
Classmeting berjalan beberapa hari sudah pada puncaknya. Untuk kelas yang memenangkan lomba akan mendapatkan hadiah dari panitia.
Tepat di hari sabtu pembagian rapor telah tiba, Rebecca dan Ocha naik kelas 11 ips 1. Entah jodoh atu bukan Rebecca dan Ocha dalam satu kelas yang sama.
Yosia yang sudah waktunya memakai seragam abu abu putih bersekolah yang sama di tempat kakaknya. Kini dirinya menjadi adik kelas Rebecca.
Miko Yosia dan dua sejoli Angga dan Wilson juga berada di kelas yang sama, 10 IPS 2. Awal mula dari sinilah empat sekawan terbentuk.
"Nggak liat kakak lo sama sekali ya?" Miko dan empat sekawan lainnya tengah berkeliling di sekolah baru mereka. Awal masuk sekolah untuk perkenalan lingkungan saja.
"Sama si brengs*k kali."
"Dixon apa Ocha nih ha ha ha." Wilson dan Angga tidak mengerti siapa yang dimaksut brengs*k oleh Miko.
"Siapa yang brengs*k?"
"Ada." Jawab Yosia singkat lalu berjalan menuju kelasnya.
Belum jauh mereka berjalan, "Oe! adik ipar!" teriak seorang laki laki yang sedang duduk berkerumun memanggil Yosia.
tak sekali laki laki itu melambaikan tangannya karena Yosia tak kunjung merespon.
Yosia tahu kalau Dixon sedang memanggilnya, namun ia enggan untuk merespon, Yosia memalingkan pandangannya lalu kembali berjalan.
"Si kampret ya yos?" Bisik Miko.
"iya, enek banget gue liat mukanya, sok kenal pula anyink."
"kan emang kenal john, lha wong biasanya juga main game bareng."
"kapan? amnesia gue."
"Busett amnesia dadakan," sahut Wilson.
__ADS_1
Saat empat sekawan sampai di kelasnya bertepatan dengan bel masuk yang tengah berbunyi. Guru yang masuk saat ini adalah bu Wiji guru matematika, sungguh bukan hal yang baik awal masuk sekolah sudah di hantam matematika.
"Hufftt," sambat Miko yang belum mulai saja sudah pening.
Berbeda dengan dua pasangan yang duduk di depannya. Angga dan Wilson tampak tenang mendengar bu Wiji menyampaikan materi.
"John kapan nih gue ngadu ke Rebecca? udah tepat belum waktunya?" Bisik Yosia kepada Miko yang hampir saja terlelap.
Miko membuka matanya perlahan, "Tunggu kakak lo sendiri, jangan pas ada Dixon atau Ocha."
"Kalo dia ga percaya sama gue gimana?"
"Yakali dia ga percaya sama sodaranya."
"Yeuu, dia lebih percaya si brengs*ek Ocha dari pada gue."
"He he he miris kali hidup kau."
35 menit berlalu diiringi bunyi bel yang nyaring menandakan jam istirahat telah tiba. Semua murid keluar kelas untuk mengisi perut masing masing di kantin.
"Yos makan yuk!"
"Ngga bangun lo!" Angga dan Wilson sibuk membangunkan dua pasangan yang sedang tertidur pulas.
"Hmmm." Miko bersuara namun enggan untuk membuka matanya.
"Udah istirahat, makan euu laper."
"Yosiaaaaaaa pant*q makannn yukkkk!" teriak Wilson yang tak sanggup menahan cacing cacing yang sudah meronta dalam perutnya.
"Hmm ya."
Yosia bangun dari tidur paginya, empat sekawan duduk melingkar dengan membuka bekal yang dibawakan oleh orang tua masing masing.
__ADS_1
Meskipun sudah SMA bukan menjadi tolak ukur harus membawa bekal atau tidak bukan, mereka hanya terlalu malas untuk mengantre di kantin.
***
"Cha ke kantin yuk!" ajak Rebecca.
"Hah?" Tanya Ocha yang nyawanya masih belum sepenuhnya terkumpul.
"Kantin. makan."
Ocha memberi isyarat jempol di tangannya lalu segera kekantin.
"Muka lo benerin."
"Kenapa muka gue?" Ocha berjalan slewengan dengan mata yang sedikit terbuka lalu tertutup saking ngantuknya.
"tadi malem nggak tidur?" Rebecca membenarkan anak rambut milik Ocha yang sedikit berantakan.
"Hai by, mau ke kantin?" Seketika Ocha membulatkan matanya karena ia mendengar suara yang cukup familiar baginya.
"Iya, kamu ke kantin juga?" tanya Rebecca.
Laki laki yang tak lain adalah Dixon, pacar Rebecca. Sementara Ocha sedang sibuk dengan penampilannya.
Mulai dari tadi ia merapikan rambutnya, menyerka air mata yang dari tadi hampir jatuh karena ia menguap, ia juga membenarkan posisi seragamnya yang lumayan kusut karena ia buat tidur sedari tadi, padahal sebelum datangnya Dixon, Ocha bersikap bodoamat akan penampilannya.
Bukankah terlihat sangat jelas? Bagaimana bisa Rebecca tidak menyadarinya?
*Memang benar, jika kita sudah menaruh percaya lebih kepada seseorang, mau dia berbuat seaneh apapun kita tetap akan percaya.
Maka dari itu menaruh kepercayaan kepada seseorang sesuai kadarnya saja, kalau kalau nanti kamu di kecewakan sakitmu tidak seberapa.
Kamu tau manusia tempatnya kecewa bukan?
__ADS_1