Senja Milik Rebecca

Senja Milik Rebecca
eps 18. Semua Tentang Waktu


__ADS_3

"Jangan rebecca terus dong, kamu bilang juga sayang aku kan?" jawab seseorang di seberang telepon.


"Iya tahu, tapi kan kamu udah janji ke aku kalo di sekolah ngga ketemu dulu."


"Aku nggak mau tau ya, kamu juga harus perhatian sama aku, bukannya mlengos kaya orang nggak kenal gitu."


"Ya nggak gitu juga dongg, kan masih di sekolah, beda cerita kalo udah di luar, aku sepenuhnya punyamu kok."


"Kamu sayang nggak sih sama aku?"


"Sayang lah."


"Lebih sayang aku apa rebecca?"


"Pliss lah nggausah gitu, aku ga bisa milih salah satu diantara kalian." "Aku sayang kamu, tapi aku juga sayang Rebecca." tambahnya lagi.


"Cepat atau lambat kamu harus tepatin janji kamu buat mutusin rebecca."


Telepon di matikan, raut wajah Dixon berubah tak karuan ekspresinya.


Bagaimana bisa ia ditagih janji yang ia sendiri belum sanggup melakukannya.


Lorong dan halaman sekolah tampak sepi, semua murid bergulat dalam kelasnya masing-masing.


***

__ADS_1


Hari berganti.


Matahari sedang terik teriknya membakar ratusan murid yang sedang berjejer rapi di halaman belakang sekolah.


Para Osis yang sibuk membacakan cara bermain dan segala macam aturan dalam permainan, karena hari ini adalah hari mereka menggadakan classmet untuk kenaikan kelas.


Classmeting diikuti oleh seluruh kelas 10 dan kelas 11. Sementara kelas 12 dikhususkan untuk tidak mengikuti classmett karena harus fokus pada ujian kelulusan.


"Ya Allah panas banget Gusti." Ocha mengeluh karena pas diatas kepalanya matahari sedang semangat menyinarinya.


"Ngomong mulu tuh Osis, main tinggal main aja pake segala pidato." Balas Maura.


"Apalagi yang itu tuh, bacotnya minta ampun." Rebecca menunjuk seseorang yang sedang menjelaskan panjang kali lebar aturan permainannya.


"Panasss kakkk!!" teriak segerombolan gadis yang muak dengan sinar matahari, siapa lagi kalau bukan Ocha dan Maura.


"Untuk kelas yang tidak bermain bisa menepi lebih dulu." Tambahnya.


"Alhamdulillah ya Allah!" sorak Maura yang sudah tak sanggup lagi karena kepanasan.


"Dari tadi kek." Ucap Ocha yang keringatnya tidak kalah bercucuran.


Rebecca duduk berempat di bawah pohon mangga dekat kelas 10 ips 4.


"Hufftt." Rebecca menyerka keringatnya.

__ADS_1


"Eh Maur, perwakilan kelas kita siapa?" Ocha bertanya kepada Maura selaku ketua kelasnya.


"Elo." Jawabnya singkat.


"Hah? gila gilaan lo nyuruh gue main beginian." Ocha tak terima karena dirinya terlalu malas untuk melakukan hal yang tidak penting. Menurutnya jika sesuatu tidak berdampak pada kehidupannya, maka itu berarti tidak penting.


"Ha ha ha gue becanda." Goda Maura "Gue udah pilih para jagoan noh buat main." Tambahnya lagi sambil menunjuk kearah Firman and the gang yang sedang duduk bergerombol di gazebo.


"Carlos juga ikut?" tanya Galuh tiba tiba bertanya.


Lomba pertama kali ini adalah sepak bola menggunakan sarung, Maura sengaja memilih pasukan songar songar untuk game ini.


"Eh katanya lo lagi deket sama Carlos ya?" Ocha mengedipkan sebelah matanya menggoda Galuh.


"Ihh eng-enggak apaan sih."


"Cielahh malu malu jujur aja kali, udah pernah ciuman nggak lo?" kali ini Ocha merangkul pundak Galuh, Galuh yang belum pernah menuju hal yang dewasa bergidik ngeri.


"Ha ha ha anak mama lo tanyain, belum pernah pasti." Tawa Rebecca dan Maura pecah.


"Bener deh jangan ciuman dulu, tunggu kelas 11 aja lo sosor dia ampe mampus." Ocha tidak berhenti menggoda Galuh, bagi Ocha melihat wajah menggigil Galuh adalah yang paling the best.


Bagaimana bisa usia belum ganjil 17 tahun sudah berfikir yang tidak tidak, memang pemuda jaman sekarang suka dewasa sebelum waktunya.


"Lo di cariin Dixon."

__ADS_1


__ADS_2