
“Selamat datang!”
teriakkan kompak dari para sahabat Diori, tadi malam semuanya menginap di rumah
itu untuk memberi kejutan pada Diori, walau mereka harus mengantri mandi dan tidur
di sofa bahkan Dafa dan Bram tidak tidur ia memutuskan bermain game playstation milik Diori di ruang tivi sepanjang malam, sedangkan Alif sudah tidur sejak jam
dua belas malam, Aktara juga memutuskan untuk tidur setalah lima kali menang
bermain dengan Dafa dan Bram yang kalah harus membuang sampah makanan mereka
pada pagi hari.
Sedangkan para wanita
mereka berempat memutuskan untuk tidur di kamar Sofi, bercerita banyak hal,
mulai tentang Diori, kebiasaan belanja mereka, terus kosmetik kesuakaan dan
masih banyak lagi yang lainya, selain itu tentu mereka membahas pasangan baru
Lisa dan Dafa.
Doiri tersenyum lebar melihat
para sahabatnya berada disana, ia tidak menyangkah sahabatnya sangat perduli
padanya “Makasih semuanya.” ucap Diori.
Jesy mendorong kursih
roda itu memasuki rumah, tadi Aktra dan Bram yang menjemput mereka, Anisa dan
Abraham tidak bisa datang karena ke luar kota, ada urusan di perusahaan cabang
milik mereka. Diori harus tetap duduk di kursih rodah kira-kira sebulan
lamanya, ia juga harus menjalani terapi untuk kesembuhanya kakinya.
“Kak, ini jus nya.”
Sofi menyodorkan gelas jus mangga kesukaan Diori “Tanpa rancun” Jelas Sofi
membuat semuanya terbahak.
Diori meninumnya, tapi
tiba-tiba ia tersedak saat melihat Aktara memeluk Sofi dari belakang.
“Hei, Ta, lepasin gak!”
teriak Diori, Aktara mala mengejek Diori dengan menjulurkan lidahnya, “Awas ya
lo kalau gue sembu, gue hajar lo!” geram Diori kesal, Sofi malah menertawakan
kakaknya.
***
Diori tersenyum
memperhatikan Jesy dan Sofi sibuk memasakmakan malam mereka, “Sofi, kalau di
rumah Dio suka makan apa?” Jesy berbisik pelan pada Sofi agar tidak di dengar
Diori.
“Apa aja kak, kak Dio
gak pilih-pilih asal gak pedes, orang kopi asin aja di minum.” jawab Sofi lalu
gadis itu sedikit menautkan alisnya bukankah selama ini Jesy sudah tahu semuanya
tentang Dioari?
__ADS_1
“Itu karena kamu
ngerjain kakak!” cetus Diori, membuat Jesyk tertawa.
“Udah deh kak, jangan
ngomel, diem aja, kakak liatin aja calon kakak iparku masak.” jelas Sofi
menyikut lengan Jesy membuat gadis itu bersemuh merah, Diori ikut tersenyum
memperhatikan Jesy yang bersemu merah,
itu yang paling ia sukai saat Jesy merasa malu karena pujian.
“Sayang, Tara harus ke kantor.”
Diori bergumam, selama ayahnya Abraham keluar kota Aktarala yang menghendel
urusan kantor mereka.
***
Di tempat lain Aktara
sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya, walau ini bukan pertama kalinya ia
datang ke kantor itu untuk membantu ayahnya, di waktu libur malah Aktara selalu
bekerja di kantor itu untuk membantu ayahnya, karena cepat atau lambat
perusahaan itu akan jatuh ke tanganya karena ia pewaris tunggal perusahaan itu.
Aktara menoleh saat
seseorang mengetuk pintunya seorang wanita masuk dengan berpakaina rapi namanya
Naomi ia adalah sekertaris Abraham yang sekarang jadi sekertaris Aktara.
“Maaf pak-” belum
Aktara kenal.
“Tidak apa-apa Naomi kamu
boleh keluar.” jelas Aktara, wanita itu keluar meninggalkan Aktara dan wanita
yang memasak masuk sedari tadi.
“Ada apa lo kesini?”
Aktara ketus
“Tara, kamu kenapa sih
galak sama aku.” wanita itu memasang wajah sedih.
“Cihk, Melisa, gak
mempan mau lo nangis darah juga, gue gak peduli!” Aktara mengejek.
“Bener lo gak peduli,
kalau aku bilang aku bisa bantu kamu ngeluarin papa Sofi dari penjara.” ucapan
Melisa sontak membuat Aktara menatapnya tajam.
“Apa yang lo mau
sebenarnya?”
“Aku mau kamu nikah
sama aku.” Melisa menatap Aktara dengan tatapan sayang, bukanya terpengaruh,
Aktara malah merasa jijik melihatnya.
__ADS_1
“Jangan harap, dasar
gila pergi!” bentak Aktara, Melisa mengeleng kuat
“Aku sayang sama kamu
Tara, aku akan lakuin apa aja buat dapetin kamu.” Melisa mengancam.
“Keluar Mel sebelum gue
pangil satpam!” Aktara langsung menekan interkom, tidak lama kemudian dua orang
satpam datang menyeret Melisa keluar wanita itu berteriak. “Lo akan nikah sama aku
Tara, aku sayang kamu!” teriak Melisa
saat di giring dua satpam.
“Dasar gila, apa yang
sebenarnya ada di otak wanita itu.” Aktara mengusap maukanya kasar, mana
mungkin ia akan menikah dengan Melisa, wanita berbisa dan bermuka dua yang sempat
membuat persahabatanya hancur.
***
Abraham tidak percaya
apa yang di lihat dari orang kepercayaanya, sahabatnya Median ternyata
benar-benar di jebak, selain itu kecelakaan yang Diori dan Sofi alami
kemungkinana merupakan kesengajaan yang di lakukan oleh orang yang tidak
menyukai keluarga itu, Abraham harus menayakanya pada Aktara untuk skasus ini,
ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada keluaraga Median.
“Ta, apa ada yang tidak
suka dengan Diori selama ini?” Abraham
menatap anak tunggalnya yang dari tadi sibuk dengan berkas-berkas di atas
mejanya.
“Melisa pa.” Ucap
Aktara sembarangan
“Maksudmu Melisa mantan
pacarmu waktu SMA?” Aktara hanya mengangguk, “Tapi tidak mungkin gadis itu
sangat baik, keluarganya juga sangat baik dengan Median.” Abraham menerawang. Selama
ini Median bekerja di perusahaan milih ayah Melisa mereka sangat akrab, bahkan Median
merupakan salah satu orang kepercayaan di perusahaan itu.
“Kemungkinan selalu ada
pa. Papa ingat dengan istilah tempat paling berbahaya adalah tempat yang paling
sering kita kunjungi.” Aktara menatap ayahnya. Abraham mengangguk tanda
mengerti.
“Beri papa waktu, papa
akan menyelidikinya lebih lanjut untuk membebaskan Median.”
“Makasih pa.” Aktara
__ADS_1
tersenyum lembut pada papanya.