Senja Milik Rebecca

Senja Milik Rebecca
eps 24. Pas


__ADS_3

Wilson menyemangati dirinya sendiri, Wilson adalah seorang yang sangat menyayangi dirinya sendiri lebih dari apapun, bisa di bilang Wilson yang paling Quoteseble jika mengenai kehidupan ini.


"Kita intimidasi mulai jam berapa?" Tanya Angga kepada Yosia, saat ini empat sekawan tengah menuju tempat parkir.


"Jam 5 aja, lo pulang istirahat dulu."


"Okehh," jawab Angga dan Wilson bersamaan.


Mereka berpisah ketika sudah sampai di parkiran, Angga dengan Wilson, & Yosia dengan Miko.


Angga dan Wilson adalah tetangga, jadi tidak kaget jika mereka selalu pulang bersama.


Yosia dan Miko sedang menuju gerbang utama sekolah, akhir akhir ini Miko memang sering pulang bareng Yosia, lebih tepatnya lagi hampir tiap hari ia menginap di rumah Yosia.


Jika ditanya mengapa jawabannya akan selalu sama, "Soal nya gue suka Yosia." Tidak masuk akal memang tapi begitulah adanya.


"Kakak lo pulang sama siapa?"


"Tau."


"Hmmm," Miko bergumam.


"Lo nggak laper? Gue laper nih mampir makan dulu kali ya."


"Sosoan lo, kaya punya duit aja."


"Wahh lo ngeremehin gue? Meskipun muka gue ngga pantes buat jadi orang kaya tapi gue kaya menn. Coba sini bawa satu keluarga lo yang utuh gue traktir semua yang mereka mau."


"Uhhhh menusuk babyy." Kata Miko sambil memegangi dadanya berlebihan.


"Becandanya nggak lucu," tambahnya lagi.


"Ha ha ha kata siapa gue becanda."


"Sial*an."


Orang tua Miko sudah lama bercerai tepatnya saat Miko kelas 2 SD. Dulu waktu ia masih belum mengerti apa itu perceraian hanya mengangguk percaya bahwa suatu saat nanti mamanya akan menepati janjinya.


Sebelum mama nya meninggalkan Miko yang masih kecil, beliau sempat berpesan untuk ia tumbuh menjadi laki laki yang tangguh, beliau berjanji akan kembali jika semua yang di kerjakannya selesai.


Semenjak kepergian mamanya yang beralasan kerja Miko tinggal bersama ayahnya. Berulang kali ayahnya mengingatkannya dulu untuk tidak berharap lebih kepulangan mamanya. Namun apa boleh buat seorang anak laki laki akan selalu merindukan ibunya.


Sampai ia dewasa sekarang baru ia paham bahwa mamanya tidak akan pernah pulang menjenguknya. Untuk apa menjenguk jika mamanya sudah tidak ada hubungan suami isteri lagi dengan ayahnya.


Untung saja Miko tinggal satu komplek dengan Yosia, mereka berteman sejak mereka sekolah dasar, mama Debora yang baik hati menyayangi Miko sudah seperti anaknya sendiri.


Usia anak sekolah dasar bukan patokan untuk tidak menginap di rumah orang lain atau tidak.

__ADS_1


Ayah Miko banting tulang sendirian untuk membesarkan Miko, jika ayahnya sibuk bekerja Miko akan di rawat mama Debora di rumahnya. Sudah seperti ibu sendiri bagi Miko.


Mama Debora tidak pernah sedikitpun pilih kasih, mulai dari Miko kecil sampai Miko tumbuh besar Mama Debora tidak pernah berubah, bahkan Mama Debora selalu membuatkan Miko bekal yang sama seperti milik Yosia.


Miko bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari mama Debora, jika tidak ada mama Debora entah semiris apa kisah hidupnya.


Sungguh Tuhan itu yang maha adil.


Sampai di tepi jalan terlihat seorang supir keluar dari mobil sedannya, "Tuan!"


Yosia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak kunjung menemukan dari mana asal sapaan itu.


