
Diori tampak sibuk dengan sekeripsinya begitu juga Aktara, keduanya
bahkan mengerjakan tugasnya di ruang keluarga. Sesekali mereka berkomunikasih
saling tanya satu sama lain, Anisa dan Abraham yang menyaksikan kejadian itu tersenyum
mereka sangat bahagia melihat keakraban Diori dan Aktara di tambah lagi Aktara
sekarang sudah menjadi kekasih Sofi, Abraham dan Anisa malah berencana untuk
menikahkan mereka setelah Aktara lulus kulia yaitu enam bulan lagi.
Sofi berjalan menuju lantai dua, ia sudah membawa nampan yang berisi dua
gelas jus mangga dan puding susu. Aktara tersenyum menyambut kekasihnya tapi Diori
mendengus kesal melihat mereka semakin romantis itu membuatnya irih kerena Jesy
tidak ada disana.
“Minum dulu kak.” Sofi meberikan jusnya pada Diori, laki-laki itu
menyipitkan matanya.
“Cobain dulu Ta,” Diori mengarahkan minumanya pada Aktara tapi Sofi
segara mengambilnya ia meminum jus itu.
“Enak.” gumam Sofi, sambil mengelap bibirnya, Aktara yang melihat
kejadian itu mendadak merasa gerah ia benar-benar ingin mencium bibir Sofi yang
pasti masih dengan aroma mangga.
“Gak percaya juga.” Sofi juga meminum jus milik Aktara, “Enak kok, aku
gak ngeracuni kalian, aku uda tobat kok” jelas Sofi dengan mata berbinar-binar,
ia juga memakan puding untuk keduanya, menandakan apa yang ia berikan semuanya
aman dimakan, Diori menyipitkan matanya,
‘Mengapa hari ini Sofi sangat baik?’ sebenarnya Diori lebih suka Sofi
menjahilinya.
Sofi duduk di hadapan Aktara memandang laki-laki itu yang tampak sibuk
dengan laptopnya, hampir satu jam Sofi disana keduanya tampak sibuk dengan
tugas masing-masing, merasa di cueki akhirnya gadis itu memutuskan untuk ke kamar.
“Padahalkan hari ini aku ulang tahun.” gumam Sofi kesal.
****
Malam ini Sofi memutuskan untuk tidur lebih cepat, tapi ia terbangun saat
rasa haus menghampiri tengorokanya.
“Selamat ulang tahun sayang,”
bisik Aktara pelan di telingah Sofi, gadis itu masih mencobah mengumpulkan
kesadarnya, ia benar-benar melihat Aktara duduk di samping ranjangnya dengan
membawa sebuah kue dengan lilin menyala Sofi bisa melihat angka yang tertera
disana angka satu dan sembilan.
Seketika senyum Sofi mengembang, gadis itu langsung mencium bibir Aktara
tapi laki-laki itu tidak mebalas, biasanya Aktara akan nyosor dulauan, sebuah
deheman yang sangat Sofi kenal memberhentikan kegiatan itu, di tambah lagi lampu
sekarang menyala. Sofi membulatkan matanya saat melihat Diori berada di samping
Aktara, tidak hanya itu Anisa dan
Abraham juga ada di kamarnya.
“Ahkkk.......!” Sofi berteriak lalu menarik selimutnya menutupi wajahnya
yang malu karena berani mencium Aktara di depan semuanya, semua orang tertawa
melihat tingkah Sofi.
“Sayang gak papa, tiup lilinya dulu yuk,” Aktara membuka selimut itu pelan,
Sofi mencobah bangun dengan mukanya yang masih terasa panas, semuanya semakin
tertawa lepas melihat wajah Sofi yang memarah.
“Makanya jangan nyosor!” cetus Diori.
Setelah acara itu selelsai, semua orang pergi ke kamar masing-masing,
Sofi sangat senang mereka semua tidak lupa dengan ulang tahunnya, hanya
berpura-pura lupa.
Terdengar suara ketukan di jendelanya, membuat Sofi melangkah mendekati
jendelan, dengan cepat Sofi membukanya setelah tahu siapa yang berdiri di sana.
