Senja Milik Rebecca

Senja Milik Rebecca
eps 10. Perih


__ADS_3

Rubik mencari ponselnya di atas kasur yang bertumpukan baju.


Setelah ia menemukan ponselnya, ia berfikir keras untuk menghubungi mantan kekasihnya itu atau tidak.


Jika tidak menghubunginya maka kalung itu akan terus membuatnya mengingat kenangan 2 tahun silam yang membuat hatinya teriris perih, namun jika menghubunginya, ia juga enggan.


Binggung bukan main yang Rubik rasakan, sampai akhirnya dia memilih untuk menghubungi Dixon mantan kekasihnya itu untuk mengembalikan kalung pemberiannya dulu.


Jari jemarinya mulai menari dengan ragu di atas ponsel miliknya.


"Bisa ketemu?"


Setelah dua kata itu terkirim, Rubik merobohkan badannya di atas kasur, fikirannya sedang berfikir tak karuan.


Baru saja ia memejamkan matanya sudah di buat kaget karena ponsel di sampingnya bergetar.


"Bisa by, mau ketemu dimana?" Terlihat jelas Dixon sudah membalas pesan dari Rubik.


Rubik berdecak kesal, "Ngapain sih manggil by by segala, nama gue Rebecca asal lo tau." Ingatannya kembali ke 2 tahun silam, di waktu ia menjalin hubungan asmaranya dengan Dixon, laki laki itu memang punya nama panggilan khusus untuk Rubik, by namanya.


Rubik membalas pesan Dixon dengan malas. "Di taman deket rumah."


Tidak lama dari itu di balas, "Siapp by." Oleh Dixon di seberang sana.


Rubik bersiap untuk bertemu mantan kekasihnya itu, tidak perlu mempercantik diri untuk bertemu si brengsek yang pernah menyakiti hati nya dulu, ia mencari hoodie biru kesayangnya lalu dengan segera akan menemui laki laki itu.


Rubik membuka pintu kamar nya dan langsung mendapati Wilson yang sedang menerima telepon.


Wilson yang menyadari Rubik keluar dari kamarnya langsung menganggukan kepala dan tersenyum sambil memperlihatkan barisan giginya yang putih bersih itu.


Rubik hanya menoleh dan membalas dengan sedikit anggukan lalu pergi meninggalkan Wilson.


"Kakak lo cantik bangett gilak!" kata Wilson yang baru saja masuk ke kamar Yosia.


Teman temannya yang mendengar hal itu membulatkan matanya terkejut kecuali Yosia.

__ADS_1


"Baru tau ente?" Jawab Yosia yang membanggakan kakaknya.


"Tau dari dulu sih, tapi tadi baru liat cakep bangett."


"HAH SERIUSAN LO LIAT DIA? DIMANA?" Teriak Angga terkejut karena ia dari tadi belum melihat paras ayu Rebecca, laki-laki itu iri kepada Wilson karena ia lebih dulu melihat Rebecca.


"Menurut lo dimana?" jawab Wilson malas dengan pertanyaan tak masuk akal Angga.


Yosia menghampiri Wilson yang sedang duduk di ujung kasurnya, "Lo nggak main masuk ke kamar kakak gue kan?" Todong Yosia dengan tatapan tajam.


"Udah gila kali gue masuk kamar kakak lo."


"Lo emang gila sih." Sahut Miko.


"Gue kalo masuk kamar kakak lo sama aja kaya gue nyerahin hidup gue."


Yosia khawatir kalau teman temannya tau isi di dalam kamar Rubik, kakaknya.


Takut jika teman temannya akan melihat hal-hal yang tak senonoh, bisa saja ia akan melihat tali penghubung dua gunung yang berserakan atau bisa yang lebih parah dari itu.


"Itu tadi kakak lo keluar kamar gatau mau kemana, kayanya mau pergi." Sambung Wilson.


