Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 16


__ADS_3

“Jadi Anis yang ngasiin


kaca matanya?” Dio bertanya pada sahabatnya yang sudah lama tidak diajaknya


berbicara, walau mereka selalu memperhatikan satu sama lain, tapi Diori sangat


merindukan suasana seperti ini.


“Iya, tadi dia habis ke


kamar ganti kayaknya, Sofi lupa tadi.” Aktara menjelaskan, Dio mengangguk ia


tidak akan terkejut dengan sifat teledor adiknya itu yang sangat akut.


“Di, kita harus bahas soal


Melisa.” Aktara berucap, seketika Diori menatap Aktara dengan serius.


“Ya kita harus


membahasnya.” jawab Diori dengan nada serius, bagaimanapun juga wanita itu


sangat berbahaya untuk mereka terutama untuk Sofi adiknya, Diori harus mencari


cara agar adiknya menjaga jarak dengan Melisa, laki-laki itu takut adiknya akan


tersakiti nantinya.


“Gue ngerasa sesuatu yang


gak beres dengan tu cewek.” Aktara menerawang, mengingat wajah Melisa saat


bertemu denganya beberapa waktu yang lalu, wajah yang di pelihatkan Melisa sama


saat wanita itu berpura-pura padanya dan membodohi Aktara hingga menyalakan


Diori jika wanita itu menangis dengan air mata palsunya, tapi kali ini Aktara


tidak akan tertipu lagi.


“Dia ngajak aku


balikkan.” Aktara terkejut mendengarnya.


Setelah Melisa mengadu dombah mereka, lalu


menduakan bukan tapi juga meniggalkan mereka, karena setelah wanita itu putus


dengan Diori dan Aktara, mereka baru tahu bahwa Melisa juga memiliki pacar


bernama Johan dan tidak tahu bagaimana hubungan kisah cintah mereka yang Aktara


tahu Melisa pergi kulia di Singapur setelah lulus SMA.


“Terus kamu?”


“Ya, aku nolak la, mana


mungkin aku mau balikan sama tu ular berbisa, bisa-bisa nanti aku digigitnya.”


cetus Diori membuat Aktara tertawa.


“Kamu bisa aja.” kemudian


mereka tertawa bersama, mengingat kejadian dimana mereka berkelahi hanya


gara-gara Melisa.


“Di, aku khawatir soal


Sofi, adik kamu terlalu polos, dia ngak tahu Melisa kayak apa.” Aktara menginggatkan.


“Aku akan jagain Sofi,


apapun yang terjadi, tapi aku juga gak bisa maksa Sofi untuk memusuhi Melisa,


Sofi sudah mengangap cewek itu sebagi kakak perempuanya.” Diori menjelaskan. Aktara


mengangguk mengerti ia sangat tahu bagaimana Sofi sangat menyayangi Melisa.


“Gue juga akan jaga


Sofi, kamu tenang aja.” ucapan Aktara terdengar seakan dia sedang berjanji.


Diori menatap Aktar


dengan tajam “Jangan bilang kamu suka sama Sofi?” suara Diori terdengar datar.


Aktar menelan ludahnya dalam hati ia mengutuk dirinya mengapa berjanji seperti


itu, sekarang ia harus mencari alasan agar Diori tidak curiga dan yang pasti


Aktara tidak mau momen langkah ini berakhir, karena mereka baru saja akrab


lagi.


***


Sofi, Median dan Diori


terlihat lahab menikmati makan malamnya, walau sederhana tapi momen itu yang


paling Sofi sukai, dari dulu mereka sebisa mungkin akan makan bersama setiap


hari mulai dari sarapan, makan malam, terkecuali makan siang, karena mereka


terpisah saat siang hari, tapi di saat semuanya libur mereka akan makan siang


bersama, bukan hanya itu mereka juga masak bersama membersihkan rumah bersama,


membersihkan taman bersama.


Setelah itu mereka akan


menikmati menonton tv atau bermain catur, biasanya yang kalah akan bertugas


memasak dan biasanya Diorilah yang kalah, tapi tetap saja walau Diori kalah,


Sofi dan ayahnya akan membantu tugasnya memasak sepeti tadi sore saat semuanya


berkumpul di rumah. Ayah Sofi menantang Sofi bermain catur dan Sofi kalah,


terus Sofi menatang Diori bermain catur dan Diori kalah, hingga membuat laki-laki


itu harus memeasak makan malam mereka.


“Kak nanti jadi chef


aja, kakak kan kalah terus,” ucap Sofi sambi menikmati masakan yang Diori masak


walau bukan sepenuhnya Diori yang memasaknya.


“Ide yang bagus. ayah


Sofi mendukung ide anak gadisnya, Diori mendengus kesal, Sofi dan ayahnya


selalu mengejeknya jika ia kalah dalam permainan catur.


