
Alif, Anda, Sofi sedang
menikmati makan siangnya. Seorang wanita berjalan menujuh mereka wanita itu
sangat cantik dan seksi, semua mata menatapnya dengan tatapan memuja wanita
itu, tubuhnya tinggi, kulitnya putih bersih dan rambutnya panjang sepunggung
tebal warna coklat, matanya coklat bening, hidung mancun, dan bibirnya merah,
semua pakaian yang menempal di tubuh wanita itu adalah barang bermerek dan
mahal pastinya.
Wanita itu tiba-tiba
menepuk bahu Sofi, membuat tiga temanya menatapnya heran.
“Kak Melisa.” Sofi
tersenyum lalu memeluknya, ia sangat senang melihat kehadiran Melisa saat ini. Wanita
itu duduk di samping Sofi tersenyum lembut pada semua teman-teman Sofi. Sofi
mulai memperkenalkan Melisa satu persatu pada teman-temannya.
“Kakak kok di kampus?”
Sofi bertanya, karena heran keberadaan Melisa yang bisa memasukin kampus
mereka.
“Aku pindah ke sini
sayang.” jawab Melisa, membuat mata gadis itu membulat tidak percaya.
“Kok pindah, bukanya
kak kulia di Singapur?”
“Kakak bosan di sana
sendirian, kan kalau di sini enak ada kamu, ada Dio ada Tara juga.” ucap Melisa,
Sofi mengangguk mengerti, mungkin Melisa perlu teman. “Sofi, kakak turut
prihatin ya.”
“Apa?” Sofi menautkan
alisnya bingggung
“Maafin aku, aku gak
tahu kalau om di penjara.” ucap Melisa dengan wajah sedih yang di buat-buat.
Seperti ada petir yang
menyambar dada Sofi napasnya memburu, ‘Mengapa
Melisa tega membicarakan hal itu di depan teman-temanya.’ Anda, Alif dan
Lisa menatap Melisa tidak suka dan tidak percaya tentunya.
“Iya, gak papa kak
makasih ya.” ucap Sofi pelan menyembunyikan kegugupanya.
“Kakak yakin kok papa kamu
gak mengelapin uang perusahaan.” tambah Melisa.
Seketika dada Anda, Alif dan Lisa
menjadi panas mendengarnya, bahkan Mereka sudah melihat Sofi yang menunduk
dengan raut wajah sedih.
“Maaf ya, Melisa, kalau
lo mau ngomongi keburukan orang lain sebaiknya lo pergi dari sini!” Ucap Anda
ketus, ia tidak peduli jika dianggap tidak sopan, ia hanya kasihan meliha Sofi
yang hampir menangis.
“Apa yang kamu
lakukan?” Melisa terlihat ketakutan saat Lisa mencengkrang tanganya kuat,. Lisa
tersenyum, tapi senyum itu terlihat seakan ingin membunuh.
“Lisa hentikan.” Sofi
mencobah melepas tangan Lisa dari Melisa.
Alif tersenyum mengejek
melihatnya dari tadi tanganya gatal ingin memukul Melisa, tapi niatnya ia
urungkan karena Melisa adalah seorang perempuan.
***
Lisa melepaskan
cengkaranya dengan melempar tangan Melisa cukup kuat sambil tersenyum mengejek.
Kemudian Melisa segera pergi meninggalkan Sofi dan teman-temanya sambil megangi
tanganya yang memerah, niatanya untuk mempengaruhi mereka gagal total, bukanya
mereka menjahu malah membelah Sofi.
Melisa sangat kesal
dengan gadis itu, awalnya ia sangat senang dekat dengan Sofi karena gadis itu
sangat baik, tapi semua itu hilang saat kakaknya Diori lebih memilih membelah
adiknya dari pada dirinya. Waktu itu Melisa sedang berpacaran dengan Diori,
laki-laki itu sangat mencintainya begitu juga sebaliknya, tapi Diori selalu
mementingkan Sofi.
Begitu juga saat ia
berpacaran dengan Aktara, laki-laki itu selalu memilih untuk melihat Sofi dari
jahu setiap ada kesempatan Melisa pernah memergoki kejadian itu.‘Mengapa semua orang menyukai Sofi, sial!’ gumam Melisa kesal.
