Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 22


__ADS_3

Diori tampak sibuk dengan sekeripsinya begitu juga Aktara, keduanya


bahkan mengerjakan tugasnya di ruang keluarga. Sesekali mereka berkomunikasih


saling tanya satu sama lain, Anisa dan Abraham yang menyaksikan kejadian itu tersenyum


mereka sangat bahagia melihat keakraban Diori dan Aktara di tambah lagi Aktara


sekarang sudah menjadi kekasih Sofi, Abraham dan Anisa malah berencana untuk


menikahkan mereka setelah Aktara lulus kulia yaitu enam bulan lagi.


Sofi berjalan menuju lantai dua, ia sudah membawa nampan yang berisi dua


gelas jus mangga dan puding susu. Aktara tersenyum menyambut kekasihnya tapi Diori


mendengus kesal melihat mereka semakin romantis itu membuatnya irih kerena Jesy


tidak ada disana.


“Minum dulu kak.” Sofi meberikan jusnya pada Diori, laki-laki itu


menyipitkan matanya.


“Cobain dulu Ta,” Diori mengarahkan minumanya pada Aktara tapi Sofi


segara mengambilnya ia meminum jus itu.


“Enak.” gumam Sofi, sambil mengelap bibirnya, Aktara yang melihat


kejadian itu mendadak merasa gerah ia benar-benar ingin mencium bibir Sofi yang


pasti masih dengan aroma mangga.


“Gak percaya juga.” Sofi juga meminum jus milik Aktara, “Enak kok, aku


gak ngeracuni kalian, aku uda tobat kok” jelas Sofi dengan mata berbinar-binar,


ia juga memakan puding untuk keduanya, menandakan apa yang ia berikan semuanya


aman dimakan, Diori menyipitkan matanya,


‘Mengapa hari ini Sofi sangat baik?’ sebenarnya Diori lebih suka Sofi


menjahilinya.


Sofi duduk di hadapan Aktara memandang laki-laki itu yang tampak sibuk


dengan laptopnya, hampir satu jam Sofi disana keduanya tampak sibuk dengan


tugas masing-masing, merasa di cueki akhirnya gadis itu memutuskan untuk ke kamar.


“Padahalkan hari ini aku ulang tahun.” gumam Sofi kesal.


 


****


 


Malam ini Sofi memutuskan untuk tidur lebih cepat, tapi ia terbangun saat


rasa haus menghampiri tengorokanya.


“Selamat ulang tahun sayang,”


bisik Aktara pelan di telingah Sofi, gadis itu masih mencobah mengumpulkan


kesadarnya, ia benar-benar melihat Aktara duduk di samping ranjangnya dengan


membawa sebuah kue dengan lilin menyala Sofi bisa melihat angka yang tertera


disana angka satu dan sembilan.


Seketika senyum Sofi mengembang, gadis itu langsung mencium bibir Aktara


tapi laki-laki itu tidak mebalas, biasanya Aktara akan nyosor dulauan, sebuah


deheman yang sangat Sofi kenal memberhentikan kegiatan itu, di tambah lagi lampu


sekarang menyala. Sofi membulatkan matanya saat melihat Diori berada di samping


Aktara, tidak hanya itu Anisa  dan


Abraham juga ada di kamarnya.


“Ahkkk.......!” Sofi berteriak lalu menarik selimutnya menutupi wajahnya


yang malu karena berani mencium Aktara di depan semuanya, semua orang tertawa


melihat tingkah Sofi.


“Sayang gak papa, tiup lilinya dulu yuk,” Aktara membuka selimut itu pelan,


Sofi mencobah bangun dengan mukanya yang masih terasa panas, semuanya semakin


tertawa lepas melihat wajah Sofi yang memarah.


“Makanya jangan nyosor!” cetus Diori.


Setelah acara itu selelsai, semua orang pergi ke kamar masing-masing,


Sofi sangat senang mereka semua tidak lupa dengan ulang tahunnya, hanya


berpura-pura lupa.


Terdengar suara ketukan di jendelanya, membuat Sofi melangkah mendekati


jendelan, dengan cepat Sofi membukanya setelah tahu siapa yang berdiri di sana.


