
“Jadi Anis yang ngasiin
kaca matanya?” Dio bertanya pada sahabatnya yang sudah lama tidak diajaknya
berbicara, walau mereka selalu memperhatikan satu sama lain, tapi Diori sangat
merindukan suasana seperti ini.
“Iya, tadi dia habis ke
kamar ganti kayaknya, Sofi lupa tadi.” Aktara menjelaskan, Dio mengangguk ia
tidak akan terkejut dengan sifat teledor adiknya itu yang sangat akut.
“Di, kita harus bahas soal
Melisa.” Aktara berucap, seketika Diori menatap Aktara dengan serius.
“Ya kita harus
membahasnya.” jawab Diori dengan nada serius, bagaimanapun juga wanita itu
sangat berbahaya untuk mereka terutama untuk Sofi adiknya, Diori harus mencari
cara agar adiknya menjaga jarak dengan Melisa, laki-laki itu takut adiknya akan
tersakiti nantinya.
“Gue ngerasa sesuatu yang
gak beres dengan tu cewek.” Aktara menerawang, mengingat wajah Melisa saat
bertemu denganya beberapa waktu yang lalu, wajah yang di pelihatkan Melisa sama
saat wanita itu berpura-pura padanya dan membodohi Aktara hingga menyalakan
Diori jika wanita itu menangis dengan air mata palsunya, tapi kali ini Aktara
tidak akan tertipu lagi.
“Dia ngajak aku
balikkan.” Aktara terkejut mendengarnya.
Setelah Melisa mengadu dombah mereka, lalu
menduakan bukan tapi juga meniggalkan mereka, karena setelah wanita itu putus
dengan Diori dan Aktara, mereka baru tahu bahwa Melisa juga memiliki pacar
bernama Johan dan tidak tahu bagaimana hubungan kisah cintah mereka yang Aktara
tahu Melisa pergi kulia di Singapur setelah lulus SMA.
“Terus kamu?”
“Ya, aku nolak la, mana
mungkin aku mau balikan sama tu ular berbisa, bisa-bisa nanti aku digigitnya.”
cetus Diori membuat Aktara tertawa.
“Kamu bisa aja.” kemudian
mereka tertawa bersama, mengingat kejadian dimana mereka berkelahi hanya
gara-gara Melisa.
“Di, aku khawatir soal
Sofi, adik kamu terlalu polos, dia ngak tahu Melisa kayak apa.” Aktara menginggatkan.
“Aku akan jagain Sofi,
apapun yang terjadi, tapi aku juga gak bisa maksa Sofi untuk memusuhi Melisa,
Sofi sudah mengangap cewek itu sebagi kakak perempuanya.” Diori menjelaskan. Aktara
mengangguk mengerti ia sangat tahu bagaimana Sofi sangat menyayangi Melisa.
“Gue juga akan jaga
Sofi, kamu tenang aja.” ucapan Aktara terdengar seakan dia sedang berjanji.
Diori menatap Aktar
dengan tajam “Jangan bilang kamu suka sama Sofi?” suara Diori terdengar datar.
Aktar menelan ludahnya dalam hati ia mengutuk dirinya mengapa berjanji seperti
itu, sekarang ia harus mencari alasan agar Diori tidak curiga dan yang pasti
Aktara tidak mau momen langkah ini berakhir, karena mereka baru saja akrab
lagi.
***
Sofi, Median dan Diori
terlihat lahab menikmati makan malamnya, walau sederhana tapi momen itu yang
paling Sofi sukai, dari dulu mereka sebisa mungkin akan makan bersama setiap
hari mulai dari sarapan, makan malam, terkecuali makan siang, karena mereka
terpisah saat siang hari, tapi di saat semuanya libur mereka akan makan siang
bersama, bukan hanya itu mereka juga masak bersama membersihkan rumah bersama,
membersihkan taman bersama.
Setelah itu mereka akan
menikmati menonton tv atau bermain catur, biasanya yang kalah akan bertugas
memasak dan biasanya Diorilah yang kalah, tapi tetap saja walau Diori kalah,
Sofi dan ayahnya akan membantu tugasnya memasak sepeti tadi sore saat semuanya
berkumpul di rumah. Ayah Sofi menantang Sofi bermain catur dan Sofi kalah,
terus Sofi menatang Diori bermain catur dan Diori kalah, hingga membuat laki-laki
itu harus memeasak makan malam mereka.
“Kak nanti jadi chef
aja, kakak kan kalah terus,” ucap Sofi sambi menikmati masakan yang Diori masak
walau bukan sepenuhnya Diori yang memasaknya.
“Ide yang bagus. ayah
Sofi mendukung ide anak gadisnya, Diori mendengus kesal, Sofi dan ayahnya
selalu mengejeknya jika ia kalah dalam permainan catur.