"Noh!" Miko menaikan dagunya ke arah pak Bram yang sedang berdiri di penghujung jalan.


Miko berjalan menghampiri mobil sedan yang akan membawanya pulang, di ikuti dengan Yosia berjalan di belakangnya.


Setelah Miko dan Yosia masuk ke dalam mobil, "Nona ndak ikut tuan?" tanya Pak Bram dengan mendok surabaya nya.


"Nggak tahu." jawab Yosia.


"Coba lo telfon yos."


"Coba lo telpon."


"Lha disuruh malah balik nyuruh."


Miko mencari ponselnnya di dalam tas ransel miliknya, setelah ia menemukan ia mulai mencari nama Kak Rebecca dalam log panggilannya.


"Hmmm," suara telepon dari seberang sana yang tak lain adalah Rebecca.


"Kak Rebecca pulang sama siapa? mau di tunggu atau di tinggal?"


"Sama Dixon."


"Oh yaudah sampai nanti kak he he he." Miko menutup ponsel nya, "Bareng Dixon katanya."


"Udah gue tebak, pak ayo jalan." Ajak Yosia kepada pak Bram.


Pak Bram menancap gas, pria paruh baya yang belum sepenuhnya tua itu mengendarai mobil di bawah kecepatan rata-rata.


"Agak kencengin pak, laper."


"Baik, tuan."


Miko memakai earphone yang ia keluarkan dari dalam saku hoodienya lalu di pasangkan bersebelahan dengan Yosia.


Sisi kanan di telingga Miko, dan satu sisi kiri di telingga Yosia.

__ADS_1


Mereka memutar playlist kesukaan mereka yaitu senja. Miko memilih mendengarkan Senja dengan judul Perih untuk menemani perjalan pulang mereka.


Tidak lama keduanya terlelap di makan habis oleh alunan musik, di tambah lagi jalanan surabaya sedikit padat sore ini.


***


Rebecca dan Ocha masih berkutat di dalam kelasnya, lebih tepatnya lagi Rebecca sedang menunggu Ocha yang hari ini adalah jadwal piketnya.


Hanya Ocha saja yang piket, Rebecca hanya menunggunya.


Sudah beberapa kali Ocha menyuruhnya untuk pulang lebih dulu, tapi Rebecca enggan meninggalkannya.


Meskipun Rebecca pulang dengan Dixon, ia tetap akan menunggu Ocha sampai ia selesai.


"Lo pulang duluan aja, kasian Dixon lama nunggu."


"Uda nggakpapa santai aja."


"Kasian dia nungguin."


"Tadi gue bilang mau nungguin lo dulu, terus kata dia yaudah nggak papa di tunggu di kelas sama maen game."


"Hmm seterah lo deh."


"Yaudah sapu noh di bawa meja, jangan jalannya aja lo sapu."


"Inggeh ndoro inggeh," jawab Ocha dengan membungkukkan setengah badannya di depan Rebecca.


Ocha melanjutkan sapu menyapunya yang sebentar lagi akan selesai, di sela sela menyapu ia juga mengadakan konser dadakan, properti siap untuk semuanya, gagang sapu ia sulap menjadi mic, deretan meja juga ia naiki untuk di jadikannya panggung.


Kedua gadis itu sedang sibuk dengan dunianya.


Ocha menyanyi yang tak karuan kemana nadanya sedangkan Rebecca memukul meja menyesuaikan irama Ocha.


Pinggul bergoyang kesana kemari, tak sesekali Ocha mengibas rambutnya ala ala trio macan ketika genre rock yang ia nyanyikan.


Rebecca binggung kenapa lagu yang Ocha nyanyikan selalu berpindah genre dalam satu ketukan.


Kadang rock, kadang melow, bahkan kadang flat tak ada nadanya.


Meskipun begitu Rebecca dan Ocha adalah perpaduan yang pas.


Selalu ada saja tingkahnya.


Hey hidup cuma sekali, lakukan apa saja yang membuatmu terkesima.


Hidup itu setiap hari, mati baru cuma sekali.

__ADS_1


__ADS_2