
"Tuan, nasi gorengnya sudah siap."
Yosia bangkit dari duduknya lalu membuka pintu kamar.
Yosia meraih setumpuk nasi goreng dari tangan mbok sri.
"Terimakasih mbok," katanya lalu diberi anggukan hormat oleh wanita paruh baya itu.
"Itu punya siapa mbok?" Yosia melihat susu pisang di tangan kiri mbok sri, "Buat Rebecca?" belum sempat mbok Sri menjawab sudah di tebak lebih dulu oleh Yosia.
"Iya, tuan. punya nona muda."
"Ohh," jawab Yosia lalu kembali menutup pintu kamar.
"John udah jadi john!" Yosia teriak di depan pintu kamar mandi.
"Son tolong panggilin Miko, nggak denger dia kayanya."
Wilson melaju menuju depan pintu kamar mandi.
"Gue habisin ya!" Teriak Wilson tanpa mengetuk pintu, Miko keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah kuyup.
"Kelar hidup lo!" Jawabnya dengan tatapan sinis.
"Ngapain aja dari tadi John?" Tanya Angga kepada Miko yang saat ini sedang duduk di sebelahnya.
"Semedi... menurut lo?"
"Mandi gitu doang lama bener."
"Yeuuu beda emang mandinya orang ganteng sama orang pas pasan."
"Bedanya dimana?" Tanya Wilson tiba tiba.
"Tau deh, coba lo tanya dia." Katanya sambil menoleh kearah Angga.
"Lha pant*ek! gue dong yang pas pasan!"
"Lho lho lho itu lo yang bilang sendiri tadi ya, bukan gue," goda Miko sementara Yosia sibuk dengan nasi goreng didepannya.
__ADS_1
Yosia tidak mengubris ocehan teman temannya sedari tadi, entah mengapa kali ini tidak berselera bercanda.
Empat sekawan tidak bersuara, keempatnya sibuk mengunyah nasi goreng yang di buatkan oleh mbok sri tadi.
Satu album milik senja yang sudah di putar sedari tadi sudah mencapai puncaknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.45 sore.
"Hampir jam 5 john, berangkat sekarang yuk," Miko baru menyadari kalau mereka harus membuntuti Ocha dan Dixon hari ini, Yosia melihat ke arah jam dinding di kamarnya.
"Ahhh iyaa!"
Empat sekawan bergegas menuju taman tanpa membersihkan sisa sisa nasi goreng yang sudah mereka santap.
"Naik motor apa jalan john?" tanya Miko.
Yosia sedikit berfikir lalu menjawab lebih baik jalan kaki saja, bakal ribet nanti kalau harus parkir sepeda segala, pikirnya.
"Jalan aja."
"Si black lama ngga kepake John, besok sekolah bawa motor aja."
RX KING hitam pekat milik Miko sudah lama menganggur di bagasi rumah Yosia, motor trail itu memang sengaja ia tinggal di rumah Yosia, toh ia memang lebih sering disini dari pada dirumahnya sendiri.
Empat sekawan dengan hoodie polos warna hitam yang sengaja mereka pakai bersamaan untuk membuntuti Ocha dan Dixon hari ini sudah membuat mereka tampak seperti dtektif dadakan.
Seperti biasa, entah rezeki atau sudah takdirnya jalanan komplek di rumah Yosia tampak sepi, jarang pekendara. Di sepanjang perjalanan mereka, Angga dan Wilson tidak berhenti bercanda. Entah apa yang mereka bicarakan seperti tidak ada habisnya.
Yosia berjalan menunduk dengan lesu, fikirannya sedang kacau, bukan karena memikirkan dirinya sendiri, tapi karena ia cemas kepada kakaknya.
Yosia tidak bisa membayangkan akan sehancur apa kakak nya nanti jika ia mengetahui semuanya, entah sesakit apa Rebecca nanti. Sungguh Yosia masih belum siap melihat Rebecca tersakiti.
Dirinya tidak tega jika harus memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Rebecca, namun jika Yosia tetap menyembunyikan dari kakaknya, itu juga bukan pilihan yang baik, karena Rebecca akan terus berada dalam hubungan yang penuh kebohongan nantinya.
JDUAKK
"Ahhkkh!"
Kepala Yosia menabrak tiang beton listrik di depannya, ia merintih kesakitan sambil memegangi jidatnya yang mulai memerah.
"Ha ha ha gini aja lawakk!"
__ADS_1
"Pake mata kalo jalan john!"
"Jaman kapan kalo jalan pake mata? manusia purba jalan juga pake kaki."
Yosia merintih, entah dosa apa yang beton itu lakukan padanya sampai sampai ia di tabrak dengan keras oleh jidat paripurna Yosia.
"Akhhh!"
Yosia mengelus jidatnya kesana kian kemari, Angga tidak berhenti tertawa karena hanya dia yang menyaksikan dengan penuh kecelakaan antara tiang listrik dan jidat Yosia itu.
"Ha ha ha hidup lo terlalu lawak, yos!"
"Apa salah tiangnya coba, kan kesian jadi lecet." Wilson memegangi dan meniup batang beton listrik.
Miko tidak habis fikir kepada temannya itu, bagaimana bisa tiang listrik yang berdiri tegak di hadapannya bisa tidak terlihat, kurang besar atau bagaimana? Atau memang dia jalan sambil merem? Batinnya.
Empat sekawan melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi akan sampai.
Tidak lama dari itu mereka sudah tiba di depan halaman utama taman, tapi bukan disini tempat incaran mereka.
Empat sekawan melipir di ujung taman lalu berjalan dengan sembunyi sembunyi di balik pohon pohon besar.
Mereka menoleh kesana kian kemari namun tidak mendapati seseorang yang mereka incar.
"Bukan disini kali." Bisik Angga kepada yang lainnya.
"Lo ngapain bisik bisik? Disini nggak ada siapa siapa." Jawab Miko.
Memang benar saat ini belum ada Ocha dan Dixon, jadi untuk apa juga bisik bisik.
"Lha siapa tau."
"Kaga, kaga ada yang tau."
"Ssttt becanda mulu lo!"
Yosia terus mencari Ocha dan Dixon. Ujung mulai ujung ia perhatikan dengan saksama. Tidak ada satu orangpun yang luput dari pandangannya.
Yosia yang sudah serius bahkan sampai duarius, tapi teman temannya asik melawak saja.
__ADS_1
"Heh bujang! Lo cari si Ocha jangan becanda mulu!"