
Kringggg
Bel berbunyi dengan nyaring, namun Rebecca dan Ocha masih bergulat dengan mimpinya.
"HALO GAESS ENAK BANGET TIDUR PULES, BAGUN NGGAK LO!" Maura yang notabenenya seorang ketua kelas membangunkan dua gadis itu.
"Em hah apaan mmm." Ocha menjawab Maura dengan suara parau sehabis tidur.
"Ulangan bahasa Inggris, nggak bangun lo?"
Rebecca samar samar mendengar Maura, dia baru sadar ketika Maura berkata Ingris Ingris.
"HAH UDAH MULAI?" Rebecca panik bukan main, dia bangun dari tidurnya langsung merapikan anak rambut yang sedikit beratakan karena ia buat tidur barusan.
"Belum, bentar lagi mulai, cuci muka dulu sana, mula lo muka muka bantal."
"Tetep kiyowo tapi gue." Jawab Ocha lalu keluar untuk mencuci muka.
"HEH RUBIK! LO NGGAK CUCI MUKA!" teriak Ocha dari luar kelas.
"NGGAKK!!" jawab Rebecca tak kalah teriak.
Rebecca membuka buku catatan bahasa inggrisnya, meskipun waktu kurang 5 menit ulangan di mulai, ia masih menyempatkan untuk membaca, entah teorinya masuk atau tidak yang penting terbaca.
"Rubik tadi lo dicariin Dixon di aula." Maura mendatangi meja Rebecca lalu duduk di kursi milik Ocha yang kebetulan bersebelahan dengan Rebecca.
"Masa sih? terus lo bilang apa?"
"Ya gue jawab gatau, orang lo ga ada di barisan."
"Terus dia nanya apa lagi?"
"Udah gitu aja terus pergi."
"Hmm makasih." Maura menganggukan kepala sebelum akhirnya pergi ketempat duduk asalnya.
Tidak lama dari itu Ocha kembali dengan wajah dan rambut yang sedikit basah.
"Lo cuci muka apa mandi cha?" tanya Rebecca yang tahu Ocha sedang basah kuyup sekepalanya.
"Bacot lo! ini biar gue keliatan seger, mana nih bapak lo?" tanya Ocha.
"Bapak apaan? gila gilaan lo." Jawab Rebecca tak terima.
Bagaimana bisa pak Bambang selaku guru bahasa inggris menjadi bapaknya.
"Lah kan lo anak kesayangannya."
"Cuci muka lagi sono lo! makin ngaco aja."
__ADS_1
"Ha ha ha gapapa lo deketin dia aja, dia kaya katanya."
"Kenapa nggak lo aja? lo kan jomblo."
"Bener juga... eh sii anyinkkk!" jawab Ocha yang baru nggeh dengan ucapannya sendiri.
"Good afternoon everbody, How are you today?" sapa pak Bambang yang baru saja masuk kelas dengan membawa lembar jawaban ulangan harian.
"Good afternoon mr, Im good and you?" jawab semua murid bersamaan.
"Im good, okey untuk hari ini kita akan penilaian harian chapter 5, I hope kalian tidak lupa schedule kita hari ini, semua buku yang ada di atas meja di masukkan kedalam tas, hanya ada alat tulis saja yang ada di atas meja."
"Yes mr."
Pak Bambang mulai keliling untuk membagikan lembar soal dan jawaban. "Tidak ada yang bekerja sama dalam bentuk apapun, jika ada yang kepergok berbuat curang, lembar jawaban kalian saya sobek dan nilai kalian akan dibawah kkm."
Setelah lembar jawaban di bagikan, semua murid tampak sibuk bergelut dengan bahasa asing itu.
Bagi sebagian anak yang memang sudah mahir pasti soal begini bukan apa apa, berbeda dengan Ocha yang sama sekali tidak mengerti dengan bahasa inggris, yang dia tahu hanya I love you & I miss you, selebihnya hanya karangan imajinasinya.
"Sstt rubik!" Ocha mendekatkan kepalanya ketempat Rebecca.
