Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 7


__ADS_3

Sofi


duduk sendiri di pinggir danau,  kampus


itu memiliki danau buatan di tengahnya dan beberapa pondok kayu untuk mahasiswanya


agar bisa bersantai sambil belajar. Sofi mengirimkan pesan singkat pada Diori


mengatakan bahwa ia menunggunya di tepi danau.


Beberapa


kali Sofi menoleh ke samping, melihat tanda-tanda kedatangan Diori tapi nihil,


karena merasa suntuk Sofi memasang hadset mencobah mendengarkan lagu dari ponselnya,


mulutnya tampak komat kamit mengikuti lirik lagu itu, walau terdengar fals,


Sofi mulai melepas kacamatanya, ia memijit pangkal hidungnya yang terasa lelah


menopang kacamata hias itu, Sofi sangat kepanasan sekarang ia juga memulung


rambutnya ke atas memperlihatkan leher jenjangnya, sambil mengipas-ngipaskan


tanganya, berharap tubuhnya jadi sedikit dingin.


****


 


“Lo liat apa?” suara Dafa


mengejutkan Aktara, laki-laki itu segera menoleh mengangkap sosok Dafa yang


tersenyum penuh arti sambil menatap subjek yang tadi di perhatikan Aktara.


“Gak Ada.” jawab Aktara


cepat, Aktara segerah menutup sketsanya tapi sayang Dafa sudah melihat apa yang


di lukis Aktara walau sekilas.


“Cih, lo lukis cewek itu.”


Dafa menunjuk seorang gadis yang duduk di pinggir danau, “Kalau gak salah itu


kan Sofi?”


Dafa memperhatikan gadis


itu dari balik ruang lusis mereka, karena ruangan itu terdapat banyak jendela


kaca. Aktara tidak memperdulikan ucapan Dafa ia lebih memilih untuk pergi dari


ruangan itu, sungguh berada di dekat Dafa terlalu lama harus menguji kesabaran


Aktara karena laki-laki itu mempunyai mulut yang sama seperti perempuan dalam


hal tertentu, terumata menyangkut urusan perempuan.


 


****


 


“Sofi kan?” Jesy mendekati gadis itu,


jujur Jesy agak pangling melihat wajar Sofi tanpa kaca mata dan rambutnya di


ikat sembarang ke atas membuat gadis itu terlihat cantik dan segar tentunya,


walau wajahnya berkeringat karena kepanasan.


“Hai kak Jesy.” sapa Sofi kemudian segera


memakai kata mata hiasnya, Jesy segera duduk di sampingnya sambil tersenyum


lembut.


“Nungguin Dio ya?” tanya Jesy, Sofi


mengangguk kuat menjawabnya.


“Kakak?” Tanya Sofi.


“Sama.” jawab Jesy sambil tersenyum.


“Tu kan, kakak suka sama kak Dio kan?”


Sofi mengodanya, membuat muka Jesy bersemu merah, Sofi terkekeh melihatnya “Kak


kok suka sama kak Dio sih? Aku aja gak suka tau!” cerocos Sofi, Jesy hanya bisa


terkekeh mendengarnya.


“Habis kakak kamu ganteng sih, terus


sayang banget sama kamu, aku juga mau di sayang kaya gitu.” Jesy mengaku tanpa

__ADS_1


di tutupi, Sofi tertawa terbahak mendengarnya.


“Kakak tuh belum tau kak


Dio itu kayak apa.” Gumam Sofi sambil tersenyum.


“Memangnya Dio kenapa?”


Jesy menyelidik.


“Penasaran ya?” Sofi mengodanya lagi.


Entah mengapa mereka mudah sekali akrab,


Jesy merasa kalau sosok Sofi sangat menyenangkan begitu juga sebaliknya, Sofi


seperti menemukan saudara baru baginya, tentu saja Sofi ingin sekali mempunyai


saudara perempuan, ia ingin berbagi cerita tentang lelaki, mengunakan pakaian


yang sama atau berebut make up, shopping bersama walau Sofi tidak


terlalu menyukainya atau sebagainya, sungguh Sofi ingin melakukan itu  semua bila nanti Diori mempunyai istri, ia


ingin melakukan itu semua.


Jesy menangkap sosok laki-laki yang


tadi di carinya, “Tara!” Jesy berteriak saat melihat laki-laki itu baru saja keluar


dari ruang club lukisnya, Aktara


menoleh sesaat, ia bisa melihat Sofi juga ada di sana, sebenarnya Aktara engan


melangkah ke sana takut Diori datang dan marah padanya.


“Ada apa?!” teriak Tara dari jarak lima


meter, Jesy mulai jengkel mengapa Tara tidak mendekat, sebenarnya ia ingin


mengumpulkan tugas kulianya pada laki-laki itu,


“Sofi tunggu sebentar.” Jesy kemudian


berjalan mendekati Aktara, Sofi kembali membuka kacamatanya, ia juga kembali memutar


lagu di ponsel itu, gadis itu memejamkan matanya menikmati alunan lagu di ponselnya.