“Ya tuhan, sayang kok bisa kamu-”
Belum sempat Sofi menyelasaikan ucapanya Aktar sudah menciumnya.
“Kan aku bisa merayap di dinding,” jelas Aktara, sebenarnya ia
benar-benar merayap dari jendela kamarnya menuju jendela kamar Sofi yang berada
di sebelah kamarnya.
“Nanti kamu jatuh gimana?” Sofi terlihat kecewah dengan Aktar
“Maaf sayang, aku cuma mau ngelanjutin yang tadi.”
“Yang tadi?” Sofi bergumam, Aktara langsung membawa Sofi ke kasurnya dan
membaringkanya.
“Yang ini,” Aktara melumat bibir Sofi lembut, awalnya sebuah lumatan
lembut, tapi semakin lama semakin ganas, Aktara memasuki lidahnya menyapu
rongah mulut Sofi, gadis itu hanya pasra menerima serangan Aktara, kedianya
berhenti saat sama-sama kehabisan napas, “Aku mencintaimu Sofiku” ucap Aktara
lalu mencium kening Sofi, laki-laki itu memutuskan untuk tidur di kamar Sofi,
ya hanya tidur.
“Apa yang kamu inginkan sebagai hadia ulang tahun mu?” Aktara bertanya
pada Sofi yang ada dalam dekapanya.
“Aku ingin, papa kumpul lagi sama Sofi, sama kak Dio, Sofi pingin
semuanya kayak dulu.” jawab Sofi lirih.
__ADS_1
Akra menatap Sofi dengan tatapan sayang, ia juga menghapus air mata
gadis itu yang menetes membasahi ppipinya, Aktara tahu Sofi sangat merindukan
kebersamaanya dengan ayahnya. Laki-laki itu mencium mata Sofi,
“Sofiku gak boleh nangis ya.” Sofi mengangguk pelan, lalu memeluk Aktara ‘Bagimanapun caranya aku janji akan
mengeluarkan papa kamu dari penjara sayang, aku janji akan bikin kalian
berkumpul lagi.’ janji Aktra. Keduanya terlelap dengan posisi saling
berpelukan.
****
Diori baru saja mendapat telphon dari penyewa rumah kalau mereka akan
pinda hari ini karena kontarak mereka habis, selain itu Diori juga tidak ingin
memperpanjang kontrak itu karena mereka ingin menempatinya.
“Dek, lusa kita pindah
ya.” Diori menjelaskan, ia juga sudah meminta izin pada Anisa dan Abraham walau
mereka menolak karena ingin agar Diori dan Sofi tinggal di rumah itu saja. Tapi
Diori memaksa, ia tidak ingin merepotkan keluarga Aktara terus-terusan, Sofi
langsung membereskan pakainya tidak ada alasan untuk tinggal di sini lebih lama
walau sebenarnya Sofi sangat berat berpisah dengan Aktara tapi ia lebih memilih
menuruti kemauan kakaknya Diori.
“Di, aku mohon jangan
pindah,” Aktara memohon saat Diori merapikan perabotanya.
“Ta, aku gak mungkin
terus disini, sedangkan aku punya rumah.”
“Tapi Di, kamu kan
nyaman tinggal disini, gitu juga Sofi.” Aktara masih berusaha mempengaruhi
Diori.
“Kayaknya keputrusan ku
bener deh, aku tahu kamu pinginya Sofikan yang tinggal di sini bukan aku?” ejak
Diori.
“Gak kok, aku pingin
kalian tinggal disini, rumah ini bakalan sepi tanpa kalian.” Aktara
bersungguh-sungguh atas ucapanya, dua bulana ini ia merasa sangat bahagia
karena keberadaan Diori dan Sofi dalam rumah ini.
“Maaf ya Ta, aku tahu
kamu cinta sama Sofi, tapi aku ingin Sofi tinggal di rumah mama, aku akan jaga
adikku dari kamu yang mesum. Lagian kamu juga bisa dateng kapan-kapan kesana.”
Diori menekankan kata mesum, Diori tahu Aktara selalu ingin menempel pada adiknya
itu.
apa boleh buat kali ini ia harus berpisah dengan Sofinya karena Diori bukan
tipe orang yang mudah di pengaruhi, laki-laki itu selalu memenagng prinsipnya
dengan teguh.
