
Sudah seminggu dari kejadian itu, Sofi mengikuti ujian seperti biasa, tapi pada hari pertama
ujiannya, ia terpaksa pulang dan tidak mengikuti ujian berikutnya.
Walau beberapa orang masih memebicarakanya, Sofi memilih menutup telingahnya rapat-rapat, ia tidak
ingin membuat kakak dan ayahnya kecewa, Sofi hanya ingin membuat keluarganya bangga.
“Kak aku mau ikut studu tour ya.”
“Tapi dek,” Diori hendak membantah ia tidak ingin Sofi terluka lagi karena omongan banyak orang.
“Kak taukan kemaren aku tidak ikut ujian, nilaiku pasti tambah buruk.” Sofi memancungkan bibirnya, Diori tersenyum kemudian mengelus rambut adiknya, sudah lama Sofi tidak bersikap seperti ini padanya.
Kemarin Anda dan Alif datang memberikan formulir itu, semua siswa wajib mengikuti kegiatan itu, tapi
Diori takut teman-temanya akan mengejek Sofi lagi. “Kak aku mohon sekali ini aja.” Sofi memohon, Diori masih diam tidak menjawab cukup lama.
“Kamu minta izin papa ya, besok kita besuk papa, biar papa yang memutuskan.” Sofi mengangguk cepat
setelah mendengar Diori memberi jawaban seperti itu, Diori masih merahasiakan kejadian itu pada ayahnya ia tidak berniat memberitahukanya, sudah cukup ayahnya menderita di balik jeruji besi atas kesalah yang sama sekali tidak ia lakukan Diori tidak ingin membuat ayahnya semakin khawatir.
Entah mengapa Diori melihat pancaran kebahagiaan yang sangat teramat besar dari adiknya, sudah lama
Sofi tidak seceriah ini, Diori sangat senang melihatnya, mereka memutuskan menaiki taksi menuju rutan itu.
***
Sofi memeluk ayahnya kuat, “Makasih pa, Sofi sayang papa.” Median mengelus rambut anaknya lembut, “Papa
juga sayang Sofi.”
“Papa baik-baik ya di sini, makan yang teratur selama aku pergi, papa harus tetap semangat, ingat
papa harus senyum ya, kakak Dio akan jagain papa, kakak juga bakal sering jenguk papa kok.” jelas Sofi panjang lebar, ia terlalu senang karena Median memberikanya ijin untuk pergi.
“Iya sayang papa tau, kamu juga jaga diri ya, semoga acaranya lancar.”
Sekali lagi, Sofi memeluk papanya erat seakan tidak ingin terpisah lagi kemudian mencium kening ayahnya, lalu mencium tangan ayahnya.
****
Diori terlihat ragu melihat Sofi mempersiapkan semuanya, beberapa helai pakaian sudah Sofi masukan
dalam tas.
“Kamu yakin dek, mau berangkat?” pertanyaan itu sudah hampir sepuluh kali Diori lontarkan dalam satu
jam ini “Kakak bukanya papa uda ngijini.” Sofi dengan engan mejawab pertanyaan itu.
Diori mengangguk sesaat “Kakak hanya khawatir sama kamu dek,” gumam Diaori, gadis itu segera memeluk
kakaknya.
“Yauda kalau kakak gak ngizini, Sofi gak jadi berangkat, Sofi mau sama kakak aja di sini, nemani kakak
sebentar lagi.” Sofi memasang wajah kecewanya.
Diori merasa bersalah karena membuat wajah yang tadi ceria sekarang menjadi kecewah bahkan sedih
seperti ini.
“Sofi lupa kakak kan gak bisa ngapa-ngapain kalau gak ada Sofi.” gadis itu mengejek sambil sedikit
terkekeh.
“Kamu ngomong apa sih dek, kak ini bisa sendiri kok, kakak juga kan uda hampir sembuh kamu gak perluh
khawatirin kakak.” jawab Diori tidak mau kalah, ia bahkan sudah bisa menggunakan tongkat walau hanya sebentar-sebentar.
