Senja Milik Rebecca

Senja Milik Rebecca
eps 7. Merindu


__ADS_3

Pintu gerbang sekolah sesak di penuhi murid yang akan pulang, di tengah keramaian 2 orang sedang berboncengan sambil melambaikan tangan kepada Yos.


"Yuhuuu sampai nanti pukimak!" teriak Angga yang sedang di bonceng oleh Wilson.


Angga dan Wilson sudah sama seperti kertas dan perangko, kemana mana selalu merekat.


Jika Angga terlambat masuk kelas, Wilson juga akan ikut terlambat, jangankan terlambat, bolos tidak sekolah pun mereka tetap bersama.


Yos yang di dalam mobil mendengar suara yang tak asing itu langsung menoleh ke arahnya dengan memberi isyarat jempol.


Di tengah keramaian murid tampak seorang perempuan sedang berjalan sendirian, hoodie hitam yang ia gunakan plus dengan tudung kepala yang ia pakai membuat wajahnya separuh tak terlihat, namun Yos sangat paham dengan perempuan itu.


Yos mengeluarkan kepalanya di jendela mobil lalu mengambil ancang ancang untuk berteriak.


"HEH RUBIK! CEPET!," yang dituju tidak mengubris.


"Jalan yang cepet dong! Lelet banget kaya pengantin habis malam pertama!"


Rubik yang mendengar teriakan adiknya itu mengumpat kesal, bisa bisanya anak kecil yang belum puber sudah tau malam pertama. "Sialan." Umpatnya pelan.


Pak supir membukakan pintu mobil untuk Rubik lalu dengan segera Rubik masuk kedalamnya.


"Kalo pulang cepet pulang, ngapain sih masih ngetingkrang di atap." Yos kesal karena menunggu Rubik terlalu lama.


Yos tidak habis fikir entah apa yang dilakukan Rubik di atas sana, padahal yang ia tahu Rubik hanya duduk termenung sambil bermain ponsel.


"Kak lo di atap nggak aneh aneh kan?" Yosia memutar badannya menghadap ke arah Rubik.


"Siapa yang lo panggil kak?" jawab Rubik namun pandangannya tak lepas dari ponselnya.

__ADS_1


"Iya elo lah, mau siapa lagi, masa iya pak supir gue panggil kak." Emosi Yos meningkat mendengar jawaban kakaknya, sementara pak supir hanya tertawa mendengarkan.


"Hmm." Gumam Rubik singkat.


Aneh rasanya kalau Yos memanggil kakaknya dengan embel embel kak. Yang Rebecca tau Yos tidak pernah memanggil dirinya seperti itu, kecuali jika adiknya itu sedang ada maunya.


"Serah lo deh." Sahut Yos yang tidak puas dengan jawaban kakaknya.


Yos memilih diam sambil melihat kearah jalanan yang hampir di penuhi kendaraan. Ketiganya hanyut dalam fikiran masing-masing.


***


Disisi lain Wilson dan Angga sedang duduk santai di kursi umum indomaret dekat komplek rumahnya, dengan sebatang rokok di tangan Angga lalu menghisapnya secara perlahan.


"Kapan mau berenti?" Angga menghentikan hisapan rokok miliknya.


"Masih proses, tenang aja." Jawabnya dengan kembali menghisap rokok yang sudah tinggal setengah itu.


"Ga percayaan banget emang lagi proses, yaudeh gue pulang duluan ya! nanti jangan lupa jemput gue." Angga membuang rokoknya yang tinggal sedikit itu lalu meraih tas miliknya dan segera berjalan pulang.


Jarak rumah Angga bersebelahan dengan indomaret tempat ia biasa nongkrong bersama Wilson.


Tidak lama dari itu Wilson juga memutuskan untuk pulang, ia merogoh sakunya untuk mencari kunci sepeda motor miliknya dan meraih tas hitam di pundaknya.


***


Yos dan Rebecca sampai di rumahnya, mereka turun dari mobil lalu berjalan menyusuri halaman depan rumahnya yang cukup luas.


Yos menyamakan langkahnya di samping Rubik, laki-laki itu memandang dengan sedikit menundukan kepalanya untuk bisa melihat wajah kakaknya.

__ADS_1


Meskipun Rubik adalah kakaknya namun tetap saja masalah tinggi badan Yos menang telak.


"Nanti bestieku mau nginep dirumah, tolong segala tali penghubung alias kut*ang lo jangan beserakan."


"Siapa?" sahut Rubik dengan membuka pintu rumahnya.


"Bestieku lah."


"Miko?"


"Iya, cuma nanti Angga sama Wilson juga ikut nginep." Yos menaruh tas miliknya di kursi ruang tamu sebelum ia berjalan menuju kulkas untuk mengambil jus alpukat kesukaannya.


"Bagus, mirip panti jompo nih rumah bentar lagi." sahut Rubik yang kurang suka jika teman-teman Yos akan menginap dirumahnya, bukan karena apa, itu sudah di pastikan bahwa rumahnya akan segera ramai oleh teman-teman Yosia.


"Punya adek satu aja berisiknya minta ampun, lha ini mau di tambah 3 lagi apa ga kacau."


Sesekali Rubik melihat ke arah Yos dengan geram, ingin sekali ia menggantung kepala adiknya itu namun ia masih belum tega.


Yos sedang asik menonton tv di ruang tamu dengan segelas jus alpukat di tangan kanannya.


Rubik mencari snack miliknya di dalam kulkas dan membawa sebotol susu pisang kesukaanya, ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamar lalu melepas seragam yang ia kenakan sedari pagi.


Sekarang ini Rubik hanya memakai tangtop dan celana pendek hitam kesukaannya, ia menghela nafas dalam dalam sebelum ia membaringkan tubuhnya di atas kasur yang bermotif bendera inggris itu.


30 menit berlalu habis hanya digunakan untuknya berbaring.


Sebelum Rubik membersihkan badannya, ia selalu membuka jendela di sebelah kasur king size nya itu untuk menghirup udara yang segar langsung dari pepohonan di sebelah rumahnya.


Rubik meraih handuk miliknya yang sudah bergantung di sebelah lemari kayu kamarnya.

__ADS_1


Langkahnya terhenti seketika karena ia mendapati ponselnya sedang menyala menandakan sebuah pesan masuk.


"Kangen"


__ADS_2