
Sofi sudah tiga hari
terbaring di tempat tidur, Aktara tidak sekalipun membiarakan gadis itu turun
sendiri atau keluar dari kamarnya. Hal itu membuat Sofi kesal terlebih, keadaan
gadis itu baik-baik saja, luka di tubuhnya juga sudah mulai mengering ia juga
sudah tidak diinfus lagi dari kemarin.
“Kak, aku mau ketemu
kaka Dio,” Sofi memohon.
“Tapi, sayang kamu itu
lagi sakit.” Aktara menejelaskan
“Tapi kak, ini sudah
tiga hari, Sofi kangen kak Dio.”
Dengan berat hati
Aktara menuruti kemauan gadis yang dia cintai, “Tapi inget, jangan ganggu Didi,
dia butuh istirahata.” Aktara menjelasakan, Sofi mengangguk tanda mengerti.
Ruangan kamar itu tidak
berbeda dengan kamar yang di tempati Sofi, diatas bed terdapat seorang
laki-laki yang terbaring sambil bebicara dengan seorang wanita, ia seselaki
tersenyum.
“Sofi!” ucap Diori
seketika senyum itu melebar.
“Kak Dio!” Sofi berlari
memeluk kakaknya, ia langsung menangis melihat kondisi Diori yang mengenaskan,
kaki kananya di bungkus gifs, dan kepalanya di balut perban, selain itu infus
masih terpasang di tangan kirinya.
“Kak, kok kayak gini
hiks..hiks...”
“Kakak gak apa-apa
sayang, cuma pata kaki, dan sedikit retak di bahu kanan, sama ni.” Diori menunjuk
keningnya yang masih di perban..
“Huah...huah... kak Dio
hiks....hiks...” Sofi histeris, Membuat Aktara dan Jesy memeganging gadis itu.
“Hei, jangan curi
kesempatan meluk adik ku Ta!” Diori memperingatkan, Jesy kamudian menengangkan
Diori yang hendak bangun dari tempat tidurnya.
“Uda gak papa sayang,
Didi akan baik-baik saja, kamu tenang ya.” bisik Aktara pelan, tanpa perduli
peringatan yang Diori berikan laki-laki itu terus memeluk Sofi sambil mengelus
punggungnya.
“Tapi kak Dio patah
kaki kak.” jawab Sofi di tengah isakannya di dada Aktar.
“Sofi, kakak belum mati
sayang, gak usa nangisnya gitu amat!” Diori menjawab ketus, ia benar-benara
geram melihat Aktar yang terus memeluk Sofi.
“Di, kamu tuh ya, adik
kamu ni lagi sedih liat kondisi kamu, kamu malah ngejekin Sofi!” jawab Aktara
kesal.
“Uda jangan berantem!”
Sofi melepaskan pelukanya, lalu mendekati Diori, “Kakak gak boleh mati ya,
kakak harus sehat lagi, kakak harus jagain papa, Sofi sedih liat kakak kayak
gini.” ucap gadis itu, Diori mengapus air mata Sofi dengan tangan kirinya,
karena tangan kananya belum bisa di gerakan.
“Kakak janji sayang,
kakak akan sembuh, kakak juga akan jaga papa, jagan kamu. Kamu jangan nangis lagi ya, nanti kakak lama
sembuhnya.” Diori menyakinkan, Jesy dan Aktara bisa melihat kasih sayang yang
tulus antara dua saudara itu.
“Diori! Kamu gak papa
kan?” surah seseorang menganggu mereka, bukan seseorang tapi dua orang.
“Yaampun, lo patah kaki
ya?” suarah yang yang sataunya lagi,
“Lo gegar otak ya?” ucap
laki-laki berkulit gelap dan agak kribo
“Kalian ya, do’ainya
yang gak-gak!” ucap Jesy kesal, “Mending gak usah dateng deh.” tambahnya.
“Sorry Jes, lo taukan, gara-gara Dio gak ada gue harus ngurus club
sastra, terus Dafa juga harus ngus club lukisnya, gara-gara tu.” Bram menunjuk
Aktara, laki-laki itu memang menyerahkan semuanya pada Dafa karena ia fokus
menjaga Sofi.
“Eh, gue juga di sini
kali.” Anis datang dengan cemberut, dari
tadi tidak ada yang menyapanya.
