Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 10


__ADS_3

“Gimana latihanya sayang?”


 


“Berkeringat.” jawab Sofi, ayahnya tertawa mendengarnya.


“P,a”


 


“Ehm,”


“Papa kenal Kak Aktara?” Tanya Sofi, Median mengangguk. “Kak Aktara musuhan ya sama kak Dio?” tanya Sofi sekali lagi.


“Tidak sayang, mereka itu sahabat, bahkan sampai sekarang.” Median mengelus rambut Sofi dengan pelan, gadis itu sangat manja padanya, bahkan Sofi tidak segan-segan tertidur di pangkuan ayahnya.


“Tapi kok, kak Dio benci banget sama kak Tara.” Median tersenyum mendengarnya “Tata sama Didi itu sahabat, mereka punya cara sendiri dalam bersahabat, mereka itu saling menyayangi kok.” Jelas Median.


“Gak mungkin pa, Kak Dio itu terlihat mau makan kak Tara, kak Dio juga ngelarang Sofi dekat sama kak Tara, padahal kak Tara baik sama Sofi, buktinya tadi kak Tara ngasih handuk sama Sofi, gara-gara handuk Sofi lembab habis di pakai Kak Dio” Jelas Sofi atas apa yang ia rasakan dan lihat selama ini.


“Itu karena Dio sayang sama kamu, Dio cuma ingin jagain kamu, Tata memang anak yang baik dari dulu.” jawab Median.


“Dari dulu?” Sofi masih tidak mengerti,bagaimana mungkin seorang bersahabat, tapi saling mendiamkan, dan dari dulu? mengapa Sofi tidak tahu kalau Diori bersahabat dengan Aktara?


“Dulu mereka akrab bahkan lebih akrab dari pada kamu sama Dio sekarang, cuma ada salah paham diantara mereka, jadi hubungan mereka rengang dan kakak kamu nyalahin Tata untuk masalah itu.”


“Salah paham apa?”


“Kamu lupa ya?” Sofi bingung menatap Ayahnya, apa yang dia lupakan?


“Kamu kan gak bisa berenang.” Sofi mengangguk cepat, ia dari kecil memang tidak bisa berenang.


****


Flas Back on


“Tata, berenangnya yuk.” Ajak Didi dengan antusias Tata menganguk, mereka segerah berlari menuju kolam


renang di rumah Aktara, hari ini Diori, Sofi dan ayahnya berkunjung ke rumah Aktara karena keluarga mereka memang bersahabat.


Median, Sofi sedang ngobraol bersama kedua orang tau Aktara. Saat itu Sofi masih berumur lima tahun, “Pa, Sofi main sama kak Didi ya”

__ADS_1


“Iya tapi jangan ikut berenang ya, Sofikan gak bisa.” gadis itu mengangguk kuat, lalu berjalan menuju kolam renang yang terdapat dua anak laki-laki sedang tertawa sambil berenang di tepian kolam.


“Kak Didi!” Sofi berteriak saat melihat dua laki-laki itu berenang,


“Sofi jangan deket-deket ya!” Diori berteriak, Sofi memberhentikan langkahnya, tepat satu meter dari tepi bibir kolam, gadis kecil itu diam di tempat sambil memperhatikan kedua anak laki-laki yang berada di dalam kolam.


“Di, lombah yuk.” Aktara menantang sahabatnya itu


“Ayok siapa takut.” jawab Diori semangat.


“Sampai ujung terus balik lagi kesini giman?” usul Aktara.


“Oke,” jawab Diori cepat “Satu, dua tiga!” dengan cepat Diori dan Aktara berenang menuju tepian kolam.


“Kakak, kakak, kakak!” Sofi berteriak penuh semangat sambil bertepuk tangan.


Diori mencobah mengalahkan Aktara tapi gagal, anak itu lebih cepat dari padanya, “Yes aku menang!” Aktara berteriak bangah.


“Huh dasar.” Diori kecewah atas kekalahanya, tiba-tiba rasa haus menyerang tengorokan Diori “Ta, aku mau ambil air dulu haus ni.” Diori keluar dari kolam itu, “Tolong jagain Sofi bentar ya.” tambah Diori, Aktara mengangguk.


“Sofi jangan ke sana, nanti jatuh!” Aktara segera keluar dari kolam mencobah mendekati Sofi yang berlari memutari kolam “Sofi berenti jangan lari!” Aktara segera keluar dari kolam lalu mengejarnya ia takut Sofi akan jatuh.