“Pa, nanti Sofi pingin
buka restoran aja dan kak Dio yang jadi chefnya”
“Bener tuh, papa akan
modalin kamu.” jawab Median antusias.
“Yang mau masak di
restoran kamu siapa dek?” Diori berucap ketus.
“Pokoknya kakak harus buka
restoran, Sofi yakin restoran kita akan maju, kalau kakak yang masak.” Sofi dan
Median semakin antusias atas ide Sofi.
“Kalau aku masak di
restoran kamu, ngapain cobahaku kulia jurusan bisnis.”
“Kenapa emangnya? Kan
buka restoran juga bisnis kak.” Sofi tidak mau kala.
“Bener Di, apa yang
katakan Sofi, kamu bisa bisnis sendiri dengan membuka restoran. Kamu gak harus
kerja sama orang lain, kamu bahkan bisa lapangan pekerjaaan untuk orang lain”
Jelas Median pada anak sulungnya itu.
“Setujuh!” seru Sofi “Nanti
nama restoran Sori resto,” usul Sofi tangan kananya melayang di udara seakan
sedang merabah kaca, Diori meringis mendengranya.
“Nama yang aneh,” guman
Diori “Mana ada restoran minta maaf.”
“Bukan sorry resto kak, tapi Sori resto, itu artinya Sofi
Diori Resto, kak harus masukin nama aku karena ini ide aku.” Sofi menjelaskan,
ayah sofi mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
“Terserah, kakak gak
bakalan buka restoran titik!” Diori masih bersi keras.
Sofi cemberut, sambil
memancungkan bibirnya, “Sudahlah Sofi, mungkin Didi perlu berpikir tentang ide
cermerlang kita.” Ayahnya menjelaskan, Sofi mengangguk setujuh lalu memeluk
papanya, ia selalu senang papanya selalu menbelahnya.
“Maksih pa, papa memang
papa paling hebat di dunia, papa selalu bisa nenangi Sofi, bikin Sofi sabar
dengan kakak Sofi yang selalu sok tebar pesona itu.” Sofi menunjuk Diori sontak
mata diori melotot melihatnya,
“Mulai deh manjanya
sama papa aku.” gumam Diori
“Ih, siapa bilang papa,
papa kakak, papa ini papanya Sofi titik!” Sofi semakin kencang memeluk papanya,
sontak Median tertawa lepas melihat kedua anaknya memperebutkan dirinya, mereka
tidak akan bosan untuk memperebutkan ayahnya sendiri.
“Sudah jangan berebut,
papakan, papa kalian, papa akan selalu ada buat kalian, jagain kalian sampai
akhir hayat papa, kalaupun papa gak ada Didi akan jaga kamu sayang.” ucap
papanya bijak, Sofi tiba-tiba terharu mendengarnya, air matanya menetes
mendengar ucapan itu, gadis itu takut ayahnya pergi meninggalkanya.
“Sofi sayang papa, papa
jangan pernah tinggalin Sofi ya, hiks.. hiks..”
“Papa janji gak akan
tinggalin anak-anak papa.” ucap ayahnya sambil mencium puncak kepala anaknya.
“Dasar cengeng, liat tu
ingus sampai meler.” cetus Diori setelah menghabiskan makan malamnya.
“Kakak!” perotes Sofi,
ia kesal Diori mengejeknya, Diori dan ayahnya tertawa bersamaan melihat
ekspresi wajah Sofi.
***
Sofi pulang dari
kampusnya bersama Diori sudah seharian mereka berada di kampus, tadi papanya
sudah mengirimkan pesan singkat mengatakan bahwa ia sudah memasak makan malam
untuk mereka. Diori menautkan dua alisnya saat melihat beberapa mobil di
halaman rumahnya dan beberapa berseragam coklat.
“Kak kok ada polisi.”
gumam Sofi, dengan cepat gadis itu turun sambil berlari menujuh rumah mencari
keberadaan papanya, ia takut terjadi apa-apa pada ayahnya, Diori juga ikut
berlari mengikuti Sofi.
Papanya sedang duduk
bersama beberapa polisi di ruang tamu, “Papa ada apa?” Suara Sofi tampak
bergetar.
“Tidak ada apa-apa
sayang, Papa hanya harus ikut pak polisi dulu sebetar ada yang harus mereka
tanyakan.” ucap ayahnya setenang mungkin, walau dalam hati ia sangat sedih saat
melihat anaknya itu, Sofi mengeleng kuat ia menangis memeluk ayahnya.
