Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS -27


__ADS_3

Seorang laki-laki


datang ke ruangan Aktara untuk menawarkan bantuan, Aktara tahu betul siapa


orang itu Lucas Wijaya adalah seorang pengusaha yang sukses dalam bidangnya, ia


juga salah satu rekan bisnis ayahnya Abraham, serta Lukas adalah ayah dari


seorang yang paling di bencinya seumur hidup.


“Selamat siang.” sapa


Lukas rama.


“Selamat siang, pak


Lukas, apa yang anda inginkan?”


“Saya senang dengan


anda nak Aktara, laki-laki yang tidak suka berbasah basih.” Aktara


menyeringitkan alisnya, ia tahu ada yang tidak beres. “Saya datang kesini,


karena saya ingin menawarkan bantua, walau sebenarnya saya sangat marah pada ayah


anda berani menyakiti anak saya, tapi karena Melisa memohon pada saya untuk


membebaskan ayah anda maka saya akan melakukanya selain itu saya juga akan


membantu mengembalikan perusahaan yang hampir bangkrut ini ke keadaan semula,


tapi dengan satu syarat anda harus menikahi anak saya Melisa.” Jelas Lucas


“Jangan harap!” hardik


Aktara kesal, Lucas tertawa lepas mendengar penolakannya.


“Saya juga akan


membebaskan Median dan menghapus semua kasus itu, termasuk kasus Abraham,”


Aktara segera menoleh mendengar nama Median di sebut, “Dan saya pastikan jika


anda menolak, keduanya akan mendekam di penjara seumur hidup mereka.” ancam


Lucas.


Aktara mengepalkan


tanganya kesal ingin sekali ia membunuh Lucas sekarang.


***


Sudah empat minggu sejak


kejadian pengiriman poto itu dan selama itu pula Sofi mendiamkan Aktara, walau


setiap hari laki-laki mencobah berbicara padanya, Sofi tetap mendiamkanya, tapi


ada sesuatu yang membuat Sofi ingin mendatangi Aktara, laki-laki itu semakin


hari semakin kacau.


“Sofi, aku mohon kita


harus bicara sayang,” ucap Aktara memohon


“Bicaralah,” Jawab Sofi


datar.


“Tidak di sini.” Aktara


menarik tangan Sofi membawa gadis itu kedalam mobilnya, gadis itu sempat


menolak, tapi mereka benar-benar harus bicara untuk meluruskan masalah yang


sedang mereka hadapi sekarang, karena ini menyangkut hubungan yang mereka


jalin.


Selama dalam perjalanan


semuanya diam, tidak ada yang berbicara apapun, hingga akhirnya Aktara


menepikan mobil itu di tepi pantai, tapi tidak ada satupun yang keluar dari


mobil itu, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Aku minta maaf.” ucap


Aktara memecah keheningan, “Aku gak tahu harus, bagaimana sekarang, kenapa


semuanya terjadi sangat mendadak, ini terlalu berat untuk ku, aku butuh kamu


sayang buat dukung aku.” Aktara menatap Sofi dengan mata seduh, gadis itu masih


diam, sebenarnya ia binggung dengan arah pembicaraan Aktara.


“Aku janji akan nikah


sama kamu, tapi beri aku waktu untuk nyelesain semua ini, dan aku butuh kamu

__ADS_1


sayang buat dukung aku keluar dari masalah ini.” Aktara munduk.


Sofi baru pertama kali


melihat Aktara sangat rapu selama ini ia melihat, laki-laki ini sangat kuat,


sebuah dorongan dari dalam hati Sofi membuat gadis itu memeluk Aktara, gadis


itu merasa Aktara sekarang sedang menanggung beban berat, Sofi mulai mengelus


punggung Aktara lembut. Ia juga bisa merasakan punggung Aktra yang bergetar


hebat dan tarikan napas berat yang pacarnya itu lakukan.


“Ada apa?” Sofi


berbisik pelan


“Aku mencintaimu Sofi,


aku sangat mencintaimu Sofiku.” ucap Aktara liri, Sofi tiba-tiba merasakan


sesuatu menetes di bahunya, Sofi melepas pelukanya lalu menatap Aktara, ini


pertama kalinya Aktara menangis di hadapanya, jari-jari mungil Sofi menghapus


air mata itu.


“Ada apa?” tanya Sofi


sekali lagi


“Aku terlalu bahagia, karena


memilikimu Sofiku.” jawab Aktara lalu mencium bibir Sofi lembut gadis itu


membalas, tapi ada sesuatu yang menganjal di hatinya seperti ada yang di


sembunyikan Aktara darinya.


***


Sofi baru saja pulang


diantara Aktara, laki-laki itu tidak bisa mampir karena ada keperluan lain, Sofi


memaklumi itu. Langkah Sofi terhenti saat mendengar suara Melisa dan Diori


sedang bertengkar, Diori berulang kali mengusir Melisa.


