
Angga membuka pintu rumah Yosia seperti rumah itu adalah miliknya, tidak ada sungkan menyungkan dalam kamusnya.
"Yuhuuu I'm comeback!"
Teriak Angga dari depan pintu lantai utama, tidak ada jawaban dari kehadiran Angga di rumah itu.
"Rumah segede gaban ga ada orang nya, gue buat ingon ternak aja kali ya." Kata Angga sambil berjalan kedalam rumah Yos, laki-laki itu tampak duduk di sofa besar ruang tamu dan melepas tas selempang yang sedari tadi ia gunakan.
"Mas Angga sudah datang to, tadi pesennya tuan suruh langsung naik aja." Bu Sri tiba-tiba nonggol dari belakang dengan menenteng lap kain di tanganya.
"Okeh siap." Jawab Angga langsung meluncur naik ke kamar Yos lalu di susul oleh Wilson.
Pasangan duo sejoli itu tampak menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar Yos, tidak lama dari itu mereka dihadapkan dengan dua pintu kamar bewarna coklat yang saling berhadapan.
Satu disebelah kanan pintu besar bewarna coklat dengan bertuliskan, DILARANG MASUK JIKA TIDAK ADA KEPENTINGAN, sedangkan sisi yang lain pintu polos tak ada motif apapun.
Duo sejoli diam saling bertatapan, mereka sedang memutuskan pilihan yang sangat sulit, Angga dan Wilson tahu jika mereka salah mengetuk pintu maka hari ini juga adalah hari terakhir mereka hidup.
"Aduh kimak kamar Yos yang mana nih." Angga menyilangkan tanganya, tatapannya ke kanan dan ke kiri binggung.
"Kayanya sih yang ini." Jawab Wilson dengan menunjuk pintu dengan bertuliskan, DILARANG MASUK JIKA TIDAK ADA KEPENTINGAN itu.
"Masa sihh, kayanya bukan Yos banget deh."
"Iya juga sih, tapi dulu emang Yos kamarnya sebelah sini." Wilson yakin dengan pilihannya itu, tidak di pungkiri mereka akan binggung, itu memang karena Rubik dan Yos selalu berpindah pindah tempat tidurr.
"Ahh ngaco lo, bukan di situ kayanya." Sahut Angga tidak yakin dengan pilihan temannya itu.
"Kaya orang stupid kita dari tadi disini, kenapa nggak lo telfon aja si Yosia kampret itu." Wilson baru sadar jika ada cara yang lebih efektif dari pada menebak nebak yang berujung tak karuan benarnya itu.
"LAH SI ANYINK GOBLOK PISAN." Angga meraih ponselnya lalu mencari nama Yos dari log panggilannya.
Jadi nggak lo kesini kampret lama banget.
Teriak seorang dari dalam ponsel yang jelas bukan suara Yos.
"Euu ini udh di depan kamar Yos tapi gatau kamarnya yang mana, coba deh lo keluar bentar."
Tidak lama dari itu, setengah kepala Miko muncul dari balik pintu, pintu coklat polos tanpa tulisan lebih tepatnya.
Yos yang sedang asik bermain game dalam pc nya melihat ke arah temannya yang baru datang itu. "Telat berapa menit nih para bujangan."
__ADS_1
"Asal lo tau gue dari tadi udah di depan pintu kamar lo."
"Lha ngapain ga masuk masuk?" balas Yos namun tetap fokus pada game nya.
"Gue binggung takut salah masuk." Jawab Angga.
"Mana kamar lo sama kamar Rubik hadap hadapan lagi, ngeri kalo salah pilih." Sahut Wilson sambil duduk di sebelah Yos.
"Jam segini kayanya kakak gue lagi mandi." Yos memberikan stik gamenya kepada Wilson, namun laki-laki itu menolak tak selera.
Kamar Yos dipenuhi bocah-bocah tak jelas dari mana asalnya, di depan pc dua orang sedang asik dengan ponselnya, di atas kasur tampak seorang berbaring dengan tangan yang menutup kedua matanya, satu yang terakhir tengah duduk di sofa entah apa yang laki-laki itu lihat.
Yos berdiri dari duduknya untuk mengambil ponsel di meja belajar nya.