***
Suasana di kantin tidak
__ADS_1
jauh berbeda dengan di kelas beberapa orang mulai bergosip tentang ayah Sofi
yang di penjara karena pengelapan dana perusahaan. Tapi gosip itu tidak
berpengaru terhadap Diori, fansnya yang di ketuai Jesy menenolak keras gosip
murahan itu, walau ada beberapa gadis yang mulai terpengaruh.
Jesy sangat yakin semua
itu adalah hal bohong, sengaja di lakukan untuk menjatuhkan nama baik ayah
Diori. Selain itu ada hal lain yang tidak kala penting, ia harus bersaing
dengan Melisa siswa baru pindahan dari Singapur yang membuat semua orang
memujahnya karena kecantikanya, walau terang-terangan Jesy juga kagum dengan
kecantikanya itu, ia merasa sadar diri karena dirinya kalah jauh dari Melisa.
***
Sofi berlari
menghampiri Melisa berjalan menuju danau, “kak!” Sofi tersenyum lembut pada
Melisa, wanita itu terlihat kesal namun ia tetap memasang wajah ramaH pada Melisa,
ia tahu Melisa adalah gadis yang baik dan kesepian, selama ini Melisa selalu
bercerita tentang kehidupan pribadinya.
Melisa merupakan anak
tunggal walau keluarganya berasal dari keluarga kaya raya tapi itu tidak
membuatnya bahagia, ia selalu sendirian jarang orang yang mau berteman
denganya, biasanya orang-orang akan memanfaatkan kekayaanya.
“Kak maafin teman-temen
aku ya soal tadi.” Melisa tersenyum mendengarnya,
“Engak apa-apa kok,
kakak juga minta maaf, kakak gak tau kalau temen-temen kamu gak tau soal itu.”
Melisa terlihat memasang wajah sedih.
“Sofi!” Jesy dan Anis
menghampiri gadis itu, sebenarnya tadi Anis minta diantar ke kanti oleh Jesy. Tapi karena Jesy melihat Sofi, jadi mereka
menghampirinya, secara Jesy mengatakan kalau Sofi menganggapnya sebagai kakak
ipar.
“Kak Jesy kak Anis,
kenalin ini kak Melisa.” Tiga orang itu bersalaman bergantian. Jesy tersenyum
hangat tapi Anis menatap Melisa dengan datar, entah apa yang ada dalam diri
Melisa, Anis tidak menyukainya, seperti ada alarm tanda bahaya berbunyi di
kepala Anis. Ia juga yakin gadis ini berbahaya sejak dulu, mereka memang pernah
satu sekolah tapi Anis tidak mengenal Melisa secara dekat, merekah bahkan tidak
dari Aktara dan Diori.
Lama mereka berbincang,
ternyata mereka satu jurusan tapi tidak selalu sekelas, karena ada beberapa
pelajaran yang mereka pilih berbeda dosen.
***
Aktara dan Diori
berjalan beriringan menujuh lapangan basket, hari ini jadwal Aktara bertanding
basket dengan timnya melawan kampus lain yang datang, Sofi berdiri tepat di
samping Diori, sudah dua minggu mereka tinggal bersama dan selama itu pula
mereka semakin akrab, bukan hanya Diori dengan Aktara tapi Aktara dan Sofi,
keduanya seperti sedang menyembunyikan perasaan satu sama lain karena Diori
terus mengawasi mereka kepanapun mereka bersama.
“Ta, oper!” Dori
berteriak antusias, Sofi mendengus kesal, harusnya ia yang berteriak bukan
Diori, setiap Sofi akan memberikan semangat tapi Diori lebih dulu
menyemangatinya.
“Kakak ngapain sih ikut
nonton disini?” Sofi berucap dengan kesal
“Kenapa memangnya?”
Dioari terlihat acuh matanya masih fokus pada pertandingan yang di mainkan
Aktar.
“Bukanya kakak hari ini
harus ke club sastra?“ Sofi
mengingatkan, Diori menepuk jidatnya, ia benar-benar lupa kalau ia harus memimpin
club itu, dengan cepat Diori berlari meninggalkan bangku penonton Sofi
tersenyum puas.
“Ayo kak!” Teriak Sofi
pada Aktara, laki-laki itu menoleh sambil tersenyum, senyum yang membuat semua wanita
histeris kecuali Sofi, gadis itu membalasnya dengan senyum lembut pula, awalnya
ia ingin berteriak tapi teriakan fans berat Aktara membuatnya mengurungkan
niatnya.