“Sorry Nis, gak ngeliat.” kata Jesy lalu memeluk sahabatnya itu,
sudah tiga hari Jesy tidak masuk kuliah menunggui Diori kekasihnya.
Semua yang datang
memberikan semangat pada Diori dan Sofi, mereka berharap agar Diori cepat
sembuh dan kembali ke kampus secepatnya, seperti kata Bram, ‘Kampus sepih gak ada lo.’ tentu saja
Diori juga ingin cepat masuk kuliah dan menyelesaikan skripsinya agar cepat
lulus, tapi sepertinya ia akan beristirahat cukup lama karena kondisi kakinya.
***
Sedangkan Sofi gadis
itu sudah boleh, kuliah seperti biasa, Aktara selalu menemaninya kemanapun Sofi
inginkan, temasuk mengunjungi papanya. Median akhirnya tahu tentang kecelakaan
itu, tampak jelas wajah khawatir tentang kondisi anak-anaknya, tapi apa boleh
buat, ia tidak bisa ada di samping Diori
menjaga anaknya saat mereka membutuhkan sosok ayah, tapi Sofi meyakinkan bahwa
mereka baik-baik saja.
Sofi juga selalu
menghubungi Diori saat mengunjungi ayahnya, mereka melakukan video call agar Median bisa melihat
__ADS_1
secara langsung kondisi Diori, awalnya Median menangis melihat Diori yang tampak
mengenaskan dengan perban di kepala dan tangan kanannya yang di perban serta
kakinya di pasang gips, Diori meyakinkan semuanya baik-baik saja, selain itu
Diori juga mengenalkan Jesy pada ayahnya walau cuma lewat video call, mereka cepat sekali akrab.
“Pa, baik-baik disini ya,
jangan mikirin kak Dio, kan uda ada kak Jesy calon kakak ipar ku yang jagain.”
Aktara dan Median kemudian tersenyum mendengar ucapan Sofi, gadis itu sangat
mendukung hubungan Diori dan Sofi, begitu juga Aktara dan Median. Sofi telah
memberitahu kalau Jesy adalah wanita yang baik dan selalu menjaga Diori setiap
saat, Sofi juga berharap agar nanti Diori menikahi Jesy.
“Iya sayang, kamu juga
jaga diri ya, jangan ngerepoti Tata terus.” ucap Median
“Janji pa, gak akan
ngerepotin kak Tara lagi, kan Kak Dio besok pulang ke rumah.” Jelas Sofi.
Sudah tiga minggu Diori
di rawat di rawat dan dokter telah mengizinkanya pulang, melihat kondisinya
yang terus membaik, selama itu juga Sofi, Jesy, Aktara, Anissa dan Abraham
bergantian menunggui Diori.
Sofi akan pulang kerumah
saat Sofi kelelahan, gadis itu memutuskan untuk tetap tinggal di rumah ibunya
dari pada tinggal di rumah Aktara, walau sepi karena ia sendiri tidur di rumah
itu, tapi sesekali Anda dan Lisa menginap di rumah itu menemani Sofi seperti
malam ini, ketiganya sibuk membersihkan rumah karena besok Diori akan datang.
***
“Gue heran ya, sama lo
Sof, kok lebih milih tinggal di sini dari pada di rumah kak Tara.” Anda
mengoceh, mereka karena sudah lelah merapikan rumah itu.
“Diem lo kalau gak
ikhlas!” Lisa memotong.
“Uda gak, papa Lis, gue
tinggal disini karena ini rumah nyokap
gue, walau kecil sih, tapi nyaman. Memang rumah kak Tara gedek, gedek banget
malah, tapi kan itu rumah orang An, tetap aja ada sedikit rasa gak enak, walau tante,
om, sama kak Tara baik banget, mereka kayak keluarga gue tapi-” Sofi belum
sempat melanjutkan perkataanya karean sudah di potong Anda.
“Merekakan bakal jadi
keluarga lo, tepatnya jadi mertua dan suami lo.” Anda memotong ucapan Sofi
mendadak muka Sofi bersemu merah.
“Tapi kan An, Sofi
belum nikah sama kak Tara, gue tahu senyaman-nyamanya tinggal di rumah orang
lebih nyaman tinggal dirumah sendiri.” Lisa tersenyum lembut
“Itu maksud gue” potong
Sofi.