“Pergi!” teriak Diori,


Melisa masih berdiri diambang pintu, Sofi melangkah dengan ragu mendengar


pertengkaran itu


memeluk Sofi, Sofi hanya diam tidak ingin membalas pelukan itu, Sofi sangat


membanci Melisa karena tidur dengan Aktara.


“Sofi aku minta maaf


sunggu.” Melisa memohon.


“Pergi Jalang!” teriak


Diori


“Kamu harus tahu aku


hamil anak Aktara sekarang.” ucap Melisa sambil menangis, seperti ada petir


yang menyabar tubuh Sofi, ia benar-benar merasa sakit, baru saja ia berbaikan


dengan Aktar dan sekarang Melisa hamil anak kekasihnya.


“Jangan ngarang kak.”


jawab Sofi datar


“Pergi Melisa, aku muak


ngeliat lo!” Teriak Diori


“Kalian harus tahu, aku


benar-benar mengandung anak Aktara, dan saat aku meminta pertanggung jawabanya,


Aktara mengabaikanku karena kamu!” Melisa menunjuk Sofi.


“Itu karena kau yang


memperkosa Aktara.” Diori kesal, ia segera menarik Sofi menjahu dari ular


berbisa itu.


Melisa tiba-tiba


tersenyum, terlihat seringan jahat di sana “Kau benar Dio, tapi tidak terlalu


pintar untuk tahu Abraham di penjara dan perusahaannya diambang kehancuran,”  ucap Melisa sinis. “Kalian memang benalu


bisanya bergantung pada orang lain sedang orang yang kalian gantungi sedang

__ADS_1


sekarat.”


“Apa maksud mu kak?”


Suarah Sofi terdengar bergetar.


“Sofi jangan dengarkan


apapun kata pelacur itu.” Diori menahan Sofi yang hendak mendekari Melisa


meminta penjelasan lebih.


“Kalian semua egois,


membiarkan Aktara menanggung beban itu sendirian, tapi aku, aku akan


membantunya menyelesaikan masalah itu semua.” Jawab Melisa.


Sofi merasa bingung pada


semua ini, gadis itu memegang kepalangnya yang terasa sangat sakit mendengarkan


semua ucapan Melisa, tiba-tiba semuanya gelap.


****


Gadis itu membuka


matanya, ia menatap langit-langit kamat itu, Sofi juga melihat sosok Aktara


yang setia duduk di samping tempat tidurnya, laki-laki itu mencium lembut kening


Sofi. “Kak Tara, aku sayang kakak.” ucap Sofi lemah.


Flas back


Aktara segera datang


kerumah Diori saat laki-laki itu memberitahu kalau Sofi tidak sadarkan diri,


Aktara segera memutar kemudinya kembali kerumah itu, tadi ia berencana


mengunjungi ayahnya di penjara.


“Ta, kita harus bicara,”


Diori berucap, setelah mereka memindahkan Sofi kekamar. “Melisa datang dan


mengatakan semuanya, jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya?”


Aktara masih diam, ia


engan menjelaskan itu, ia tahu sekarang Aktara masih lemah, tidak bisa berbuat


apa-apa untuk membantu keluarganya, walau ia sudah berusaha sekeras mungkin.


“Ta, aku percaya sama


kamu.”


“Di, papa masuk penjara


empat minggu lalu, karena Melisa datang dengan membawa poto-poto sialan itu,


papa memukulnya dan Melisa melaporkan pada Polisi, perusahaan papa juga sedang


dalam masalah, aku yakin ini semua terjadi karena ada campur tangan Lucas.”


Diori sempat terdiam sesaat,


“Apa yang akan kamu lakukan?”


“Lucas datang


menawarkan bantuan, tapi dengan syarat aku harus menikahi Melisa, tentu saja


aku menolak itu semua.”


“Melisa mengandung anak


mu.” Diori memberitahu, seketika Aktara menegang mendengarnya, ia mengeleng


kuat.


“Gak mungkin, dan


kalupun itu terjadi aku tidak akan menikahinya.”


“Ta, kamu tidak boleh


egois, kamu tahukan Melisa tidak akan pernah melepaskanmu, sebelum kau


menikahinya, dan cewek gila itu juga akan terus mencelakakan Sofi, aku tahu


kecelakaan yang kami alami itu adalah sabotase, om ngasih tau itu semua.” Jelas


Diori.


“Aku tidak akan


membiarkan itu semua Di, aku janji.” Aktara mengerang kesal, sekarang yang


Aktara inginkan adalah melindungi Sofi, dan menyelamatkan keluaraganya. “Dengan

__ADS_1


cara apapun!”


Flas Back of


__ADS_2