Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 26


__ADS_3

Sofi baru saja pulang


dari kampus sudah seharian ia tidak melihat Aktara, ponselnya juga tidak bisa


di hubungi, beberapa kali Sofi menanyakan kepada Dafa dan Bram mereka juga


tidak mengetahui keberadaan Aktara.


Tidak mati akal Sofi


menelpon ke rumah Aktara dan diangkat, bi Ina mengatakan kalau dari semalam


Aktara tidak mau keluar kamar sejak pulang jam tiga pagi tadi malam, Sofi


sempat mengeringitkan keningnya mendengar Aktar pulang jam tiga pagi sebelumnya


laki-laki itu tidak pernah pulang selarut itu.


Sofi mengetuk pintuh


rumah Aktara, hari ini ia berencana pergi dengan kekasihnya karena kemarin


Aktara berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke pantai, tidak lama bi Ina


membukakan pintu.


“Non Sofi, bi Ina kangen.”


wanita paru baya itu memeluk Sofi erat, Sofi juga membalas pelukan itu.


“Sofi juga kangen bi,


kak Tara masih belum bangun?” Bi Ina mengangguk senyumnya mendadak hilang,


menginggat tadi malam Aktara pulang dalam keadaan kacau.


Setelah bi Ina


menjelaskan semuanya, Sofi melangkahkan kakinya menuju kamar Aktara, pintu itu


tidak di kunci Sofi memasuki kamar yang bernuansa biru, terdapat seorang


laki-laki tertidur tanpa mengenakan baju, memamerkan tubuh atletisnya.


“Kak, kak Tara.” Sofi


mencoba membangunkan, tapi tidak ada respon Sofi menempelkan telapak tanganya


ke dahi Aktara dan agak panas, baru Saja Sofi hendak memenarik tanganya, Aktara


segera memegangi tangan itu lalu mencium telapak tangan Sofi, “Kakak demam,


biar Sofi ambil air dulu untuk kompres kak.”


Aktara mengeleng


laki-laki itu mencoba bangun dari tempat tidurnya dengan cepat Sofi


membantunya, Aktara duduk sambil memeluk Sofi seakan tidak ingin terlepas lagi,


Sofi bahkan bisa merasakan panas tubuh laki-laki itu


“Kak gak papa kan?” Bisik


Sofi pelan.


“Aku mencintaimu


sayang, aku sangat mencintaimu.” jawab Aktara, membuat Sofi terkekeh.


“Aku juga cinta sama


kakak.”


“Sayang, mau janji satu


hal sama aku?” Aktara berbisik masih dengan memeluk Sofi erat, Sofi mengangguk


“Jangan pernah percayah omongan orang lain ya, kamu harus percaya sama aku dan


Didi, karena kami gak akan pernah membohongi kamu.” bisik Aktara.


“Aku selalu percaya


kakak sama kak Dio, tapi kenapa tiba-tiba kakak ngomong gini?”


Aktara melepas


pelukanya, lalu mencium lembut bibir Sofi, gadis itu tidak bisa bertanya lagi


sekarang bibirnya sibuk membalas lumatan bibir Aktara.


***


Sofi membuka pintuh


rumahnya, saat ada orang mengetuknya, tapi ai tidak menemukan siapa-siapa

__ADS_1


selain sebuah amplok berwarna coklat.


“Siapa Dek?” Diori


bertanya dari dapur ia masih duduk di kursih rodanya.


“Gak tau kak, gak ada


siapa-siapa.” Sofi kemudian berjalan sambil membuka amplok itu, ia bisa melihat


dengan jelas beberapa lembar poto yang ada di dalamnya dan ia tahu betul siapa


yang ada di sama Aktara dan Melisa mereka sedang tertidur, dengan posisi Melisa


menindih tubuh Aktara yang terlentang, di poto berikutnya, Melisa juga menciumi


tubuh Aktara.


Sofi hanya diam matanya


terasa panas melihat itu semua, hatinya juga terasa sakit, Diori menarik lembar


amplok di tangan adiknya, seketika Diori mengangaH melihat poto-poto itu.


“Dek, kamu harus tenang


ini pasti gak bener” Diori bergumam, Sofi tidak menghiraukan apa yang di


ucapkan Diori, yang ia inginkan hanya sendiri menangis untuk meluaPkan


kekecewaanya.


Sofi kembali ingat apa


yang Aktara ucpkan kemarin saat ia menemuinya ‘Jangan perna percayah omongan orang lain ya, kamu harus percaya sama


aku dan Didi, karena kami gak akan pernah membohongi kamu.’


“Kenapa


kak Tara tega ngelakuin ini, Sofi sayang kakak.” Sofi terisak, ia tidak bisa


berpikir sekarang tiba-tiba pandanganya kabur dan semua gelap.


***


Diori duduk di atas


kursih rodanya, ia terus memegangi tangan Sofi, “Dek, bangun sayang, itu semua


bohong kamu jangan percaya dek, kadang apa yang kita lihat gak selalu bener.”