Tiba-tiba kaki Sofi terpeleset membuat gadis itu terjatuh ke kolam, dengan cepat Aktara terjun mencobah menyelamatkan Sofi, gadis kecil itu berteriak sambil menangis.


“Om, So Sofi.” Aktara terbata, Aktara masih terlalu terkejut dengan kejadian itu,


“Sudah tidak apa-apa sayang,” ucap Median, menengkan Sofi yang menangis terisak, ia masih syok.


Diori segera berlari mendekati adiknya yang menangis.


“Sofi kenapa Pa?” Diori sangat khawatir.


Aktara terdiam ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Sofi dengan baik.


“Gak apa-apa Didi, Sofi cuma terpleset tadi.” ucap Median, Diori menatap tajam kearah Aktara.


“Maaf atas kejadian tadi”Abraham berbisik.


“Gak apa-apa, Sofi hanya syok, ini bukan salah Tata, Sofi yang lari tadi, kita semua liat, Tata sudah memperingatkanya dan menyelamatkan Sofi.” Jelas Median, Abraham mengangguk mereka memang melihat semua kejadian itu.


“Sofi sudah tidur?” Anisa baru keluar dari kamar tamu dimana Sofi dan Diori berada, Diori tidak pernah lepas menunggui adik kesayanganya itu.

__ADS_1


Aktara hanya bisa berdiri di luar pintu kamar itu, ia tidak berani untuk masuk, Aktara benar-benar merasa bersalah saat ini, harusnya ia bisa mencegah hal ini terjadi.


“Kami pulang dulu ya.” Median pamit sambil mengendong gadis kecilnya.


“Hati-hati.” Ucap Anisa dan Abraham bersamaan. Aktara masih diam mematung menatap kepergian mereka.


Median bisa melihat dengan jelas penyesalan diri wajah anak laki-laki itu, walau Median sudah mengatakan bahwa ini bukan salah Aktara pada Diori, tetap saja Diori tidak mau mendengar, ia masih menyalahkan Aktara atas kejadian itu dan sejak saat itu hubungan mereka merengang.


Flas Back Off


****


“Jadi semuanya karena Sofi pa?”


“Bukan hanya karena kamu sayang, Didi dan Tata juga sempat bertengakar karena memperebutkan seorang


gadis, kamu ingat pacar pertama Didi.”


“Kak Melisa.” Jawab Sofi cepat, ia sangat ingat dengan Melisa, gadis yang sangat cantik.


“Iya, mereka sempat berkelahi karena Melisa, tapi sepertinya Diori yang menang” Sofi tertawa


mendengarnya.


“Walau mereka mendiamkan, Papa tahu mereka saling peduli satu sama lain, buktinya setiap Didi atau Tata ulang tahun mereka saling mengirimkan kado setiap tahunya, tidak ada yang lebih paham Didi selain Tata begitu juga


sebaliknya.” Sofi mengagah tidak percayah atas apa penjelasan Median.


“Mereka itu saling peduli, saling menjaga, cuma gengsi mereka terlalu tinggi, terutama Didi. Kakak mu itu tidak mau mengakui kesalahnya walau Tata sudah mengaku kesalahnya.” jelas Median. Sofi mengangguk paham


“Pa, Sofi bakal buat mereka baikan lagi” tekat Sofi


“Papa dukung.”


Sebuah suarah membuat mereka menoleh kerah pintu kamar Sofi “Ayo makan malam.” Diori mengetuk pintu kamar Sofi dan melihat Ayahnya sedang duduk sambil mengelus kepala Sofi yang sedang berbaring di pahanya. Diori  mendekat, ia juga mengambil tempat yang sama dengan Sofi meletakan kepalanya di paha Ayahnya,


“Kakak ngapain sih ikut-ikutan?” protes Sofi.


“Kenapa? Papa juga Papa kakak!” Diori tidak peduli, Ayanya kemudian mengelus kedua kepala anaknya.


“Sofi, kamu belum jawab handuk itu dari siapa?” Diori memperhatikan handuk yang tergantung di belakang pintu kamat Sofi

__ADS_1


“Ada deh.” Jawab Sofi dan Ayahnya bersamaan. lalu mereka terkekeh melihat Diori yang terlihat kesal.


__ADS_2