“Yakin, kakak bisa apa-apa sendiri?” Dioari mengangguk kuat “Jadi Sofi boleh pergi ni?”
“Iya boleh sayang.”
***
Diori mengantar gadis itu menuju pintu depan rumahnya, hari ini jadwal study tour Sofi. “Kak Sofi sayang kakak sama Papa, Sofi juga sayang kak Tara, Sofi sayang kalian semua.” Gadis itu terisak di pelukan Doiri, Diori merasa tercekik. Ia merasa jadi kakak yang paling tidak berguna di dunia ini, bagaimana mungkin ia membiarkan Sofi menjadi rapu seperti ini.
“Maafin kakak dek, kakak yang bukan kakak yang baik buat kamu.”
“Kakaku Dio adalah kakak terbaik di dunia,” Sofi tersenyum lembut “Kak Sofi berangkat ya, kakak
__ADS_1
jangan diri baik-baik, sering-sering besuk papa ya, makan yang teratur biar cepat sembuh, jangan lupa minum obatnya, satu lagi kak harus senyum biar gantengnya gak ilang.” bisik Sofi memeluk kakanya.
“Iya dek, cuma study tour dua minggu aja pesennyabanyak banget.” Sofi tertawa mendengarnya, ia menoleh sambil melambaikan tanangnya.
***
Sofi menepuk kursi kosong di sampingnya saat Anda menaiki bus itu, dari tadi tidak ada yang mau duduk
di sampingnya Sofi tidak peduli, walau telingahnya panas mendengar omongan dari teman-temanya yang mengatakan ia korban pemerkosaan itu semua betul terus mau diapakan lagi? Sofi memilih untuk menjalani hidup seperti biasa, ia juga tidak ingin itu terjadi, sudah cukup ia membuat Diori sedih selama hampir minggu ini, kali ini akan membuat Diori tersenyum.
“Sofi, sorry telat.” Anda langsung mendaratkan pantanya di kursi itu Sofi tersenyum lembut, semua anak menjadi diam melihat Anda, siapapun yang membicarakan Sofi akan berhadapan langsung dengan Anda atau Alif, mereka tidak segan-segang bangku hantam dengan orang yang menyakiti Sofi, baru minggu lalu Alif memukul teman sekelasnya karena membicarakan Sofi padahal saat itu Sofi tidak masuk kelas.
“And, Makasih ya buat semuanya, lo sahabat terbaik gue, gue seneng bisa kenal sama lo.” ucap Sofi tiba-tiba, Anda tersenyum lembut lalu memeluk Sofi erat
“Gue yang harusnya makasih, karena lo mau jadi sahabat gue.” Anda berbisik, “Maafin gue ngerepoti lo, gue janji gak akan ngerepoti lo lagi.”
“Loe ngomong apa si Sof.” Anda melepaskan pelukanya, Sofi tersenyum tulus pada Anda.
“Ini,” Alif memberikan sebuah kantong plastik yang berisi minuman dan cemilan sebagai bekal mereka di perjalan, “Makasih ya Lif untuk semuanya.” Sofi mengambil plastik itu.
“Gak jadi masalah.” jawab Alif enteng.
“Maafin gue ngerepoti lo, gue janji gak akan ngepoti lo lagi”
“lo ngomong apa sih Sofi, kita ini sahabat, gak ada sahabat yang ngerepoti sahabatnya.” Sofi tersenyum lembut, Alif segera duduk di samping Sofi bangku Sofi yang di kelang jalan di tengah bus itu.
Mobil itu berjalan dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba dari arah berlawanan datanglah sebuah truk menghantam bus itu, membuatnya terlempar hinga ke pembatas jalan. Sofi bisa mendengar jeritan semua orang, di sana, kepalanya terasa pusing, kemudian semuanya gelap.
