
Aktara berangkat ke kampus pagi ini, ia memarkirkan mobilnya di samping mobil Diori, ya itu adalah tempat parkir khusus untuk mereka berdua, tidak ada yang berani menempatinya, orang-orang engan menghadapi mereka berdua. Keduanya di kenal brutal untuk urusal berkelahi terutama Diori, sedangkan Aktara dia akan memilih diam
jika ada yang menempati parkiran itu tapi saat siang hari pasti kendaraan yang menempati parkiranya akan berbentuk aneh, karena serangan parah fans mereka.
Fans mereka tidak tanggung-tangung mengerjain siapa saja yang menganggu idola mereka, mulai dari ban mobi atau motor kempes, kaca spion hilang, hingga coretan-coretan bernada ancaman.
Aktara dan Diori baru saja turun dari mobilnya “Kak Melisa!” teriak Sofi lalu berlari menghampiri gadis cantik itu, Melisa memeluknya erat.
Diori dan Aktara bertatapan satu sama lain alis mereka bertautan menandakan tidak suka pada gadis itu.
“Mau apa lagi dia kemari?” Diori berbisik namun mampu di dengar Aktara.
“Hati-hati.” Aktara mengingatkan Diori mengangguk tanda setuju.
***
“Kak Meli kapan datang?” Sofi bertanya antusias senyum tidak pernah lepas dari bibir Sofi.
“Kemarin dek.” jawab gadis itu rama.
“Kakak gak kuliah? Bukanya kakak kuliah di Singapur? Lagi libur ya?” Melisa tertawa sejenak lalu mengangguk, dari dulu Sofi tidak berubah selalu dekat dengannya.
“Iya, aku lagi libur, terus kangen sama kamu, aku denger kamu kulia di kampus ini makanya aku nyaperin kamu.” Melisa menjelaskan.
Sofi tersenyum lebar mendengarnya, “Kangen sama Sofi atau kak Dio ni?” godanya, mendadak muka Melisa memerah.
“Sebentar,” Melisa berbalik kearah mobilnya lalu membuka pintu mobil itu, ia memberikan sebuah bingkisan yang berukuran cukup besar “Ini buat kamu.” Melisa memberikanya pada Sofi.
__ADS_1
“Kakak gak salah ngasih ini buat Sofi, ini kan mahal banget.” Sofi berucap setelah melihat isi bingkisan itu sebuah tas dengan merek terkemuka di dunia.
“Ini buat adek kakak, mana mungkin kakak salah kasih.” Melisa mengelus kepala Sofi dengan lembut. “Kak, kayaknya Sofi gak bisa nerimanya deh, lagian Sofi mau pakai ini kemana coba.” gadis itu menyodorkan kembali bingkisanya
“Jadi nolak nih? Artinya gak mau ngangep aku kakak kamu lagi, mentang aku udah putus sama Dio.” Melisa terlihat kecewa.
“Bukan gitu kak, aku sayang kakak, aku juga ngangep kak Meli kakak aku, tapi ini bener-bener kemahalan.” Sofi memancungkan mulutnya pada bingkisan di tanganya. “Mending kakak kasih Sofi coklat aja.”
“Tenang kalau soal coklat kakak udah siapin.” Melisa kembali mengambil bingkisan satu lagi yang berukuran hampir sama besarnya. Melisa tahu Sofi sangat menyukai yang mananya coklat itu.
“Ini.” mata Sofi membulat melihat satu kantung penuh coklat di dalamnya, tanganya hendak mengambil kantung itu, tapi Melisa segera menariknya.
“Ets...,aku akan berikan coklat ini, tapi dengan syarat”
“Apa?”
“Kamu juga harus terima tas itu ya.” Melisa memohon, akhirnya Sofi mengangguk pelan, sebenarnya ia lebih suka coklat dari pada tas bermerek mahal itu.
Diori berteriak memanggil Sofi membuat gadis itu menoleh, Diori mengarahkan tangan kananya yang menunjukan jam yang melingkar di tangan kirinya, membarikan isyarat kalau sekarang sudah waktunya ke kelas.