Aktara terus memperhatikan tingkah


gadis itu dari tempatnya berdiri, gadis yang membuatnya terus merasa bersalah,


itu hanya mengangguk sesaat, “Mau gabung?”


Belum sempat Aktara menjawab Jesy sudah


menariknya paksa, menyeretnya berada tepat di hadapan Sofy sekarang membuat Aktara


mati-matian menyembunyikan senyumnya, Sofi bergumam tidak jelas, matanya masih


tertutup ia tidak menyadari Jesy dan Aktara sudah di hadapanya.


Jesy beberapa kali melambaikan tanganya


di wajah Sofi, membuat buat gadis itu membuka matanya, Sofi sempat terdiam


beberapa detik melihat wajah Aktara tepat sedang menatapnya sambil tersenyum


kecil.


Dengan cepat Sofi meraih kacamatanya,


lalu melepas headset-nya, ia benar-benar gugup sekarang, Sofi juga melepas


sangulan rambutnya membuat rambut itu  terurai menutupi leher jenjangnya,


“Kenapa di gerai?” Suarah Jesy membuat


Sofi tersenyum kaku, memperlihatkan kawat giginya.  Aktara menatap binggung dengan tingkah Sofi,


gadis itu gugup dan sepertinya sedang menutupi kecantikanya?


“Gak apa-apa kak.” Jawab Sofi gugup,


Jesy segera duduk di samping Sofi sedangkan Aktara memilih duduk di samping Jesy.


“Mata kamu minus ya?”  tanya Jesy.


“Gak kak.”


“Kenapa pakai kaca mata?”


“Karena kalau aku gak pakai kacamata,


kak Jesy bakal kesaing sama aku.” Sofi menjelaskan membuat Jesy dan dan Aktara


tertawa mendengarnya.


’Walau pakai kaca mata

__ADS_1


kamu tetap lebih cantik dari Jesy.’ batin Aktara.


Sofi terdiam ia menoleh melihat Aktara


yang tertawa lepas, membuat laki-laki itu semakin terlihat tampan. Seketika


jantung Sofi berdetak cepat, Sofi cepat-cepat memalingkan wajahnya menatap


danau, Aktara yang menyadarinya langsung diam.


“Kamu lucu banget.” ucap Jesy sambil


tertawa, tiba-tiba ponsel Jesy berbunyi, “Anis, sebentar ya.” Jesy pergi


meninggalkan dua orang itu berjalan ke bagian sisi lain danau.


Sofi masih diam, pandanganya masih


lurus kedepan. Sesekali Aktara menoleh melihat Sofi yang diam lalu berkata


“Kamu


gak nyaman ya kalau aku disini?” suarah Aktara terdengar lembut.


Sofi dengan cepat menoleh “Gak kok kak,


aku nyaman-nyaman aja, inikan tempat umum.” jawab Sofi sambil tersenyum, Aktara


mengangguk lemah.


Aktara memalingkan pandangnya melihat


sekeliling, ia menemukan Diori di bagian ujung gedung sedang berjalan menujuh


arah mereka “Itu kakak mu, aku permisi dulu.” Aktara kemudian beranjak hendak


meninggalkan Sofi.


“Kak!” langkah Aktara terhenti saat


mendengar suarah lembut Sofi memanggilnya, ia segerah menoleh, “Makasih ya,


waktu osfek sudah bantuin aku, maaf waktu itu kak Dio yang balikin ponselnya.”


Aktara tersenyum lembut, senyum yang


membuat Sofi seperti terbang tinggi “Sama-sama, tapi sepertinya kakakmu tidak


akan suka kalau aku memeni kamu disini, aku pergi dulu” ucap Aktara kemudian


meningalkan Sofi.


****


 


Diori menyipitkan matanya, ia jelas


jelas melihat Aktara duduk dengan adiknya Sofi, “Loh, Tara mana?” suara Jesy


mengagetkan Diori, entah dari mana gadis itu tiba-tiba datang bersamaan dengan


Diori.


“Pergi kak.” jawab Sofi.


“Dasar tu anak main tinggal aja, aku


kan belum selesai ngomong sama dia.” cerocos Jesy.


 “Sofi ayo pulang dek.” Diori menarik adiknya


tampa memperdulikan ocehan Jesy pada Aktar.


 


***


 


Diori mengendarai mobilnya dengan kecepatan


sedang “Mau jelasin ke kakak kenapa Tara di di sana ngobrol sama kamu?”


“Tadi kak Jesy yang ngajak kak Tara ke


sana, terus  kak Jesy nerima  telpon dari kak Anis, aku sama kak Tara cuma


duduk nunggu kakak sama kak Jesy.” Sofi kali ini berkata jujur.



“Dek, kakak mohon dengan sangat, jangan


deket sama Tara ya.” Dio memohon, Sofi hanya mengangguk lemah, dalam hatinya ia


masih heran mengapa Diori menganggap Aktara seakan laki-laki itu sangat


berbahaya, padahal Aktara sangat baik baginya.

__ADS_1


__ADS_2