
"Yaudah makan bareng yuk," ajak Dixon kepada keduanya.
Sudah biasa jika mereka bertiga selalu menghabiskan waktu bersama, makan bareng di kantin pun juga menjadi hal yang lumrah, Rebecca tidak punya fikiran yang buruk sedikitpun kepada Ocha. Maka dari itu ia tidak pernah mempermasalahkan jika harus mengikutsertakan Ocha dalam hubungan asmaranya.
Sesampainya mereka di kantin, Dixon langsung mengantre untuk membelikan Rebecca mie goreng seperti biasanya, bukan hanya Rebecca saja, tapi Ocha juga lebih tepatnya.
Rebecca dan Ocha sedang duduk manis menunggu mie goreng dan bakso urat andalannya, sementara Dixon sibuk mengantre.
Tak lama Dixon datang dengan dua mangkuk di tangannya.
"Ini punya pacar tersayang, yang ini lagi punya lo."
Dixon menaruh mie goreng lebih dulu untuk Rebecca, dan bakso urat titipan Ocha.
Rebecca tersenyum simpul melihat Dixon, sementara Ocha menatap bakso uratnya seperti tak selera.
"Busett tikungan tajam main nya rapi bener."
"Brengs*k!"
Empat sekawan berada di kantin saat ini, sebenarnya hanya Wilson yang ingin membeli sprite, namun berhubung mereka setia kawan maka Wilson diantar dengan semua member.
Miko dan Yosia membual ketika melihat pemandangan di depannya sangat menjijikan.
"Kasian banget kakak lo, itu yang satunya pelakor." Kata Miko berbisik di telinga Yosia sambil menunjuk ke arah Ocha.
"Kaya ga punya dosa banget mukanya, mana masih bisa ketawa lagi."
"itu berdua kalo mau jadi artis bisa langsung di terima, aktingnya jago bener."
"Enek banget gue liat mukanya."
"Johnnn ayo balik!" Teriak Wilson dari ujung kantin. Rupanya ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Lahh si kampret ditungguin malah ninggal!"
"Coba tonjok dikit aja!" kata Angga lalu segera pergi meninggalkan kantin.
Empat sekawan menuju kelasnya, mereka memilih melewati halaman belakang karena suasana yang sepi dan sejuk, banyak pohon pohon besar disana.
__ADS_1
"Yos kalo butuh bantuan gue lo bilang aja." Kata Wilson yang baru tahu tentang tikung menikung Rebecca.
"Iya gue juga," Sahut Angga.
"Hmm... gue lagi nunggu aba aba dulu."
"Hahh?"
Wilson dan Angga tidak mengerti, mau melabrak saja harus menunggu aba-aba dulu.
"John gimana john!" Yosia menepuk pundak Miko pelan untuk mendapat masukan.
"lhaa ngapa jadi nanya ke gue."
"Lo yang paling ngerti dari pada kita."
"Lhaa gue ngga ngerti apa apa anyink."
"lhaa lhoo lha lhooo piye seh," gumam Angga.
"Kemaren lo bilang jangan dulu ini masuk nilai kesopan, sekarang gue tanya kedepannya begimana? Masih masuk nilai kesopanan nggak?"
"Emmm anu sek sek."
"Si kampret ngibulin gue lo ya!" Pukulan tidak keras namun pasti mendarat di kepala Miko.
"Bukan gitu John, nih dengerin gue ya ini masuk nilai kesopann nih.. ja"
"Ah brisik lo nilai kesopanan nilai kesopanan mulu." Yosia memotong Miko yang sedang berbicara.
"Seriusan gue john."
"Lo mana pernah serius."
"Ini gue mau serius pant*k, dengerin dulu!"
Miko mengisyaratkan untuk merangkul satu sama lain membentuk lingkaran sambil menundukkan kepala masing masing, saat ini hanya lantai keramik saja yang dapat mereka lihat.
"Kaya mau opening sepak bola ygy." Goda Wilson yang tidak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa juga ia harus menuruti titah Miko yang tak karuan benarnya ini.
__ADS_1
"Yeu jangan becanda dulu, gue serius jadi gini..." Miko menghela nafas dalam dalam "Kita nunggu Dixon sama Ocha ketemuan dulu, nahh kita intilin tuh manusia bajing*n, baru deh telpon kakak lo."
"lo mau gue bilang apa ke kakak gue?"
"Ahh iya dia ga akan percaya sama lo, hmm," Miko berfikir keras mengatur rencananya.
"Gue aja yang telpon, nanti gue bilang lo lagi di gebukin orang," sahut Wilson "Yakali dia ngga mau nyamperin."
"Emang harus gue yang di gebukin?" Jawab Yosia yang sedikit miris kepada dirinya sendiri.
"yaiyalah, masa harus gue yang di gebukin? Mana mau kakak lo dateng," sahut Angga.
"Ha ha ha bener banget, toh inikan cuma buat alibi aja, Yos."
"iye serah lo deh john yang penting kakak gue cepet cepet tau kalo Dixon itu brengs*ek, biar ngga bangga banggain dia terus."
"Emang sering banggain Dixon?"
"Beuh hampir tiap hari, cuma dua hari terakhir kakak gue ngga cerita apa apa sih."
"Jangan jangan kakak lo udah tau!"
"Bisa jadi, tapi nggak tau juga."
"Menurut gue belum tau, kalo udah tau pasti udah dilabrak duluan sama kakak lo."
"Hmmm nggatau deh pokoknya gitu."
"Yaudah jadi kita mulai misi buntut membuntuti Dixon sama Ocha mulai dari nanti sore, oke!" Miko memberi arahan lalu mendapat anggukan setuju dari semua member.
"Udah? pegel leher gue."
"Tinggal nguber bola aja nih yang belum."
Wilson melepas rangkulannya, sesekali ia mematahkan lehernya ke kanan dan ke kiri karena pegal bukan main terlalu lama menunduk.
"Balik kelas aja udah." Ajak Yosia.
Empat sekawan lari ngibrit karena bel berbunyi menandakan pelajaran selanjutnya akan segera dimulai, lorong sekolah yang pertamanya ramai perlahan mulai sepi.
__ADS_1
Pelajaran di mulai tidak menyisahkan satu murid pun di luar, tepat pukul 3 sore proses pembelajaran sudah berakhir.
"Hufttt, terimakasih untuk tubuhku karena sudah bertahan sejauh ini."