Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 24


__ADS_3

Sofi sudah tiga hari


terbaring di tempat tidur, Aktara tidak sekalipun membiarakan gadis itu turun


sendiri atau keluar dari kamarnya. Hal itu membuat Sofi kesal terlebih, keadaan


gadis itu baik-baik saja, luka di tubuhnya juga sudah mulai mengering ia juga


sudah tidak diinfus lagi dari kemarin.


“Kak, aku mau ketemu


kaka Dio,” Sofi memohon.


“Tapi, sayang kamu itu


lagi sakit.” Aktara menejelaskan


“Tapi kak, ini sudah


tiga hari, Sofi kangen kak Dio.”


Dengan berat hati


Aktara menuruti kemauan gadis yang dia cintai, “Tapi inget, jangan ganggu Didi,


dia butuh istirahata.” Aktara menjelasakan, Sofi mengangguk tanda mengerti.


Ruangan kamar itu tidak


berbeda dengan kamar yang di tempati Sofi, diatas bed terdapat seorang


laki-laki yang terbaring sambil bebicara dengan seorang wanita, ia seselaki


tersenyum.


“Sofi!” ucap Diori


seketika senyum itu melebar.


“Kak Dio!” Sofi berlari


memeluk kakaknya, ia langsung menangis melihat kondisi Diori yang mengenaskan,


kaki kananya di bungkus gifs, dan kepalanya di balut perban, selain itu infus


masih terpasang di  tangan kirinya.


“Kak, kok kayak gini


hiks..hiks...”


“Kakak gak apa-apa


sayang, cuma pata kaki, dan sedikit retak di bahu kanan, sama ni.” Diori menunjuk


keningnya yang masih di perban..


“Huah...huah... kak Dio


hiks....hiks...” Sofi histeris, Membuat Aktara dan Jesy memeganging gadis itu.


“Hei, jangan curi


kesempatan meluk adik ku Ta!” Diori memperingatkan, Jesy kamudian menengangkan


Diori yang hendak bangun dari tempat tidurnya.


“Uda gak papa sayang,


Didi akan baik-baik saja, kamu tenang ya.” bisik Aktara pelan, tanpa perduli


peringatan yang Diori berikan laki-laki itu terus memeluk Sofi sambil mengelus


punggungnya.


“Tapi kak Dio patah


kaki kak.” jawab Sofi di tengah isakannya di dada Aktar.


“Sofi, kakak belum mati


sayang, gak usa nangisnya gitu amat!” Diori menjawab ketus, ia benar-benara


geram melihat Aktar yang terus memeluk Sofi.


“Di, kamu tuh ya, adik


kamu ni lagi sedih liat kondisi kamu, kamu malah ngejekin Sofi!” jawab Aktara


kesal.


“Uda jangan berantem!”


Sofi melepaskan pelukanya, lalu mendekati Diori, “Kakak gak boleh mati ya,


kakak harus sehat lagi, kakak harus jagain papa, Sofi sedih liat kakak kayak


gini.” ucap gadis itu, Diori mengapus air mata Sofi dengan tangan kirinya,


karena tangan kananya belum bisa di gerakan.


“Kakak janji sayang,


kakak akan sembuh, kakak juga akan jaga papa, jagan kamu. Kamu  jangan nangis lagi ya, nanti kakak lama


sembuhnya.” Diori menyakinkan, Jesy dan Aktara bisa melihat kasih sayang yang


tulus antara dua saudara itu.


“Diori! Kamu gak papa


kan?” surah seseorang menganggu mereka, bukan seseorang tapi dua orang.


“Yaampun, lo patah kaki


ya?” suarah yang yang sataunya lagi,


“Lo gegar otak ya?” ucap


laki-laki berkulit gelap dan agak kribo


“Kalian ya, do’ainya


yang gak-gak!” ucap Jesy kesal, “Mending gak usah dateng deh.” tambahnya.


“Sorry Jes, lo taukan, gara-gara Dio gak ada gue harus ngurus club


sastra, terus Dafa juga harus ngus club lukisnya, gara-gara tu.” Bram menunjuk


Aktara, laki-laki itu memang menyerahkan semuanya pada Dafa karena ia fokus


menjaga Sofi.


“Eh, gue juga di sini


kali.” Anis  datang dengan cemberut, dari


tadi tidak ada yang menyapanya.