“Terserah kalian.” Anda
tersenyum lalu berteriak “Sofi calon suami lo dateng!”
Sofi dan Lisa mendekati
Anda yang sedang terperangah menatap ketampanan Aktara, laki-laki itu datang
membawakan dua bungkus plastik, yang isinya bisa di tebak adalah mertabak.
“Ini buat kalian.”
Aktara tersenyum lembut lalu memberikan bungkusan itu pada Sofi, tapi belum
sempat gadis itu menyambutnya Lisa sudah merebutnya “Makasih gue laper banget
tau aja kalau tuan rumah pelit.” bisik Lisa.
“Sial, lo Lis gorengan
tadi apa namanya, terus nasi goreng tadi juga kemana?” Sofi mendengus kesal, ia
sudah memberikan makan teman-temanya sebelum kerja bakti.
“Masuk yuk.” Aktara
memeluk pinggang Sofi erat, membuat dua sahabatnya melongoh menyaksikan kemesraan
merekah.
“Ih mentang-mentang ya
pacaran, enaknya mesra-mesraan, sahabat sendiri di kacangi.” Anda mendenguss
kesal, menbuat Lisa tertawa, begitu juga dengan Sofi dan Aktara.
Lisa membawa bungkusan
itu kedapur “Ini kok martabaknya banyak banget, kita kan cuma bertiga.” Lisa
menaruh masing-masing mertabak itu di piring, tadi Aktara membeli dua porsih
martabak coklat, dua porsih keju, dan empat porsih martabak telor.
“Siapa bilang buat
bertiga, itu buat berdelapan kok.” Aktara menjelaskan
“Delapan?” Sofi
menyergitkan dahinya binggung begitu juga Lisa dan Anda
“Iya, sayang ada-”
ucapan Aktara terpotong, saat tiba-tiba pintu terbuka.
“Hai, semuanya.” Ucap
Dafa, kemudian laki-laki itu masuk disusul Bram, Alif, dan Anis.
Mereka menghabiskan
waktu bersama menonton tivi, dan membantu Sofi menata kamar Diori, mereka juga
mengobrol banyak hal.
“Sayang sini deh.”
Aktara memanggil Sofi yang baru selesai menyiapakan selimut di tempat tidur
Diori, gadis itu melangkah mendekati Aktara, “Ada apa?”
“Aku pingin nanti kalau
kita nikah, kamu yang ngurusi semua kebutuhan aku, kayak kamu ngurusi kebutuhan
Didi,” Aktara lalu melingkarkan keduanya di pinggan Sofi, membuat gadis itu
bersemuh merah lalu tertawa. “Kenapa tertawa?”
“Aku, juga mau nikah
sama kamu, tapi kamu harus ingat, manusia itu cuma bisa berencana semuanya itu
terjadi harus dengan kehendak Tuhan, aku mau nanti misalnya, kita gak jadi
nikah-”
__ADS_1
“Kok ngomongya gitu,
kamu nolak nikah sama aku.” Aktara menatap heran pada kekasihnya, Sofi tertawa
melihat tingkah Aktara.
“Kak, Sofi sayang kakak
sampai kapanpu, Sofi ingin ngeliat kak bahagia dengan atau tanpa Sofi, Sofi
akan nikah sama kakak kalau tuhan mengizinkan, kita gak boleh maksain kehendak
kita jika tuhan gak berkehendak.” Sofi menjelaskan.
Aktara hanya diam, ia
tidak mau hal itu terjadi, ia sangat menciuntai Sofi dan akan menikahinya,
menghabiskan waktu bersama Sofi sepanjang hidupnya. “Sofi mau kok nikah sama
kak Tara, jadi jangan mikir yang macam-macam deh, tapi untuk sekarang Sofi lagi
mikirin papa sama kak Dio. Sofi sempat nanya sama diri Sofi sendiri kenapa
orang-orang yang ada di samping Sofi terkena musibah, mungkin Sofi terlalu
egois sama diri sendiri, makanya Sofi mutusin untuk pasra pada kehendak tuhan,
Sofi cuma mau bahagia kayak dulu.” gadis itu menerawang.
Aktara bisa melihat
pancaran sedih di wajah Sofi, laki-laki itu tiba-tiba mencium Sofi lembut tepat
di bibirnya, membuat Sofi tidak berdaya untuk menolak ciuman itu, lama keduanya
berciuman, sampai kehabisan napas.
