
Sofi
duduk sendiri di pinggir danau, kampus
itu memiliki danau buatan di tengahnya dan beberapa pondok kayu untuk mahasiswanya
agar bisa bersantai sambil belajar. Sofi mengirimkan pesan singkat pada Diori
mengatakan bahwa ia menunggunya di tepi danau.
Beberapa
kali Sofi menoleh ke samping, melihat tanda-tanda kedatangan Diori tapi nihil,
karena merasa suntuk Sofi memasang hadset mencobah mendengarkan lagu dari ponselnya,
mulutnya tampak komat kamit mengikuti lirik lagu itu, walau terdengar fals,
Sofi mulai melepas kacamatanya, ia memijit pangkal hidungnya yang terasa lelah
menopang kacamata hias itu, Sofi sangat kepanasan sekarang ia juga memulung
rambutnya ke atas memperlihatkan leher jenjangnya, sambil mengipas-ngipaskan
tanganya, berharap tubuhnya jadi sedikit dingin.
****
“Lo liat apa?” suara Dafa
mengejutkan Aktara, laki-laki itu segera menoleh mengangkap sosok Dafa yang
tersenyum penuh arti sambil menatap subjek yang tadi di perhatikan Aktara.
“Gak Ada.” jawab Aktara
cepat, Aktara segerah menutup sketsanya tapi sayang Dafa sudah melihat apa yang
di lukis Aktara walau sekilas.
“Cih, lo lukis cewek itu.”
Dafa menunjuk seorang gadis yang duduk di pinggir danau, “Kalau gak salah itu
kan Sofi?”
Dafa memperhatikan gadis
itu dari balik ruang lusis mereka, karena ruangan itu terdapat banyak jendela
kaca. Aktara tidak memperdulikan ucapan Dafa ia lebih memilih untuk pergi dari
ruangan itu, sungguh berada di dekat Dafa terlalu lama harus menguji kesabaran
Aktara karena laki-laki itu mempunyai mulut yang sama seperti perempuan dalam
hal tertentu, terumata menyangkut urusan perempuan.
****
“Sofi kan?” Jesy mendekati gadis itu,
jujur Jesy agak pangling melihat wajar Sofi tanpa kaca mata dan rambutnya di
ikat sembarang ke atas membuat gadis itu terlihat cantik dan segar tentunya,
walau wajahnya berkeringat karena kepanasan.
“Hai kak Jesy.” sapa Sofi kemudian segera
memakai kata mata hiasnya, Jesy segera duduk di sampingnya sambil tersenyum
lembut.
“Nungguin Dio ya?” tanya Jesy, Sofi
mengangguk kuat menjawabnya.
“Kakak?” Tanya Sofi.
“Sama.” jawab Jesy sambil tersenyum.
“Tu kan, kakak suka sama kak Dio kan?”
Sofi mengodanya, membuat muka Jesy bersemu merah, Sofi terkekeh melihatnya “Kak
kok suka sama kak Dio sih? Aku aja gak suka tau!” cerocos Sofi, Jesy hanya bisa
terkekeh mendengarnya.
“Habis kakak kamu ganteng sih, terus
sayang banget sama kamu, aku juga mau di sayang kaya gitu.” Jesy mengaku tanpa
__ADS_1
di tutupi, Sofi tertawa terbahak mendengarnya.
“Kakak tuh belum tau kak
Dio itu kayak apa.” Gumam Sofi sambil tersenyum.
“Memangnya Dio kenapa?”
Jesy menyelidik.
“Penasaran ya?” Sofi mengodanya lagi.
Entah mengapa mereka mudah sekali akrab,
Jesy merasa kalau sosok Sofi sangat menyenangkan begitu juga sebaliknya, Sofi
seperti menemukan saudara baru baginya, tentu saja Sofi ingin sekali mempunyai
saudara perempuan, ia ingin berbagi cerita tentang lelaki, mengunakan pakaian
yang sama atau berebut make up, shopping bersama walau Sofi tidak
terlalu menyukainya atau sebagainya, sungguh Sofi ingin melakukan itu semua bila nanti Diori mempunyai istri, ia
ingin melakukan itu semua.
Jesy menangkap sosok laki-laki yang
tadi di carinya, “Tara!” Jesy berteriak saat melihat laki-laki itu baru saja keluar
dari ruang club lukisnya, Aktara
menoleh sesaat, ia bisa melihat Sofi juga ada di sana, sebenarnya Aktara engan
melangkah ke sana takut Diori datang dan marah padanya.
“Ada apa?!” teriak Tara dari jarak lima
meter, Jesy mulai jengkel mengapa Tara tidak mendekat, sebenarnya ia ingin
mengumpulkan tugas kulianya pada laki-laki itu,
“Sofi tunggu sebentar.” Jesy kemudian
berjalan mendekati Aktara, Sofi kembali membuka kacamatanya, ia juga kembali memutar
lagu di ponsel itu, gadis itu memejamkan matanya menikmati alunan lagu di ponselnya.
