
Yosia meninggalkan Gazebo lalu di buntuti oleh Miko, dua pasangan sejoli itu memutuskan untuk kembali ke rumah Yosia.
Yosia dan Miko memang sering mengunjungi taman di belakang komplek rumahnya.
Setiap hari sabtu dan minggu mereka akan menghabiskan sebagian waktunya untuk leha leha di taman. Gazebo paling ujung kanan yang tepat di sebelahnya ada pohon mangga besar adalah tempat favorit dua sejoli itu.
Hari ini mereka berjalan, biasanya mereka bersepeda untuk pergi ke taman.
Disepanjang mereka berjalan, Yosia tidak berhenti merutuki dua orang yang sudah mengkhianati kakaknya.
Jalan yang sepi dari pekendara, hanya ada daun daun kering di sepanjang jalan. Mereka berjalan di trotoar dengan diiringi ocehan Yosia yang sungguh melaknat perbuatan dua pemuda itu.
"Ngasih tau kakak lo pelan pelan aja, jangan sambil emosi." Miko menyela ocehan Yosia.
"Liat aja, gue suruh rubik nonjok dia!"
"Waduh sabar john sabar."
"Gimana bisa sabar, lo liat sendiri kan mereka mesra mesraan? Apa coba salah kakak gue kok sampe mereka tega kaya gitu. Jangankan kakak gue, nyokap gue aja udah nganggep Ocha si sial*n itu kaya anaknya sendiri!"
Dua sepeda motor melaju cukup kencang di sebelahnya, daun daun berterbangan kesana kemari dibuatnya.
__ADS_1
"Buset pelan pelan kek lo!" Teriak Miko.
Yosia melihat dengan saksama salah satu sepeda motor itu, scoopy abu abu yang cukup familiar baginya. Yosia paham betul dengan scoopy yang baru saja melintas itu.
"Lari john!" Yosia berlari meninggalkan Miko yang masih mematung.
"Lhaaa dia kenapa dah," siapa juga yang tidak kaget jika tidak ada apa apa langsung di suruh lari tak ada sebabnya. "Johnn tungguin gue john!" tambahnya lagi lalu berlari menyusul Yosia.
Yosia menyadari kalau dua sepeda motor itu sedang melaju ke rumahnya, dan benar saja, scoopy abu abu yang tadi ia lihat sedang terparkir rapi di halaman rumahnya.
Sedangkan CBR hitam yang ia yakini milik Dixon melaju lurus meninggalkan komplek rumahnya.
Dugaan tepat! baju putih bercorak bunga persis yang ia temui di taman tadi sedang berdiri di depan kakaknya.
Andai saja Rebecca tau siapa wanita yang sedang mengobrol bersamanya saat ini, sungguh dia bukan wanita baik baik.
Bukannya menghakimi bahwa ia yang paling buruk dan aku adalah yang paling baik, tapi memang ia lebih sial*n dari yang kita duga.
Dimana letakk nuraninya sampai sampai kekasih sahabatnya sendiri ia juga ambil, bahkan ia mampu bersikap semuanya sedang baik baik saja, padahal ia berkhianat. Penipu handal bukan?
"John jangan bilang dulu john." Bisik Miko kepada Yosia yang sedari tadi memandangi Ocha di depan pintu dengan geram.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ke kamar lo aja, yuk." Ajaknya lagi demi kedamaian bersama.
"Lo naik aja dulu, gue mau nyamperin si kimak itu."
"Jangan bilang sekarang john, waktunya nggak tepat."
"Mau nunggu apa lagi? Makin lama pasti makin jadi itu anak."
"Ini juga masuk nilai kesopanan john, nggak gini cara mainnya."
"Salah lagi ya gue?" tanya Yosia dengan polos.
"Bukan salah john, tapi nanti aja tunggu waktu yang tepat, inget bro ini masuk nilai kesopanan." entah apa maksut nilai kesopanan yang Miko sebut dari tadi, Yosia hanya mengangguk menurutinya saja.
Meskipun bukan Yosia yang dikhianati, ia tetap bisa merasakan bagaimana menjadi kakaknya nanti.
Melihat senyum sumringah Rebecca saat bersama Ocha membuat Yosia semakin kasihan nantinya, seharusnya Rebecca mulai latihan tanpa Ocha supaya nanti jika ia tahu semuanya sakitnya tidak terlalu parah, apalagi hanya Ocha yang Rebecca percaya.
Meskipun tidak ada hubungan darah, Ochalah yang ia percaya lebih dari Yosia. Bagaimana nantinya kalau Rebecca tau Ocha berkhianat kepadanya.
__ADS_1
Yosia tersenyum miris, memang benar manusia itu berubah.
Semoga nanti sakitnya tidak terlalu