
Aktara pulang ke rumah
dengan diam, laki-laki itu segera menuju dapur mencarai batu es untuk
mengompres bengkak di pipih bagian kananya, Aktara sempat meringis karena
sakit, tapi kemudian ia tersenyum menginggat kejadian tadi, dimana Sofi
menerima suapan kuenya, gadis itu tersenyum lembut, tertawa, Sofi juga sempat
terlihat bingung.
Perlahan Aktara melihat
telapak tanganya ia kembali tersenyum lalu mencium telapk tanganya sendiri, ya,
tangan ini tadi yang mengelus rambut Sofi, Aktara ingin mencium bau rambut Sofi
yang tertinggal di sana.
Abraham sempat
menanyakan mengapa pipinya bengkak, Aktara hanya mengatakan tadi dia tidak
sengaja menabrak pintu di kampus, walau Abraham tidak percaya. Aktara tahu
ayahnya menelphon Median ayah Diori, karena mereka sangat dekat, apapun yang
terjadi pada Aktara maka ayahnya akan menghubungi Median begitu juga
sebaliknya.
Abraham tertawa setelah
menghubungi Median, walau sebenarnya Median tidak menjelaskan dengan pasti apa
yang terjadi, yang Median tahu kedua anaknya saling mendiamkan selama di rumah,
tapi mereka bisa menebak, bahwa Diori sedang bertengkar dengan Aktara dan Sofi
mengetahui semuanya.
“Ingin bercerita?”
Abraham masuk ke dalam aktara, Anak itu dengan cepat menutup buku sketsanya.
“Tidak.” Jawab Aktara tenang.
“Apa kamu yakin?”
Aktara mengangguk cepat. “Apa ada kaitanya dengan Sofi?” Walau Abraham hanya
bertemu beberapa kali dengan gadis itu secara tidak sengaja, sebab Aktara tidak
pernah mau datang ke rumah Diori begitu juga sebaliknya. Aktara tidak pernah
melihat Sofi dari jarak dekat sejak kejadian di kolam renangnya, ia sengaja
menyembunyikan diri karena merasa bersalah.
“Pa, aku ngantuk, aku
mau istirahat, aku rasa mama juga sudah menunggu papa di kamar” Abraham melotot
pada anak tunggalnya, Aktara terkekeh melihatnya.
“Awas ya kamu, Papa
masih menunggu penjelsan kamu.” Abraham melangkah pergi mengiggalkan Aktara
yang masih terkekeh ia berhasil mengoda ayahnya sendiri.
***
Pagi ini Aktara sudah
berdiri di kamar Anisa tepatnya di depan cermin, ia mencari sesuatu untuk
menutupi memar di wajahnya.
“Cari apa?” Anisa
menatap binggung pada anaknya, apa Aktara ingin berdandan?
“Ma, pinjem sesuatu
untuk menutupi ini,” Aktara menunjuk mukanya yang agak membiru.
“Kamu mau pakai bedak?”
Aktara mengeleng kuat.
“Terus?” tanya Anisa
Aktara diam sesaat berpikir sebenarnya ia juga binggung mau mengunakan apa
untuk menutupi memar di mukanya.
“Kalau aku memakai
bedak apa mirip gadis?” Anisa menganguk kuat sambil tersenyum.
“Pasti cantik kalau
anak Papa pakai bedak.” Abraham mengodanya, Anisa juga ikut tersenyum jahil
padanya, Aktara segerah mundur beberapa langkah, lalu berlari keluar kamar
kedua orang tuanya secepat kilat.
Aktara ingat saat ia
masih kelasa satu SD, Anisa dan Abraham dengan tega mendadani Aktara menjadi
wanita karena mereka ingin punya anak perempuan, saat itu Abraham dan Anisa
baru saja menonton acarah tv yang menampilkan bagaimana cara mendandani anak
perempuan, Aktara memang terlihat lucu dan cantik. Aktara mengeleng cepat saat
ingat kejadian itu, ia tidak ingin itu terulang.
