabatnya itu cepat keluar dari rumahnya.


Jika Ocha memilih untuk masuk ke rumah Rebecca sudah di pastikan mereka akan terlambat, karena mereka akan sibuk mengobrol lebih dulu sebelum berangkat sekolah.


Bel masuk sekolah mereka pas jam 07.00. sedangkan Ocha menjemput Rebecca pukul 06.55, itu berarti jam masuk kurang 5 menit lagi, itu masih belum di hitung perjalanan mereka, sudah di pastikan mereka akan datang terlambat.


Bahkan karena seringnya mereka terlambat pak Rudi, satpam sekolah mereka sudah hafal betul dengan dua gadis itu.


Ocha dan Rebecca bergegas menuju sekolah, Ocha yang selalu menyetir hampir memperoleh gelar pembalap dadakan.

__ADS_1


"Sialan masih aja telat!" Ocha memandangi gerbang sekolahnya yang besar itu sudah di tutup. "Bolos aja kali ya?" tambahnya.


"Gila gilaan lo, hari ini ulangan bahasa inggris, bisa mampus kalo ngga ikut." Rebecca menolak ajakan sahabatnya itu.


"Cielah kita orang indonesia ngapain susah-susah mikir inggris, disuruh ngomong pake Inggris juga pasti gelagapan."


"Bacot banget, mending mikir harus ngerayu pak Rudi yang kaya gimana lagi biar di bukain nih gerbang."


"Terakhir kali gue tawarin mau ngedate bareng gue sih, baru mau tuh di bukain gerbang." Ocha memijat tengah keningnya kebinggungan.


Entah harus pakai cara yang bagaimana lagi agar pak Rudi mau membukakan gerbang, "Coba tawarin ngedate sama lo." Ocha mendorong sebelah bahu Rebecca agar ia mau menawarkan diri.


Namun Rebecca sudah pasti menolaknya, "Sialan, mending bolos aja sih ketimbang gitu." Rebecca melirik Ocha, dia pikir Rebecca mau nge-date bareng bapak bapak tua, padahal dirinya tidak segampang itu.


"Sepi banget, ini yang telat cuma kita aja?" keduanya clingak clinguk untuk memastikan ada yang telat lagi atau tidak.


"Cuma kita aja, apa kita tungguin yang lain biar ada temen lagi?"


"Lha iya kalo ada yang dateng, kalo nggak?" Rebecca melirik jam tangan hitam polos miliknya, "Udah lebih 15 anyink."


"Sialan nggak ada cara lain, terpaksa harus manjat."


Rebecca berlari ke arah gerbang sekolahnya, Sementara Ocha menenteng sepeda motornya untuk dititipkan di rumah Bu Dina, kenalannya. Kebetulan sekali rumah Bu Dina tidak jauh dari sekolahnya.


"Iye sabar." Rebecca yang kurang ahli dalam urusan manjat memanjat hanya bisa bergantung kepada Ocha.


Nantinya Ocha akan memanjat lebih dulu, jika sudah di atas sana Ocha akan menarik lengan Rebecca.


Ocha yang sudah selesai menitipkan sepedanya langsung menghampiri Rebecca yang sedang berdiri tepat di depan tembok besar itu.


"Awas minggir." Ocha mengambil ancang ancang lalu satu persatu tangan dan kakinya mulai naik kesela sela bebatuan yang sudah tersusun di bawah itu.


Setelah Ocha berada diatas, Rebecca mengulurkan tangannya, dengan segera Ocha langsung menarik tangan Rebecca.


"Hati hati kalo lompat, nanti lompatnya kudu pas ke sana." Ocha menunjuk bagian tanah yang kosong untuk tempat mereka mendarat nanti. Rebecca mengangguk mengerti lalu mengikuti Ocha yang baru saja melompat lebih dulu.


Gubrakk


"Pelan pelan kampret nanti ada yang denger." Rebecca mendarat terlalu keras sampai harus di cibir oleh Ocha.


Mereka menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada yang tahu, dan benar saja mungkin hari ini adalah hari keberuntungannya. Sejauh ini tidak ada yang tahu mereka terlambat.

__ADS_1


"Jamnya siapa sekarang?" tanya Ocha sambil membersihkan roknya yang sedikit kotor.


"Pak Andi kayanya."


"Oh bahasa Indonesia, bolos aja deh toh kita juga orang indonesia."


"Lha apa hubungannya dah." Rebecca tidak mengerti lagi kepada Ocha sahabatnya itu.


"Kita kan orang indonesia, jadi ngakpapa kalo bolos pelajaran indonesia, kita ngerti indonesia soalnya kita orang indonesia."


Rebecca menaikan alisnya keheranan dengan jawaban Ocha, tapi dia juga tidak heran dengan sahabatnya itu, Ocha memang kadang benar kadang juga sering nyeleweng.


"Kita masuk pas istirahat apa sekarang aja?" tanya Ocha.


"Sekarang aja deh, ngapain juga lama lama disini."


"yaudah keatap aja kalo gitu."


"Si pekok kalo kita ke atap sama aja boong, lha wong kita harus ngelewati kelas kita dulu baru sampe atap." Ocha memukul kepalanya pelan, bagaimana bisa dia lupa kalau ke balkon harus melewati kelasnya dulu.


Dengan berat hati Ocha mengikuti perkataan Rebecca yang memilih untuk masuk pembelajaran, mereka menyusuri setiap lorong lorong kelas yang sepi, bagaimana tidak sepi kalau semua murid sudah ikut proses pembelajaran.


Rebecca dan Ocha melewati setiap kelas, Rebecca memelankan langkahnya tepat di kelas 12 ips 3, tempat kekasihnya belajar itu.


Keadaan di dalam sunyi, sepertinya kelas Dixon sedang ulangan harian matematika, terlihat jelas kalau Dixon berulang kali memijat keningnya dan berfikir dengan keras.


Rebecca tersenyum simpul melihat Dixon yang sedang bergulat dengan binggungnya. "Cielah masih pagi udah senyam senyum aja, kesambet baru tau rasa" Ocha menyadari kalau Rebecca sedang menatap laki laki itu dengan tersipu.


"Ha ha ha apaan sih." Rebecca melanjutkan langkahnya untuk menuju kelasnya, lalu di susul oleh Ocha.


Ocha menyamakan langkah kakinya, "Emang lo berani masuk? Ngga takut sama pak Andi?"


"Gapapa santai aja."


Mereka sudah berdiri tepat di depan pintu kelas, keadaan di dalam sepertinya hening, hanya ada cerocos pak Andi saja yang sedang mengajar.


"Ngapain diem aja? Ketok noh pintu." Ocha mendorong sedikit tubuh Rebecca.


"Kok gue? lo aja." Kata Rebecca dengan mundur beberapa langkah dari pintu.


"Lhaa katanya tadi gapapa santai aja."

__ADS_1


"Ya maksutnya ngga gitu." Bela Rebecca yang tak mau mengetuk pintu.


__ADS_2