“Pa, nanti Sofi pingin


buka restoran aja dan kak Dio yang jadi chefnya”


“Bener tuh, papa akan


modalin kamu.” jawab Median antusias.


“Yang mau masak di


restoran kamu siapa dek?” Diori berucap ketus.


“Pokoknya kakak harus buka


restoran, Sofi yakin restoran kita akan maju, kalau kakak yang masak.” Sofi dan


Median semakin antusias atas ide Sofi.


“Kalau aku masak di


restoran kamu, ngapain cobahaku kulia jurusan bisnis.”


“Kenapa emangnya? Kan


buka restoran juga bisnis kak.” Sofi tidak mau kala.


“Bener Di, apa yang


katakan Sofi, kamu bisa bisnis sendiri dengan membuka restoran. Kamu gak harus


kerja sama orang lain, kamu bahkan bisa lapangan pekerjaaan untuk orang lain”


Jelas Median pada anak sulungnya itu.


“Setujuh!” seru Sofi “Nanti


nama restoran Sori resto,” usul Sofi tangan kananya melayang di udara seakan


sedang merabah kaca, Diori meringis mendengranya.


“Nama yang aneh,” guman


Diori “Mana ada restoran minta maaf.”


“Bukan sorry  resto kak, tapi Sori resto, itu artinya Sofi


Diori Resto, kak harus masukin nama aku karena ini ide aku.” Sofi menjelaskan,


ayah sofi mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


“Terserah, kakak gak


bakalan buka restoran titik!” Diori masih bersi keras.


Sofi cemberut, sambil


memancungkan bibirnya, “Sudahlah Sofi, mungkin Didi perlu berpikir tentang ide


cermerlang kita.” Ayahnya menjelaskan, Sofi mengangguk setujuh lalu memeluk


papanya, ia selalu senang papanya selalu menbelahnya.


“Maksih pa, papa memang


papa paling hebat di dunia, papa selalu bisa nenangi Sofi, bikin Sofi sabar


dengan kakak Sofi yang selalu sok tebar pesona itu.” Sofi menunjuk Diori sontak


mata diori melotot melihatnya,


“Mulai deh manjanya


sama papa aku.” gumam Diori


“Ih, siapa bilang papa,


papa kakak, papa ini papanya Sofi titik!” Sofi semakin kencang memeluk papanya,


sontak Median tertawa lepas melihat kedua anaknya memperebutkan dirinya, mereka


tidak akan bosan untuk memperebutkan ayahnya sendiri.


“Sudah jangan berebut,


papakan, papa kalian, papa akan selalu ada buat kalian, jagain kalian sampai


akhir hayat papa, kalaupun papa gak ada Didi akan jaga kamu sayang.” ucap


papanya bijak, Sofi tiba-tiba terharu mendengarnya, air matanya menetes


mendengar ucapan itu, gadis itu takut ayahnya pergi meninggalkanya.


“Sofi sayang papa, papa


jangan pernah tinggalin Sofi ya, hiks.. hiks..”


“Papa janji gak akan


tinggalin anak-anak papa.” ucap ayahnya sambil mencium puncak kepala anaknya.


“Dasar cengeng, liat tu


ingus sampai meler.” cetus Diori setelah menghabiskan makan malamnya.


“Kakak!” perotes Sofi,


ia kesal Diori mengejeknya, Diori dan ayahnya tertawa bersamaan melihat


ekspresi wajah Sofi.


***


Sofi pulang dari


kampusnya bersama Diori sudah seharian mereka berada di kampus, tadi papanya


sudah mengirimkan pesan singkat mengatakan bahwa ia sudah memasak makan malam


untuk mereka. Diori menautkan dua alisnya saat melihat beberapa mobil di


halaman rumahnya dan beberapa berseragam coklat.


“Kak kok ada polisi.”


gumam Sofi, dengan cepat gadis itu turun sambil berlari menujuh rumah mencari


keberadaan papanya, ia takut terjadi apa-apa pada ayahnya, Diori juga ikut


berlari mengikuti Sofi.


Papanya sedang duduk


bersama beberapa polisi di ruang tamu, “Papa ada apa?” Suara Sofi tampak


bergetar.


“Tidak ada apa-apa


sayang, Papa hanya harus ikut pak polisi dulu sebetar ada yang harus mereka


tanyakan.” ucap ayahnya setenang mungkin, walau dalam hati ia sangat sedih saat


melihat anaknya itu, Sofi mengeleng kuat ia menangis memeluk ayahnya.


