
"Kita pencar aja ini taman luas john." Usul Miko.
"Yos lo cari ke sebelah kanan, Angga ke kiri, terus elo kesana," tambahnya lagi memberi arahan.
Angga baru sadar jika Miko sendiri belum mendapat bagian.
"Lo sendiri kemana?"
"Emm gue kesana," jawab Miko sambil menunjuk arah belakangnya.
"Boleh deh, nanti siapa aja yang liat Ocha saling telpon telpon aja," kata Yosia sambil pergi meninggalkan mereka.
Wilson dan Angga juga pergi meninggalkan tempat awal untuk mencari Ocha.
Miko mengeluarkan ponselnya lalu mencari nama Yosia untuk jaga jaga nanti semisal ia menemukan dua laknat itu.
Semua berpencar mencari Ocha dan Dixon, entah apa yang membua mereka yakin kalau dua pasangan itu akan ke taman.
Disepanjang Angga mencari masih tak ada penampakan Ocha, namun ia tidak menyerah. Ambisinya untuk menemukan dua sejoli yang tak tahu diri itu sudah berada di puncaknya.
"Harusnya enak jadi orang ganteng, bisa pacaran sama Rebecca, lha ini si kampr*et udah dapet Rebecca malah di sia siain, main belakang sama sahabatnya sendiri pulak. Andai aja gue yang ganteng, udah gue rawat dengan sepenuh hati dia."
Angga mencabuti rumput liar lalu memotong motongnya menjadi beberapa bagian, "Andai aja ini tu elo ya Dixon!" Ucap Angga sambil meremas rumput liar di tangannya, "gue bejek bejek muka lo ampe mampus!"
"Si Ocha juga begitu, kaya ngga ada stok laki laki laen aja. sama si curut Wilson juga ada kenapa malah sama pacar sahabatnya sendiri, kaya nggak ada yang laen aja," gerutu Angga yang dari tadi tidak ada habisnya.
Angga yang sedang mengomel kaget ketika mendapati ponselnya yang sedang bergetar.
"Ee apa nih!" Angga meraba raba pahanya yang ikut bergetar.
Ponsel menyala menandakan panggilan masuk dari Wilson.
"DIMANA? POSISI LO DIMANA? OCHA SAMA DIXON LAGI NGAPAIN?!"
Angga mengangkat panggilan dari Wilson tanpa ba bi bu langsung nyerocos saja.
"DIMANA DIA? BIAR GUE GEBUKIN! HALO HALO!" Teriak Angga.
"Ee buset... jangan teriak teriak."
"NGAPAINN DIA BIAR GUE SAMPERIN!"
"Yeu mana gue tau dia lagi ngapain," jawab Wilson santai di seberang sana.
"YEE MALAH BECANDA LO! UDAH TELPON YOSIA BELUM? GUE KESANA INI OTW!"
Tidak tahan dengan teriakan Angga, Wilson menjauhkan ponselnya dari telingganya.
__ADS_1
"Duit gue lo bawa bukan sih?" Angga memberhentikan langkahnya, pertanyaan Wilson sungguh nyeleweng jauh dari pembahasannya.
Angga menaikkan sebelah alisnya keheranan, kok bisa disaat genting seperti ini dia malah bercanda tak karuan jalurnya.
"HEH PUKIM*AK! DUIT GUE ADA DI ELO NGGAK?" Kali ini gantian Wilson yang berteriak karena Angga tak kunjung menjawabnya.
"Lha.. duit apaan duit?"
"Iyaa duittt, ada yang jual jasuke nih gue mau beli," jawabnya sangat santai.
"YA BELI AJA NGAPAIN TELPON GUE!"
"Nggak ada duitnya soalnya hmm."
"Sialan! Sosoan nanya duit lo gue bawa atau enggak, nyatanya emang mau pinjem duit gue! Mana si Ocha!"
"Tau, yang gue liat cuma orang jual jasuke."
"BODOAMAT! bikin gue kaget aja!"
"t-tapi kan a," belum sempat Wilson membela diri sudah di celah oleh Angga.
"Brisik lo! mending cari Ocha sampe ketemu!" Angga mengakhiri panggilannya sepihak, padahal Wilson masih bersuara di seberang sana.
"Beuuh ngga ada akhlak ini bocah."
Wilson memasukkan ponselnya ke dalam saku hoodie dengan lesu.
Baru saja ia melihat pasangan yang sedari tadi ia incar, Wilson membulatkan matanya tidak percaya kalau yang didepannya saat ini adalah Ocha dan Dixon.
Wilson langsung ngibrit bersembunyi di balik tempat sampah yang besar. Ia buru buru merogoh saku nya untuk mencari ponsel. Sesekali ia menutup hidungnya karena tidak kuat bau tong sampah yang menyengat di depannya ini.
"Buset orang orang pada makan apa dah, bau bener." Mulutnya terus saja membual namun jari jemarinya masih optimis mengetik untuk menghubungi seseorang.
Wilson menghubungi Angga untuk memberi tahu bahwa dirinya sudah menangkap buronan yang mereka cari.
Wilson menunggu Angga menjawab panggilannya, sedikit lama dari yang ia bayangkan untuk Angga mengangkatnya, Wilson sedikit melirik ke arah Ocha dan Dixon memastikan dua sialan itu masih ada disana.
Panggilan tersambung.
"Lama banget lo t*aik!"
"GUE GA BAWA UANG KUBUR DALEM DALEM JASUKE LO!"
"Lo aja yang gue kubur biar mampus lo."
"Brisik."
__ADS_1
"Cepet sini! Dixon sama Ocha ada di sebelah gue."
"Ahhh tonjok aja udah."
"Kok lo nggak panik? kenapa jadi santai banget sekarang?"
"Gue tau lo ngibul."
"Lhaa ngibull apaan anyink, lo liat nihh!"
"Liat apaan? liat dosa dosa lo?"
"Angkat vc gue."
"Pake s apa nggak?"
"Gue serius jangan becanda."
Angga menjauhkan ponselnya dari telinganya, lalu mengangkat permintaan video call Wilson.
Saat ini sudah terlihat jelas wajah Wilson memenuhi layar ponselnya.
"Mana si Ocha? Tong sampah segede gaban lo tunjukin?"
Wilson melihat kebelakang background di ponselnya, memang benar hanya terlihat muka dan tong sampah saja.
.
"Becanda mulu lo! bukan ini yang gue maksut. Tunggu bentar ye."
Wilson mengarahkan ponselnya kearah Ocha dan Dixon. Angga yang tahu Wilson sedang tidak menggodanya kaget bukan main.
"POSISI DIMANA MBEKKK!" Teriaknya di seberang sana.
"Siapa yang lo panggil mbek?" jawab Wilson sinis.
"MUTER MUTER LO! TO THE POINT KEK LO ADA DIMANA SEKARANG!"
"Busettt jangan teriak teriakk! gue bisa ketauan nant!!"
Wilson memeluk erat ponselnya agar suara Angga tidak terdengar oleh Ocha, Wilson juga tidak terima jika ia di panggil mbek oleh Angga.
Mbek adalah makian halus untuk manusia yang jarang mandi, alias mbek seperti kambing.
"Brisik lo! dimana mereka?" Tanya Angga sambil berjalan kesana kian kemari untuk memastikan Wilson ada dimana, sementara Wilson menahan senyumnya agar tidak pecah melihat tingkah Angga yang berjalan kesana kemari tidak jelas arahnya.
"ha ha ha mau kemana dah."
__ADS_1