“Sorry Nis, gak ngeliat.” kata Jesy lalu memeluk sahabatnya itu,


sudah tiga hari Jesy tidak masuk kuliah menunggui Diori kekasihnya.


Semua yang datang


memberikan semangat pada Diori dan Sofi, mereka berharap agar Diori cepat


sembuh dan kembali ke kampus secepatnya, seperti kata Bram, ‘Kampus sepih gak ada lo.’ tentu saja


Diori juga ingin cepat masuk kuliah dan menyelesaikan skripsinya agar cepat


lulus, tapi sepertinya ia akan beristirahat cukup lama karena kondisi kakinya.


***


Sedangkan Sofi gadis


itu sudah boleh, kuliah seperti biasa, Aktara selalu menemaninya kemanapun Sofi


inginkan, temasuk mengunjungi papanya. Median akhirnya tahu tentang kecelakaan


itu, tampak jelas wajah khawatir tentang kondisi anak-anaknya, tapi apa boleh


buat, ia tidak  bisa ada di samping Diori


menjaga anaknya saat mereka membutuhkan sosok ayah, tapi Sofi meyakinkan bahwa


mereka baik-baik saja.


Sofi juga selalu


menghubungi Diori saat mengunjungi ayahnya, mereka melakukan video call agar Median bisa melihat

__ADS_1


secara langsung kondisi Diori, awalnya Median menangis melihat Diori yang tampak


mengenaskan dengan perban di kepala dan tangan kanannya yang di perban serta


kakinya di pasang gips, Diori meyakinkan semuanya baik-baik saja, selain itu


Diori juga mengenalkan Jesy pada ayahnya walau cuma lewat video call, mereka cepat sekali akrab.


“Pa, baik-baik disini ya,


jangan mikirin kak Dio, kan uda ada kak Jesy calon kakak ipar ku yang jagain.”


Aktara dan Median kemudian tersenyum mendengar ucapan Sofi, gadis itu sangat


mendukung hubungan Diori dan Sofi, begitu juga Aktara dan Median. Sofi telah


memberitahu kalau Jesy adalah wanita yang baik dan selalu menjaga Diori setiap


saat, Sofi juga berharap agar nanti Diori menikahi Jesy.


“Iya sayang, kamu juga


jaga diri ya, jangan ngerepoti Tata terus.” ucap Median


“Janji pa, gak akan


ngerepotin kak Tara lagi, kan Kak Dio besok pulang ke rumah.” Jelas Sofi.


Sudah tiga minggu Diori


di rawat di rawat dan dokter telah mengizinkanya pulang, melihat kondisinya


yang terus membaik, selama itu juga Sofi, Jesy, Aktara, Anissa dan Abraham


bergantian menunggui Diori.


Sofi akan pulang kerumah


saat Sofi kelelahan, gadis itu memutuskan untuk tetap tinggal di rumah ibunya


dari pada tinggal di rumah Aktara, walau sepi karena ia sendiri tidur di rumah


itu, tapi sesekali Anda dan Lisa menginap di rumah itu menemani Sofi seperti


malam ini, ketiganya sibuk membersihkan rumah karena besok Diori akan datang.


***


“Gue heran ya, sama lo


Sof, kok lebih milih tinggal di sini dari pada di rumah kak Tara.” Anda


mengoceh, mereka karena sudah lelah merapikan rumah itu.


“Diem lo kalau gak


ikhlas!” Lisa memotong.


“Uda gak, papa Lis, gue


tinggal disini  karena ini rumah nyokap


gue, walau kecil sih, tapi nyaman. Memang rumah kak Tara gedek, gedek banget


malah, tapi kan itu rumah orang An, tetap aja ada sedikit rasa gak enak, walau tante,


om, sama kak Tara baik banget, mereka kayak keluarga gue tapi-” Sofi belum


sempat melanjutkan perkataanya karean sudah di potong Anda.


“Merekakan bakal jadi


keluarga lo, tepatnya jadi mertua dan suami lo.” Anda memotong ucapan Sofi


mendadak muka Sofi bersemu merah.


“Tapi kan An, Sofi


belum nikah sama kak Tara, gue tahu senyaman-nyamanya tinggal di rumah orang


lebih nyaman tinggal dirumah sendiri.” Lisa tersenyum lembut


“Itu maksud gue” potong


Sofi.