***
Ditempat lain
__ADS_1
“Bram, menurut loh,
cantikan Melisa mahasiswi baru atau Sofi?” tanya Dafa yang dari tadi sibuk
memperhatikan keduanya, Sofi jelas berada di bangku penonton sedangkan Melisa,
melihatnya dari jauh.
“Keduanya cantik tapi
menurut gue, Melisa terlalu mengumbar apa yang ia miliki sedangkan Sofi malah
menutupinya, hal itu buat gue punya daya tarik sendiri, gue lebih suka cewek
yang gak ngumbar kecantikanya jadi gue pilih Sofi.” Bram menjelaskan.
“Bener, gue juga mikir
sama kayak lo, tapi lo lihat gak sih tu cewek,” Dafa menunjuk Melisa, Bram
mengikuti arah pandangan itu, tidak jauh di sana Diori berlari meninggalkan
Sofi, Melisa tiba-tiba tersenyum lebar melihat pemandangan itu “Melisa gak
nonton pertandingan tapi cewek itu, perhatiin Sofi.” Bisik Dafa.
Bram mengangguk
setujuh, tidak lama Aktara tersenyum pada Sofi, dan Melisa menghentakan kakinya
kesal
“Aneh.” gumam Bram.
Laki-laki itu menunduk
memperhatikan jam tangan yang melingkar di tangan kananya “Ya ampun Daf, gue
pergi dulu Dio bisa ngamuk.” Bram langsung berlari sebelum Dafa bertanya
panjang lebar.
Dafa sempat menyergitkan dahinya saat Melisa
menghampiri Sofi dan duduk di sampingnya mereka tampak akrab, bahkan sangat akrab.
***
“Kamu suka Tara ya?”
goda Melisa pada gadis itu, tiba-tiba pipi Sofi merona mereka, ia terkejut
sekaligus malu saat Melisa tahu ia menyukai Tara.
“Eng, engak kak.” Jawab
Sofi cepat
“Uda gak usah malu, keliatan
kok.”
“Emang keliatan
banget?” Melisa mengangguk sambil tersenyum
“Uda jadian?” Sofi
mengeleng cepat mendegar pertanyaan Melisa, wanita itu mengetuk-etuk dagunya
seakan berpikir sesuatu “Kalian cocok kok, tapi kan Tara suka cewek seksi,”
jelas Melisa, “Tara juga suka cewek yang jago ciuman, aku ingat saat kami
pacaran, Tara selalu minta di cium tiap hari.” Melisa tersenyum, Sofi bergidik
ngeri membayangkanya, seumur hidup ia tidak pernah ciuman.
Melisa terkekeh menahan
tawa melihat Sofi yang tampak berpikir keras, bahkan gadis itu
mengeleng-gelengkan kepala. ”Uda jangan di pikirin soal itu, kamu tahukan Tara
itu orangnya bosenan?” Sofi hanya menggelengkan kepala. “Dia itu-.”
“Hai cantik.” Seorang
laki-laki menghampiri mereka lalu duduk di samping Melisa, wanita itu menatap
bingung tapi Sofi malah tertawa melihat Dafa “Gue Dafa, gue jomblo, gue suka
cewek seksi, dan gue suka sama lo.” Dafa kemudian mengulurkan tanganya pada
Melisa.
Melisa segera
menyingkirkan tangan Dafa, “Gue gak suka sama lo!” Melisa beranjak kemudian
pergi meninggalkan mereka berdua.
Sofi tertawa terbahak
melihat kejadian itu, ia tertawah bahkan hampir menangis sambil memegangi
purutnya.
“Jangan ketawa Sof.”
Dafa mendengus kesal.
“Maaf kak.” ucap Sofi
mencobah menahan tawanya
“Untung loe adek Dio,
kalau gak gue bakal nembak lo.” Dafa bergumam kesal.
“Dan gue bakal bunuh
lo, kalau berani deketin Sofi gue.” suarah itu berasal dari laki-laki yang
sangat di kenal Sofi, mereka sama-sama menoleh laki-laki itu tampak penuh
keringat dan terlihat seksi, tidak ada rasa jijik saat Sofi memperhatikan tubuh
laki-laki itu dan bajunya yang basah karena keringat.
“Kak Tara.” gumam Sofi
lemah.
***
__ADS_1