
“Tara ini formulir anggota baru kita.” Dafa memberikan setumpuk kertas pada laki-laki itu.
“Terimakasih Dafa.” Tara membuka tiap lembar formulir itu lalu menyalin di laptopnya.“Lumayan banyak rupanya.” gumam laki-laki itu tentu saja banyak semua berkat aura yang di pancarkanya dan kebanyak angota baru itu adalah mahasiswa perempuan mereka mengambil kesempatan untuk dekat dengan Aktara.
***
Sofi berjalan pelan menuju salah satu pintu yang tidak jauh dari lapangan itu, “Permisi kak, maaf telat, apa boleh saya mengumpulkan formulirnya?” Sofi bertanya pada salah satu panitia di ruangan itu.
“Boleh-boleh dengan senang hati,” jawab Anis semangat ia sangat senang mendapat angota baru pada club yang di pengangnya.
“Ini jadwal perkumpulan kita, biasanya kita akan berlatih setiap hari jum’at sekitar jam empat, kami sudah menyesuaikan dengan jadwal kulia kalian siswa baru.” Anis menjelaskan, tidak lupa ia juga memberi tahu Sofi untuk memakai celana training dan baju kaos nanti, karena seragamnya sedang di buat kemungkinan akan selesai bulan depan.
“Terimakasih kak.” Sofi pamit meninggalkan ruangan itu.
****
“Anda tunggu!” Sofi berteriak saat melihat gadis itu baru saja keluar dari ruangan club sastra.
“Hai Sof, kamu sudah pilih masuk club mana?” Anda bertanya sambil tersenyum.
“Karate An.” Sofi tidak ada pilihan lain, semalam ia berdebat dengan pikiranya, hatinya memilih club lukis tapi Diora menolak keras, ia tidak bisa menyanyi, menari atau membaca puisi, ia juga tidak terlalu suka oleh raga, tapi saat melihat Diori membuka pintu kamarnya, untuk membujuknya masuk club sastra karena ia adalah ketuanya sekarang. Sofi berniat akan membalas dendam kakaknya, ia akan belajar karate agar bisa menghajar Diori yang suka seenaknya, itulah alasanya ia masuk club itu.
“Apa! Kamu masuk club karate?” Suarah itu terdengar kencang dari balik pintu, hanya dalam hitungan detik pintu itu terbuka lebar. Diori tidak menyangkah adiknya akan masuk club itu, ia tahu kalau Sofi buka tipe yang suka dengan keringat. Sofi mengangguk cepat
“Tidak-tidak, kamu akan terluka nanti, ayo ikut kakak!” Diori menarik adiknya, tanpa mempedulikan Anda yang tampak tercengang dengan kejadian itu.
***
__ADS_1
“Nis sorry gue dateng mau batalin Sofi jadi anggota club lo.” Diori membuka suarahnya sambil memegangi tangan adiknya.
“Kakak apa-apan sih.” Sofi sangat kesal dengan Diori, sekarang ia benar-benar akan belajar menghajar kakaknya itu, andai saja ia bisa berkelahi.
“Sofi dengerin kakak, itu olah raga keras, kamu bisa terluka, kakak gak mau kamu cidera nanti.” Diori menjelaskan dengan lembut.
“Sorry Dio, gue bukan bermaksud ikut campur urusan keluarga lo, tapi tadi Sofi sendiri yang dateng kesini, gue bisa batalin kalau Sofi setuju, sebab ini keputusannya bukan keputusan lo. Dan untuk masalah cedera, kita tahu kampus ini menyediakan fasilitas yang lebih dari cukup untuk pengobatanya, kita juga memiliki dokter khus di kampus yang bisa menangani masalah itu.” Anis menjelaskan.
“Maaf kak, tapi aku ingin masuk club ini, aku uda nurutin keinginan kakak untuk gak gabung dengan club lukis.” Sofi menatap kakaknya.
“Tapi gak dengan club karate juga, Sofi.” Diori prustasi, ia merasa bersalah melarang adiknya tadi malam, ia berpikir Sofi akan masuk club sastranya tapi ternyata ia salah.
