Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 19


__ADS_3

Alif, Anda, Sofi sedang


menikmati makan siangnya. Seorang wanita berjalan menujuh mereka wanita itu


sangat cantik dan seksi, semua mata menatapnya dengan tatapan memuja wanita


itu, tubuhnya tinggi, kulitnya putih bersih dan rambutnya panjang sepunggung


tebal warna coklat, matanya coklat bening, hidung mancun, dan bibirnya merah,


semua pakaian yang menempal di tubuh wanita itu adalah barang bermerek dan


mahal pastinya.


Wanita itu tiba-tiba


menepuk bahu Sofi, membuat tiga temanya menatapnya heran.


“Kak Melisa.” Sofi


tersenyum lalu memeluknya, ia sangat senang melihat kehadiran Melisa saat ini. Wanita


itu duduk di samping Sofi tersenyum lembut pada semua teman-teman Sofi. Sofi


mulai memperkenalkan Melisa satu persatu  pada teman-temannya.


“Kakak kok di kampus?”


Sofi bertanya, karena heran keberadaan Melisa yang bisa memasukin kampus


mereka.


“Aku pindah ke sini


sayang.” jawab Melisa, membuat mata gadis itu membulat tidak percaya.


“Kok pindah, bukanya


kak kulia di Singapur?”


“Kakak bosan di sana


sendirian, kan kalau di sini enak ada kamu, ada Dio ada Tara juga.” ucap Melisa,


Sofi mengangguk mengerti, mungkin Melisa perlu teman. “Sofi, kakak turut


prihatin ya.”


“Apa?” Sofi menautkan


alisnya bingggung


“Maafin aku, aku gak


tahu kalau om di penjara.” ucap Melisa dengan wajah sedih yang di buat-buat.


Seperti ada petir yang


menyambar dada Sofi napasnya memburu, ‘Mengapa


Melisa tega membicarakan hal itu di depan teman-temanya.’ Anda, Alif dan


Lisa menatap Melisa tidak suka dan tidak percaya tentunya.


“Iya, gak papa kak


makasih ya.” ucap Sofi pelan menyembunyikan kegugupanya.


“Kakak yakin kok papa kamu


gak mengelapin uang perusahaan.” tambah Melisa.


Seketika dada Anda, Alif dan Lisa


menjadi panas mendengarnya, bahkan Mereka sudah melihat Sofi yang menunduk


dengan raut wajah sedih.


“Maaf ya, Melisa, kalau


lo mau ngomongi keburukan orang lain sebaiknya lo pergi dari sini!” Ucap Anda


ketus, ia tidak peduli jika dianggap tidak sopan, ia hanya kasihan meliha Sofi


yang hampir menangis.


“Apa yang kamu


lakukan?” Melisa terlihat ketakutan saat Lisa mencengkrang tanganya kuat,. Lisa


tersenyum, tapi senyum itu terlihat seakan ingin membunuh.


“Lisa hentikan.” Sofi


mencobah melepas tangan Lisa dari Melisa.


Alif tersenyum mengejek


melihatnya dari tadi tanganya gatal ingin memukul Melisa, tapi niatnya ia


urungkan karena Melisa adalah seorang perempuan.


***


Lisa melepaskan


cengkaranya dengan melempar tangan Melisa cukup kuat sambil tersenyum mengejek.


Kemudian Melisa segera pergi meninggalkan Sofi dan teman-temanya sambil megangi


tanganya yang memerah, niatanya untuk mempengaruhi mereka gagal total, bukanya


mereka menjahu malah membelah Sofi.


Melisa sangat kesal


dengan gadis itu, awalnya ia sangat senang dekat dengan Sofi karena gadis itu


sangat baik, tapi semua itu hilang saat kakaknya Diori lebih memilih membelah


adiknya dari pada dirinya. Waktu itu Melisa sedang berpacaran dengan Diori,


laki-laki itu sangat mencintainya begitu juga sebaliknya, tapi Diori selalu


mementingkan Sofi.


Begitu juga saat ia


berpacaran dengan Aktara, laki-laki itu selalu memilih untuk melihat Sofi dari


jahu setiap ada kesempatan Melisa pernah memergoki kejadian itu.‘Mengapa semua orang menyukai Sofi, sial!’ gumam Melisa kesal.


