
Diori berjalan menuju ruang club teakwondo,
dimana sudah terdapa beberapa teman-temanya disana, hampir dua jam Diori
berlati bersama teman-temannya dan beberapa perempuan menonton di sana, tentu
saja mereka menonton Diori yang berkeringat, membuat laki-laki itu terlihat
seksi.
Salah seorang wanita yang sangat
mengaguminya selama tiga tahun ini tersenyum sendiri sambil mengigit bibir
bawahnya, gadis itu membayangkan jika suatu saat nanti ia bisa menjadi kekasih
Diori, tadi Jesy bahkan berlari secepat mungkin setelah club nyanyinya selesai demi melihat laki-laki idamanya itu.
Sofi melihat ruangan itu terlihat
sangat penuh “Permisih” ucap Sofi pada barisan perempuan yang berdiri di bekat
pintu mereka seperti bonekah yang tersusun rapi di tepih lapangan itu, beberapa
menganga melihat Diori berhasil menjatuhkan lawanya.
Diori menoleh melihat kedatangan adik
perempuanya, ia melambai sesaat membuat semua perempuan itu bersorak
kegirangan.
“Chik.” Sofi berdecak kesal melihat tingkah
kakaknya yang tebar pesona, Sofi memilih berjalan ke ruang ganti untuk menganti
pakaiannya.
Sofi sekarang sudah siap, ia mengenakan
celana training dan baju kaus berlengan panjang yang berwarna hitam, rambutnya
juga di kuncir kuda dengan kacamata besar bertengger di hidungnya.
Sofi memberhentikan langkahnya saat
melihat Aktara sudah duduk di salah satu sudut ruangan itu, ia mengenakan
seragan karate berwarna hitam sama seperti yang di kenakan Anis, bibir Sofi
menarik garis di sudut bibirnya, ia juga baru tahu kalau Aktara berada di club itu.
***
Diori berlari mendekati adiknya yang
tersenyum sendiri, ia segera melilitkan tanganya merangkul leher Sofi membuat
Sofi berteriak jijik karena lengan Diori penuh keringat, “Kakak lepas, iihk!”
Sofi benar-benar tidak suka keringat.
Diori terkekeh melihat tingkah adiknya,
“Mana minum kakak?” Diori tidak melepaskan rangkulannya,
“Dalam tas.” jawab Sofi sambil berusaha
melepaskan rangkulan itu, beberapa mata perempuan yang duduk di barisan itu
menatapnya dengan kesal, mereka sangat iri melihat keakraban Sofi dengan Diori
walau mereka saudara.
“Ambilin dong,” Diori memohon.
“Lepasin dulu jijik tau!” Sofi
mendengus kesal, Diori kemudian melepaskan lengannya, laki-laki itu kemudian
mengelap tengkuk Sofi menggunakan handuknya yang agak lembab kerena
keringatnya, membuat gadis itu semakin jijik.
“Kakak itu jorok!” Sofi mundur beberapa
langkah ia mengelap tungkuknya sendiri dengan handuk kecil miliknya, bibir Sofi
masih meringis jijik.
Diori semakin tertawa lepas melihat
tingkah adiknya “Sudah tau benci keringat, ngapain masuk club karate?” Diori menyambut botol air mineral yang di berikan
Sofi.
“Ini semua gara-gara kakak yang gak ngizini
aku masuk club lukis.” Sofi kemudian berjalan meninggalkan Diori menujuh Anis.
Mata Diori membualat saat melihata
Aktara juga ada di barisan itu, “Sial!,
kenapa gue lupa Tata juga ada di club ini.” Diori mengutuk dirinya.
***
Sofi sudah ada di salah satu barisan
yang ada di sana, Anis terus menjelaskan apa itu karate, tekhnik yang di pakai
dalam membelah diri, kemudian mereka di suruh untuk berlari mengelilingi
lapangan sebanyak sepuluh kelilingan, Sofi sempat menelan ludahnya, “Ini
pemanasan!” Anisa berkoar
‘Nyesel gue ikut.‘batik Sofi.
Beberapa senior juga ikut berlari
sebagai penamasan termasuk Aktara, ‘Tidak
apa-apa sih, ambil makna Sofi, setidaknya gue bisa melihat kak Tara.’ batin
Sofi bersorak.
Sofi terus berlari sudah lima putaran
Sofi mulai memperlambat larinya karena lelah, begitu juga yang lainya, “Aku gak
kuat” Sofi bergumam pelan.
“Sama gue juga.” ucap seorang wanita di
depanya. Sofi tersenyum mendengarnya “Lo Sofi kan, adik kak Dio?” ucap wanita
di depanya tanpa menoleh
“Iya.” suarah Sofi sambil
tersengal-sengal.