“Ya tuhan, sayang  kok bisa kamu-”


Belum sempat Sofi menyelasaikan ucapanya Aktar sudah menciumnya.


“Kan aku bisa merayap di dinding,” jelas Aktara, sebenarnya ia


benar-benar merayap dari jendela kamarnya menuju jendela kamar Sofi yang berada


di sebelah kamarnya.


“Nanti kamu jatuh gimana?” Sofi terlihat kecewah dengan Aktar


“Maaf sayang, aku cuma mau ngelanjutin yang tadi.”


“Yang tadi?” Sofi bergumam, Aktara langsung membawa Sofi ke kasurnya dan


membaringkanya.


“Yang ini,” Aktara melumat bibir Sofi lembut, awalnya sebuah lumatan


lembut, tapi semakin lama semakin ganas, Aktara memasuki lidahnya menyapu


rongah mulut Sofi, gadis itu hanya pasra menerima serangan Aktara, kedianya


berhenti saat sama-sama kehabisan napas, “Aku mencintaimu Sofiku” ucap Aktara


lalu mencium kening Sofi, laki-laki itu memutuskan untuk tidur di kamar Sofi,


ya hanya tidur.


“Apa yang kamu inginkan sebagai hadia ulang tahun mu?” Aktara bertanya


pada Sofi yang ada dalam dekapanya.


“Aku ingin, papa kumpul lagi sama Sofi, sama kak Dio, Sofi pingin


semuanya kayak dulu.” jawab Sofi lirih.

__ADS_1


Akra menatap Sofi dengan tatapan sayang, ia juga menghapus air mata


gadis itu yang menetes membasahi ppipinya, Aktara tahu Sofi sangat merindukan


kebersamaanya dengan ayahnya. Laki-laki itu mencium mata Sofi,


“Sofiku gak boleh nangis ya.” Sofi mengangguk pelan, lalu memeluk Aktara ‘Bagimanapun caranya aku janji akan


mengeluarkan papa kamu dari penjara sayang, aku janji akan bikin kalian


berkumpul lagi.’ janji Aktra. Keduanya terlelap dengan posisi saling


berpelukan.


 


****


 


Diori baru saja mendapat telphon dari penyewa rumah kalau mereka akan


pinda hari ini karena kontarak mereka habis, selain itu Diori juga tidak ingin


memperpanjang kontrak itu karena mereka ingin menempatinya.


“Dek, lusa kita pindah


ya.” Diori menjelaskan, ia juga sudah meminta izin pada Anisa dan Abraham walau


mereka menolak karena ingin agar Diori dan Sofi tinggal di rumah itu saja. Tapi


Diori memaksa, ia tidak ingin merepotkan keluarga Aktara terus-terusan, Sofi


langsung membereskan pakainya tidak ada alasan untuk tinggal di sini lebih lama


walau sebenarnya Sofi sangat berat berpisah dengan Aktara tapi ia lebih memilih


menuruti kemauan kakaknya Diori.


“Di, aku mohon jangan


pindah,” Aktara memohon saat Diori merapikan perabotanya.


“Ta, aku gak mungkin


terus disini, sedangkan aku punya rumah.”


“Tapi Di, kamu kan


nyaman tinggal disini, gitu juga Sofi.” Aktara masih berusaha mempengaruhi


Diori.


“Kayaknya keputrusan ku


bener deh, aku tahu kamu pinginya Sofikan yang tinggal di sini bukan aku?” ejak


Diori.


“Gak kok, aku pingin


kalian tinggal disini, rumah ini bakalan sepi tanpa kalian.” Aktara


bersungguh-sungguh atas ucapanya, dua bulana ini ia merasa sangat bahagia


karena keberadaan Diori dan Sofi dalam rumah ini.


“Maaf ya Ta, aku tahu


kamu cinta sama Sofi, tapi aku ingin Sofi tinggal di rumah mama, aku akan jaga


adikku dari kamu yang mesum. Lagian kamu juga bisa dateng kapan-kapan kesana.”


Diori menekankan kata mesum, Diori tahu Aktara selalu ingin menempel pada adiknya


itu.


apa boleh buat kali ini ia harus berpisah dengan Sofinya karena Diori bukan


tipe orang yang mudah di pengaruhi, laki-laki itu selalu memenagng prinsipnya


dengan teguh.