“Kak aku ingin belajar belah diri untuk menjaga diriku, sampai kapan aku akan tergantung pada kakak, ada masanya kakak akan pergi meninggalkanku, dan di saat itu aku akan sendirian, menjaga diriku tanpa bantuan kakak. Walau aku tahu kakak akan berusaha terus menjagaku karena kita saudara. Kakak juga gak dua puluh empat jam di samping aku. Kak aku mohon kali ini aja, nanti kalau aku gak sangup aku akan bilang.” Sofi menjelaskan. Diori terdiam mendengar semua alasan Sofi sungguh ia tidak pernah berpikir akan meninggalkan Sofi nantinya, sekalipun ia berkeluarga nantinya ia akan menjaga adiknya ini setiap saat.
Diori tidak bisa berkata apapun lagi sekarang dengan terpaksa ia menuruti kemauan
adiknya, tapi ia akan tetap mengawasi Sofi kapanpun.
”Lagi pula club karatekan di mulai setelah club tekwondo, lo bisa ngawasi Sofi habis itu setelah lo latihan.” Anis mengusulkan.
Diori dengan cepat mengangguk, Anis benar ia bisa mengawasi adiknya setelah latihan dengan begitu ia bisa memantau Sofi, lagi pula club itu juga memakai ruangan yang sama, jadi Diori tidak perlu berlari mencari adiknya, ia cukup duduk manis menunggu adiknya datang dan memulai latihan karate.
“Baikla.” Diori menjawab sambil mengangguk tanda setuju. Tapi ia lupa satu hal Aktara juga ada di club itu.
***
__ADS_1
Jalanan cukup ramai sore ini, ia sudah berusaha menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat, terlebih tadi setelah ia mendapat telpon dari anak laki-lakinya. Diori menjelaskan jika Sofi memasuku club karate, sebenarnya Median tidak marah dan keberatan atas keputusan Sofi, ia percaya anaknya itu telah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri.
Median memacu kendaranya dengan kecepatan sedang lalu berhenti pada sebuat toko bungah, ia akan membeli bunga lili, itu adalah bunga kesukaan wanita yang ia cintai, setelah itu ia kembali melajukan mobilnya menuju sebuah tempat pemakaman umum.
Median berdiri tepat di depan makam istrinya, lalau meletakan bunga yang ia beli tadi.
“Apa kabar?” ia membuka suarahnya, sudah hampir sebulan ia tidak mengunjungi istrinya, biasanya ia akan datang setiap minggu. Tapi kali ini tidak, pekerjaan kantor memaksanya untuk tidak datang.
“Mereka sudah besar sekarang, Sofi telah menjadi mahasiswa dan Diori masih seperti dulu.” Media tertawa mengingat bahwa anak laki-lakinya itu selalu protektif terhadap adiknya. “Tolong bantu aku mengawasi dan menjaga mereka.” Median selalu mengatakan itu. Awal kepergian istrinya, ia ingin menyerah pada kehidupan, ia merasa tidak sanggup
untuk membesarkan kedua anaknya tanpa sang istri.
Tapi sahabatnya mengingatkan dirinya bahwa Tuhan tidak akan menguji hambahnya yang lemah, Median sadar ia tidak bisa menolak kehendak Tuhan.
Ia sangat merindukan istrinya, andai saja istrinya masih hidup mereka pasti sangat
bahagia sekarang. Tapi tuhan berkata lain, istrinya harus kembali ke sisis-Nya lebih cepat dari pada Median karena penyakit yang ia derita. Meski berbagai macam pengobatan telah mereka upayakan. Kanker kelenjar getah bening berhasil membawa istrinya pergi meninggalkan dirinya dan anak-anak mereka.
“Aku mencintai mu.” kalimat terakhir median sebelum meninggalkan istrinya.
***
Seorang laki-laki sedang sibuk memainkan ponselnya, ia melihat beberapa poto disana, lalu ia tersenyum saat melihat poto dirinya bersama Sofi yang diambil beberapa waktu lalu. Matanya tidak henti menatap poto itu, beberapa kali jarinya menyentu layar ponselnya seakan sedang berusaha untuk menyentuh Sofi tapi gagal.
“Apa yang harus aku lakukan?” Aktara bertanya pada dirinya sendiri, ia hanya bisa memejamkan matanya tiba-tiba rasa sakit di dalam dadanya muncul begitu saja.
Sudah beberapa kali ia mencobah berbaikan dengan Diori tapi selalu gagal, andai ia bisa mengulang waktu ia tidak akan membuat Diori membencinya, tidak akan pernah.
__ADS_1
“Maafkan kau.” Aktara berucap sambil memejamkan matanya, berharap ini semua cepat berakhir.