“Gue Lisa, jurusan Matematika.” Lisa
kemudian menoleh sesaat sambil tersenyum. Sofi bisa melihat wajah Lisa, wanita
__ADS_1
itu cantik, kulit putih dengan wajah oriental tapi matanya tidak terlalu sipit,
hidungnya cukup mancung, bibirnya berwarna pink, dengan rambut sebahu yang agak
bergelombang serta cukup tinggi dari Sofi.
Sofi dan Lisa segera berbaring di
lapangan saat putaran mereka telah sepuluh kali di ikuti yang lainya.
“Capek ha, ha....” Sofi
tersengal-sengal dadanya turun naik tidak teratur.
Diori melempar handuk tepat ke wajah
Sofi “Kakak!” Sori berteriak bibirnya gemetar karena lelah. Diori tertawa pelan melihat adiknya yang satu ini. Diori membantu Sofi untuk
duduk lalu mengelap mukanya yang penuh keringat,
“Kak aku bisa sendiri.” gerutu Sofi,
Diori tidak peduli ia terus membersihkan keringat Sofi, membuat gadis itu
risih, Sofi menatap Lisa yang mengangah melihat Diori mengelap keringatnya.
“Minum ini.” Diori memberikan botol
minunya, Sofi segera menerimanya lalu menegaknya.ia sangat membutuhkan itu saat
ini.
“Lis lo gak papakan?” Sofi bertanya, ia
tidak peduli dengan Diori yang mengelap keringat di leher dan tanganya.
“Lis!” Sofi melambaikan tanganya di
hadapan wajah Lisa tapi tidak ada respon, mata Lisa terus menatap Diori, baru
saja Diori duduk di samping adiknya, Sofi sudah berdiri menarik Diori menjauh
darinya, kakaknya sudah menghinoptis teman barunya.
“Mau kemana sih?” Diori mengikuti
tarikan tangan Sofi.
“Kakak tu ya, jangan tebar pesona dong,
aku kan gak enak dengan teman-temanku, kakak gak liat apa Lisa sampai melongog
gitu!” Jelas Sofi kesal.
“Emang kakak ngapain? kakak cuma ngelap
keringat adek kakak.” Diori tidak mengerti sama sekali, apa yang di bicarakan
Sofi saat ini.
“Tapi mereka iri kak.” jawab Sofi kesal
“Mereka siapa?” tanya Diori polos
“Tuh fans-fans kakak.” Diori terkekeh
mendengarnya.
“Biarin, siapa suruh gak lahir jadi
adik kakak.” Diori cuek.
Sofi mendengus kesal, ia kemudian
meninggalkan Diori yang masih terkekeh.Mungkin tidak masalah untuk Diori tapi akan
menjadi masalh besar untuknya jika fans-fans itu menyerangnya, Sofi bersumpah
****
Dua jam sudah Sofi mengikuti club itu,
tidak terlalu buruk rupanya walau ia harus berkeringat.
“Sofi!” Lisa memanggilnya.
“Emh,” Sofi segerah menoleh pada teman
barunya itu.ia masih sibuk membersihkan keringatdi wajahnya.
“Kenalin gue sama kak lo.” gadis itu
memohon
“Kak Dio?”
“Iya, gue ngefans banget sama kak Dio, pleace ya.”
‘Oh tuhan bertambah satu
lagi orang gila di samping ku.’ Sofi bergumam ‘Mengapa semua orang sangat menyukai kak Dio sih?’ Sofi mengaruk
tungkuknya yang tidak gatal.
Sofi hanya mengangguk dua kali menjawab
pertanyaan Lisa, gadis itu segera memeluk Sofi kuat sambil melompat-lompat,
membuat Sofi melengos kesamping, ia jijik dengan leher Lisa yang berkeringat
tidak sengaja menyentuh kulit lehernya. Karena rasanya sedikit aneh untuk Sofi.
“Makasih, makasih banget Sofi” ucap
Lisa.
“Oke, oke, bisa lepas pelukan lo, gue
agak risih dengan ke-ringat.” ucap Sofi pelan, Lisa yang mendengar itu langsung
melepaskan pelukan.
“Sorry-sorry.”Lisa nyengir kuda.Lisa
sama sekali tidak tersinggung karena ia sudah tahu tadi saat menyaksikan Diori
menyentuh Sofi, ia bisa mengerti jika Sofi tidak suka keringat.
“Gak papa.” jawab Sofi sambil tersenyum.
Sofi membawa Lisa pada Diori yang
sedang duduk sambil ngobrol dengan Anis, entah mereka membicarakan apa.
“Hai Sof.” safa Anis rama.
