
Diori dan Sofi baru
saja datang ke kantor polisi untuk membesuk ayah mereka, Sofi juga membawakan
makanan yang sengaja Diori dan Sofi masak. Median menyantap makan siangnya
dengan lahap.
“Kok nangis sih sayang?”
Median memberhentikan suapannya lalu menyekat air mata Sofi yang tumpah.
“Gak apa-apa kok Pa,
Sofi cuma kangen papa, uda lama gak liat
papa makan.” ucap Sofi jujur, walau setiap hari mereka bertermu tapi tetap saja
gadis itu merindukan ayahnya untuk ada di rumah, berbagi cerita denganya,
bermain catur, memasak, memebersihkan rumah atau bercanda bersama, Sofi sangat
merindukan semuanya.
“Uda jangan cengeng, kamu
bikin Papa sedih ni, tiap hari juga kakak anterin ke sini kok.” cetus Diori.
“Maaf.” Sofi menunduk,
ia sama sekali tidak mau membuat siapapun sedih terutama ayahnya.
“Uda gak apa-apa, buka
mulutmu sayang.” ucap Median mengarahkan sendoknya, Sofi dengan semangat
menyambar sedok itu, membuat Diori iri walaupun sudah besar Diori sama manjanya
dengan Sofi.
“Minta suapin sana sama
kak Jesy.” cetus Sofi sambil menjulurkan lidahnya, Diori membulatkan matanya,
Sofi benar-benar ember. Diori bahkan belum sempat bercerita dengan ayahnya
berbeda dengan Sofi yang sudah menceritakan hubungan dengan Aktara dan tentu
saja Median sangat mendukung hubungan itu, Sofi juga sudah mengenalkan Aktara
secara langsung pada ayahnya, walau mereka sudah kenanl sih.
“Oh, namanya Jesy,”
Rudi bergumam lalu melirik ke Diori, Diori hanya membuang mukanya.
“Ini pa kak Jesy.” Sofi
menyodorkan ponselnya, belum sempat Diori melarangnya Median sudah menyambar ponsel
itu.
“Cantik.” gumam Median saat
melihat poto Jesy dan Sofi saat selfi.
Ada sedikit kelegaan di
hati Diori tapi Diori takut Jesy tidak akan mudah menerimah kondisi
keluarganya, walau Jesy sudah mengatakan bisa menerima semuanya.
***
Diori dan Sofi
memutuskan untuk pulang kerena hari sudah mulai sore, mobil itu melaju dengan
__ADS_1
kecepatan sedang, tiba-tiba datang truk dari arah berlawanan membuat Diori
membuang stir ke kanan, sehingga mobil itu menabrak pembatas jalan, Sofi sempat
berteriak saat melihat Diori yang di penuhi darah di bagiana wajahnya, selain
itu bagian sebelah kanan mobil ringsek
membuat Diori terjepit dan tidak sadarkan diri, tiba-tiba semuanya gelap.
Beberapa oranng yang melihat kejadian itu berusaha membantu sebisa mungkin.
***
Sofi membuka matanya
saat mencium bauh obat yang sangat menyengat, semua ruangan itu berwarna putih,
ada beberapa orang yang berdiri di sana Sofi kenal siapa mereka.
“Syukurlah, kamu sudah
sadar sayang, bilang yang mana yang sakit?” Anisa memegangi tangan Sofi,
terpancar jelas wajah khawatir di sana. Aktara dan Abraham baru saja memasuki
kamar itu, karena tadi mereka mengurus soal Diori. Abraham dan Aktara sepakat
untuk tidak memberitahu Median dulu masalah kecelakaan ini, agar tidak membuat
laki-laki itu terbebanai.
“Kak Dio,” Sofi
berbisik, air matanya tiba-tiba jatuh ia takut kakaknya meninggalkannya.
“Didi, gak papa sayang,
dokter lagi menanganinya,” Jelas Abraham, Aktara hanya diam dia tidak berani
mengatakan apa-apa karena tidak sanggup membuat Sofi menjadi sedih.