“Terserah kalian.” Anda


tersenyum lalu berteriak “Sofi calon suami lo dateng!”


Sofi dan Lisa mendekati


Anda yang sedang terperangah menatap ketampanan Aktara, laki-laki itu datang


membawakan dua bungkus plastik, yang isinya bisa di tebak adalah mertabak.


“Ini buat kalian.”


Aktara tersenyum lembut lalu memberikan bungkusan itu pada Sofi, tapi belum


sempat gadis itu menyambutnya Lisa sudah merebutnya “Makasih gue laper banget


tau aja kalau tuan rumah pelit.” bisik Lisa.


“Sial, lo Lis gorengan


tadi apa namanya, terus nasi goreng tadi juga kemana?” Sofi mendengus kesal, ia


sudah memberikan makan teman-temanya sebelum kerja bakti.


“Masuk yuk.” Aktara


memeluk pinggang Sofi erat, membuat dua sahabatnya melongoh menyaksikan kemesraan


merekah.


“Ih mentang-mentang ya


pacaran, enaknya mesra-mesraan, sahabat sendiri di kacangi.” Anda mendenguss


kesal, menbuat Lisa tertawa, begitu juga dengan Sofi dan Aktara.


Lisa membawa bungkusan


itu kedapur “Ini kok martabaknya banyak banget, kita kan cuma bertiga.” Lisa


menaruh masing-masing mertabak itu di piring, tadi Aktara membeli dua porsih


martabak coklat, dua porsih keju, dan empat porsih martabak telor.


“Siapa bilang buat


bertiga, itu buat berdelapan kok.” Aktara menjelaskan


“Delapan?” Sofi


menyergitkan dahinya binggung begitu juga Lisa dan Anda


“Iya, sayang ada-”


ucapan Aktara terpotong, saat tiba-tiba pintu terbuka.


“Hai, semuanya.” Ucap


Dafa, kemudian laki-laki itu masuk disusul Bram, Alif, dan Anis.


Mereka menghabiskan


waktu bersama menonton tivi, dan membantu Sofi menata kamar Diori, mereka juga


mengobrol banyak hal.


“Sayang sini deh.”


Aktara memanggil Sofi yang baru selesai menyiapakan selimut di tempat tidur


Diori, gadis itu melangkah mendekati Aktara, “Ada apa?”


“Aku pingin nanti kalau


kita nikah, kamu yang ngurusi semua kebutuhan aku, kayak kamu ngurusi kebutuhan


Didi,” Aktara lalu melingkarkan keduanya di pinggan Sofi, membuat gadis itu


bersemuh merah lalu tertawa. “Kenapa tertawa?”


“Aku, juga mau nikah


sama kamu, tapi kamu harus ingat, manusia itu cuma bisa berencana semuanya itu


terjadi harus dengan kehendak Tuhan, aku mau nanti misalnya, kita gak jadi


nikah-”

__ADS_1


“Kok ngomongya gitu,


kamu nolak nikah sama aku.” Aktara menatap heran pada kekasihnya, Sofi tertawa


melihat tingkah Aktara.


“Kak, Sofi sayang kakak


sampai kapanpu, Sofi ingin ngeliat kak bahagia dengan atau tanpa Sofi, Sofi


akan nikah sama kakak kalau tuhan mengizinkan, kita gak boleh maksain kehendak


kita jika tuhan gak berkehendak.” Sofi menjelaskan.


Aktara hanya diam, ia


tidak mau hal itu terjadi, ia sangat menciuntai Sofi dan akan menikahinya,


menghabiskan waktu bersama Sofi sepanjang hidupnya. “Sofi mau kok nikah sama


kak Tara, jadi jangan mikir yang macam-macam deh, tapi untuk sekarang Sofi lagi


mikirin papa sama kak Dio. Sofi sempat nanya sama diri Sofi sendiri kenapa


orang-orang yang ada di samping Sofi terkena musibah, mungkin Sofi terlalu


egois sama diri sendiri, makanya Sofi mutusin untuk pasra pada kehendak tuhan,


Sofi cuma mau bahagia kayak dulu.” gadis itu menerawang.


Aktara bisa melihat


pancaran sedih di wajah Sofi, laki-laki itu tiba-tiba mencium Sofi lembut tepat


di bibirnya, membuat Sofi tidak berdaya untuk menolak ciuman itu, lama keduanya


berciuman, sampai kehabisan napas.