***
Baru tiga jam yang lalu gadis itu pamit, Diori merasa tidak tenang seharusnya ia tidak mengizinkan adiknya pergi, tapi mulutnya berkata lain. Doiri, benar-benar tidak bisa tidur malam ini, dari tadi perasaanya tidak tenang, tiba-tiba ponselnya berdering.
“Hallo.”
“.......”
“Apa?”
“.....”
“Ya tuhan.” Diori mengeleng air matanya menetes, pirasatnya benar seharusnya ia tidak megizinkan Sofi pergi. “Maafkan kakak dek.” Suarah Diori bergetar.
***
“Tidak, Sofi pasti baik-baik saja, ia hanya terluka sedikit, ya Sofi sangat kuat, ya Sofiku sangat kuat.” Gumam Aktara sambil melajukan mobilnya ke rumah sakit, ia melihat Diori dan Jesy telah tiba di sana, semua orang menangis di sana.
“Sofi baik-baik sajakan? Di hanya terluka sedikit dan akan sembuh kan?” tanya Aktara “Didi, Sofi, tidak apa-apa kan?” laki-laki itu memegang bahu sahabatnya yang bergetar hebat.
“Ya, mungkin ini yang terbaik untuk adikku, dia sudah kehilangan sumuanya, Tuhan benar-benar baik padanya.” Diori terisak.
“Kamu bicara apa Di? Jangan membuatku takut, Sofiku baik-baik saja!” Aktara masih tidak mau percaya apa yang terjadi.
Jesy mengelus bahu Aktara lembut memberikan kekuatan tapi Aktara tidak memperdulika Jesy, ia melangkah ke dalam ruang yang semuanya berwarna putih, diatasnya tertulis kamar mayat,
Jesy mendorong kursih roda Diori tepat berada di samping Aktara, laki-laki itu membuka kain putih itu, ia bisa melihat wajah tenang Sofi yang tersenyum di sana hanya terdapat sebuah luka di kepalanya yang sudah di jahit, bagian tanganya terdapat biru-biru karena benturan, Sofi meninggal karena perdarahan hebat dan kerusakan organ dalam tubuhnya yang di sebabkan benturan saat kecelakaan itu.
Aktara mematung beberapa saat, ia tidak percaya pertemuan terakhirnya, membuat gadis itu menagis dan pergi. Ya sekarang dia pergi untuk selamanya.
“Sofi jangan bercanda bangun, aku mencintaimu sayang, kemarin itu aku berbohong, aku tidak menganggapmu sebagai adik, aku mencintaimu sebagai wanita sayang.” Aktara mengungcang bahu Sofi, tapi tubuh itu terbujur kaku tidak bergerak.
“Maafin aku sayang, aku mohon bangun!” Aktara mengengam tangan mungil yang mulai terasa dingin. Dion dan Jesy semakin terisak sekarang.
“Ta sudah, Sofi sudah tenang disana.” Diori menguatkan sebenarnya dia sendiri masih tidak percaya,
Sofi adiknya satu-satunya meninggalkan dia secepat itu.
Aktara tidak peduli, ia segera memeluk jasad Sofi erat seakan tidak mau lepas lagi, Aktara menciumi kening gadis itu, gadis yang paling ia cintai di dunia ini.
***
Melisa melangkah lemah menuju pemakaman itu “Kau puas sekarang? Kau menghancurkan keluarganya dan
sekarang kau menghancurkanku dan Didi, jangan perna berminpi aku akan menikah denganmu, aku lebih baik mati jika harus bersandi denganmu!”suarah Aktara bergetara penuh amarah.
Ini semua karena Melisa yang memaksa ayahnya untuk agar menjahukan Aktara dari Sofi dan Lucas berhasil menjahukan Sofi dengan Aktra bahkan dengan Diori dan Median untuk selamanya.