“Aku cinta sama kamu
Sofiku, jangan pernah ninggalin aku.” Bisik Aktara memeluk Sofi, gadis itu
hanya bisa tersenyum lembut dalam pelukan Aktara dia tahu Aktara sangat
mencintainya begitu juga sebaliknya.
***
“Sofi, lo di dalem kan?!”
Anda berteriak, membuat Sofi melepaskan diri dari Aktara.
“Ada apa And?” Sofi
bertanya.
“Lo mau pesen minuman
gak, tuh kak Dafa mau neraktir nih,” lalu Anda berbisik di telingah Sofi.
“Ha? Beneran? Hahahaah” Sofi tertawa bersamaan dangan Anda. Baru saja
Anda berbisik padanya.
“Ada apa sih?” Aktara
mendekati kekasihnya lalu memeluknya dari belakang, ia tidak peduli dengan Anda
yang terlihat kesal, Aktara malah mencium puncak kepala Sofi.
“Kak Dafa jadian sama
Lisa.” Jelas Sofi. Aktara membulatkan matanya tidak percayah.
“Lo kok gak jadian sama
Alif atau Bram?” Aktara melontarkan pertanyaan pada Lisa membuat gadis itu
mendengus kesal, lalu meninggalkan mereka berdua.
***
“Sumpah pingin gue
ceket tuh kak Tara, enak aja nyuru jadian sama Alif, sama kak Bram, emang gue
cewek apaan?” gerutu Anda kesal.
“Lo cewek spesial kok,”
Anda menoleh pada sipemilik suarah, Alif berdiri sambil tersenyum lembut.
“Lo sejak kapan berdiri
di sini ha?” Anda terdengar cetus.
“Sejak tadi, lo aja
yang sibuk ngomel gak jelas.”
“Lo, gue beci sama lo.”
Anda menunjuk wajah Alif sebelum pergi menuju kamar Sofi, gadis itu kembali
berteriak saat melihat Bram baru keluar dari toilet di kamar Sofi “Lo ngapain
di sini?” Anda berteriak kesal.
“Toilet, di depan
sedang di pakai Alif tadi.” Bram menjelaskan, benar tadi ia ingin ke toilet,
berkali-kali ia mengetuk pintu tapi Alif meneriakinya, kalau ia sedang sakit
perut, karena merasa tidak tahan, ia bertanya pada Lisa dimana ada toilet lagi,
Lisa memberitahu kalau di kamar Sofi dan Diori ada toilet juga, awalnya Bram
ingin ke kamar Diori tapi saat mendengar suara Aktara dan Sofi mengobrol ia
mengurungkan niatnya, jadi ia pergi ke kamar Sofi.
“Kamu gak papa?” Bram
mendekat ingin memeriksa Anda yang terlihat ketakutan.
“Itu.” Anda menunjuk celana Bram lalu
melengos.
“Apa?” Bram melangkah
hingga tinggal dua langkah lagi ia bisa menyentuh Anda.
“Akhhhhh...!”Anda
berteriak lalu pergi keluar dari kamar itu, Bram menautkan alisnya bingung, Anda
bertingkah aneh har ini.
Aktara berjalan bersama
Sofi, saat Bram keluar dari kamarnya, Aktara langsung menutup mata Sofi, dengan
menempelkan kepala kekasihs\nya di dada Aktara, Sofi sempat terkejut dengan
tingkah Aktara yang tiba-tiba.
“Woi, tu sangkar bisa
di tutup gak sih?” Aktara menunjuk bagian celana Bram yang terbuka, Bram menunduk
mengikuti arah pandang Aktara, mendadak muka Bram memerah dengan cepat ia
menaikan resliting celana jinsnya. ‘Pantas
saja Anda tadi berteriak.’ bating Bram. Setelah kejadian itu Anda dan Bram hanya
diam, mereka tampak seperti cangung.
***
Di tempat lain seorang
wanita mengawasi rumah itu dari kejauhan ia bisa mendengar canda tawa di sana,
‘Mengapa Sofi terus mendapatkan semuanya,
teman, sahabat, keluarga yang menyayanginya, dan sekarang Aktara juga sangat
menyayanginya. Aku membencimu Sofi sampai kapanpun aku tiddak akan mebiarkanmu
bahagia!’
__ADS_1