Anisa dan Abraham ingin
sekali mempunyai seorang anak lagi, tapi Anisa menderita penyakit mioma yang
telah membesar di kedua saluran telurnya, hingga harus diangkat dan itu membuat
Anisa sulit mempunyai anak lagi.
“Ku rasa ini cukup”
Aktara melihat wajahnya di cermin, dua buah plester menempel menutupi memar di
__ADS_1
jawabnya.
***
Di kelas Aktara bertemu
Diori, mereka masih saling mendiamkan seolah tidak peduli satu sama lain. Mereka juga selalu mengambil tempat duduk
yang berlawanan.
“Mau ke kantin?” Aktara
mendengar Bram mengajak Diori, laki-laki itu masih diam tidak menjawab, tapi
sekitar lima detik kemudian ia bangun dari bangkunya berjalan keluar kelas dan
diikuti Bram.
***
“Kenapa sih lo deketin
Sofi? Lo kan tahu Diori gak suka sama lo.” Dafa mengoceh di samping Aktara,
laki-laki itu hanya diam tidak menjawab, ia lebih memilih memasangkan dua
headset di telingahnya dari pada mendengar Dafa mengoceh.
“Tara, gue lagi mau
ngomong!” Dafa menarik headset di telingahnya, Aktera berdecak tidak suka. “Gue
gak suka lo berantem terus sama Dio, kalian itu temen gue, lo jangan cari gara-garah
deh.” Dafa menginggatkan.
Dafa tahu Aktara memang terlihat lebih tenang
dari pada Diori, Aktara lebih bisa mengontrol emosinya selain itu Aktara bukan
tipe orang yang suka mencari masalah, tapi sejak Sofi masuk ke kampus itu,
Aktara lebih terlihat mencari masalah dengan Diori.
“Kalu lo gak tahu apa-apa,
mending loe diem!” Aktara berjalan meninggalkan kelas itu dengan kesal, ia
memilih pergi menuju kelas berikutnya, walau kelas itu masih kosong, Aktara
memilih memejamkan matanya.
***
Sofi menatap langit
yang di penuhi bintang, tadi ia tidak mendengar kabar tengatang Aktara, Sofi
juga tidak melihatnya waktu di kanti, bisanya laki-laki itu akan kesana saat
maka siang, rasa bersalah menyelimuti hatinya. Gadis itu mengetik sesuati di ponselnya
sebenarnya ia ragu untuk mengirimkannya, tapi bagaimana pun ia harus mengetahui
kondisi Aktara dan meminta maaf.
To Kak Tara :
Kak,
Satu menit, lima menit, sepuluh menit,
tidak ada balasan. Sofi kembali mengetik pesan singkatnya.
To Kak Tara :
Kak
maafin Sofi dan kak Dio ya, Sofi gak ada nait bikin kalian berantem.
Satu menit, empat menit masih tidak ada
balasan
To Kak Tara :
Kak
Sofi janji gak akan ganggu kak lagi, semoga cepat sembuh ya kak. Sekali lagi
maafin Sofi dan kak Dio ya.
Setelah mengirimkan
pesan singkat itu Sofi meletakan ponselnya, ‘Kak
Tara pasti benci sama aku dan kak Dio, gimana mau bikin mereka baikan, sekarang
mereka berantem karena aku.’ Sofi menarik napas dalam kemudian memejamkan
mata.
***
Aktara baru saja selesai
mandi karena penat, ia benar-benar lelah hari ini, lelah dengan pikiranya
sendiri karena kejadia kemarin, lelah memikirkan Diori dan Sofi.
Aktara segera mengambi
ponselnya dengan tangan kananya sedangkan tangan kirinya masih sibuk dengan
handuk yang masih menempel di kepalanya sambil mengosok-gosok rambutnya yang
basah.
Mendadak mata Aktara
membulat setelah membaca pesan singkat yang masuk “Sofi.” Aktara tersenyum
lebar, rasanya laki-laki itu ingin melompat karena pesan singkat itu dengan
cepat ia menekan tombol call.
