Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 9


__ADS_3

Diori berjalan menuju ruang club teakwondo,


dimana sudah terdapa beberapa teman-temanya disana, hampir dua jam Diori


berlati bersama teman-temannya dan beberapa perempuan menonton di sana, tentu


saja mereka menonton Diori yang berkeringat, membuat laki-laki itu terlihat


seksi.


Salah seorang wanita yang sangat


mengaguminya selama tiga tahun ini tersenyum sendiri sambil mengigit bibir


bawahnya, gadis itu membayangkan jika suatu saat nanti ia bisa menjadi kekasih


Diori, tadi Jesy bahkan berlari secepat mungkin setelah club nyanyinya selesai demi melihat laki-laki idamanya itu.


Sofi melihat ruangan itu terlihat


sangat penuh “Permisih” ucap Sofi pada barisan perempuan yang berdiri di bekat


pintu mereka seperti bonekah yang tersusun rapi di tepih lapangan itu, beberapa


menganga melihat Diori berhasil menjatuhkan lawanya.


Diori menoleh melihat kedatangan adik


perempuanya, ia melambai sesaat membuat semua perempuan itu bersorak


kegirangan.


“Chik.” Sofi berdecak kesal melihat tingkah


kakaknya yang tebar pesona, Sofi memilih berjalan ke ruang ganti untuk menganti


pakaiannya.


Sofi sekarang sudah siap, ia mengenakan


celana training dan baju kaus berlengan panjang yang berwarna hitam, rambutnya


juga di kuncir kuda dengan kacamata besar bertengger di hidungnya.


Sofi memberhentikan langkahnya saat


melihat Aktara sudah duduk di salah satu sudut ruangan itu, ia mengenakan


seragan karate berwarna hitam sama seperti yang di kenakan Anis, bibir Sofi


menarik garis di sudut bibirnya, ia juga baru tahu kalau Aktara berada di club itu.


***


Diori berlari mendekati adiknya yang


tersenyum sendiri, ia segera melilitkan tanganya merangkul leher Sofi membuat


Sofi berteriak jijik karena lengan Diori penuh keringat, “Kakak lepas, iihk!”


Sofi benar-benar tidak suka keringat.


Diori terkekeh melihat tingkah adiknya,


“Mana minum kakak?” Diori tidak melepaskan rangkulannya,


“Dalam tas.” jawab Sofi sambil berusaha


melepaskan rangkulan itu, beberapa mata perempuan yang duduk di barisan itu


menatapnya dengan kesal, mereka sangat iri melihat keakraban Sofi dengan Diori


walau mereka saudara.


“Ambilin dong,” Diori memohon.


“Lepasin dulu jijik tau!” Sofi


mendengus kesal, Diori kemudian melepaskan lengannya, laki-laki itu kemudian


mengelap tengkuk Sofi menggunakan handuknya yang agak lembab kerena


keringatnya, membuat gadis itu semakin jijik.


“Kakak itu jorok!” Sofi mundur beberapa


langkah ia mengelap tungkuknya sendiri dengan handuk kecil miliknya, bibir Sofi


masih meringis jijik.


Diori semakin tertawa lepas melihat


tingkah adiknya “Sudah tau benci keringat, ngapain masuk club karate?” Diori menyambut botol air mineral yang di berikan


Sofi.


“Ini semua gara-gara kakak yang gak ngizini


aku masuk club lukis.” Sofi kemudian berjalan meninggalkan Diori menujuh Anis.


Mata Diori membualat saat melihata


Aktara juga ada di barisan itu, “Sial!,


kenapa gue lupa Tata juga ada di club ini.” Diori mengutuk dirinya.


 


***


 


Sofi sudah ada di salah satu barisan


yang ada di sana, Anis terus menjelaskan apa itu karate, tekhnik yang di pakai


dalam membelah diri, kemudian mereka di suruh untuk berlari mengelilingi


lapangan sebanyak sepuluh kelilingan, Sofi sempat menelan ludahnya, “Ini


pemanasan!” Anisa berkoar


‘Nyesel gue ikut.‘batik Sofi.


Beberapa senior juga ikut berlari


sebagai penamasan termasuk Aktara, ‘Tidak


apa-apa sih, ambil makna Sofi, setidaknya gue bisa melihat kak Tara.’ batin


Sofi bersorak.


Sofi terus berlari sudah lima putaran


Sofi mulai memperlambat larinya karena lelah, begitu juga yang lainya, “Aku gak


kuat” Sofi bergumam pelan.


“Sama gue juga.” ucap seorang wanita di


depanya. Sofi tersenyum mendengarnya “Lo Sofi kan, adik kak Dio?” ucap wanita


di depanya tanpa menoleh


“Iya.” suarah Sofi sambil


tersengal-sengal.