“Dio, kamu istirahat


dulu ya, biar aku yang jagain Sofi,” ucap Jesy, Jesy sengaja datang saat Diori


menelponya. Betapa terkejutnya Jesy saat tahu Sofi pingsang di kamarnya, tadi


mereka suda mememangil dokter dan dokter mengatakan Sofi hanya syok.


Diori mengeleng pada


Jesy “Aku bukan kakak yang baik Jes, seharusnya dari awal aku tidak mengenalkan


Melisa pada Sofi.” Sesal Diori.


Lima tahun lalu saat,


Diori masih berpacaran dengan Melisa, gadis itu sangat baik pada keluarganya,


terutama Sofi, mereka juga bercerita banyak hal, bahkan Melisa sering mengajak


Sofi untuk jalan bersamanya, Diori bisa melihat kalau Melisa saat itu


benar-benar tulus pada Sofi mereka seperti saudara, tapi lama-kelamaan Diori


melihat Melisa sering iri pada Sofi.


Melisa bahkan tidak


segan-segan berteriak pada Sofi saat ia kesal pada Diori dan setiap Diori


bertengkar dengan Melisa gadis itu selalu menyebut Sofi sebagai penyebabnya. Hal


itu menjadi salah satu alasan Diori memutuskan hubungan dengan Melisa, selain


gadis itu juga menduakanya, bahkan dengan sahabatnya sendiri Aktara.



***


“Di, Sofi gimana?” Aktara


tiba-tiba masuk ke kamar itu, terpancar jelas wajah khawatir di sana. Diori


menatap Jesy, karena Diori tidak menghubungi Aktara, Jesy berbisik ‘Sorry.’ membuat Diori membuang napas

__ADS_1


panjang.


“Sofi hanya syok,”


Diori menatap Sofi sejenak “Ta ada yang harus kita omongi.” Diori mengajak


Aktara untuk mengikutinya ke kamarnya, sedangkan Jesy menjaga Sofi.


Diori melempar lembaran


poto yang di terima Sofi tadi pagi “Jelaskan!” Suarah Diori terdengar datar,


Aktara menatap poto-poto itu, ini hal yang ia takutkan.


“Dia jebak gue Di.”


Diori menaikan alisnya seolah bertanya terus?


“Melisa tiba-tiba datang


ke kafe saat aku rapat dengan klien, dan ternyata Melisa merupakan salah satu


klien yang bekerja sama dengan perusahaan Papa, awalnya semua baik-baik saja,


tidak ada yang mencurigakan, tapi tiba-tiba kepala ku pusing dan aku tidak


ingat apapun, saat aku sadar aku sudah ada di kamar hotel dan Melisa tidur di


sampingku, aku gak yakin aku sudah berhubungan denganya.” Aktara menuduk sambil


mengusap mukanya kasar.


“Dan saat gue bangun,


Melisa berpura-pura menangis dan ngomong kalau gue perkosa dia, gue nantangin


dia buat melakukan visum di rumah sakit, tapi dia menolak,” Aktara menerawang. “Maafin


aku Di, sumpah aku gak ada maksud buat ngehianati Sofi, aku cinta sama adik


kamu Di!” Aktara tampak menyesal.


Diori juga merasa ibah


pada sahabatnya, “Aku percaya kamu, tapi Sofi belum tentu percaya Ta, kita tahu


Melisa seperti apa.” bisik Diori, laki-laki itu sangat mengenal Aktara dengan


baik, Aktara bukan tipe laki-laki yang suka mempermaikan seorang wanita terutama


Sofi, gadis kecil yang dari dulu sangat di cintai Aktara.


***


Melisa melangkah


memasuki kantor Abraham ia juga membawa amplok berisi poto-poto saat ia tudur


dengan Aktara, Abraham marah besar, ia menampar Melisa, membuat salah satu


sudut bibir Melisa berdarah, “Ada akan menyesal pak Abraham yang terhormat,


saya akan minta Papa memutuskan kerja sama dengan perusahaan anda, dan saya


pastikan perusahaan ada akan bangkut!” ancam Melisa.


“Saya tidak takut,


lakukan, apapun yang kamu inginkan, pelacur!” teriak Abraham.


Abraham sangat membenci


Melisa, Abraham juga sudah menyelidiki latar belakang keluarga Melisa, ayah


gadis itu sangat gila, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia


inginkan, termasuk tindakan melanggar hukum dan agama, Abraham sedang mencari


cara untuk membuktikan semua kejahatan itu.


Rencana hanya tinggal


rencana, karena Abraham tertinggal beberapa langkah dari Melisa, wanita licik


dan berbisa itu, ternyata tidak tinggal diam, karena Melisa  melaporkan kejadian itu ke polisi atas tuduhan


penganiayaan dan pada paginya Abraham di ciduk polisi saat hendak ke kantor.


Abraham berpesan pada


Aktara agar jangan khawatir semua akan baik-baik saja.


Anisa hanya bisa histeris melihat


Abraham pergi di bawah polisi, tapi semua tidak cuma sampai di sana, sesampainya


di kantor Aktara di kejutkan dengan pembatalan kontrak dari berbagai pihak

__ADS_1


otomatis membuat kantor itu diambang kebangkrutan.


__ADS_2