Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 25


__ADS_3

“Selamat datang!”


teriakkan kompak dari para sahabat Diori, tadi malam semuanya menginap di rumah


itu untuk memberi kejutan pada Diori, walau mereka harus mengantri mandi dan tidur


di sofa bahkan Dafa dan Bram tidak tidur ia memutuskan bermain game playstation milik Diori di ruang tivi sepanjang malam, sedangkan Alif sudah tidur sejak jam


dua belas malam, Aktara juga memutuskan untuk tidur setalah lima kali menang


bermain dengan Dafa dan Bram yang kalah harus membuang sampah makanan mereka


pada pagi hari.


Sedangkan para wanita


mereka berempat memutuskan untuk tidur di kamar Sofi, bercerita banyak hal,


mulai tentang Diori, kebiasaan belanja mereka, terus kosmetik kesuakaan dan


masih banyak lagi yang lainya, selain itu tentu mereka membahas pasangan baru


Lisa dan Dafa.


Doiri tersenyum lebar melihat


para sahabatnya berada disana, ia tidak menyangkah sahabatnya sangat perduli


padanya “Makasih semuanya.” ucap Diori.


Jesy mendorong kursih


roda itu memasuki rumah, tadi Aktra dan Bram yang menjemput mereka, Anisa dan


Abraham tidak bisa datang karena ke luar kota, ada urusan di perusahaan cabang


milik mereka. Diori harus tetap duduk di kursih rodah kira-kira sebulan


lamanya, ia juga harus menjalani terapi untuk kesembuhanya kakinya.


“Kak, ini jus nya.”


Sofi menyodorkan gelas jus mangga kesukaan Diori “Tanpa rancun” Jelas Sofi


membuat semuanya terbahak.


Diori meninumnya, tapi


tiba-tiba ia tersedak saat melihat Aktara memeluk Sofi dari belakang.


“Hei, Ta, lepasin gak!”


teriak Diori, Aktara mala mengejek Diori dengan menjulurkan lidahnya, “Awas ya


lo kalau gue sembu, gue hajar lo!” geram Diori kesal, Sofi malah menertawakan


kakaknya.


***


Diori tersenyum


memperhatikan Jesy dan Sofi sibuk memasakmakan malam mereka, “Sofi, kalau di


rumah Dio suka makan apa?” Jesy berbisik pelan pada Sofi agar tidak di dengar


Diori.


“Apa aja kak, kak Dio


gak pilih-pilih asal gak pedes, orang kopi asin aja di minum.” jawab Sofi lalu


gadis itu sedikit menautkan alisnya bukankah selama ini Jesy sudah tahu semuanya


tentang Dioari?

__ADS_1


“Itu karena kamu


ngerjain kakak!” cetus Diori, membuat Jesyk tertawa.


“Udah deh kak, jangan


ngomel, diem aja, kakak liatin aja calon kakak iparku masak.” jelas Sofi


menyikut lengan Jesy membuat gadis itu bersemuh merah, Diori ikut tersenyum


memperhatikan Jesy yang  bersemu merah,


itu yang paling ia sukai saat Jesy merasa malu karena pujian.


“Sayang, Tara harus ke kantor.”


Diori bergumam, selama ayahnya Abraham keluar kota Aktarala yang menghendel


urusan kantor mereka.


***


Di tempat lain Aktara


sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya, walau ini bukan pertama kalinya ia


datang ke kantor itu untuk membantu ayahnya, di waktu libur malah Aktara selalu


bekerja di kantor itu untuk membantu ayahnya, karena cepat atau lambat


perusahaan itu akan jatuh ke tanganya karena ia pewaris tunggal perusahaan itu.


Aktara menoleh saat


seseorang mengetuk pintunya seorang wanita masuk dengan berpakaina rapi namanya


Naomi ia adalah sekertaris Abraham yang sekarang jadi sekertaris Aktara.


“Maaf pak-” belum


Aktara kenal.


“Tidak apa-apa Naomi kamu


boleh keluar.” jelas Aktara, wanita itu keluar meninggalkan Aktara dan wanita


yang memasak masuk sedari tadi.


“Ada apa lo kesini?”


Aktara ketus


“Tara, kamu kenapa sih


galak sama aku.” wanita itu memasang wajah sedih.


“Cihk, Melisa, gak


mempan mau lo nangis darah juga, gue gak peduli!” Aktara mengejek.


“Bener lo gak peduli,


kalau aku bilang aku bisa bantu kamu ngeluarin papa Sofi dari penjara.” ucapan


Melisa sontak membuat Aktara menatapnya tajam.


“Apa yang lo mau


sebenarnya?”


“Aku mau kamu nikah


sama aku.” Melisa menatap Aktara dengan tatapan sayang, bukanya terpengaruh,


Aktara malah merasa jijik melihatnya.

__ADS_1


“Jangan harap, dasar


gila pergi!” bentak Aktara, Melisa mengeleng kuat


“Aku sayang sama kamu


Tara, aku akan lakuin apa aja buat dapetin kamu.” Melisa mengancam.


“Keluar Mel sebelum gue


pangil satpam!” Aktara langsung menekan interkom, tidak lama kemudian dua orang


satpam datang menyeret Melisa keluar wanita itu berteriak. “Lo akan nikah sama aku


Tara, aku sayang kamu!”  teriak Melisa


saat di giring dua satpam.


“Dasar gila, apa yang


sebenarnya ada di otak wanita itu.” Aktara mengusap maukanya kasar, mana


mungkin ia akan menikah dengan Melisa, wanita berbisa dan bermuka dua yang sempat


membuat persahabatanya hancur.


***


Abraham tidak percaya


apa yang di lihat dari orang kepercayaanya, sahabatnya Median ternyata


benar-benar di jebak, selain itu kecelakaan yang Diori dan Sofi alami


kemungkinana merupakan kesengajaan yang di lakukan oleh orang yang tidak


menyukai keluarga itu, Abraham harus menayakanya pada Aktara untuk skasus ini,


ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada keluaraga Median.


“Ta, apa ada yang tidak


suka dengan Diori selama ini?”  Abraham


menatap anak tunggalnya yang dari tadi sibuk dengan berkas-berkas di atas


mejanya.


“Melisa pa.” Ucap


Aktara sembarangan


“Maksudmu Melisa mantan


pacarmu waktu SMA?” Aktara hanya mengangguk, “Tapi tidak mungkin gadis itu


sangat baik, keluarganya juga sangat baik dengan Median.” Abraham menerawang. Selama


ini Median bekerja di perusahaan milih ayah Melisa mereka sangat akrab, bahkan Median


merupakan salah satu orang kepercayaan di perusahaan itu.


“Kemungkinan selalu ada


pa. Papa ingat dengan istilah tempat paling berbahaya adalah tempat yang paling


sering kita kunjungi.” Aktara menatap ayahnya. Abraham mengangguk tanda


mengerti.


“Beri papa waktu, papa


akan menyelidikinya lebih lanjut untuk membebaskan Median.”


“Makasih pa.” Aktara

__ADS_1


tersenyum lembut pada papanya.


__ADS_2