
Seorang laki-laki
datang ke ruangan Aktara untuk menawarkan bantuan, Aktara tahu betul siapa
orang itu Lucas Wijaya adalah seorang pengusaha yang sukses dalam bidangnya, ia
juga salah satu rekan bisnis ayahnya Abraham, serta Lukas adalah ayah dari
seorang yang paling di bencinya seumur hidup.
“Selamat siang.” sapa
Lukas rama.
“Selamat siang, pak
Lukas, apa yang anda inginkan?”
“Saya senang dengan
anda nak Aktara, laki-laki yang tidak suka berbasah basih.” Aktara
menyeringitkan alisnya, ia tahu ada yang tidak beres. “Saya datang kesini,
karena saya ingin menawarkan bantua, walau sebenarnya saya sangat marah pada ayah
anda berani menyakiti anak saya, tapi karena Melisa memohon pada saya untuk
membebaskan ayah anda maka saya akan melakukanya selain itu saya juga akan
membantu mengembalikan perusahaan yang hampir bangkrut ini ke keadaan semula,
tapi dengan satu syarat anda harus menikahi anak saya Melisa.” Jelas Lucas
“Jangan harap!” hardik
Aktara kesal, Lucas tertawa lepas mendengar penolakannya.
“Saya juga akan
membebaskan Median dan menghapus semua kasus itu, termasuk kasus Abraham,”
Aktara segera menoleh mendengar nama Median di sebut, “Dan saya pastikan jika
anda menolak, keduanya akan mendekam di penjara seumur hidup mereka.” ancam
Lucas.
Aktara mengepalkan
tanganya kesal ingin sekali ia membunuh Lucas sekarang.
***
Sudah empat minggu sejak
kejadian pengiriman poto itu dan selama itu pula Sofi mendiamkan Aktara, walau
setiap hari laki-laki mencobah berbicara padanya, Sofi tetap mendiamkanya, tapi
ada sesuatu yang membuat Sofi ingin mendatangi Aktara, laki-laki itu semakin
hari semakin kacau.
“Sofi, aku mohon kita
harus bicara sayang,” ucap Aktara memohon
“Bicaralah,” Jawab Sofi
datar.
“Tidak di sini.” Aktara
menarik tangan Sofi membawa gadis itu kedalam mobilnya, gadis itu sempat
menolak, tapi mereka benar-benar harus bicara untuk meluruskan masalah yang
sedang mereka hadapi sekarang, karena ini menyangkut hubungan yang mereka
jalin.
Selama dalam perjalanan
semuanya diam, tidak ada yang berbicara apapun, hingga akhirnya Aktara
menepikan mobil itu di tepi pantai, tapi tidak ada satupun yang keluar dari
mobil itu, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Aku minta maaf.” ucap
Aktara memecah keheningan, “Aku gak tahu harus, bagaimana sekarang, kenapa
semuanya terjadi sangat mendadak, ini terlalu berat untuk ku, aku butuh kamu
sayang buat dukung aku.” Aktara menatap Sofi dengan mata seduh, gadis itu masih
diam, sebenarnya ia binggung dengan arah pembicaraan Aktara.
“Aku janji akan nikah
sama kamu, tapi beri aku waktu untuk nyelesain semua ini, dan aku butuh kamu
__ADS_1
sayang buat dukung aku keluar dari masalah ini.” Aktara munduk.
Sofi baru pertama kali
melihat Aktara sangat rapu selama ini ia melihat, laki-laki ini sangat kuat,
sebuah dorongan dari dalam hati Sofi membuat gadis itu memeluk Aktara, gadis
itu merasa Aktara sekarang sedang menanggung beban berat, Sofi mulai mengelus
punggung Aktara lembut. Ia juga bisa merasakan punggung Aktra yang bergetar
hebat dan tarikan napas berat yang pacarnya itu lakukan.
“Ada apa?” Sofi
berbisik pelan
“Aku mencintaimu Sofi,
aku sangat mencintaimu Sofiku.” ucap Aktara liri, Sofi tiba-tiba merasakan
sesuatu menetes di bahunya, Sofi melepas pelukanya lalu menatap Aktara, ini
pertama kalinya Aktara menangis di hadapanya, jari-jari mungil Sofi menghapus
air mata itu.
“Ada apa?” tanya Sofi
sekali lagi
“Aku terlalu bahagia, karena
memilikimu Sofiku.” jawab Aktara lalu mencium bibir Sofi lembut gadis itu
membalas, tapi ada sesuatu yang menganjal di hatinya seperti ada yang di
sembunyikan Aktara darinya.
***
Sofi baru saja pulang
diantara Aktara, laki-laki itu tidak bisa mampir karena ada keperluan lain, Sofi
memaklumi itu. Langkah Sofi terhenti saat mendengar suara Melisa dan Diori
sedang bertengkar, Diori berulang kali mengusir Melisa.
