
Sofi baru saja pulang
dari kampus sudah seharian ia tidak melihat Aktara, ponselnya juga tidak bisa
di hubungi, beberapa kali Sofi menanyakan kepada Dafa dan Bram mereka juga
tidak mengetahui keberadaan Aktara.
Tidak mati akal Sofi
menelpon ke rumah Aktara dan diangkat, bi Ina mengatakan kalau dari semalam
Aktara tidak mau keluar kamar sejak pulang jam tiga pagi tadi malam, Sofi
sempat mengeringitkan keningnya mendengar Aktar pulang jam tiga pagi sebelumnya
laki-laki itu tidak pernah pulang selarut itu.
Sofi mengetuk pintuh
rumah Aktara, hari ini ia berencana pergi dengan kekasihnya karena kemarin
Aktara berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke pantai, tidak lama bi Ina
membukakan pintu.
“Non Sofi, bi Ina kangen.”
wanita paru baya itu memeluk Sofi erat, Sofi juga membalas pelukan itu.
“Sofi juga kangen bi,
kak Tara masih belum bangun?” Bi Ina mengangguk senyumnya mendadak hilang,
menginggat tadi malam Aktara pulang dalam keadaan kacau.
Setelah bi Ina
menjelaskan semuanya, Sofi melangkahkan kakinya menuju kamar Aktara, pintu itu
tidak di kunci Sofi memasuki kamar yang bernuansa biru, terdapat seorang
laki-laki tertidur tanpa mengenakan baju, memamerkan tubuh atletisnya.
“Kak, kak Tara.” Sofi
mencoba membangunkan, tapi tidak ada respon Sofi menempelkan telapak tanganya
ke dahi Aktara dan agak panas, baru Saja Sofi hendak memenarik tanganya, Aktara
segera memegangi tangan itu lalu mencium telapak tangan Sofi, “Kakak demam,
biar Sofi ambil air dulu untuk kompres kak.”
Aktara mengeleng
laki-laki itu mencoba bangun dari tempat tidurnya dengan cepat Sofi
membantunya, Aktara duduk sambil memeluk Sofi seakan tidak ingin terlepas lagi,
Sofi bahkan bisa merasakan panas tubuh laki-laki itu
“Kak gak papa kan?” Bisik
Sofi pelan.
“Aku mencintaimu
sayang, aku sangat mencintaimu.” jawab Aktara, membuat Sofi terkekeh.
“Aku juga cinta sama
kakak.”
“Sayang, mau janji satu
hal sama aku?” Aktara berbisik masih dengan memeluk Sofi erat, Sofi mengangguk
“Jangan pernah percayah omongan orang lain ya, kamu harus percaya sama aku dan
Didi, karena kami gak akan pernah membohongi kamu.” bisik Aktara.
“Aku selalu percaya
kakak sama kak Dio, tapi kenapa tiba-tiba kakak ngomong gini?”
Aktara melepas
pelukanya, lalu mencium lembut bibir Sofi, gadis itu tidak bisa bertanya lagi
sekarang bibirnya sibuk membalas lumatan bibir Aktara.
***
Sofi membuka pintuh
rumahnya, saat ada orang mengetuknya, tapi ai tidak menemukan siapa-siapa
__ADS_1
selain sebuah amplok berwarna coklat.
“Siapa Dek?” Diori
bertanya dari dapur ia masih duduk di kursih rodanya.
“Gak tau kak, gak ada
siapa-siapa.” Sofi kemudian berjalan sambil membuka amplok itu, ia bisa melihat
dengan jelas beberapa lembar poto yang ada di dalamnya dan ia tahu betul siapa
yang ada di sama Aktara dan Melisa mereka sedang tertidur, dengan posisi Melisa
menindih tubuh Aktara yang terlentang, di poto berikutnya, Melisa juga menciumi
tubuh Aktara.
Sofi hanya diam matanya
terasa panas melihat itu semua, hatinya juga terasa sakit, Diori menarik lembar
amplok di tangan adiknya, seketika Diori mengangaH melihat poto-poto itu.
“Dek, kamu harus tenang
ini pasti gak bener” Diori bergumam, Sofi tidak menghiraukan apa yang di
ucapkan Diori, yang ia inginkan hanya sendiri menangis untuk meluaPkan
kekecewaanya.
Sofi kembali ingat apa
yang Aktara ucpkan kemarin saat ia menemuinya ‘Jangan perna percayah omongan orang lain ya, kamu harus percaya sama
aku dan Didi, karena kami gak akan pernah membohongi kamu.’
“Kenapa
kak Tara tega ngelakuin ini, Sofi sayang kakak.” Sofi terisak, ia tidak bisa
berpikir sekarang tiba-tiba pandanganya kabur dan semua gelap.
***
Diori duduk di atas
kursih rodanya, ia terus memegangi tangan Sofi, “Dek, bangun sayang, itu semua
bohong kamu jangan percaya dek, kadang apa yang kita lihat gak selalu bener.”