"Cielahh si bujang ngelamun, lagi mikirin apasih ayy." Yos menggoda Angga yang sedari tadi melamun.
"Laper kali." Sahut Miko dengan rebahan tanpa membuka matanya.
"Itu elo kali yang laper mwehehe." Wilson yang asik dengan ponsel nya tiba tiba ikut menimbrung.
"Berisik lo pada, orang gue lagi binggung mau pake caption apa." Jawab Angga dengan ponsel di tangannya yang sudah siap akan memposting foto pribadinya.
"Tolong dong the king of quotes bersuara." Kata Yos dengan melirik ke arah Wilson.
"Foto ini diposting dari tangan yang tidak pernah kau genggam."
"HAHAHA KETAWA DOSA GA SIHHH."
"ANYINKK BENER PISAN."
"Menusukk, tapi emang bener sih." Jawab Angga pasrah.
Kamar Yos di penuhi canda tawa bersama empat sekawan, obrolan yang sepele jika ada Angga dan Wilson akan terkesan receh.
"Nyokap lo belum pulang yos?" Tanya Wilson yang sedari tadi tidak melihat mama Debora.
"Nanti jam 10 malem baru pulang, kenapa?" Yos bertanya balik, entah mengapa Wilson selalu terobsesi dengan mamanya.
"Hmm." Sahut Wilson, rupanya laki-laki itu tak seberuntung Yos dan Rubik, sudah terlihat jelas bahwa Wilson sangat menyukai mama Debora yang berparas kalem dan tidak pernah marah itu, bukan hanya Wilson, alasan Miko selalu betah di rumah Yos adalah karena mama Debora.
Bagi mama Debora, Miko adalah anaknya juga, lebih tepatnya lagi semua teman Yosia sudah di anggap anak olehnya.
__ADS_1
"Mau kemana yos?" Tanya Miko yang mendapati Yos sedang membuka kamarnya.
"Tunggu aja bentar." Jawab Yos lalu menutup pintu.
Yos keluar kamar lalu berganti membuka pintu di hadapanya.
Rupanya laki-laki itu sedang mengunjungi kamar kakaknya.
"Subhanallah keren bat kakak gue, makin cintahhh deh muah." Goda Yos yang kagum melihat kamar kakaknya yang rapi.
"Hmm." Jawab Rubik yang masih sibuk mencari sesuatu di dalam lemarinya.
"Nyari apa? Mau di bantu?"
Rubik yang di tawari bantuan oleh yos hanya menggelengkan kepala, "Ngapain kesini?" Tambahnya
"Mau mastiin tali kut*ang lo lagi bececeran atau gak."
"Hmm."
Yos pergi meninggalkan Rubik yang masih sibuk mencari sesuatu di dalam lemari nya, sepertinya barang yang ia cari sudah hilang entah kemana, padahal ingin sekali ia mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya.
"Sialan nyelip di mana sih." Umpatnya sambil mengeluarkan semua bajunya satu persatu.
Rubik menyerah, lemari kayu miliknya sudah kosong tak berisi, namun barang yang dia cari masih saja tidak ketemu.
Rubik merobohkan tubuhnya di atas kasur yang bertumpukan baju, wanita itu merasa kesal namun enggan untuk menyerah.
Sesekali ia memejamkan mata untuk mengingat dimana terakhir kali ia menyimpan barang itu.
Seperti mujizat yang datang tiba tiba ia mengingat sesuatu, "Buku Diaryy!"
Rubik segera membuka lemari kecil di sebelah meja belajar miliknya lalu mencari buku hitam kecil bertuliskan the day of me.
Buku yang ia cari sudah ketemu, buku itu tampak kusam dan berdebu karena 2 tahun lamanya sudah tak di buka.
Rubik membolak balikan setiap halaman untuk mencari barang yang ia cari.
Tepat dihalaman terakhir ia tertegun, ingatannya membuatnya kembali ke dua tahun silam, terharu dan miris yang ia rasakan.
Namun ia sedikit senang karena kalung yang dari tadi ia cari sudah ketemu keberadaannya.
__ADS_1
Rubik bergegas mencari ponsel di atas kasurnya.
"Bisa ketemu?"