“Hai, kak Anis.” Anis menautkan dua
alisnya melihat Lisa yang dari tadi melongoh menatap Diori. Lisa menyikut tangan
Sofi membuat lengan gadis itu terkenah keringatnya lagi, Sofi meringis jijik. Ia benar-benar tidak tahan sekarang,
tadi leher sekarang lengan, “Ya tuhan,
Lisa benar-benar menjijikan sama seperti kak Dio.”
“Kak ini Lisa temen
__ADS_1
baruku, Lisa ini kakaku DI-O-RI.” ucap Sofi kesal, Lisa kembali menyukut lengan
Sofi lagi, membuat keringat gadis itu semakin banyak menempel di lengan Sofi.
“Mau kemana?” Diori
menatap Sofi yang meninggalkan mereka bertiga.
“Sebentar aku ambil
handuk dulu” Sofi menunjuk lenganya yang terkenah keringat Lisa, Diori terkekeh
melihatnya.
***
Lisa mengulurkan
tanganya pada Diori dan di sambut hangat laki-laki itu, “Sory, adik gue gak
suka keringa.t” ucap Diori sambil terkekeh, Anis ikut tertawa mendengarnya.
“Maafkan udah bikin
Sofi gak nyaman.” Lisa tidak bermaksud demikian, tapi ia benar-benar ingin
bekenalan langsung dengan Diori.
“Gak papa, santai aj.a” Diori menepuk bangku
di sampingnya mengisaratkan Lisa untuk duduk di sampingnya, gadis itu menurut
cepat, ia merasakan sesuatau yang berdetak cepat di dadanya, seorang Diori
menyuruh Lisa duduk di sampingnya.
Sofi membuka tasnya,
mengambil handuknya, gadis itu kembali meringis “Kok lembat, pasti kak Dio. Aku
membencimu kak!” Sofi memegang handuknya dengan jijik kemudian berbalik lalu
terdiam sesaat saat melihat seorang laki-laki yang berdiri di hadapanya
tersenyum lembut.
“Ini bersih kok.” ucap
laki-laki itu pelan, Sofi masih terdiam “Aku bawah dua tadi” Sofi masih
mematung, tangan laki-laki itu mengambil lengan Sofi lalu mengelap tanganya
yang terkena keringan Lisa, lalu laki-laki itu menatap leher Sofi yang terkenah
keringat Lisa, ia ingin sekali mengelap keringat itu tapi ia takut Sofi marah “Ini,
bersihkan leher kamu, Dio akan marah jika aku yang membersihkanya” tangan
laki-laki itu memegang tangan Sofi memberikan handuk berwarna biru.
“Makasih, kak Tara.”
gumam Sofi saat laki-laki itu berjalan dua langkah meniggalkannya, Aktara mengangguk
tampa menoleh.
***
Sofi berjalan menuju
tempat duduk Diori, tangan kananya tidak
henti mengelap keringat di lehernya, sedangkan tangan kirinya masih memegang
hantuknya yang lembab karena Diori.
“Handuk siapa?” Diori
menunjuk kain berwarna biru itu
“Pacar.” jawab Sofi
ketus.
“Sofi!” Diori
berteriak, membuat Anis dan Lisa melongoh, Sofi tidak peduli dengan teriakan
itu, ”Sofi, kakak serius itu handuk siapa?!”
“Temen kak” Sofi malas
berdebat.
“Teman siapa?”
Sofi melempar handuk
lembabnya ke arah Diori, dengan sigap laki-laki itu menangkapnya. “Kenapa
handukku lembab? Kak taukan ini sangat uwek,”Sofi merasa mual sekarang, “Harusnya
kakak kalau habis pakai di angin kek.” Sofi mendengus kesal, itu salah satu kebiasaan
Diori yang tidak ia sukai.
Diori hanya nyengir
kuda, tadi ia memakai handuk Sofi karena handuknya sangat lembab.
“Sorry” gumam Diori sambil
tersenyum lembut, senyum yang membuat banyak wanita meleleh melihatnya, tapi
tidak dengan Sofi, ia tahu Diori hanya berpura-pura besok juga akan di
ulanginya lagi.
“Gak mempa.n” gumam
Sofi kesal lalu duduk di samping Anis yang dari tadi menertawakan tingkah dua
saudara itu.
“Diem loe Nis!” Diori
cetus
“Kok gue?” Anis mulai
cemberut.
“Apa lo kak?” Sofi
menatang Diori karena mengertak Anis, Anis tersenyum kemenangan.
Diori hanya bisa
menarik napas dalam melihat Sofi yang lebih membela Anis dari pada kakaknya
sendiri.
“Tampanya.” Gumam Lisa
sambil mengangah menatap Diori
“LISA!” ucap Anis dan
Sofi bersamaan. Diori tersenyum lembut pada Lisa setidaknya ada Lisa yang
mengaguminya.
__ADS_1