“Pak polisi, jangan
bawah papa.” Sofi memohon
pertanyaan yang harus kami tanyakan pada pak - “
“Kenapa tidak tanya
sekarang aja.” ucap Sofi memotong ucapan polisi ia masih memeluk papanya sambil
terisak.
“Ini sudah prosedur,
maafkan saya.” ucap Polisi itu kemudian membawah ayahnya.
Diori yang melihat
kejadian itu segera menarik Sofi agar melepaskan pelukanya pada papa mereka,
Diori juga menatap papanya dengan tatapan bertanya apa yang sedang terjadi,
tapi ayahnya tersenyum lembut menandakan semua akan baik-baik saja, Diori
mengangguk tanda mengerti.
Median pergi bersama Polisi
itu. Sofi masih menagis dalam pelukan Diori, sebenarnya Diori juga bingung apa
yang sebenarnya terjadi, tapi sekarang ia harus bisa berpikir jernih agar bisa
menenangkan adiknya.
“Kita makan yuk dek,
kakak lapar nih.” ucap Diori setenang mungkin
“Kakak! Kok bisa-bisanya
kakak makan disaat seperti ini, papa di bawah polisi kak.” Sofi ketus.
“Tadi papa bilang kita
harus makan., Papa sedih loh kalau kita gak makan masakanya, adek mau bikin
papa sedih?” Sofi mengeleng lemah “Yaudah, kita makan duluh ya, nanti kakak cari
tau apa yang terjadi sama papa.”
Walau makanan itu
tampak lezat dan mengundang selerah, tapi suasana malam itu sangat sepi, Diori
dan Sofi hanya menyendok beberapa suap makanya mereka tidak berselerah.
***
Aktara melajukan
mobilnya dengan cepat menuju kediaman Diori ia baru saja mendengar kabar dari
papanya kalau ayah Diori di tangkap.
“Di, buka!” Aktara
berteriak di balik pintu rumah itu, tidak beberapa lama pintu itu terbuka,
seorang laki-laki yang terlihat kacau dan binggung berdiri disana.“Sorry ganggu kamu, aku baru taru tahu
dari papa, tadi om menelpon ke rumah.” jelas Aktara.
“Masuklah.” Aktara
memasuki rumah itu, ya rumah yang lebih dari sepuluh tahun ini tidak pernah ia
datangi, tidak ada yang berubah disana hanya beberapa poto baru terpajang di
sana. Nuansa rumah itu selalu sederhana, namun bisa membuat damai siapa saja
yang memasukinya, tidak ada kolam renang atau piano di rumah itu, hanya ada
ruang tamu, ruang tv dan dapur dan sebuah kamar yang biasa di huni ayahnya di
bagian lantai dasar dan di lantai atas terdapat dua kamar dan sebuah kamar
tamu. Rumah itu jauh di bandingkan rumah Aktara, bahkan rumah itu tidak sampai seperempat
rumah Aktara.
“Apa yang sebenarnya
terjadi?” tanya Diori pada Aktara, seharusnya Diorilah yang menjelaskan tapi ia
__ADS_1
benar-bernar tidak tahu harus mengatakan apa lagi sekarang.
“Aku juga gak yakin Di,
aku-” Aktara memberhentikan ucapanya saat mendengar suara ketukan pintu dari
pintu depan, Aktara dan Diori saling bertatapan seolah sedang bertanya satu
sama lain Aktara dan Diori bahkan mengeleng bersamaan mengisyaratka bahwa tidak
ada satupun yang mengetahui itu siapa.
Diori membuka pintu itu
dengan ragu, karena sekarang sudah jam dua pagi, beruntung Sofi telah tidur
tadi sebelum Aktara datang gadis itu terus menangis sampai ia tertidur.
“Maaf apa benar ini
kediaman pak Median, kami dari pihak KPK di tugaskan untuk menyita rumah ini,
karena bapak terlibat penyelundupan dana di perusahan tempat beliau bekerja.” Jelas Laki-laki
berpakaian jaket kulit hitam.
“Tidak mungkin.” jawab
Aktara, sebelum Diori sempat membuka mulutnya untuk membantah omongan orang
itu.
“Maaf nak, ini surat
perintahnya jika kamu tidak percaya pada kami.” Dengan cepat Aktara membuka
surat perintah itu, laki-laki itu mengeleng kuat. Mana mungkin papa Diori
melakukan semua itu, kalupun benar mana mungkin mereka masih hidup seperti ini
sejak sepuluh tahun lalu, tidak ada yang berubah, selain itu juga Diori walau
ia populer tapi ia selalu mengenakan pakaian yang sederhana jauh dari kata
bermerk mahal begitu juga dengan Sofi.