“Gue Lisa, jurusan Matematika.” Lisa


kemudian menoleh sesaat sambil tersenyum. Sofi bisa melihat wajah Lisa, wanita

__ADS_1


itu cantik, kulit putih dengan wajah oriental tapi matanya tidak terlalu sipit,


hidungnya cukup mancung, bibirnya berwarna pink, dengan rambut sebahu yang agak


bergelombang serta cukup tinggi dari Sofi.


Sofi dan Lisa segera berbaring di


lapangan saat putaran mereka telah sepuluh kali di ikuti yang lainya.


“Capek ha, ha....” Sofi


tersengal-sengal dadanya turun naik tidak teratur.


Diori melempar handuk tepat ke wajah


Sofi “Kakak!” Sori berteriak bibirnya gemetar karena lelah. Diori tertawa pelan melihat adiknya yang satu ini. Diori membantu Sofi untuk


duduk lalu mengelap mukanya yang penuh keringat,


“Kak aku bisa sendiri.” gerutu Sofi,


Diori tidak peduli ia terus membersihkan keringat Sofi, membuat gadis itu


risih, Sofi menatap Lisa yang mengangah melihat Diori mengelap keringatnya.


“Minum ini.” Diori memberikan botol


minunya, Sofi segera menerimanya lalu menegaknya.ia sangat membutuhkan itu saat


ini.


“Lis lo gak papakan?” Sofi bertanya, ia


tidak peduli dengan Diori yang mengelap keringat di leher dan tanganya.


“Lis!” Sofi melambaikan tanganya di


hadapan wajah Lisa tapi tidak ada respon, mata Lisa terus menatap Diori, baru


saja Diori duduk di samping adiknya, Sofi sudah berdiri menarik Diori menjauh


darinya, kakaknya sudah menghinoptis teman barunya.


“Mau kemana sih?” Diori mengikuti


tarikan tangan Sofi.


“Kakak tu ya, jangan tebar pesona dong,


aku kan gak enak dengan teman-temanku, kakak gak liat apa Lisa sampai melongog


gitu!” Jelas Sofi kesal.


“Emang kakak ngapain? kakak cuma ngelap


keringat adek kakak.” Diori tidak mengerti sama sekali, apa yang di bicarakan


Sofi saat ini.


“Tapi mereka iri kak.” jawab Sofi kesal


“Mereka siapa?” tanya Diori polos


“Tuh fans-fans kakak.” Diori terkekeh


mendengarnya.


“Biarin, siapa suruh gak lahir jadi


adik kakak.” Diori cuek.


Sofi mendengus kesal, ia kemudian


meninggalkan Diori yang masih terkekeh.Mungkin tidak masalah untuk Diori tapi akan


menjadi masalh besar untuknya jika fans-fans itu menyerangnya, Sofi bersumpah


 


****


 


Dua jam sudah Sofi mengikuti club itu,


tidak terlalu buruk rupanya walau ia harus berkeringat.


“Sofi!” Lisa memanggilnya.


“Emh,” Sofi segerah menoleh pada teman


barunya itu.ia masih sibuk membersihkan keringatdi wajahnya.


“Kenalin gue sama kak lo.” gadis itu


memohon


“Kak Dio?”


“Iya, gue ngefans banget sama kak Dio, pleace ya.”


‘Oh tuhan bertambah satu


lagi orang gila di samping ku.’ Sofi bergumam ‘Mengapa semua orang sangat menyukai kak Dio sih?’ Sofi mengaruk


tungkuknya yang tidak gatal.


Sofi hanya mengangguk dua kali menjawab


pertanyaan Lisa, gadis itu segera memeluk Sofi kuat sambil melompat-lompat,


membuat Sofi melengos kesamping, ia jijik dengan leher Lisa yang berkeringat


tidak sengaja menyentuh kulit lehernya. Karena rasanya sedikit aneh untuk Sofi.


“Makasih, makasih banget Sofi” ucap


Lisa.


“Oke, oke, bisa lepas pelukan lo, gue


agak risih dengan ke-ringat.” ucap Sofi pelan, Lisa yang mendengar itu langsung


melepaskan pelukan.


“Sorry-sorry.”Lisa nyengir kuda.Lisa


sama sekali tidak tersinggung karena ia sudah tahu tadi saat menyaksikan Diori


menyentuh Sofi, ia bisa mengerti jika Sofi tidak suka keringat.


“Gak papa.” jawab Sofi sambil tersenyum.


Sofi membawa Lisa pada Diori yang


sedang duduk sambil ngobrol dengan Anis, entah mereka membicarakan apa.


“Hai Sof.” safa Anis rama.