***


Suasana di kantin tidak

__ADS_1


jauh berbeda dengan di kelas beberapa orang mulai bergosip tentang ayah Sofi


yang di penjara karena pengelapan dana perusahaan. Tapi gosip itu tidak


berpengaru terhadap Diori, fansnya yang di ketuai Jesy menenolak keras gosip


murahan itu, walau ada beberapa gadis yang mulai terpengaruh.


Jesy sangat yakin semua


itu adalah hal bohong, sengaja di lakukan untuk menjatuhkan nama baik ayah


Diori. Selain itu ada hal lain yang tidak kala penting, ia harus bersaing


dengan Melisa siswa baru pindahan dari Singapur yang membuat semua orang


memujahnya karena kecantikanya, walau terang-terangan Jesy juga kagum dengan


kecantikanya itu, ia merasa sadar diri karena dirinya kalah jauh dari Melisa.


***


Sofi berlari


menghampiri Melisa berjalan menuju danau, “kak!” Sofi tersenyum lembut pada


Melisa, wanita itu terlihat kesal namun ia tetap memasang wajah ramaH pada Melisa,


ia tahu Melisa adalah gadis yang baik dan kesepian, selama ini Melisa selalu


bercerita tentang kehidupan pribadinya.


Melisa merupakan anak


tunggal walau keluarganya berasal dari keluarga kaya raya tapi itu tidak


membuatnya bahagia, ia selalu sendirian jarang orang yang mau berteman


denganya, biasanya orang-orang akan memanfaatkan kekayaanya.


“Kak maafin teman-temen


aku ya soal tadi.” Melisa tersenyum mendengarnya,


“Engak apa-apa kok,


kakak juga minta maaf, kakak gak tau kalau temen-temen kamu gak tau soal itu.”


Melisa terlihat memasang wajah sedih.


“Sofi!” Jesy dan Anis


menghampiri gadis itu, sebenarnya tadi Anis minta diantar ke kanti oleh Jesy. Tapi  karena Jesy melihat Sofi, jadi mereka


menghampirinya, secara Jesy mengatakan kalau Sofi menganggapnya sebagai kakak


ipar.


“Kak Jesy kak Anis,


kenalin ini kak Melisa.” Tiga orang itu bersalaman bergantian. Jesy tersenyum


hangat tapi Anis menatap Melisa dengan datar, entah apa yang ada dalam diri


Melisa, Anis tidak menyukainya, seperti ada alarm tanda bahaya berbunyi di


kepala Anis. Ia juga yakin gadis ini berbahaya sejak dulu, mereka memang pernah


satu sekolah tapi Anis tidak mengenal Melisa secara dekat, merekah bahkan tidak


dari Aktara dan Diori.


Lama mereka berbincang,


ternyata mereka satu jurusan tapi tidak selalu sekelas, karena ada beberapa


pelajaran yang mereka pilih berbeda dosen.


***


Aktara dan Diori


berjalan beriringan menujuh lapangan basket, hari ini jadwal Aktara bertanding


basket dengan timnya melawan kampus lain yang datang, Sofi berdiri tepat di


samping Diori, sudah dua minggu mereka tinggal bersama dan selama itu pula


mereka semakin akrab, bukan hanya Diori dengan Aktara tapi Aktara dan Sofi,


keduanya seperti sedang menyembunyikan perasaan satu sama lain karena Diori


terus mengawasi mereka kepanapun mereka bersama.


“Ta, oper!” Dori


berteriak antusias, Sofi mendengus kesal, harusnya ia yang berteriak bukan


Diori, setiap Sofi akan memberikan semangat tapi Diori lebih dulu


menyemangatinya.


“Kakak ngapain sih ikut


nonton disini?” Sofi berucap dengan kesal


“Kenapa memangnya?”


Dioari terlihat acuh matanya masih fokus pada pertandingan yang di mainkan


Aktar.


“Bukanya kakak hari ini


harus ke club sastra?“ Sofi


mengingatkan, Diori menepuk jidatnya, ia benar-benar lupa kalau ia harus memimpin


club itu, dengan cepat Diori berlari meninggalkan bangku penonton Sofi


tersenyum puas.


“Ayo kak!” Teriak Sofi


pada Aktara, laki-laki itu menoleh sambil tersenyum, senyum yang membuat semua wanita


histeris kecuali Sofi, gadis itu membalasnya dengan senyum lembut pula, awalnya


ia ingin berteriak tapi teriakan fans berat Aktara membuatnya mengurungkan


niatnya.