Tapi hanya jasad Sofi yang pergi, semua cinta dan kasih sayang Sofi tetap di dalam hati mereka, semua kenangan itu akan selalu ada sampai kapanpun bahkan seumur hidup mereka.
Melisa menagis tubuhnya sangat lemah ia memegangi kaki Aktara meminta maaf. Tapi Aktara tidak peduli, jika maaf bisa menghudupkan Sofi maka ia akan melakukannya.
“Ini bukan salahmu Mel, ini sudah takdir tuhan.” suarah Diori terdengar datar sebenarnya ia ingin sekali membunuh Melisa, tapi Sofi sangat menyangi gadis itu ia sudah menganggapnya kakak.
__ADS_1
Melisa juga sudah cukup menerima hukuman, ayahnya sudah di tahan atas tuduhan pencemaran nama baik dan
dalang pemerkosaan yang di lakukan pada Sofi, ia juga di jerat dengan kasus percobaan pembunuhan terhadap Sofi dan Diori.
Melisa masih diam membisu di rumah Diori, laki-laki itu sudah beberapa kali meminta Melisa pulang, karena Diori sudah sangat muak melihat wanita itu.
“Ini,” Jesy menyerahkan tas yang sempat di berikan Melisa pada Sofi, tas dengan merek terkemuka dari luar negeri, “Sofi, dulu sempet pesen ke gue untuk ngasih ini ke lo, dia bilang gak pantas memakainya, ini terlalu mahal.” Jelas Jesy sambil menerawang.
“Sofi bilang dia sangat sayang sama lo, lo sudah dianggapnya sebagai saudara, walau lo sudah putus dari
Diori, tapi menurut Sofi lo akan jadi kakaknya sampai kapan pun.” Melis tidak tahu harus senang tau sedih sekarang, ia benar-benar bodoh atas keserakahanya selama ini.
Sofi, gadis kecil yang selalu tersenyum, walau ia sering menyakitinya, Sofi benar-benar tulus padanya. “Maafkan aku Sofi, maafkan aku dek”. Melisa menagis sambil memengang poto Sofi dan dirinya.
***
Median sama dengan Diori walau terlihat tenang tapi air matanya terus mengalir menatap kepergian anak perempauan satu-satunya. Hari ini polisi membebaskanya, tapi itu semua tidak ada artinya lagi jika Sofi telah meninggal, ia lebih memilih mendekam di penjara seumur hidup dari pada kehilangan Sofi.
Hatinya benar-benar hancur karena kehilangan Sofi, salah satu cahaya dalam hidupnya, anaknya yang selalu manja padanya, dan selalu menyayangi Median dengan sepenuh hati. Anak itu harus pergi menyusul ibunya yang lebih dulu meninggalkan mereka.
“Maafkan aku.” Melisa menangis sambil duduk memeluki kaki Median, bahkan gadis itu sekarang bersujud di kaki laki-laki paru baya itu.
Median masih diam, tapi ia juga iba melihat Melisa yang dari tadi bersunggu-sunggu meminta maaf.
“Nak Melisa, kami semua sudah memafkan kamu, bahkan sebelum kamu meminta maaf, Sofi pergi karena semua
ini adalah tadir dari yang diatas.” Median menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh. “Kamu akan selalu menjadi kakak bagi Sofi, ikhlasan dia. Om yakin Sofi akan sedih melihat kamu seperti ini, kita semua harus ikhlas.” Median kemudian membantu Melisa untuk duduk dan membawa gadis itu duduk di sofa.
Diori hanya tersenyum melihat kejadian itu, tapi senyum yang terasa hambar tanpa kehadiran Sofi.
***
Suasana kampus itu berbedah, terutama kelas jurusan psikologi, Anda tiba-tiba menangis di kelas melihat bangku di sampingnya kosong, biasanya Sofilah yang meletakan tas dan bukunya agar orang tidak bisa duduk di sana, gadis itu selalu menyiapakan kursih untuk Anda, Alif segera memeluk Anda “Aku merindukanya.” bisik Anda pada Alif
“Aku juga.” tanpa Alif sadari air matanya kembali menetes.