“Kak aku kekelas dulu ya.” ucap Sofi berpamitan dengan Melisa. Gadis itu tersenyum lembut dan mengangguk menberikan izin pada Sofi untuk pergi ke kelasnya. Sofi berlari menuju Diori sambil membawa dua bungkus bingkisan di tanganya.
“Kak nitip.” kemudian Sofi pergi meninggalkan Diori, laki-laki itu mendengus kesal sambil memasukan bingkisan itu kedalam mobilnya.
“Hai Dio,” sapa Melisa ramah.
“Ada apa lagi Mel? Belum cukup kamu buat aku sama Tara berantem?” nada suarah Dio terdengar datar.
__ADS_1
“Dio minta maaf untuk itu, aku janji tidak mengulanginya lagi.”
“Bagus.” suarah Diori masih sama datarnya bahkan tersesan lebih dingin dan cuek.
“Dio, aku masih sayang sama kamu, aku pingin kita kayak dulu lagi.” Melisa memegang tangan Diori, tapi laki-laki itu tidak bergidik, ia sudah kehilangan semua perasaanya pada Melisa, dengan kasal Diori menepis tangan Melisa.
“Tapi aku gak sayang sama kamu lagi!” Suarah Dio terdengar lebih dingin dari biasanya.
“Dio aku mohon.” Melisa terlihat ingin menangis, Diori tidak percaya dengan air mata itu ia malah tersenyum mengejek.
“Gak akan mempan Meli, mending kamu pulang.” Diori hendak berbalik meniggalkan Melisa tapi gadis itu memeluknya, membuat Diori membeku sesaat.
“Aku tahu kamu masih sayang sama aku Dio,” bisik Melisa sambil terisak.
“Mel, kamu salah, aku uda lupain kamu sejak dulu.” Diori melepas pelukan itu dengan cepat, beberapa mata memandang Melisa tajam, ya itu dari fans Diori, para wanita yang setia menunggunya di parkiran hanya untuk melihat ketampanan laki-laki itu sesaat sebelum ia memasuki kelas.
“Mel, sebaiknya kamu pulang, aku gak mau kamu kenapa-napa di sini.” bisik Diori kemudian meninggalkan Melisa menuju kelasnya. Melisa masih terteguh dengan apa yang baru saja terjadi Diori menolaknya.
***
Disisi lain, Jesy melihat semua kejadian itu hatinya memanas, tapi ia sadar diri Melisa sangat cantik, jauh lebih cantik darinya, Jesy hanya bisa menunduk ia tidak bisa berbuat apa-apa saat orang yang ia cintai berperlukan dengan orang lain, walau Jesy bisa melihat dengan jelas Diori terlihat tidak suka dengan wanita itu.
***
Aktara memasuki kelasnya dengan perasaan khawatir, tadi ia meninggalkan Diori dan Sofi di parkiran karena ia malas bertemu Melisa, wanita itu memang sangat baik dengan Sofi tapi entah mengapa Aktara merasa ada yang menganjal di hatinya, bukan karena ia tertarik dengan Melisa. Aktara hanya takut wanita itu menyakiti Sofi, dulu Melisa berhasil membuat Diori dan Aktara bertengkar karena Melisa mengadu domba mereka.
Aktara mengatakan cinta pada Melisa dan di terima gadis itu, di sisi lain Diori juga mengatakan cinta pada Melisa dan di terima juga, Melisa menduakan mereka, tanpa di ketahui keduanya, sampai suatu hari, Aktara memergoti Diori berciuman dengan Melisa itu membuat Aktara memukul Diori, Aktara menuduh Diori merebut pacarnya begitu juga sebaliknya dan Aktara segera memutuskan hubungan dengan Melisa, tapi ternyata Dioripun melakukan hal yang sama denganya.
__ADS_1
Selama berhubungan dengan Melisa, Aktara selalu mendengarkan cerita gadis itu, yang mengatakan Diori memaksanya menjadi pacar dan mengatakan kalau Diori itu selalu menjelek-jelekan Aktara, begitu juga sebaliknya, bahkan Melisa tidak segan-segan berpura-pura menangis agar keduanya percaya pada ceritanya. Melisa memang meiliki muka dua. Selain itu ia juga akan melakukan segalah cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Apa yang kau inginkan sekarang Melisa?” Aktara mengetuk-ngetuk dagunya sambil memejamkan mata.