***
“Kamu hati-hati ya
disini, aku akan dateng tiap hari jengegukin kamu sayang.” Ucap Aktara pada
Sofi setelah mereka sampai di rumah minimalis satu lantai yang sangat sederhana,
rumah itu bahkan hanya memiliki tiga kamar, satu ruang tamu sekaligus ruang
tivi yang tidak terlalu luas dan dapur, halamnya juga tidak terlalu luas, hanya
bisa untuk parkir satu mobil tapi rumah itu sangat nyaman dan bersih.
“Iya sayang.” jawab
Sofi, Diori mendengus kesal mendengarnya.
“Udah deh, jangan mesra-mesaraan,
inget kalian itu gak boleh nikah sebelum aku nikah duluan!” cetus Diori lalu
memeluk Jesy, ya gadis itu juga ikut datang membantu Diori menata ruamahnya.
“Sayang, kamu capek?” Diori
menghampiri Jesy yang sibuk menyapu lantai,
“Ng-ngek kok.” Jawab
Jesy sedikit gugup, setiap Diori memanggilnya sayang Jesy merasa senang
sekaligus gugup kadang ia sulit mengasai dirinya, ia masih tidak percaya jika
sekarang Diori adalah kekasihnya.
“Sini, duduk di sini.”
Diori menepuk sofa mengisaratkan agar kekasihnya itu duduk di sampingnya. Jesy
mengikuti semua perintah Diori, laki-laki itu mengambil tisu lalu mengelap
keringat yang ada di dahi Jesy, mendadak muka Jesy bersemu merah karena di
perlakuan seperti itu “Kamu jangan capek-capek ya.” bisik Diori, Jesy tersenyum
mendengarnya.
Mereka berdua mengobrol
sambil menonton tivi, “Jes, kamu tahukan keadaanku. Aku gak kaya, aku bahkan
gak punya rumah, papaku di penjara dan aku punya adik cewek,” Diori menatap
Jesy dengan pandangan serius.
“Aku gak yakin bisa
bahagiain kamu, kalau nanti kamu nemuin cowok yang menurut kamu baik dan bisa
bahagiain kamu, aku ikhlas ngelepas kamu, walau pasti rasanya sakit sih.” Diori
tersenyum kecut membayangkanya.
__ADS_1
“Aku uda nemuinya Dio,
laki-laki itu kamu, aku gak peduli soal keluarga kamu, toh kita yang jalani
semuanya. Aku juga gak peduli omongan orang.” Jesy benar-benar tidak perduli
atas apa yang di katakan orang lain mengenai Keluarga Diori bahkan beberapa
orang mengejeknya karena berpacaran dengan anak koruptor. Jesy sangat yakin
ayah Diori tidak salah, karena sampai detik ini tidak ada pernyataan yang
mengatakan Median bersalah, kasus itu seakan mengambang.
Kamu jangan khawatir aku juga miskin kok,
rumah mewah, mobil, uang, itu semua punya orang tua ku, aku bahkan belum bisa
ngehasilin uang sendiri. Tapi kamu, kamu udah bisa berdiri sendiri diatas kaki
kamu tanpa bantuan orang tua kamu, hal itu buat aku makin sayang sama kamu, aku
juga mau berdiri bersama kamu.” Jelas Jesy.
Diori benar-benar
terharu mendengar ucapan gadis itu, “Makasih.” gumam Diori, hatinya benar-benar
tersentuh mendengar apa yang Jesy ucapkan, ia tidak menyangkah gadis itu akan
menerima semua kekuranganya.
“Apapun yang terjadi
aku akan tetap sayang sama kamu, ada buat kamu.” jelas Jesy, Diori mengangguk lemah
sambil tersenyum tipis, sugguh Diori tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya.
Sofi yang melihat
kejadian itu benar-benar ikut terharu, ia mengahapus air matanya yang tumpah ‘Aku gak salah punya kakak ipar kayak kamu
Jes, aku harap kamu selalu bisa jaga kakak ku itu.’