“Pak polisi, jangan


bawah papa.” Sofi memohon


pertanyaan yang harus kami tanyakan pada pak - “


“Kenapa tidak tanya


sekarang aja.” ucap Sofi memotong ucapan polisi ia masih memeluk papanya sambil


terisak.


“Ini sudah prosedur,


maafkan saya.” ucap Polisi itu kemudian membawah ayahnya.


Diori yang melihat


kejadian itu segera menarik Sofi agar melepaskan pelukanya pada papa mereka,


Diori juga menatap papanya dengan tatapan bertanya apa yang sedang terjadi,


tapi ayahnya tersenyum lembut menandakan semua akan baik-baik saja, Diori


mengangguk tanda mengerti.


Median pergi bersama Polisi


itu. Sofi masih menagis dalam pelukan Diori, sebenarnya Diori juga bingung apa


yang sebenarnya terjadi, tapi sekarang ia harus bisa berpikir jernih agar bisa


menenangkan adiknya.


“Kita makan yuk dek,


kakak lapar nih.” ucap Diori setenang mungkin


“Kakak! Kok bisa-bisanya


kakak makan disaat seperti ini, papa di bawah polisi kak.” Sofi ketus.


“Tadi papa bilang kita


harus makan., Papa sedih loh kalau kita gak makan masakanya, adek mau bikin


papa sedih?” Sofi mengeleng lemah “Yaudah, kita makan duluh ya, nanti kakak cari


tau apa yang terjadi sama papa.”


Walau makanan itu


tampak lezat dan mengundang selerah, tapi suasana malam itu sangat sepi, Diori


dan Sofi hanya menyendok beberapa suap makanya  mereka tidak berselerah.


***


Aktara melajukan


mobilnya dengan cepat menuju kediaman Diori ia baru saja mendengar kabar dari


papanya kalau ayah Diori di tangkap.


“Di, buka!” Aktara


berteriak di balik pintu rumah itu, tidak beberapa lama pintu itu terbuka,


seorang laki-laki yang terlihat kacau dan binggung berdiri disana.“Sorry ganggu kamu, aku baru taru tahu


dari papa, tadi om menelpon ke rumah.” jelas Aktara.


“Masuklah.” Aktara


memasuki rumah itu, ya rumah yang lebih dari sepuluh tahun ini tidak pernah ia


datangi, tidak ada yang berubah disana hanya beberapa poto baru terpajang di


sana. Nuansa rumah itu selalu sederhana, namun bisa membuat damai siapa saja


yang memasukinya, tidak ada kolam renang atau piano di rumah itu, hanya ada


ruang tamu, ruang tv dan dapur dan sebuah kamar yang biasa di huni ayahnya di


bagian lantai dasar dan di lantai atas terdapat dua kamar dan sebuah kamar


tamu. Rumah itu jauh di bandingkan rumah Aktara, bahkan rumah itu tidak sampai seperempat


rumah Aktara.


“Apa yang sebenarnya


terjadi?” tanya Diori pada Aktara, seharusnya Diorilah yang menjelaskan tapi ia

__ADS_1


benar-bernar tidak tahu harus mengatakan apa lagi sekarang.


“Aku juga gak yakin Di,


aku-” Aktara memberhentikan ucapanya saat mendengar suara ketukan pintu dari


pintu depan, Aktara dan Diori saling bertatapan seolah sedang bertanya satu


sama lain Aktara dan Diori bahkan mengeleng bersamaan mengisyaratka bahwa tidak


ada satupun yang mengetahui itu siapa.


Diori membuka pintu itu


dengan ragu, karena sekarang sudah jam dua pagi, beruntung Sofi telah tidur


tadi sebelum Aktara datang gadis itu terus menangis sampai ia tertidur.


“Maaf apa benar ini


kediaman pak Median, kami dari pihak KPK di tugaskan untuk menyita rumah ini,


karena bapak terlibat penyelundupan dana di perusahan  tempat beliau bekerja.” Jelas Laki-laki


berpakaian jaket kulit hitam.


“Tidak mungkin.” jawab


Aktara, sebelum Diori sempat membuka mulutnya untuk membantah omongan orang


itu.


“Maaf nak, ini surat


perintahnya jika kamu tidak percaya pada kami.” Dengan cepat Aktara membuka


surat perintah itu, laki-laki itu mengeleng kuat. Mana mungkin papa Diori


melakukan semua itu, kalupun benar mana mungkin mereka masih hidup seperti ini


sejak sepuluh tahun lalu, tidak ada yang berubah, selain itu juga Diori walau


ia populer tapi ia selalu mengenakan pakaian yang sederhana jauh dari kata


bermerk mahal begitu juga dengan Sofi.


