Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 23


__ADS_3

Diori dan Sofi baru


saja datang ke kantor polisi untuk membesuk ayah mereka, Sofi juga membawakan


makanan yang sengaja Diori dan Sofi masak. Median menyantap makan siangnya


dengan lahap.


“Kok nangis sih sayang?”


Median memberhentikan suapannya lalu menyekat air mata Sofi yang tumpah.


“Gak apa-apa kok Pa,


Sofi  cuma kangen papa, uda lama gak liat


papa makan.” ucap Sofi jujur, walau setiap hari mereka bertermu tapi tetap saja


gadis itu merindukan ayahnya untuk ada di rumah, berbagi cerita denganya,


bermain catur, memasak, memebersihkan rumah atau bercanda bersama, Sofi sangat


merindukan semuanya.


“Uda jangan cengeng, kamu


bikin Papa sedih ni, tiap hari juga kakak anterin ke sini kok.” cetus Diori.


“Maaf.” Sofi menunduk,


ia sama sekali tidak mau membuat siapapun sedih terutama ayahnya.


“Uda gak apa-apa, buka


mulutmu sayang.” ucap Median mengarahkan sendoknya, Sofi dengan semangat


menyambar sedok itu, membuat Diori iri walaupun sudah besar Diori sama manjanya


dengan Sofi.


“Minta suapin sana sama


kak Jesy.” cetus Sofi sambil menjulurkan lidahnya, Diori membulatkan matanya,


Sofi benar-benar ember. Diori bahkan belum sempat bercerita dengan ayahnya


berbeda dengan Sofi yang sudah menceritakan hubungan dengan Aktara dan tentu


saja Median sangat mendukung hubungan itu, Sofi juga sudah mengenalkan Aktara


secara langsung pada ayahnya, walau mereka sudah kenanl sih.


“Oh, namanya Jesy,”


Rudi bergumam lalu melirik ke Diori, Diori hanya membuang mukanya.


“Ini pa kak Jesy.” Sofi


menyodorkan ponselnya, belum sempat Diori melarangnya Median sudah menyambar ponsel


itu.


“Cantik.” gumam Median saat


melihat poto Jesy dan Sofi saat selfi.


Ada sedikit kelegaan di


hati Diori tapi Diori takut Jesy tidak akan mudah menerimah kondisi


keluarganya, walau Jesy sudah mengatakan bisa menerima semuanya.


***


Diori dan Sofi


memutuskan untuk pulang kerena hari sudah mulai sore, mobil itu melaju dengan

__ADS_1


kecepatan sedang, tiba-tiba datang truk dari arah berlawanan membuat Diori


membuang stir ke kanan, sehingga mobil itu menabrak pembatas jalan, Sofi sempat


berteriak saat melihat Diori yang di penuhi darah di bagiana wajahnya, selain


itu bagian sebelah kanan  mobil ringsek


membuat Diori terjepit dan tidak sadarkan diri, tiba-tiba semuanya gelap.


Beberapa oranng yang melihat kejadian itu berusaha membantu sebisa mungkin.


***


Sofi membuka matanya


saat mencium bauh obat yang sangat menyengat, semua ruangan itu berwarna putih,


ada beberapa orang yang berdiri di sana Sofi kenal siapa mereka.


“Syukurlah, kamu sudah


sadar sayang, bilang yang mana yang sakit?” Anisa memegangi tangan Sofi,


terpancar jelas wajah khawatir di sana. Aktara dan Abraham baru saja memasuki


kamar itu, karena tadi mereka mengurus soal Diori. Abraham dan Aktara sepakat


untuk tidak memberitahu Median dulu masalah kecelakaan ini, agar tidak membuat


laki-laki itu terbebanai.


“Kak Dio,” Sofi


berbisik, air matanya tiba-tiba jatuh ia takut kakaknya meninggalkannya.


“Didi, gak papa sayang,


dokter lagi menanganinya,” Jelas Abraham, Aktara hanya diam dia tidak berani


mengatakan apa-apa karena tidak sanggup membuat Sofi menjadi sedih.