Sofi hampir saja berteriak
saat dua buah lengangan kekar melingkar di perutnya, “Ih, ngagetin!” Sofi
mendengus kesal.
Aktara tertawa melihat
Sofi yang kesal dengan tingkahnya, laki-laki itu semakin mempererat pelukanya lalu
mencium pucak kepala Sofi. “Aku gak sabar mau nikahi kamu.” bisik Aktara,
sontak membuat wajah Sofi memerah.
***
Jesy memasuki kamar
Sofi malam ini ia memutuskan untuk menginap di rumah itu. Jesy menatap beberapa
poto yang ada di sana, terdapat beberapa poto Sofi dan Diori berdua, ada juga poto
Sofi bersama kakak dan ayahnya serta p oto Sofi dengan aktara Aktara. Jesy menatap
heran pada sebuah poto saat Sofi dengan seorang wanita yang Jesy kenal ya, itu
poto Melisa mahasiswa pindahan dari Sigapur, tapi apa hubungan Melisa dengan
Sofi? Mengapa mereka terlihat akrab?
“Kakak lagi liat poto
kak Meli ya?” tanya Sofi, Jesy hanya bisa mengangguk, “Kak, maaf sebelumnya,
aku mau cerita tentang kakak Melisa, dulu kak Dio sama kak Melisa itu pacaran
waktu SMA tapi gak lama cuma beberapa bulan mereka putus. Tapi karena aku sama
kak Melisa uda akrab, gak mungkin mentang-mentang mereka putus aku musuhi kak
Melisa, walau kak Dio gak suka aku deket-deket sama kak Melisa.” Sofi
menjelaskan mengingat masa lalu yang pernah terjadi diantara mereka.
“Tapi mau gimana lagi,
aku uda sangat sayang sama kak Melisa sampai kapanpu kak Melisa sudah aku
anggap saudara.” Jesy hanya tersenyum lembut mendengarkan cerita itu, sebenarnya
ada sedikit rasa iri yang ia rasakan melihatr hubungan Safi dengan Melisa, Jesy
ingin sekali hubungan dengan Sofi seperti itu.
Sofi lalu mengambil tas
yang di berikan Melisa padanya waktu itu “Tas ini aku dapat dari kak Meli, tapi
aku ingin balikin nanti, aku bingung mau pakai buat apa, lagi pula ini gak pantas
buat aku, harganya kemahalan,” Jesy memegang tas itu, memang tas itu sangat
bagus dan mahal pastinya “Atau kalau kakak mau buat kakak aja.” Sofi memberikan
tasnya pada Jesy.
“Gak mau ah, orang yang
di kasih kamu.” jawab Jesy lalu mendorong tas itu pada Sofi.
Sofi tersenyum melihat
tingkah Jesy yang terlihat sedikit kesal, mungkin karena Sofi menceritakan
banyak hal tentang Melisa, atau mungkin sekarang Jesy cemburu? Jawabanya adalah
iya.
“Kak Jesy tenang aja
ya, walau aku sagat sayang sama kak Melisa, tapi kak Jesy tetep akan jadi kakak
ipar ku, aku akan selalu mendukung hubungan kalian, dan aku juga sangat sayang
kak Jesy, kak Jesy juga aku anggap saudara sama seperti kak Melisa, jadi jangan
iri ya.” Sofi memeluk Jesy erat, keduanya tampak menikmati keakraban mereka.
Keduanya sudah
berbaring bersiap untuk tidur setelah bercerita panjang lebar tadi “Kak, aku
mau kakak terus jaga kak Dio,“ Jesy menatap Sofi yang masih membuka matanya “Memang
sih kak Dio itu sangat manja, tapi dia laki-laki yang baik kok, terus
bertanggung jawab, rajin, tampan, yang pasti kak Dio sangat mencintai kakak.”
Sofi menjelaskan “Aku hanya bisa percaya cuma kakak yang bisa jaga kak Dio.”
Jesy lalu menaikan tangan kananya dan menautkan kelingkingnya.
“Aku janji akan jaga
__ADS_1
Dio dan mencintainya untuk selalmanya.” Jesy berucap saat Sofi juga menautkan
kelingking mereka.