“Aku cinta sama kamu


Sofiku, jangan pernah ninggalin aku.” Bisik Aktara memeluk Sofi, gadis itu


hanya bisa tersenyum lembut dalam pelukan Aktara dia tahu Aktara sangat


mencintainya begitu juga sebaliknya.


***


“Sofi, lo di dalem kan?!”


Anda berteriak, membuat Sofi melepaskan diri dari Aktara.


“Ada apa And?” Sofi


bertanya.


“Lo mau pesen minuman


gak, tuh kak Dafa mau neraktir nih,” lalu Anda berbisik di telingah Sofi.


“Ha? Beneran? Hahahaah”  Sofi tertawa bersamaan dangan Anda. Baru saja


Anda berbisik padanya.


“Ada apa sih?” Aktara


mendekati kekasihnya lalu memeluknya dari belakang, ia tidak peduli dengan Anda


yang terlihat kesal, Aktara malah mencium puncak kepala Sofi.


“Kak Dafa jadian sama


Lisa.” Jelas Sofi. Aktara membulatkan matanya tidak percayah.


“Lo kok gak jadian sama


Alif atau Bram?” Aktara melontarkan pertanyaan pada Lisa membuat gadis itu


mendengus kesal, lalu meninggalkan mereka berdua.


***


“Sumpah pingin gue


ceket tuh kak Tara, enak aja nyuru jadian sama Alif, sama kak Bram, emang gue


cewek apaan?” gerutu Anda kesal.


“Lo cewek spesial kok,”


Anda menoleh pada sipemilik suarah, Alif berdiri sambil tersenyum lembut.


“Lo sejak kapan berdiri


di sini ha?” Anda terdengar cetus.


“Sejak tadi, lo aja


yang sibuk ngomel gak jelas.”


“Lo, gue beci sama lo.”


Anda menunjuk wajah Alif sebelum pergi menuju kamar Sofi, gadis itu kembali


berteriak saat melihat Bram baru keluar dari toilet di kamar Sofi “Lo ngapain


di sini?” Anda berteriak kesal.


“Toilet, di depan


sedang di pakai Alif tadi.” Bram menjelaskan, benar tadi ia ingin ke toilet,


berkali-kali ia mengetuk pintu tapi Alif meneriakinya, kalau ia sedang sakit


perut, karena merasa tidak tahan, ia bertanya pada Lisa dimana ada toilet lagi,


Lisa memberitahu kalau di kamar Sofi dan Diori ada toilet juga, awalnya Bram


ingin ke kamar Diori tapi saat mendengar suara Aktara dan Sofi mengobrol ia


mengurungkan niatnya, jadi ia pergi ke kamar Sofi.


“Kamu gak papa?” Bram


mendekat ingin memeriksa Anda yang terlihat ketakutan.


“Itu.” Anda menunjuk celana Bram lalu


melengos.


“Apa?” Bram melangkah


hingga tinggal dua langkah lagi ia bisa menyentuh Anda.


“Akhhhhh...!”Anda


berteriak lalu pergi keluar dari kamar itu,  Bram menautkan alisnya bingung, Anda


bertingkah aneh har ini.


Aktara berjalan bersama


Sofi, saat Bram keluar dari kamarnya, Aktara langsung menutup mata Sofi, dengan


menempelkan kepala kekasihs\nya di dada Aktara, Sofi sempat terkejut dengan


tingkah Aktara yang tiba-tiba.


“Woi, tu sangkar bisa


di tutup gak sih?” Aktara menunjuk bagian celana Bram yang terbuka, Bram menunduk


mengikuti arah pandang Aktara, mendadak muka Bram memerah dengan cepat ia


menaikan resliting celana jinsnya. ‘Pantas


saja Anda tadi berteriak.’ bating Bram. Setelah kejadian itu Anda dan Bram hanya


diam, mereka tampak seperti cangung.


***


Di tempat lain seorang


wanita mengawasi rumah itu dari kejauhan ia bisa mendengar canda tawa di sana,


‘Mengapa Sofi terus mendapatkan semuanya,


teman, sahabat, keluarga yang menyayanginya, dan sekarang Aktara juga sangat


menyayanginya. Aku membencimu Sofi sampai kapanpun aku tiddak akan mebiarkanmu


bahagia!’

__ADS_1


__ADS_2