"YA MANA GUE TAU PANT*K." Jawab Wilson yang tidak mengerti lagi kepada Yos, di pikir lagi ya mana Wilson tau kakaknya mau pergi kemana sama siapa.


***


Disisi lain seorang laki-laki dengan kaos putih dan celana jeans abu-abu sedang duduk di ujung kursi umum taman, dengan rambut yang sedikit basah membuatnya terlihat lebih segar.


Di sela-sela ia menunggu, sering kali ia membolak balikan ponsel nya, entah siapa yang akan ia hubungi kali ini.


Di ujung taman Rubik sedang mengutuki dirinya, tidak ada pilihan lagi selain ia harus mengembalikan kalung yang pernah di berikan mantan kekasihnya dulu.


"Heyy by apa kabar!" Sapa Dixon yang tahu akan kehadiran Rubik dari arah kanannya.


"Hmm." Rubik hanya berdiri di hadapan Dixon, ia menggelengkan kepala saat laki-laki itu menyuruhnya untuk duduk.

__ADS_1


Rubik menyodorkan kalung yang ia tenteng sedari tadi, Dixon menatap Rubik dengan heran, "Kenapa di kembalikan?" Kata laki-laki berparas rupawan itu.


"Gue nggak mau lagi punya barang yang bersangkut paut sama lo."


"Maafin aku by." Ucapnya lirih.


"Dari dulu lo kemana aja? Lo tau nggak seberapa sakit hati gue?"


"Maafin aku by, aku menyesal." Katanya dengan mencoba meraih tangan wanita itu.


"Nyesel? Setelah semua yang lo lakuin ke gue lo bilang nyesel? Emang lo dari dulu selalu egois, gue muakk sama lo."


"Tapi aku bisa jelasin dari awal by, itu nggak seburuk yang kamu kira."


"Mau buruk apa enggak yang lo lakuin dengan cara selingkuh itu tetep aja salah! Lo mau pembenaran dari sisi mana kalo selingkuh itu ga salah? Kurang puas lo mainin gue?"


"Byyy," dengan suara yang terpaku paku laki-laki itu tanpa sadar menetaskan air matanya, sungguh ia menyesal merutuki dirinya di masa lalu.


Ia sudah membuat wanita yang ia cintai merasakan sakit yang begitu dalam karena nya.


Air matanya melaju tanpa sanggup ia bendung, "Maafin aku." Tambahnya.


"Telat lo bilang maaf ke gue, lo tau kan kalo gue nggak kehilangan lo aja? GUE KEHILANGAN OCHA SATU SATUNYA SAHABAT GUE!" Rubik tak sanggup menahan air matanya dari tadi.


Amarah yang ia pendam lebih dari 2 tahun akhirnya ia ungkapkan hari ini, "KENAPA HARUS OCHA? KENAPAA!" Teriaknya dengan memukul dada lebar milik laki-laki itu.


"Mata lo bisa liat kan kalo gue sama ocha itu sahabatan? Kenapa lo malah selingkuh sama dia! Kenapa nggak sama perempuan lain aja! Gue benci sama lo!" Ucapnya dengan sesenggukan.


Dixon meraih tangan Rubik namun wanita itu dengan segera menepisnya. "Sekarang lo pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapan gue!"


Rubik pergi meninggalkan Dixon yang sedang terpaku, laki-laki itu memijat pelipisnya dengan penuh sesal, bagaimana bisa ia berselingkuh dengan sahabat pacarnya sendiri.


***


Rubik berlari menyusuri komplek rumahnya yang sepi, hanya ada cahaya bulan dan lampu lampu jalan yang remang tak seberapa menyala.

__ADS_1


Air matanya terus mengalir tanpa bisa ia bendung, sesak yang ia rasakan, ia sudah kehilangan dua orang yang dulu pernah mengisi hari harinya, namun sekarang sudah tidak lagi.


Jduakk


__ADS_2