
Perlombaan di mulai dengan suara riuh tepuk tangan penonton. Bagaimana tidak heboh kalau pemuda pemuda tampan yang sedang berlomba.
Entah kenapa vibesnya anak IPA memang beda, suka bikin rahim anget.
Tidak ada henti hentinya suara tepuk tangan dari penonton bahkan sesekali mereka berteriak histeris ketika Yoland dari 11 IPA 2 mencetak goll.
Siapa juga yang sanggup mengedipkan mata untuk melewati momen berharga ini.
Pemuda yang sedang berebut bola di tengah tengah lapangan menjadi pusat perhatian, rambut hitam pekat yang mulai basah karena keringat membuat ketampanan mereka meningkat 99,9%, nyaris sempurna memang.
Mereka berlarian kesana dan kemari hanya untuk mengejar sebuah bola, bahkan tak jarang mereka terjungkal karena sarung yang mereka pakai.
Meskipun jatuh terjungkal tidak mengurangi ketampanannya bukan?
Apa boleh buat, sudah kodratnya good looking itu bebas.
Berbagai macam perlombaan sedang berlangsung.
Lomba tebak gaya sedang berlangsung di aula.
Lomba memasukkan bola pingpong kedalam aqua dengan mata tertutup sedang berlangsung di halaman belakang.
Rasanya di setiap penjuru sekolah ada perlombaan.
Rebecca dan Ocha yang memang tipikal malas untuk mengikuti lomba hanya menjadi penonton abal abal saja.
Kelas Rebecca di wakilkan oleh Firman and the gang memenangkan lomba memasukkan bola kedalam gawang menggunakan sarung, para jagoan 10 IPS 2 itu memang bukan abal abal. 11 IPA 3 yang notabenenya kakak kelasnya saja bisa mereka luluhkan dengan skor akhir unggul 6-4.
Seluruh siswa histeris tepuk tangan terutama Maura dan Galuh.
"Tebak hadiahnya isi apaan?" tanya Ocha kepada Rebecca.
"Paling snack seribuan ha ha ha."
"Paling mentok buku tulis sama bolpen."
"yhahaha hadiahnya cosplay kaya kado anak anak ha ha ha."
"Bukann maenn."
__ADS_1
***
"Yos itu temen kakak lo bukan sih?" tanya Miko melihat pria yang tak asing baginya.
Yosia acuh tak acuh, dirinya enggan untuk menoleh ke arah laki laki itu. Baginya, mobile legend lebih menarik daripada apapun.
"Ih iya bukan sih, kaya ga familiar banget mukanya." Tambah Miko yang meyakinkan dirinya
sendiri.
"Cewenya... hm... lakinya juga anyink!" gumamnya lagi.
"Yos liat cepetann!" Miko mengoyangkan pundak Yosia agar laki laki itu mau menoleh ke arah yang ia maksut.
Yosia menyipitkan matanya agar lebih fokus pada dua orang yang jaraknya lumayan agak jauh di depannya.
"Ohh iya itu Ocha, temen Rubik." Kata Yos saat sudah jelas melihatnya.
"Lakinya kaya pernah ketemu di rumah lo."
"Masa sih?"
Yosia yang sedikit samar namun masih bisa merasa bahwa laki laki yang membelakanginya itu adalah seorang yang ia kenal.
Postur tubuh tegak sangat mencerminkan seseorang itu.
"DIXON! iya bukan sih!" Yosia yakin tak yakin.
"Pacar kakak lo dong? masa iya sih?"
"kita samperin aja biar jelas."
"Janganlah, nanti mereka lari kalo tau ada kita."
"Lha terus? disini juga ga bisa liat mukanya."
"Kita jalan ke arah sana, jalannya sembunyi sembunyi di balik pohon itu tuh." Yosia menunjuk gazebo yang ada di seberangnya lalu menunjuk beberapa pohon besar untuk ia bersembunyi.
Dua pemuda dengan hoodie abu abu dan hitam sedang berjalan mengendap ngendap di balik pohon besar, sampai akhirnya mereka tiba di gazebo tepat di depan dua pemuda yang sedang bermesraan itu.
__ADS_1
Yosia terpaku, kaget bukan main setelah ia mendapati kalau laki laki itu memang benar Dixon, pacar kakaknya.
Seseorang yang sudah ia beri percaya untuk menjaga kakaknya justru tega berbuat demikian.
Tubuh Yosia mengeras menahan amarahnya, kedua tangannya mengepal ingin meninju rahang laki laki di depannya itu.
Berulang kali Miko juga menyakinkan ini bukan waktu yang tepat untuk menghajar Dixon yang sudah mempermainkan kakaknya.
"Tahan dulu john! jangan sampe mereka liat kita!"
"Brengs*k sial*n bisa bisanya mereka kaya gitu!" Miko mengeluarkan ponselnya untuk menangkap momen menjijikan di depannya ini yang nantinya akan ia tunjukkan kepada Rebecca.
"Ocha dasar lo ya bisa bisanya kaya gitu! ga punya otak banget ******* sial*an itu!! ga mikir apa sebaik apa kakak gue ke dia, bahkan kakak gue udah anggep dia sodaranya tapi apa yang kakak gue dapet? Lo nusuk dia dari belakang kampret! emang perempuan gatau di untung lo f*k!" segala bentuk sumpah serapah keluar dari mulut Yosia saking geramnya. "Gue mau nyamperin para bangs*t itu."
Meskipun dalam kamusnya tidak akan pernah memukul atau membentak wanita, tapi kali ini Ocha ia kecualikan. Ingin rasanya Yosia berdiri didepan nya lalu menyeret ke tepi tebing lalu mendorong perempuan naif itu.
Seseorang yang seperti itu harus punah menurutnya.
"Udah john kita pulang aja, kita aduin ke kakak lo."
"Dixon sial*n awas aja lo! berani beraninya mainin kakak gue! kaya ganteng banget tampang lo sampe selingkuh, selingkuh sama sahabat kakak gue juga pula! Breng*sk emang dua duanya!"
"Udah john udah! kita pulang aja."
"Gabisa! gabisa gue diem aja! harus gue tonjok Dixon kampret itu!" Miko memeluk erat tubuh Yosia yang dari tadi meronta ingin menghabisi dua pasangan yang ada di depannya itu.
"John tahan John!" Miko kualahan memegangi tubuh Yosia.
"Lepasin gue!"
"Aduin aja ke kakak lo!" kata Miko tetap dengan memeluknya "Kita ga boleh ikut campur sebelum kakak lo bertindak lebih dulu, itu sopan santun john!" tambahnya lagi dengan mempererat pelukannya agar Yosia tidak lepas dan menghajar Dixon.
"Emang gitu aturannya?" tanya Yosia dengan raut wajah yang berubah keheranan.
"Kata nyokap gue sih gitu." Miko melepas pelukannya saat tahu kalau Yosia sudah mulai melunak.
"Berhubung aturannya gitu, yaudah."
"Yaudah apa?"
__ADS_1
"Yaudah gue tonjok sesudah kakak gue aja, biar combo mampusnya."