“Hai, kak Anis.” Anis menautkan dua


alisnya melihat Lisa yang dari tadi melongoh menatap Diori. Lisa menyikut tangan


Sofi membuat lengan gadis itu terkenah keringatnya lagi, Sofi meringis jijik. Ia benar-benar tidak tahan sekarang,


tadi leher sekarang lengan, “Ya tuhan,


Lisa benar-benar menjijikan sama seperti kak Dio.”


“Kak ini Lisa temen

__ADS_1


baruku, Lisa ini kakaku DI-O-RI.” ucap Sofi kesal, Lisa kembali menyukut lengan


Sofi lagi, membuat keringat gadis itu semakin banyak menempel di lengan Sofi.


“Mau kemana?” Diori


menatap Sofi yang meninggalkan mereka bertiga.


“Sebentar aku ambil


handuk dulu” Sofi menunjuk lenganya yang terkenah keringat Lisa, Diori terkekeh


melihatnya.


***


Lisa mengulurkan


tanganya pada Diori dan di sambut hangat laki-laki itu, “Sory, adik gue gak


suka keringa.t” ucap Diori sambil terkekeh, Anis ikut tertawa mendengarnya.


“Maafkan udah bikin


Sofi gak nyaman.” Lisa tidak bermaksud demikian, tapi ia benar-benar ingin


bekenalan langsung dengan Diori.


 “Gak papa, santai aj.a” Diori menepuk bangku


di sampingnya mengisaratkan Lisa untuk duduk di sampingnya, gadis itu menurut


cepat, ia merasakan sesuatau yang berdetak cepat di dadanya, seorang Diori


menyuruh Lisa duduk di sampingnya.


Sofi membuka tasnya,


mengambil handuknya, gadis itu kembali meringis “Kok lembat, pasti kak Dio. Aku


membencimu kak!” Sofi memegang handuknya dengan jijik kemudian berbalik lalu


terdiam sesaat saat melihat seorang laki-laki yang berdiri di hadapanya


tersenyum lembut.


“Ini bersih kok.” ucap


laki-laki itu pelan, Sofi masih terdiam “Aku bawah dua tadi” Sofi masih


mematung, tangan laki-laki itu mengambil lengan Sofi lalu mengelap tanganya


yang terkena keringan Lisa, lalu laki-laki itu menatap leher Sofi yang terkenah


keringat Lisa, ia ingin sekali mengelap keringat itu tapi ia takut Sofi marah “Ini,


bersihkan leher kamu, Dio akan marah jika aku yang membersihkanya” tangan


laki-laki itu memegang tangan Sofi memberikan handuk berwarna biru.


“Makasih, kak Tara.”


gumam Sofi saat laki-laki itu berjalan dua langkah meniggalkannya, Aktara mengangguk


tampa menoleh.


***


Sofi berjalan menuju


tempat duduk Diori, tangan kananya  tidak


henti mengelap keringat di lehernya, sedangkan tangan kirinya masih memegang


hantuknya yang lembab karena Diori.


“Handuk siapa?” Diori


menunjuk kain berwarna biru itu


“Pacar.” jawab Sofi


ketus.


“Sofi!” Diori


berteriak, membuat Anis dan Lisa melongoh, Sofi tidak peduli dengan teriakan


itu, ”Sofi, kakak serius itu handuk siapa?!”


“Temen kak” Sofi malas


berdebat.


“Teman siapa?”


Sofi melempar handuk


lembabnya ke arah Diori, dengan sigap laki-laki itu menangkapnya. “Kenapa


handukku lembab? Kak taukan ini sangat uwek,”Sofi merasa mual sekarang, “Harusnya


kakak kalau habis pakai di angin kek.” Sofi mendengus kesal, itu salah satu kebiasaan


Diori yang tidak ia sukai.


Diori hanya nyengir


kuda, tadi ia memakai handuk Sofi karena handuknya sangat lembab.


“Sorry” gumam Diori sambil


tersenyum lembut, senyum yang membuat banyak wanita meleleh melihatnya, tapi


tidak dengan Sofi, ia tahu Diori hanya berpura-pura besok juga akan di


ulanginya lagi.


“Gak mempa.n” gumam


Sofi kesal lalu duduk di samping Anis yang dari tadi menertawakan tingkah dua


saudara itu.


“Diem loe Nis!” Diori


cetus


“Kok gue?” Anis mulai


cemberut.


“Apa lo kak?” Sofi


menatang Diori karena mengertak Anis, Anis tersenyum kemenangan.


Diori hanya bisa


menarik napas dalam melihat Sofi yang lebih membela Anis dari pada kakaknya


sendiri.


“Tampanya.” Gumam Lisa


sambil mengangah menatap Diori


“LISA!” ucap Anis dan


Sofi bersamaan. Diori tersenyum lembut pada Lisa setidaknya ada Lisa yang


mengaguminya.

__ADS_1


__ADS_2