Aktara terus memperhatikan tingkah
gadis itu dari tempatnya berdiri, gadis yang membuatnya terus merasa bersalah,
itu hanya mengangguk sesaat, “Mau gabung?”
Belum sempat Aktara menjawab Jesy sudah
menariknya paksa, menyeretnya berada tepat di hadapan Sofy sekarang membuat Aktara
mati-matian menyembunyikan senyumnya, Sofi bergumam tidak jelas, matanya masih
tertutup ia tidak menyadari Jesy dan Aktara sudah di hadapanya.
Jesy beberapa kali melambaikan tanganya
di wajah Sofi, membuat buat gadis itu membuka matanya, Sofi sempat terdiam
beberapa detik melihat wajah Aktara tepat sedang menatapnya sambil tersenyum
kecil.
Dengan cepat Sofi meraih kacamatanya,
lalu melepas headset-nya, ia benar-benar gugup sekarang, Sofi juga melepas
sangulan rambutnya membuat rambut itu terurai menutupi leher jenjangnya,
“Kenapa di gerai?” Suarah Jesy membuat
Sofi tersenyum kaku, memperlihatkan kawat giginya. Aktara menatap binggung dengan tingkah Sofi,
gadis itu gugup dan sepertinya sedang menutupi kecantikanya?
“Gak apa-apa kak.” Jawab Sofi gugup,
Jesy segera duduk di samping Sofi sedangkan Aktara memilih duduk di samping Jesy.
“Mata kamu minus ya?” tanya Jesy.
“Gak kak.”
“Kenapa pakai kaca mata?”
“Karena kalau aku gak pakai kacamata,
kak Jesy bakal kesaing sama aku.” Sofi menjelaskan membuat Jesy dan dan Aktara
tertawa mendengarnya.
’Walau pakai kaca mata
__ADS_1
kamu tetap lebih cantik dari Jesy.’ batin Aktara.
Sofi terdiam ia menoleh melihat Aktara
yang tertawa lepas, membuat laki-laki itu semakin terlihat tampan. Seketika
jantung Sofi berdetak cepat, Sofi cepat-cepat memalingkan wajahnya menatap
danau, Aktara yang menyadarinya langsung diam.
“Kamu lucu banget.” ucap Jesy sambil
tertawa, tiba-tiba ponsel Jesy berbunyi, “Anis, sebentar ya.” Jesy pergi
meninggalkan dua orang itu berjalan ke bagian sisi lain danau.
Sofi masih diam, pandanganya masih
lurus kedepan. Sesekali Aktara menoleh melihat Sofi yang diam lalu berkata
“Kamu
gak nyaman ya kalau aku disini?” suarah Aktara terdengar lembut.
Sofi dengan cepat menoleh “Gak kok kak,
aku nyaman-nyaman aja, inikan tempat umum.” jawab Sofi sambil tersenyum, Aktara
mengangguk lemah.
Aktara memalingkan pandangnya melihat
sekeliling, ia menemukan Diori di bagian ujung gedung sedang berjalan menujuh
arah mereka “Itu kakak mu, aku permisi dulu.” Aktara kemudian beranjak hendak
meninggalkan Sofi.
“Kak!” langkah Aktara terhenti saat
mendengar suarah lembut Sofi memanggilnya, ia segerah menoleh, “Makasih ya,
waktu osfek sudah bantuin aku, maaf waktu itu kak Dio yang balikin ponselnya.”
Aktara tersenyum lembut, senyum yang
membuat Sofi seperti terbang tinggi “Sama-sama, tapi sepertinya kakakmu tidak
akan suka kalau aku memeni kamu disini, aku pergi dulu” ucap Aktara kemudian
meningalkan Sofi.
****
Diori menyipitkan matanya, ia jelas
jelas melihat Aktara duduk dengan adiknya Sofi, “Loh, Tara mana?” suara Jesy
mengagetkan Diori, entah dari mana gadis itu tiba-tiba datang bersamaan dengan
Diori.
“Pergi kak.” jawab Sofi.
“Dasar tu anak main tinggal aja, aku
kan belum selesai ngomong sama dia.” cerocos Jesy.
“Sofi ayo pulang dek.” Diori menarik adiknya
tampa memperdulikan ocehan Jesy pada Aktar.
***
Diori mengendarai mobilnya dengan kecepatan
sedang “Mau jelasin ke kakak kenapa Tara di di sana ngobrol sama kamu?”
“Tadi kak Jesy yang ngajak kak Tara ke
sana, terus kak Jesy nerima telpon dari kak Anis, aku sama kak Tara cuma
duduk nunggu kakak sama kak Jesy.” Sofi kali ini berkata jujur.
“Dek, kakak mohon dengan sangat, jangan
deket sama Tara ya.” Dio memohon, Sofi hanya mengangguk lemah, dalam hatinya ia
masih heran mengapa Diori menganggap Aktara seakan laki-laki itu sangat
berbahaya, padahal Aktara sangat baik baginya.
__ADS_1