***
menujuh kamar Sofi, mereka juga sempat membuat keributan karena Anda menanyakan
kondisi sahabatnya, tapi di jawab acuh oleh perawat,
“Kalau gak bisa ya
jangan kerja dong, masah keluarga pasien nanya, gak di jawab malah sibuk
becanda, saya bisa tuntut rumah sakit ini!” Teriak Anda tegas, Alif dan Lisa
mengelengkan kepalanya lalu menunduk, meminta maaf.
Alif tahu Anda tidak
seratus persen salah begitu juga perawat disana, tapi karena Anda terlalu
khawatir membuat emosinya gampang tersulut, selain itu perawat di sana memang
tampak sibuk dengan urusan sendiri mengabaikan pertanyaan pasien, seharusnya
tenaga kesehatan harus bisa menenangkan pasien atau keluarga, semua orang pasti
tidak mau kecelakaan atau terluka, salah satu fungsi tenaga kesahatan bukan
hanya mengobatai tapi juga bisa menenangkan pasienya dan keluarganya.
“Uda An, jangan teriak-teriak
ini rumah sakit.” Lisa berbisik
“Gue gak mau ya, nanti
lo teriak-teriak gak jelas di depan Sofi!” Alif memperiangatkan dengan nada
__ADS_1
tegas, membuat Anda dan Lisa terdiam, ternyata Alif bisa bersikap dewasa dan
tegas tentunya.
Sofi dan Aktara menoleh
pada pintu saat seseorang mengetuknya, “Sofi!” teriak Alif, Anda dan Lisa
bersamaan, ketiganya langsung berlari kearah Sofi memeluk gadis itu, saat Alif
ingin melakukan hal yang sama seperti yang Anda dan Lisa lakukan, Aktara
memegang bahunya memperingatkan agar Alif tidak melakukanya, selain itu tatapan
tajam dari Aktara membuat laki-laki itu ciut.
“Kamu, gak papa kan? Apa
yang sakit? Pusing gak? Mual? Kamu laper? Gimasih kok bisa kecelakaan? “ Cerocos
Anda tanpa titik koma.
“Kamu itu nanyanya
satu-satu dong” Lisa mengenggol Anda, membuat Sofi tertawa melihat tingkah
sahabatnya itu.
“Gak, papa kok Lis,
kata dokter gue cuma syok, sama lecet-lecet dikit.” Sofi menunjukan luka di
kepalanya dan lengan kirinya, memang cedera yang Sofi alami tidak parah, dokter
malah menkhawatirkan syok yang Sofi alami dari pada lukanya.
“Kak Dio gimana?” Lisa
mulai mewek, bagaimanapun Lisa masi menjadi fans setia Diori sampai detik ini.
***
Diori masih belum
sadarkan diri sejak kecelakaan itu, hampir delapan jam setelah oprasi. Dokter
harus melakukan oprasi tersebut karena menginggat kondisi Diori saat kecekaan
itu, laki-laki itu terjepit di bagian kakinya dan ada retak pada bahu kanannya
walau luka di kepalanya tidak terlalu parah. Selama itu pula Jesy menunggui
Diori di sampingnya. Gadis itu tidak berhenti menangis, berbisik pada Diori memanjatkan
do’a agar kekasihnya cepat sadar, Jesy juga menyatakan cinta dan sayangnya pada
Diori berharap laki-laki itu membuaka matanya.
“Sayang, bangun dong,
kamu gak kasian apa sama aku, sama papa kamu, sama Sofi, mereka bakal sedih
kalau liat kamu kayak gini.” bisik Jesy liri.
Sofi memang belum
mengetahui kondisi Diori yang sebenarnya, Aktara mengatakan Diori sedang di
obatai dokter, selain itu Aktara beralasan dokter belum mengizinkan Sofi untuk
turun dari tempat tidurnya atau menemui Diori takut, Sofi syok lagi.
“Sayang, aku liat Sofi
sebentar ya.” Bisik Jesy liri, baru saja gadis itu ingin berdiri tiba-tiba ia
melihat Diori membuka matanya perlahan, Jesy tidak tahu harus mengatakan apa,
__ADS_1
ia langsung mencium kening Diori lalu memanggil dokter untuk memeriksa kondisi
kekasinya.