
Laki laki dengan kaos training hitam sedang berjalan kearah Rebecca.
"Dicariin Dixon." Katanya.
Laki laki itu adalah Okta, teman Dixon.
"Dimana?"
"Bukan elo, tapi Rebecca." Jawab Okta kepada Ocha karena ia menyahut perkataanya.
Rebecca memandang Okta yang mengisyaratkan akan bertemu dimana.
"Noh di kelas."
Rebecca mengangguk lalu pergi untuk ke kelas Dixon.
Kelas yang sepi hanya ada Dixon disana yang bisa dilihat dengan jelas kalau laki laki itu sedang bermain game di ponselnya.
Dixon yang tahu keberadaan Rebecca langsung mematikan ponselnya.
"Ututu sayangku... Sudah makan?"
"Sudah." Rebecca duduk di kursi kosong sebelah Dixon duduk.
"Kenapa nyariin?" tambahnya.
"Ih emang nggaboleh nyariin pacar sendiri?" kata Dixon sambil memajukan bibirnya agar terlihat imut.
"Ya gapapa, tapi ngapain juga disini, keluar aja nonton bola." Ajak Rebecca.
__ADS_1
Jika tidak ada laporan dari Galuh kemarin mungkin Rebecca akan merespon rayuan Dixon dengan baik, bahkan mereka akan bermesraan diwaktu seperti ini.
Namun tetap saja meskipun Rebecca ingin, ia masih belum bisa berdamai dengan fikirannya sendiri. Entah mengapa ia selalu bertanya tanya dengan wanita mana ia berduaan di kamar mandi kemarin.
Kali ini bukannya tidak mempercayai pasangan, tapi lebih ke berhati hati karena ia sudah mempercayai seseorang lebih dari dirinya sendiri, yang sudah pasti pada akhirnya seseorang yang ia percayai akan mematahkan kepercayaannya.
Jelas itu sudah pasti, bukankah hanya kekecewaan yang kita dapat jika terlalu percaya kepada manusia?
Sulit memang jika sudah mencintai orang lain lebih daripada kita mencintai diri sendiri.
"Tumben?" kata Dixon yang menyadari keanehan pacarnya, tidak biasanya Rebecca menolaknya untuk bersendagurau berdua.
"Tumben apanya?"
"Diluarkan rame by, kamu mana suka yang rame rame."
"Nggak kok, aku suka yang rame."
Rebecca yang ia tahu sangat penurut, bahkan biasanya ia menolak jika diajak kesuatu tempat yang ramai, tapi kali ini tidak, bahkan dirinya sendiri yang menantang untuk ke tempat itu.
Ponsel Dixon yang dari tadi menganggur di atas meja akhirnya menyala karena pesan masuk dari seseorang.
Dixon yang menyadari hal itu langsung sigap meraih ponselnya lalu memasukkan kedalam saku celana trainingnya.
Rebecca menaikkan sebelah alisnya keheranan melihat sikap kaku Dixon, "Kenapa? balas aja aku ngga akan liat kok."
"Ehhh ngga gitu sayang, chat nya ngga penting barusan."
"Ya balas aja, ngapain di masukin lagi."
__ADS_1
"Nggapapa kok by, paling dari Okta ngajak main."
Rebecca yang sudah curiga mulai dari pertama bertambah menjadi kurang percaya, sudah pasti ada yang ia sembunyikan darinya, tapi apa Rebecca masih belum mengerti.
"Iya balas aja gapapa."
"Nanti aja by, sekarang-kan ada kamu, masa iya mau di cuekin main."
"Lha biasanya juga kamu main."
"He he sekarang udah nggak kok by."
"Hm apa aku harus keluar dulu baru kamu balas chatnya?" pancing Rebecca yang tahu kalau pria yang disampingnya sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ihh kamu kok gitu sih by, ngga ada apa apa kok, paling cuma chat biasa, kamu jangan kemana mana."
"Aku mau keluar."
"Ehh jangan dong by disini aja, mau kemana sih emangnya?" jawab Dixon sambil menarik tangan pacarnya itu agar tidak kemana mana.
Rebecca keluar kelas tidak menghiraukan Dixon, dipikirnya untuk apa berada di dekatnya jika ia menyembunyikan sesuatu. Bukankah cukup mudah untuk selalu terbuka kepada pasangan.
Selama ini Rebecca sudah cukup terbuka kepada Dixon, hal hal sepele yang setiap hari terjadi saja selalu ia ceritakan kepada pacarnya itu.
Tapi saat ini apa yang Rebecca dapatkan? Hanya rasa penasaran yang tak kunjung dapat jawaban.
Apa yang Rebecca lakukan berbanding terbalik dengan apa yang ia dapatkan, sedikit kecewa batinnya.
Hal ini semakin membuat Rebecca enggan untuk terbuka seperti dulu, untuk apa juga terbuka dengan terlalu jika partner kita tidak melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Memang benar, seseorang tidak akan berubah jika tidak ada sebabnya.
*Jadi kalian jangan kaget kalau aku tiba tiba berubah he he he