
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, pembelajaran berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan.
Setiap pulang sekolah, Rebecca tidak langsung pulang, melainkan ia duduk di atap balkon sekolah.
Tidak ada alasan khusus hanya saja ia menyukai tempat yang membuatnya tenang.
Ia duduk di kursi kayu yang usang dan tua, sesekali kursi berbunyi ketika hendak ia duduki, tetapi itu tidak mengurungkan niatnya untuk selalu menyapa kursi itu setiap sore.
Rasanya tentram, angin sore bertiup sepoi-sepoi yang tak jarang membuat anak rambut Rebecca berantakan. Rebecca merogoh saku dalam hoodie yang ia pakai lalu mengambil ponselnya.
"Betah banget disitu, gue tinggal ya." Ponsel Rebecca menyala karena notif tersebut, pesan singkat itu adalah Yos yang sedari tadi menunggu kakaknya untuk pulang bersama, namun yang ditunggu na'as tidak datang.
Yos selalu tau dimana kakaknya berada, hanya saja ia cukup malas untuk menghampiri.
Rebecca mulai mengetik membalas pesan adiknya, "Ya."
"Ngetik yang jelas, keyboard lo ga cuma ya aja kan? ya apa nih? ya gue tinggal apa ya gimana." balas Yos dengan cepat karena ia sebenarnya ingin buru-buru untuk pulang.
Rebecca memandang balasan dari adiknya, tanpa di sadari ia tersenyum tipis, tidak jarang ia selalu tertawa dalam hati karena tingkah Yos yang selalu saja bawel untuk hal yang tidak berguna menurutnya.
Rebecca berjalan turun menyusuri lorong yang mulai sepi sambil memasang earphone ke dalam telinganya.
Baginya, earphone adalah kekasihnya.
__ADS_1
Alunan musik yang ia dengarkan selalu berhasil membuatnya tenang meskipun ia sedang dalam keriuhan.
Tidak lama dari itu Rebecca tiba di depan gerbang sekolah, ia melihat kanan kiri lalu menemukan yang ia cari.
"Cepet Rubik gue udah tekor nungguin lo dari tadi!" teriak Yos dari dalam mobil yang hanya terlihat kepalanya saja yang muncul.
Tanpa jawaban, Rebecca berjalan menuju mobil yang dikendarai pak sopir lalu bergegas masuk dan pulang, tidak ada obrolan dalam perjalanan, yang ada hanya nyanyian Yos yang bisa merusakk telinga.
"Huooo ho ho mengapa hidupp ini, oh mengapa aku terlahir sangat tampann oh huoo." Nada tak karuan keluar dari mulut Yos.
Meskipun earphone masih menancap di telingga Rebecca, ia masih bisa mendengar suara Yos dengan samar namun masih sangat jelas. Ia terkekeh pelan bagaimana bisa ia memiliki adik seperti dirinya.
10 menit berlalu mereka sampai dirumahnya tanpa obrolan apapun, hanya nyanyian tak jelas Yosia yang terdengar.
Si kembar duduk di meja makan dengan fokus yang berbeda, Rebecca dengan susu pisang favoritnya, dan Yos dengan setumpuk nasi goreng yang entah dari mana ia dapatkann.
"Ini semwua garwa garwanel ewolo ywa rwbiak gwe jdwi lwapwerw bangweet." Kata Yos dengan mulut penuh nasi.
Bahkan tak jarang nasinya keluar sendiri dari mulut Yos karena ia makan sambil berbicara.
"Telen dulu, lo bisa mati." Jawab Rubik tanpa melihat kearah Yos.
Yos terkekeh pelan sambil mengangkat sendok lalu menunjuk Rubik. "Lwo gea biswa hidwup tanpwah gwa." Sambung Yos tetap dengan setumpuk nasi dalam mulutnya, bukan Yosia namanya kalau ia tidak penurut.
__ADS_1
"Emang lo siapa? Orang ga berpengaruh banget di hidup gue." Jawab Rubik sambil menyenggol lengan Yos.
Yos menelan sisa nasi dalam mulutnya dulu sebelum menjawab kakaknya. "Gue kan pangeran ketampanan keluarga ini, jadi kalo gue ga ada bakal sedih banget dunia ini tanpa kehadiran gue."
"Lo kalo ga ada gue siapa juga yang mau bagunin lo? Hp lo? Hp lo aja udah ga sanggup, apalagi jam alarm udah ga ada harga dirinya lagi buat lo, hanya gue yang mampu membangunkan kebo kaya lo." Sambung Yos dengan menekan kata hanya gue kepada Rebecca.
Rebecca menyengir pelan, mencerna semua yang di katakan adiknya memang benar adanya, entah bagaimana cara ia tidur hingga susah sekali untuk bangun. Rasanya ada lem yang terikat kuat dalam matanya yang membuatnya enggan untuk bangun.
Tapi memang hanya Yos yang bisa membangunkan Rebecca dengan caranya sendiri, pernah sesekali Yos kesal karena Rebacca tak kunjung bangun, tanpa ragu Yos menguyur Rebecca dengan air seember yang membuat Rebecca dan kasur nya basah kuyup.
Tidak ada perlawanan dari Rebecca, ia hanya bisa pasrah. karena baginya, mau sebodoamat apapun dia, dia tetap peduli dan sayang kepada Yos, saudaranya.
Rebecca sudah selesai dengan susu pisangnya, ia berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya, ia membuka pintu kamar lalu melempar tas nya kesembarang tempat, entah tas itu ingin berlabuh dimana terserah sudah.
Kadang berlabuh di atas lemari, kadang di atas kasur, dan yang paling parah kadang ia masuk kedalam aquarium milik Rebecca. Mungkin tasnya pengen mandi atau mungkin tasnya juga pengen berenang bareng ikan.
Rebecca mengambil handuk di sebelah lemari kayu miliknya dan memutuskan untuk segera mandi lalu pergi ke alam mimpi dengan damai.
Disisi lain dirumah sakit Mulia suara tangisan terdengar riuh, dinginnya AC menyelimuti suasana haru.
Bagi seseorang sorenya menjadi menyakitkan. Senjanya berubah menyedihkan. Dunianya hancur dalam hitungan detik.
"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain, mungkin bangi-Nya ini jalan yang paling baik."
__ADS_1