“Hallo,”Suara di sebrang sana terdengar lembut dan terdengar seperti orang bangun
tidur, Aktara menatap jam dinding di kamarnya jarum jam itu mengara pada angkah
sembilan, ‘Apa Sofi memang tidur secepat
itu?’
__ADS_1
“Hallo,
siapa ni?”
“Hallo, Sofi.” Ucap
Aktara, mendadak mata Sofi membulat mendengar suara itu, kesadaranya langsung
puluh seratus persen.
“Kak
Tara”ucap gadis itu lemah
“Ehm, Maaf aku baru
selesai mandi, aku baru baca sms kamu.” jelas Aktara
“Kak,
aku minta maaf ya, tolong maafin aku sama kak Dio ya, kak Dio kemaren kayaknya
kecape’an makanya kasar sama kakak, kakak maafin kami kan? Terus pipi kakak gak
papa kan? Atau kalau kakak mau Sofi anterin ke rumah sakit ya besok-”Aktara tertawa mendengar semua ucapan Sofi yang sangat panjang itu.
“Kok
ketawa?”Sofi menautkan alisnya.
“Kamu tuH lucu ya,
siapa juga yang marah sama kamu,” Aktara kembali tertawa, ia benar-benar gemas
mendengar Sofi bicara seperti itu
“Tapikan
kemarin-”
“Sofi, aku gak pernah
marah sama kamu apa lagi sama Dio, aku gak papa kok.” Aktara menjelaskan,
kemudian hening sesaat.
“Sofi-Kak” ucap Aktara dan Sofi bersamaan, membuat
merekah terkekeh bersamaan.
“Ada apa?” Aktara
beratnya.
“Makasih
ya uda maafin aku sama kak Dio, Sofi seneng bisa kenal kakak, kakak orang yang
baik.”Aktara diam ia masih terteguh dengan perkaan Sofi
barusan
“Aku bukan orang yang
baik Sofi, Aku-”
Sofi segerah memotong
ucapan Aktara saat mendengar Diori berteriak sambil mengetuk pintu kamarnya“Kak udah duluh ya, kak Dio manggil.”
“Ya, selamat malam,
tidur yang nyenyak ya.”
“Kakak
juga.”lalu sambungan telpon itu terputus .
‘Aku
bukan orang yang baik Sofi aku nyakiti kamu,’Aktara bebisik
dalam hatinya tapi sesaat kemudian ia tersenyum lembut, ‘Ini kayak mimpi aku bisa ngobrol sama kamu Sofi.’ Aktara
benar-benar seperti orang gila sedari tadi ia tersenyum sendiri.
***
Setelah memutuskan
panggilan dari Aktara Sofi tersenyum ‘Kak Tara.’ gumam Sofi
“Sofi, kamu ngapain sih
dek, cepat buka pintunya!” Doiri berteriak.
“I-iya kak bentar.”
Sofi berlari menujuh pintu ia lupa dari tadi Dio memanggilnya.
“Ada apa sih kak
teriak-teriak, inikan sudah malem.” Sofi mendesa jengkel.
“Kamu tadi telponan
sama siapa?” Diori segera bertanya balik.
“Sama, sama Anda,
bahasa tugas kampus.” Sofi berbohong.
“Oh, ini” Diori
menyodorkan kantung plastik berwarna putih
“Apaan?”
“Seragam karete kamu,
tadi Anis nitip.” Diori menjelaskan, ia tadi beremu Anis dan menitipkan seragam
karate untuk Sofi karena tidak berhasil menemukan gadis itu.
“Makasih ya kak.” Sofi
sangat senang setidaknya ia bisa mengenakan seragam saat mengikuti club karete lusa.
“Sama-sama.” Diori lalu
mencium kening Sofi, itu kebiasaan Diori setiap malam sebelum mereka tidur, walau
Sofi selalu protes dengan itu.
__ADS_1
“Kakak!” Sofi terlihat
kesal Diori segera menjulurkan lidahnya kemudian berlari menujuh kamar nya.