***


menujuh kamar Sofi, mereka juga sempat membuat keributan karena Anda menanyakan


kondisi sahabatnya, tapi di jawab acuh oleh perawat,


“Kalau gak bisa ya


jangan kerja dong, masah keluarga pasien nanya, gak di jawab malah sibuk


becanda, saya bisa tuntut rumah sakit ini!” Teriak Anda tegas, Alif dan Lisa


mengelengkan kepalanya lalu menunduk, meminta maaf.


Alif tahu Anda tidak


seratus persen salah begitu juga perawat disana, tapi karena Anda terlalu


khawatir membuat emosinya gampang tersulut, selain itu perawat di sana memang


tampak sibuk dengan urusan sendiri mengabaikan pertanyaan pasien, seharusnya


tenaga kesehatan harus bisa menenangkan pasien atau keluarga, semua orang pasti


tidak mau kecelakaan atau terluka, salah satu fungsi tenaga kesahatan bukan


hanya mengobatai tapi juga bisa menenangkan pasienya dan keluarganya.


“Uda An, jangan teriak-teriak


ini rumah sakit.” Lisa berbisik


“Gue gak mau ya, nanti


lo teriak-teriak gak jelas di depan Sofi!” Alif memperiangatkan dengan nada

__ADS_1


tegas, membuat Anda dan Lisa terdiam, ternyata Alif bisa bersikap dewasa dan


tegas tentunya.


Sofi dan Aktara menoleh


pada pintu saat seseorang mengetuknya, “Sofi!” teriak Alif, Anda dan Lisa


bersamaan, ketiganya langsung berlari kearah Sofi memeluk gadis itu, saat Alif


ingin melakukan hal yang sama seperti yang Anda dan Lisa lakukan, Aktara


memegang bahunya memperingatkan agar Alif tidak melakukanya, selain itu tatapan


tajam dari Aktara membuat laki-laki itu ciut.


“Kamu, gak papa kan? Apa


yang sakit? Pusing gak? Mual? Kamu laper? Gimasih kok bisa kecelakaan? “ Cerocos


Anda tanpa titik koma.


“Kamu itu nanyanya


satu-satu dong” Lisa mengenggol Anda, membuat Sofi tertawa melihat tingkah


sahabatnya itu.


“Gak, papa kok Lis,


kata dokter gue cuma syok, sama lecet-lecet dikit.” Sofi menunjukan luka di


kepalanya dan lengan kirinya, memang cedera yang Sofi alami tidak parah, dokter


malah menkhawatirkan syok yang Sofi alami dari pada lukanya.


“Kak Dio gimana?” Lisa


mulai mewek, bagaimanapun Lisa masi menjadi fans setia Diori sampai detik ini.


***


Diori masih belum


sadarkan diri sejak kecelakaan itu, hampir delapan jam setelah oprasi. Dokter


harus melakukan oprasi tersebut karena menginggat kondisi Diori saat kecekaan


itu, laki-laki itu terjepit di bagian kakinya dan ada retak pada bahu kanannya


walau luka di kepalanya tidak terlalu parah. Selama itu pula Jesy menunggui


Diori di sampingnya. Gadis itu tidak berhenti menangis, berbisik pada Diori memanjatkan


do’a agar kekasihnya cepat sadar, Jesy juga menyatakan cinta dan sayangnya pada


Diori berharap laki-laki itu membuaka matanya.


“Sayang, bangun dong,


kamu gak kasian apa sama aku, sama papa kamu, sama Sofi, mereka bakal sedih


kalau liat kamu kayak gini.” bisik Jesy liri.


Sofi memang belum


mengetahui kondisi Diori yang sebenarnya, Aktara mengatakan Diori sedang di


obatai dokter, selain itu Aktara beralasan dokter belum mengizinkan Sofi untuk


turun dari tempat tidurnya atau menemui Diori takut, Sofi syok lagi.


“Sayang, aku liat Sofi


sebentar ya.” Bisik Jesy liri, baru saja gadis itu ingin berdiri tiba-tiba ia


melihat Diori membuka matanya perlahan, Jesy tidak tahu harus mengatakan apa,

__ADS_1


ia langsung mencium kening Diori lalu memanggil dokter untuk memeriksa kondisi


kekasinya.


__ADS_2