Aktara tahu betul


bagaimana Median mendidik anak-anaknya dengan kesederhanaan dan kasih sayang


bukan dengan uang. selain itu Diori juga mendapat biaya siswa di kampusnya


karena otaknya, begitu juga dengan Sofi, Diori juga membuka usaha online shop yang di jalankanya sejak empat


tahun lalu, mobil yang ia gunakan sekarang merupakan hasil keringatnya sendiri.


Diori mengangguk, sekarang


ia tahu sudah duduk masalahnya, ayahnya di tuduh korupsi, Diori mengambil surat


itu dan membaca semuanya ia sempat tersenyum setelah membacanya, “Kapan kami


harus pindah?” tanya Diori pada petugas itu.


“Anda di beri waktu 3 X


24 jam, tapi kami harus memasang segel ini sekarang.” jawabnya


“Baik terimakasih.”


Diori tersenyum.


Aktara mengeleng


bingung, bagaimana Diori setenang itu menghadapi semuanya?


“Di, apa yang


sebenarnya kamu lakuin, kamu bahkan tidak membantah mereka yang menuduh papa


kamu korupsi!” Aktara berucap ketus ia benar-benar geram dengan tingkah


sahabatnya ini, biasanya Diori lebih tidak terkendali dari pada dirinya.


“Ta, kalau aku membelah


diri, apa mereka akan menghentikan semuanya? Tidak akan Ta, mereka juga sedang


menjalankan tugas mereka.” Diori menjawab setenang mungkin.


“Jadi kamu percaya papa


kamu korupsi ha?!” Aktara semakin marah


“Kalu papa korupsi mana


mungkin kami masih tinggal disini Ta, terus ngapin juga aku masih jualan, buat


biaya tambahan kulia aku,” Diori menepuk bahu Aktara mencobah menenangkan


sahabatnya, walau sebenarnya ia sendiri tidak bisa tenang. “Ta, aku bisa minta


tolong?”


“Apapun katakan?”


Aktara menatap Diori.


“Tolong jagain Sofi


sebentar aku mau ke kantor Polisi untuk nanyain ini semua secara langsung.”


Aktara mengangguk cepat.


“Hati-hati Di.” Pesan


Aktara sebelum Diori pergi menugunakan mobilnya.


***


Diori melajukan mobilnya


dengan kecepatan sedang, sebenarnya pikiranya masih berkecambuk, ia bingung


dengan semua ini. Sesampainya di kantor Polisi, Media  menjelaskan semuanya. Benar dugaan Diori


papanya di jebak, nama mungkin ayahnya melakukan hal yang tidak terpuji itu.


“Di, papa mohon kamu


jaga Sofi dulu ya selama papa disini, kita masih ada rumah satu lagi, rumah


mama kamu dulu, tapi sepertinya penyewanya masih di sana untuk beberapa bulan


lagi.” jelas ayahnya Diori mengangguk paham “Untuk sementara papa nitipin kalian


di rumah Abramam, kamu harus tahu diri kalau tinggal di rumah orang lain, walau


keluarga Abraham sangat baik.” Jelas Ayahnya.


“Pa Didi akan cari


kontrakan aja, aku masih punya tabungan, Didi juga akan jual mobil.” Diori


mulai menyusun rencana untuk kedepanya.


“Di, simpan tabungan


kamu untuk kebutuhan lain, dan kalau bisa jangan jual mobil kamu, papa tahu


kamu sanyang sekali dengan mobil itu, untuk sementara tinggal saja dulu disana,


Abraham yang meninta Di.” jelas ayahnya.


Benar Abraham yang


meminta agar Diori dan Sofi tinggal disana setelah tadi Median menghubunginya


memberitahu keadaanya sebenaranya karena cuma Abrahan sabahat sekaligus


keluarga yang di milikinya, sebenarnya Median tidak mau menitipkan


anak-anaknya, ia merasa akan membebani keluarga itu, tapi Abrahm memaksa, Abraham


juga berjanji menyelidiki kasus yang sedang menimpahnya.


“Papa tahu, hubungan


kamu dan Tata baru mulai membaik, tapi papa harap hubungan kalian semakin baik


lagi jika kamu juga tinggal disana.”


***


Aktara membuka kamar


Sofi perlahan, ia melihat sosok gadis itu sedang tertidur nyenyak, walau jelas


bekas air mata yang mengering di pipinya, ia tahu Sofi sangat rapuh sekarang.


“Papa.” guamam Sofi di


tengah tidurnya, Aktara mengelus rambut gadis itu pelan.


“Semua akan baik-baik


saja, aku janji akan jaga kamu, kamu jangan nagis lagi ya.” bisik Aktara pada

__ADS_1


gadis itu lalu mencium keningnya, Aktara segera meninggalkan kamar itu ia


benar-benar tidak tegah melihat Sofi seperti itu.


__ADS_2