***


Ditempat lain

__ADS_1


“Bram, menurut loh,


cantikan Melisa mahasiswi baru atau Sofi?” tanya Dafa yang dari tadi sibuk


memperhatikan keduanya, Sofi jelas berada di bangku penonton sedangkan Melisa,


melihatnya dari jauh.


“Keduanya cantik tapi


menurut gue, Melisa terlalu mengumbar apa yang ia miliki sedangkan Sofi malah


menutupinya, hal itu buat gue punya daya tarik sendiri, gue lebih suka cewek


yang gak ngumbar kecantikanya jadi gue pilih Sofi.” Bram menjelaskan.


“Bener, gue juga mikir


sama kayak lo, tapi lo lihat gak sih tu cewek,” Dafa menunjuk Melisa, Bram


mengikuti arah pandangan itu, tidak jauh di sana Diori berlari meninggalkan


Sofi, Melisa tiba-tiba tersenyum lebar melihat pemandangan itu “Melisa gak


nonton pertandingan tapi cewek itu, perhatiin Sofi.” Bisik Dafa.


Bram mengangguk


setujuh, tidak lama Aktara tersenyum pada Sofi, dan Melisa menghentakan kakinya


kesal


“Aneh.” gumam Bram.


Laki-laki itu menunduk


memperhatikan jam tangan yang melingkar di tangan kananya “Ya ampun Daf, gue


pergi dulu Dio bisa ngamuk.” Bram langsung berlari sebelum Dafa bertanya


panjang lebar.


Dafa sempat menyergitkan dahinya saat Melisa


menghampiri Sofi dan duduk di sampingnya mereka tampak akrab, bahkan sangat akrab.


***


“Kamu suka Tara ya?”


goda Melisa pada gadis itu, tiba-tiba pipi Sofi merona mereka, ia terkejut


sekaligus malu saat Melisa tahu ia menyukai Tara.


“Eng, engak kak.” Jawab


Sofi cepat


“Uda gak usah malu, keliatan


kok.”


“Emang keliatan


banget?” Melisa mengangguk sambil tersenyum


“Uda jadian?” Sofi


mengeleng cepat mendegar pertanyaan Melisa, wanita itu mengetuk-etuk dagunya


seakan berpikir sesuatu “Kalian cocok kok, tapi kan Tara suka cewek seksi,”


jelas Melisa, “Tara juga suka cewek yang jago ciuman, aku ingat saat kami


pacaran, Tara selalu minta di cium tiap hari.” Melisa tersenyum, Sofi bergidik


ngeri membayangkanya, seumur hidup ia tidak pernah ciuman.


Melisa terkekeh menahan


tawa melihat Sofi yang tampak berpikir keras, bahkan gadis itu


mengeleng-gelengkan kepala. ”Uda jangan di pikirin soal itu, kamu tahukan Tara


itu orangnya bosenan?” Sofi hanya menggelengkan kepala. “Dia itu-.”


“Hai cantik.” Seorang


laki-laki menghampiri mereka lalu duduk di samping Melisa, wanita itu menatap


bingung tapi Sofi malah tertawa melihat Dafa “Gue Dafa, gue jomblo, gue suka


cewek seksi, dan gue suka sama lo.” Dafa kemudian mengulurkan tanganya pada


Melisa.


Melisa segera


menyingkirkan tangan Dafa, “Gue gak suka sama lo!” Melisa beranjak kemudian


pergi meninggalkan mereka berdua.


Sofi tertawa terbahak


melihat kejadian itu, ia tertawah bahkan hampir menangis sambil memegangi


purutnya.


“Jangan ketawa Sof.”


Dafa mendengus kesal.


“Maaf kak.” ucap Sofi


mencobah menahan tawanya


“Untung loe adek Dio,


kalau gak gue bakal nembak lo.” Dafa bergumam kesal.


“Dan gue bakal bunuh


lo, kalau berani deketin Sofi gue.” suarah itu berasal dari laki-laki yang


sangat di kenal Sofi, mereka sama-sama menoleh laki-laki itu tampak penuh


keringat dan terlihat seksi, tidak ada rasa jijik saat Sofi memperhatikan tubuh


laki-laki itu dan bajunya yang basah karena keringat.


“Kak Tara.” gumam Sofi


lemah.


***

__ADS_1


__ADS_2