“Dio, kamu istirahat
dulu ya, biar aku yang jagain Sofi,” ucap Jesy, Jesy sengaja datang saat Diori
menelponya. Betapa terkejutnya Jesy saat tahu Sofi pingsang di kamarnya, tadi
mereka suda mememangil dokter dan dokter mengatakan Sofi hanya syok.
Diori mengeleng pada
Jesy “Aku bukan kakak yang baik Jes, seharusnya dari awal aku tidak mengenalkan
Melisa pada Sofi.” Sesal Diori.
Lima tahun lalu saat,
Diori masih berpacaran dengan Melisa, gadis itu sangat baik pada keluarganya,
terutama Sofi, mereka juga bercerita banyak hal, bahkan Melisa sering mengajak
Sofi untuk jalan bersamanya, Diori bisa melihat kalau Melisa saat itu
benar-benar tulus pada Sofi mereka seperti saudara, tapi lama-kelamaan Diori
melihat Melisa sering iri pada Sofi.
Melisa bahkan tidak
segan-segan berteriak pada Sofi saat ia kesal pada Diori dan setiap Diori
bertengkar dengan Melisa gadis itu selalu menyebut Sofi sebagai penyebabnya. Hal
itu menjadi salah satu alasan Diori memutuskan hubungan dengan Melisa, selain
gadis itu juga menduakanya, bahkan dengan sahabatnya sendiri Aktara.
***
“Di, Sofi gimana?” Aktara
tiba-tiba masuk ke kamar itu, terpancar jelas wajah khawatir di sana. Diori
menatap Jesy, karena Diori tidak menghubungi Aktara, Jesy berbisik ‘Sorry.’ membuat Diori membuang napas
__ADS_1
panjang.
“Sofi hanya syok,”
Diori menatap Sofi sejenak “Ta ada yang harus kita omongi.” Diori mengajak
Aktara untuk mengikutinya ke kamarnya, sedangkan Jesy menjaga Sofi.
Diori melempar lembaran
poto yang di terima Sofi tadi pagi “Jelaskan!” Suarah Diori terdengar datar,
Aktara menatap poto-poto itu, ini hal yang ia takutkan.
“Dia jebak gue Di.”
Diori menaikan alisnya seolah bertanya terus?
“Melisa tiba-tiba datang
ke kafe saat aku rapat dengan klien, dan ternyata Melisa merupakan salah satu
klien yang bekerja sama dengan perusahaan Papa, awalnya semua baik-baik saja,
tidak ada yang mencurigakan, tapi tiba-tiba kepala ku pusing dan aku tidak
ingat apapun, saat aku sadar aku sudah ada di kamar hotel dan Melisa tidur di
sampingku, aku gak yakin aku sudah berhubungan denganya.” Aktara menuduk sambil
mengusap mukanya kasar.
“Dan saat gue bangun,
Melisa berpura-pura menangis dan ngomong kalau gue perkosa dia, gue nantangin
dia buat melakukan visum di rumah sakit, tapi dia menolak,” Aktara menerawang. “Maafin
aku Di, sumpah aku gak ada maksud buat ngehianati Sofi, aku cinta sama adik
kamu Di!” Aktara tampak menyesal.
Diori juga merasa ibah
pada sahabatnya, “Aku percaya kamu, tapi Sofi belum tentu percaya Ta, kita tahu
Melisa seperti apa.” bisik Diori, laki-laki itu sangat mengenal Aktara dengan
baik, Aktara bukan tipe laki-laki yang suka mempermaikan seorang wanita terutama
Sofi, gadis kecil yang dari dulu sangat di cintai Aktara.
***
Melisa melangkah
memasuki kantor Abraham ia juga membawa amplok berisi poto-poto saat ia tudur
dengan Aktara, Abraham marah besar, ia menampar Melisa, membuat salah satu
sudut bibir Melisa berdarah, “Ada akan menyesal pak Abraham yang terhormat,
saya akan minta Papa memutuskan kerja sama dengan perusahaan anda, dan saya
pastikan perusahaan ada akan bangkut!” ancam Melisa.
“Saya tidak takut,
lakukan, apapun yang kamu inginkan, pelacur!” teriak Abraham.
Abraham sangat membenci
Melisa, Abraham juga sudah menyelidiki latar belakang keluarga Melisa, ayah
gadis itu sangat gila, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia
inginkan, termasuk tindakan melanggar hukum dan agama, Abraham sedang mencari
cara untuk membuktikan semua kejahatan itu.
Rencana hanya tinggal
rencana, karena Abraham tertinggal beberapa langkah dari Melisa, wanita licik
dan berbisa itu, ternyata tidak tinggal diam, karena Melisa melaporkan kejadian itu ke polisi atas tuduhan
penganiayaan dan pada paginya Abraham di ciduk polisi saat hendak ke kantor.
Abraham berpesan pada
Aktara agar jangan khawatir semua akan baik-baik saja.
Anisa hanya bisa histeris melihat
Abraham pergi di bawah polisi, tapi semua tidak cuma sampai di sana, sesampainya
di kantor Aktara di kejutkan dengan pembatalan kontrak dari berbagai pihak
__ADS_1
otomatis membuat kantor itu diambang kebangkrutan.