“Pergi!” teriak Diori,
Melisa masih berdiri diambang pintu, Sofi melangkah dengan ragu mendengar
pertengkaran itu
memeluk Sofi, Sofi hanya diam tidak ingin membalas pelukan itu, Sofi sangat
membanci Melisa karena tidur dengan Aktara.
“Sofi aku minta maaf
sunggu.” Melisa memohon.
“Pergi Jalang!” teriak
Diori
“Kamu harus tahu aku
hamil anak Aktara sekarang.” ucap Melisa sambil menangis, seperti ada petir
yang menyabar tubuh Sofi, ia benar-benar merasa sakit, baru saja ia berbaikan
dengan Aktar dan sekarang Melisa hamil anak kekasihnya.
“Jangan ngarang kak.”
jawab Sofi datar
“Pergi Melisa, aku muak
ngeliat lo!” Teriak Diori
“Kalian harus tahu, aku
benar-benar mengandung anak Aktara, dan saat aku meminta pertanggung jawabanya,
Aktara mengabaikanku karena kamu!” Melisa menunjuk Sofi.
“Itu karena kau yang
memperkosa Aktara.” Diori kesal, ia segera menarik Sofi menjahu dari ular
berbisa itu.
Melisa tiba-tiba
tersenyum, terlihat seringan jahat di sana “Kau benar Dio, tapi tidak terlalu
pintar untuk tahu Abraham di penjara dan perusahaannya diambang kehancuran,” ucap Melisa sinis. “Kalian memang benalu
bisanya bergantung pada orang lain sedang orang yang kalian gantungi sedang
__ADS_1
sekarat.”
“Apa maksud mu kak?”
Suarah Sofi terdengar bergetar.
“Sofi jangan dengarkan
apapun kata pelacur itu.” Diori menahan Sofi yang hendak mendekari Melisa
meminta penjelasan lebih.
“Kalian semua egois,
membiarkan Aktara menanggung beban itu sendirian, tapi aku, aku akan
membantunya menyelesaikan masalah itu semua.” Jawab Melisa.
Sofi merasa bingung pada
semua ini, gadis itu memegang kepalangnya yang terasa sangat sakit mendengarkan
semua ucapan Melisa, tiba-tiba semuanya gelap.
****
Gadis itu membuka
matanya, ia menatap langit-langit kamat itu, Sofi juga melihat sosok Aktara
yang setia duduk di samping tempat tidurnya, laki-laki itu mencium lembut kening
Sofi. “Kak Tara, aku sayang kakak.” ucap Sofi lemah.
Flas back
Aktara segera datang
kerumah Diori saat laki-laki itu memberitahu kalau Sofi tidak sadarkan diri,
Aktara segera memutar kemudinya kembali kerumah itu, tadi ia berencana
mengunjungi ayahnya di penjara.
“Ta, kita harus bicara,”
Diori berucap, setelah mereka memindahkan Sofi kekamar. “Melisa datang dan
mengatakan semuanya, jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya?”
Aktara masih diam, ia
engan menjelaskan itu, ia tahu sekarang Aktara masih lemah, tidak bisa berbuat
apa-apa untuk membantu keluarganya, walau ia sudah berusaha sekeras mungkin.
“Ta, aku percaya sama
kamu.”
“Di, papa masuk penjara
empat minggu lalu, karena Melisa datang dengan membawa poto-poto sialan itu,
papa memukulnya dan Melisa melaporkan pada Polisi, perusahaan papa juga sedang
dalam masalah, aku yakin ini semua terjadi karena ada campur tangan Lucas.”
Diori sempat terdiam sesaat,
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Lucas datang
menawarkan bantuan, tapi dengan syarat aku harus menikahi Melisa, tentu saja
aku menolak itu semua.”
“Melisa mengandung anak
mu.” Diori memberitahu, seketika Aktara menegang mendengarnya, ia mengeleng
kuat.
“Gak mungkin, dan
kalupun itu terjadi aku tidak akan menikahinya.”
“Ta, kamu tidak boleh
egois, kamu tahukan Melisa tidak akan pernah melepaskanmu, sebelum kau
menikahinya, dan cewek gila itu juga akan terus mencelakakan Sofi, aku tahu
kecelakaan yang kami alami itu adalah sabotase, om ngasih tau itu semua.” Jelas
Diori.
“Aku tidak akan
membiarkan itu semua Di, aku janji.” Aktara mengerang kesal, sekarang yang
Aktara inginkan adalah melindungi Sofi, dan menyelamatkan keluaraganya. “Dengan
__ADS_1
cara apapun!”
Flas Back of