Rebecca menoleh ke arah Ocha dan memberi isyarat untuk diam.
"No 1 apaan?" tanya Ocha yang langsung di pelototi oleh Rebecca.
Ocha diam dan berfikir mungkin saja Rebecca masih belum mengerjakan soal nomor 1, Ocha tahu tipikal mengerjakan ulangan Rebecca adalah dengan menjawabnya lompat lompat tidak sesuai nomor urut.
"Ten minute again!" Pak Bambang memecah keheningan.
Ocha terkejut karena suara pak Bambang, degan segera ia menegakkan kepalanya lalu menoleh ke arah Rebecca, "Apa katanya tadi?"
"10 menit lagi." Ocha membulatkan matanya kaget, ia panik bukan main melihat lembar jawabannya yang masih kosong plong, sementara waktu sebentar lagi akan habis.
Ocha berusaha keras untuk menjawab 1 soal, Ia membolak balikan lembar soalnya namun na'as nya tak ada 1 pun yang bisa ia jawab.
"No 1 apaan?" bisik Ocha.
Rebecca menoleh kearahnya lalu memberi isyarat angka 3 yang berarti jawabannya adalah C.
"No 2?" Rebecca membuat angka 1 di tangannya yang berarti jawabannya A.
"No 3 sampe 20 apaan?"
"Busett lo minta jawaban apa mau ngerampok?"
"Gabisa gue." jawab Ocha dengan cengirannya.
Rebecca dan Ocha yang duduknya paling pojok belakang sendiri sedang sibuk bermain kode. Ocha yang bertanya dan Rebecca yang memberi kode jawaban.
__ADS_1
Setelah drama kode jawaban sampai nomor 20, keduanya mengumpulkan ke meja depan kelas bersamaan.
"Yang selesai boleh istirahat dulu." Rebecca dan Ocha mengangguk dengan berjalan keluar kelas.
Dua gadis itu sedang duduk di kursi depan kelas. "Susah banget susahhh beuttt soalnya tadi," ucap Ocha.
"Elu dari dulu juga selalu bilang susah."
"Lah emang susah, lo asli orang mana sih kok jago inggris."
"Los Angeles gue." Canda Rebecca.
"ha ha Los Angeles, muka lo noh surabaya banget."
"Kekantin yuk, laper gue." Ajak Ocha.
"Lo aja deh, gue mau ketemu my lovely Dixon dulu."
"Cielah bucin teros."
"Tadi nyariin gue di aula katanya." Mendengar jawaban Rebecca raut muka Ocha berubah, entah mengapa.
"Yaudah gue duluan." Katanya sebelum akhirnya pergi ke kantin meninggalkan Rebecca.
Satu per satu murid keluar kelas karena sudah selesai dengan ulangannya. Maura yang baru saja selesai langsung duduk di sebelah Rebecca.
"Mana Ocha?"
"Ke kantin."
Rebecca dan Maura mengobrol tengang ulangannya tadi ini, kata Maura gampang gampang susah, tapi bagi Rebecca ini masih belum apa apa.
Di tengah tengah mereka asik ngobrol, tiba tiba Galuh mencela, "Hey Rubik, sekarang lo rada sombong ya, masa tadi gue panggilin malah mlengos."
Rebecca yang tidak mengerti apa yang di katakan Galuh menaikan satu alisnya, bukannya Galuh duduk paling depan sendiri? Sudah jelas kalau Rebecca tidak mendengarnya.
"Emm kapan?"
"Lah tadi pas istirahat pertama di toilet, gue panggilin malah lari masuk toilet lagi lo."
"Masa sih, salahh orang kali lo."
"Lah masa iya salah, orang tadi lo disana sama pacar ko kok."
"Dixon?" tanya Rebecca memastikan.
"iya, mau sama siapa lagi kalo bukan sama Dixon."
Rebecca yang tidak merasa dirinya di toilet sedikit binggung, bukannya dari tadi ia tidur, bahkan ketika Ocha mengajaknya mencuci muka ia menolak.
__ADS_1
Lalu wanita mana yang bersama kekasihnya di kamar mandi itu?