Begitu juga dengan Lisa cukup terkejut saat mendengar jika sahabatnya meninggal, ia bahkan beberapa kali tidak sadarkan diri mengikuti acarah pemakaman Sofi. Ia memang sudah lama tidak mengikuti club karate tempat biasa ia bertemu Sofi, karena Lisa sedang menjaga ibunya yang terkena serangan jantung dan di rumah sakit di luar kota, hingga ia jarang berkumpul dengan teman-temanya. Tapi saat mendapat kabar itu dari Anda, Lisa segera mengambil penerbangan pertama untuk hadir di sana, melihat Sofi untuk terakhir kalinya.
Kecelakaan itu merengut empat orang nyawa termasuk Sofi.
***
Aktara mengurung dirinya di kamar, yang ia lakukan hanya melihat poto kebersamaanya dengan Sofi dan lukisan yang ia buat, seharusnya hari ini acara pernikahanya dengan Melisa, tapi ia telah mebantalkan semuanya, Melisa juga mengatakan kalau dia tidak hamil, wanita itu hanya berbohong agar bisa memiliki Aktara.
Anisa mengetuk pintu kamar Aktara pelan lalu membukanya, ia membawa satu buah kotak kado.
“Dari Sofi.” bisik Anisa, Tara mengeleng kuat sambil tersenyum lebar.
“Tuh kan Ma, Sofi tu gak meninggal, dia itu berbohong, buktinya Sofiku ngirim kado.” ucap Tara tenang.
Anisa kembali menertaskan air matanya, melihat kondisi Aktara seperti orang gila ia masih tidak terima kematian Sofi.
“Iya sayang.” ucap Anisa lalu memeluk anak satu-satunya setelah itu Anisa memilih meninggalkan Tara sendirian di kamar.
Dengan semangat Aktara membuka kadonya “Sofi, aku gak jadi nikah, kamu giman sih, masih marah ya?” bisik Aktara sambil merobek kertas kado yang membungkus kotak itu sebuah surat dengan warna biru tertempel di bagian kardus itu
“Kakak Tata selamat ya, maaf Sofi gak bisa dateng di acarah pernikahan kakak,
Sofi senang kakak akhirnaya bisa menikah dengan kak Melisa, Semoga ka Tara dan kak Melisa, Bahagia selamanya”
NB : Maaf kadonya jelek.
Aktara hanya bisa tersenyum lemah “Kamu kemana sih, kok gak tau aku gak jadi nikah?” gumam Aktar tersenyum
kecut “Ini sangat bagus, makasih sayang” tambah Aktara lalu meletakan hadianya di samping meja hias sebuah boneka sepasang pengantin kecil yang terbuat dari porselen yang terlihat sangat lucu.
Tara langsung menghubung salah satu kontak di ponselnya yang tertulis nama Sofi tapi tidak aktif, Aktara mencari mana lain yaitu Diori.
“Hallo.” suara di seberang sana.
“Halo Di maaf, bisa kau berikan telponya pada Sofi, aku ingin bicara, Sofiku baru saja mengirimkan kado, aku ingin berterimakasih.” ucap Aktara polos.
“Tata hentikan, kamu pikir cuma kamu yang kehilangan Sofi ha? Aku mohon Ta hentikan ini semua!” Dio tiba-tiba terisak.
“Apa yang kamu bicarakan Di?” Aktara merasa binggung.
“Ta, apa kamu lupa Sofi sudah meninggal minggu lalu, adikku meninggal AKTAR!” teriak Dori kesal, ia segera menutup telpon itu, Jesy memeluk Dio menenangkanya.
Aktara terdiam sesaat, laki-laki itu menunduk sambil tersenyum air matanya kembali menetes, ia melihat
kotak kado itu ya tanggal di sana tertera dua minggu lalu.
__ADS_1