***


“Kamu hati-hati ya


disini, aku akan dateng tiap hari jengegukin kamu sayang.” Ucap Aktara pada


Sofi setelah mereka sampai di rumah minimalis satu lantai yang sangat sederhana,


rumah itu bahkan hanya memiliki tiga kamar, satu ruang tamu sekaligus ruang


tivi yang tidak terlalu luas dan dapur, halamnya juga tidak terlalu luas, hanya


bisa untuk parkir satu mobil tapi rumah itu sangat nyaman dan bersih.


“Iya sayang.” jawab


Sofi, Diori mendengus kesal mendengarnya.


“Udah deh, jangan mesra-mesaraan,


inget kalian itu gak boleh nikah sebelum aku nikah duluan!” cetus Diori lalu


memeluk Jesy, ya gadis itu juga ikut datang membantu Diori menata ruamahnya.


“Sayang, kamu capek?” Diori


menghampiri Jesy yang sibuk menyapu lantai,


“Ng-ngek kok.” Jawab


Jesy sedikit gugup, setiap Diori memanggilnya sayang Jesy merasa senang


sekaligus gugup kadang ia sulit mengasai dirinya, ia masih tidak percaya jika


sekarang Diori adalah kekasihnya.


“Sini, duduk di sini.”


Diori menepuk sofa mengisaratkan agar kekasihnya itu duduk di sampingnya. Jesy


mengikuti semua perintah Diori, laki-laki itu mengambil tisu lalu mengelap


keringat yang ada di dahi Jesy, mendadak muka Jesy bersemu merah karena di


perlakuan seperti itu “Kamu jangan capek-capek ya.” bisik Diori, Jesy tersenyum


mendengarnya.


Mereka berdua mengobrol


sambil menonton tivi, “Jes, kamu tahukan keadaanku. Aku gak kaya, aku bahkan


gak punya rumah, papaku di penjara dan aku punya adik cewek,” Diori menatap


Jesy dengan pandangan serius.


“Aku gak yakin bisa


bahagiain kamu, kalau nanti kamu nemuin cowok yang menurut kamu baik dan bisa


bahagiain kamu, aku ikhlas ngelepas kamu, walau pasti rasanya sakit sih.” Diori


tersenyum kecut membayangkanya.

__ADS_1


“Aku uda nemuinya Dio,


laki-laki itu kamu, aku gak peduli soal keluarga kamu, toh kita yang jalani


semuanya. Aku juga gak peduli omongan orang.” Jesy benar-benar tidak perduli


atas apa yang di katakan orang lain mengenai Keluarga Diori bahkan beberapa


orang mengejeknya karena berpacaran dengan anak koruptor. Jesy sangat yakin


ayah Diori tidak salah, karena sampai detik ini tidak ada pernyataan yang


mengatakan Median bersalah, kasus itu seakan mengambang.


Kamu jangan khawatir aku juga miskin kok,


rumah mewah, mobil, uang, itu semua punya orang tua ku, aku bahkan belum bisa


ngehasilin uang sendiri. Tapi kamu, kamu udah bisa berdiri sendiri diatas kaki


kamu tanpa bantuan orang tua kamu, hal itu buat aku makin sayang sama kamu, aku


juga mau berdiri bersama kamu.” Jelas Jesy.


Diori benar-benar


terharu mendengar ucapan gadis itu, “Makasih.” gumam Diori, hatinya benar-benar


tersentuh mendengar apa yang Jesy ucapkan, ia tidak menyangkah gadis itu akan


menerima semua kekuranganya.


“Apapun yang terjadi


aku akan tetap sayang sama kamu, ada buat kamu.” jelas Jesy, Diori mengangguk lemah


sambil tersenyum tipis, sugguh Diori  tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya.


Sofi yang melihat


kejadian itu benar-benar ikut terharu, ia mengahapus air matanya yang tumpah ‘Aku gak salah punya kakak ipar kayak kamu


Jes, aku harap kamu selalu bisa jaga kakak ku itu.’


