Senja Milik Rebecca

Senja Milik Rebecca
eps 13. Tebak


__ADS_3

Tidak sengaja Yosia melirik kearah seseorang yang baru saja berjalan menuruni anak tangga.


Miko berjalan santai menuruni anak tangga itu dengan senyum sumringahnya seperti tak punya dosa.


"JANGAN PAKEE KOLORR GUE!"


Teriak Yosia yang mendapati Miko sedang memakai boxer plus kaos miliknya, semua personil yang sedang asik di meja makan sontak terkejut mendengar teriakan nyaring Yosia.


"Pinjem bentar yaelah pelit banget." Sahut Miko sambil membenarkan kursi di sebelah Rebecca, hanya sisa kursi itu saja yang kosong.


Yosia melihat ke atas dan ke bawah tubuh Miko yang kekar itu, matanya terlalu fokus pada kaos yang Miko pakai.


"Kaya akrab banget itu baju," kata Yosia sambil memandang Miko dengan tatapan tajam.


"Ah masa iya akrab? Sapa dulu coba." Goda Miko.


"Anyeonghaseo! Cakep bener." Sahut Wilson dengan candaannya.


"AH IYA ITU BAJU GUE!" Teriak Yosia sambil menunjuk kaos yang sedang di pakai oleh Miko.


"Iyee pinjem bentar, pelit amat."


"Baguss! Semua aja lo pinjem, nih arwah gue sekalian." Jawab Yosia.


"ha ha ha ngomong apa si blekok ini." Sahut Wilson.


"Sudah, sudah nak ayo makan, nanti dingin lo makanannya." Ucap mama Debora.


"Udah ngakpapa nak itu celananya di pinjem Miko dulu, ayo cepat makan." Papa Alex menepuk pundak putranya itu, Yosia yang masih saja melirik ke arah Miko tetap dengan tatapan tajam nya.


Bagaimana tidak muak, setiap kali Miko menginap pasti ia selalu memakai setelan miliknya, bukannya sehari di pake langsung di kembalikan eh malah langsung di bawa pulang. 1 bulan lebih baru di kembalikan.


"Awas loe!" kata Yosia ke arah Miko, sementara Miko tidak mengubris, ia terlalu asik dengan makanannya.

__ADS_1


Mereka makan malam dengan damai sebelum akhirnya mereka pergi ke dalam kamar masing-masing.


Rebecca yang selesai lebih dulu langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya, tidak lama dari itu empat sekawan menyusul.


***


Saat ini empat sekawan sudah berada di kamar Yosia, Angga dan Miko langsung merobohkan tubuhnya di atas kasur, keduanya tidak tahan lagi karena kekenyangan.


Yosia dan Wilson duduk berdua di sofa kamarnya, "Itu yang tadi bener ga sih?" Tanya Yosia.


"Yang mana?" jawab Wilson sambil scroll instagramnya.


"Yang Rubik pulang nangis."


"Iye bener, coba besok lo tanyain, abis gelut dia kali." Tebak Wilson.


"Bisa jadi tuh ha ha ha."


Yosia terus saja berfikir entah apa yang terjadi pada kakaknya itu, ia khawatir jika kakaknya akan berbuat sesuatu yang tidak tidak.


Kalau saja waktu itu Yosia tidak datang melerai entah apa yang akan terjadi pada perempuan berambut panjang itu.


Tapi itu sudah masalalu, Yosia percaya bahwa kakaknya tidak akan melakukan hal yang sama lagi. Tapi kali ini Yosia binggung ada apa dengannya.


"Apa jangan jangan..."


***


Rebecca duduk di sofa kamarnya, tempat favorit menurutnya adalah dengan duduk di sofa itu sambil melihat pemandangan langit luar.


Sepertinya malam ini bulan sedang sendirian, jauh dari bintang bintang, entah apa yang telah di perbuatnya hingga ia kesepian.


"Hmm." Gumam Rubik dengan tarikan nafas dalam, ia berusaha keras untuk berhenti memikirkan kejadian tadi malam, dimana dirinya bertemu dengan mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


Tapi tetap saja, semakin kuat dia mencoba untuk melupakannya, rasanya semakit kuat pula ia mengingatnya.


Ternyata memang benar, suatu yang menyakitkan akan membekas.


Ponsel Rubik bergetar berhasil menghancurkan lamunannya, layar ponselnya di penuhi pesan yang dikirim dari seorang akun @itsme_cha.


9+ pesan dari @itsme_cha ketuk untuk membuka.


Rubik melirik layar ponselnya yang tengah menyala itu, ia merasa kesal karena mantan sahabatnya selalu saja mengirimkan pesan, padahal tidak ada satu pesan pun yang ia balas.


"Si gila ngechat lagi." Gumamnya tanpa membuka isi pesan itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.05 malam, Rubik ingin mengakhiri fikiran tak jelasnya dengan mencoba tidur, na'as matanya enggan menolak.


"gue kangen sama lo."


"bisa ketemu?"


"maafin gue."


"gue nyesel banget, tapi lo harus denger dulu penjelasan gue."


"kalo nggak mau denger dari gue, paling enggak lo denger Dixon."


"bales chat gue pliss."


"gue kosong banget ngga ada lo."


"maafin gue, gue emang temen yang brengsek."


Rubik membaca pesan yang dikirim dari mantan sahabatnya itu, tidak ada satu kalimatpun yang membuat rubik merasa kasihan, memang pantas seorang yang brengsek itu di kucilkan, pikirnya.


Bagaimana bisa seorang yang sudah di percaya malah berbuat demikian.

__ADS_1


kalau bukan brengsek apalagi namanya?


__ADS_2