Aktara tahu betul
bagaimana Median mendidik anak-anaknya dengan kesederhanaan dan kasih sayang
bukan dengan uang. selain itu Diori juga mendapat biaya siswa di kampusnya
karena otaknya, begitu juga dengan Sofi, Diori juga membuka usaha online shop yang di jalankanya sejak empat
tahun lalu, mobil yang ia gunakan sekarang merupakan hasil keringatnya sendiri.
Diori mengangguk, sekarang
ia tahu sudah duduk masalahnya, ayahnya di tuduh korupsi, Diori mengambil surat
itu dan membaca semuanya ia sempat tersenyum setelah membacanya, “Kapan kami
harus pindah?” tanya Diori pada petugas itu.
“Anda di beri waktu 3 X
24 jam, tapi kami harus memasang segel ini sekarang.” jawabnya
“Baik terimakasih.”
Diori tersenyum.
Aktara mengeleng
bingung, bagaimana Diori setenang itu menghadapi semuanya?
“Di, apa yang
sebenarnya kamu lakuin, kamu bahkan tidak membantah mereka yang menuduh papa
kamu korupsi!” Aktara berucap ketus ia benar-benar geram dengan tingkah
sahabatnya ini, biasanya Diori lebih tidak terkendali dari pada dirinya.
“Ta, kalau aku membelah
diri, apa mereka akan menghentikan semuanya? Tidak akan Ta, mereka juga sedang
menjalankan tugas mereka.” Diori menjawab setenang mungkin.
“Jadi kamu percaya papa
kamu korupsi ha?!” Aktara semakin marah
“Kalu papa korupsi mana
mungkin kami masih tinggal disini Ta, terus ngapin juga aku masih jualan, buat
biaya tambahan kulia aku,” Diori menepuk bahu Aktara mencobah menenangkan
sahabatnya, walau sebenarnya ia sendiri tidak bisa tenang. “Ta, aku bisa minta
tolong?”
“Apapun katakan?”
Aktara menatap Diori.
“Tolong jagain Sofi
sebentar aku mau ke kantor Polisi untuk nanyain ini semua secara langsung.”
Aktara mengangguk cepat.
“Hati-hati Di.” Pesan
Aktara sebelum Diori pergi menugunakan mobilnya.
***
Diori melajukan mobilnya
dengan kecepatan sedang, sebenarnya pikiranya masih berkecambuk, ia bingung
dengan semua ini. Sesampainya di kantor Polisi, Media menjelaskan semuanya. Benar dugaan Diori
papanya di jebak, nama mungkin ayahnya melakukan hal yang tidak terpuji itu.
“Di, papa mohon kamu
jaga Sofi dulu ya selama papa disini, kita masih ada rumah satu lagi, rumah
mama kamu dulu, tapi sepertinya penyewanya masih di sana untuk beberapa bulan
lagi.” jelas ayahnya Diori mengangguk paham “Untuk sementara papa nitipin kalian
di rumah Abramam, kamu harus tahu diri kalau tinggal di rumah orang lain, walau
keluarga Abraham sangat baik.” Jelas Ayahnya.
“Pa Didi akan cari
kontrakan aja, aku masih punya tabungan, Didi juga akan jual mobil.” Diori
mulai menyusun rencana untuk kedepanya.
“Di, simpan tabungan
kamu untuk kebutuhan lain, dan kalau bisa jangan jual mobil kamu, papa tahu
kamu sanyang sekali dengan mobil itu, untuk sementara tinggal saja dulu disana,
Abraham yang meninta Di.” jelas ayahnya.
Benar Abraham yang
meminta agar Diori dan Sofi tinggal disana setelah tadi Median menghubunginya
memberitahu keadaanya sebenaranya karena cuma Abrahan sabahat sekaligus
keluarga yang di milikinya, sebenarnya Median tidak mau menitipkan
anak-anaknya, ia merasa akan membebani keluarga itu, tapi Abrahm memaksa, Abraham
juga berjanji menyelidiki kasus yang sedang menimpahnya.
“Papa tahu, hubungan
kamu dan Tata baru mulai membaik, tapi papa harap hubungan kalian semakin baik
lagi jika kamu juga tinggal disana.”
***
Aktara membuka kamar
Sofi perlahan, ia melihat sosok gadis itu sedang tertidur nyenyak, walau jelas
bekas air mata yang mengering di pipinya, ia tahu Sofi sangat rapuh sekarang.
“Papa.” guamam Sofi di
tengah tidurnya, Aktara mengelus rambut gadis itu pelan.
“Semua akan baik-baik
saja, aku janji akan jaga kamu, kamu jangan nagis lagi ya.” bisik Aktara pada
__ADS_1
gadis itu lalu mencium keningnya, Aktara segera meninggalkan kamar itu ia
benar-benar tidak tegah melihat Sofi seperti itu.