Sofi hampir saja berteriak


saat dua buah lengangan kekar melingkar di perutnya, “Ih, ngagetin!” Sofi


mendengus kesal.


Aktara tertawa melihat


Sofi yang kesal dengan tingkahnya, laki-laki itu semakin mempererat pelukanya lalu


mencium pucak kepala Sofi. “Aku gak sabar mau nikahi kamu.” bisik Aktara,


sontak membuat wajah Sofi memerah.


***


Jesy memasuki kamar


Sofi malam ini ia memutuskan untuk menginap di rumah itu. Jesy menatap beberapa


poto yang ada di sana, terdapat beberapa poto Sofi dan Diori berdua, ada juga poto


Sofi bersama kakak dan ayahnya serta p oto Sofi dengan aktara Aktara. Jesy menatap


heran pada sebuah poto saat Sofi dengan seorang wanita yang Jesy kenal ya, itu


poto Melisa mahasiswa pindahan dari Sigapur, tapi apa hubungan Melisa dengan


Sofi? Mengapa mereka terlihat akrab?


“Kakak lagi liat poto


kak Meli ya?” tanya Sofi, Jesy hanya bisa mengangguk, “Kak, maaf sebelumnya,


aku mau cerita tentang kakak Melisa, dulu kak Dio sama kak Melisa itu pacaran


waktu SMA tapi gak lama cuma beberapa bulan mereka putus. Tapi karena aku sama


kak Melisa uda akrab, gak mungkin mentang-mentang mereka putus aku musuhi kak


Melisa, walau kak Dio gak suka aku deket-deket sama kak Melisa.” Sofi


menjelaskan mengingat masa lalu yang pernah terjadi diantara mereka.


“Tapi mau gimana lagi,


aku uda sangat sayang sama kak Melisa sampai kapanpu kak Melisa sudah aku


anggap saudara.” Jesy hanya tersenyum lembut mendengarkan cerita itu, sebenarnya


ada sedikit rasa iri yang ia rasakan melihatr hubungan Safi dengan Melisa, Jesy


ingin sekali hubungan dengan Sofi seperti itu.


Sofi lalu mengambil tas


yang di berikan Melisa padanya waktu itu “Tas ini aku dapat dari kak Meli, tapi


aku ingin balikin nanti, aku bingung mau pakai buat apa, lagi pula ini gak pantas


buat aku, harganya kemahalan,” Jesy memegang tas itu, memang tas itu sangat


bagus dan mahal pastinya “Atau kalau kakak mau buat kakak aja.” Sofi memberikan


tasnya pada Jesy.


“Gak mau ah, orang yang


di kasih kamu.” jawab Jesy lalu mendorong tas itu pada Sofi.


Sofi tersenyum melihat


tingkah Jesy yang terlihat sedikit kesal, mungkin karena Sofi menceritakan


banyak hal tentang Melisa, atau mungkin sekarang Jesy cemburu? Jawabanya adalah


iya.


“Kak Jesy tenang aja


ya, walau aku sagat sayang sama kak Melisa, tapi kak Jesy tetep akan jadi kakak


ipar ku, aku akan selalu mendukung hubungan kalian, dan aku juga sangat sayang


kak Jesy, kak Jesy juga aku anggap saudara sama seperti kak Melisa, jadi jangan


iri ya.” Sofi memeluk Jesy erat, keduanya tampak menikmati keakraban mereka.


Keduanya sudah


berbaring bersiap untuk tidur setelah bercerita panjang lebar tadi “Kak, aku


mau kakak terus jaga kak Dio,“ Jesy menatap Sofi yang masih membuka matanya “Memang


sih kak Dio itu sangat manja, tapi dia laki-laki yang baik kok, terus


bertanggung jawab, rajin, tampan, yang pasti kak Dio sangat mencintai kakak.”


Sofi menjelaskan “Aku hanya bisa percaya cuma kakak yang bisa jaga kak Dio.”


Jesy lalu menaikan tangan kananya dan menautkan kelingkingnya.


“Aku janji akan jaga

__ADS_1


Dio dan mencintainya untuk selalmanya.” Jesy berucap saat Sofi juga menautkan


kelingking mereka.


__ADS_2