Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 13


__ADS_3

Aktara pulang ke rumah


dengan diam, laki-laki itu segera menuju dapur mencarai batu es untuk


mengompres bengkak di pipih bagian kananya, Aktara sempat meringis karena


sakit, tapi kemudian ia tersenyum menginggat kejadian tadi, dimana Sofi


menerima suapan kuenya, gadis itu tersenyum lembut, tertawa, Sofi juga sempat


terlihat bingung.


Perlahan Aktara melihat


telapak tanganya ia kembali tersenyum lalu mencium telapk tanganya sendiri, ya,


tangan ini tadi yang mengelus rambut Sofi, Aktara ingin mencium bau rambut Sofi


yang tertinggal di sana.


Abraham sempat


menanyakan mengapa pipinya bengkak, Aktara hanya mengatakan tadi dia tidak


sengaja menabrak pintu di kampus, walau Abraham tidak percaya. Aktara tahu


ayahnya menelphon Median ayah Diori, karena mereka sangat dekat, apapun yang


terjadi pada Aktara maka ayahnya akan menghubungi Median begitu juga


sebaliknya.


Abraham tertawa setelah


menghubungi Median, walau sebenarnya Median tidak menjelaskan dengan pasti apa


yang terjadi, yang Median tahu kedua anaknya saling mendiamkan selama di rumah,


tapi mereka bisa menebak, bahwa Diori sedang bertengkar dengan Aktara dan Sofi


mengetahui semuanya.


“Ingin bercerita?”


Abraham masuk ke dalam aktara, Anak itu dengan cepat menutup buku sketsanya.


“Tidak.” Jawab Aktara tenang.


“Apa kamu yakin?”


Aktara mengangguk cepat. “Apa ada kaitanya dengan Sofi?” Walau Abraham hanya


bertemu beberapa kali dengan gadis itu secara tidak sengaja, sebab Aktara tidak


pernah mau datang ke rumah Diori begitu juga sebaliknya. Aktara tidak pernah


melihat Sofi dari jarak dekat sejak kejadian di kolam renangnya, ia sengaja


menyembunyikan diri karena merasa bersalah.


“Pa, aku ngantuk, aku


mau istirahat, aku rasa mama juga sudah menunggu papa di kamar” Abraham melotot


pada anak tunggalnya, Aktara terkekeh melihatnya.


“Awas ya kamu, Papa


masih menunggu penjelsan kamu.” Abraham melangkah pergi mengiggalkan Aktara


yang masih terkekeh ia berhasil mengoda ayahnya sendiri.


***


Pagi ini Aktara sudah


berdiri di kamar Anisa tepatnya di depan cermin, ia mencari sesuatu untuk


menutupi memar di wajahnya.


“Cari apa?” Anisa


menatap binggung pada anaknya, apa Aktara ingin berdandan?


“Ma, pinjem sesuatu


untuk menutupi ini,” Aktara menunjuk mukanya yang agak membiru.


“Kamu mau pakai bedak?”


Aktara mengeleng kuat.


“Terus?” tanya Anisa


Aktara diam sesaat berpikir sebenarnya ia juga binggung mau mengunakan apa


untuk menutupi memar di mukanya.


“Kalau aku memakai


bedak apa mirip gadis?” Anisa menganguk kuat sambil tersenyum.


“Pasti cantik kalau


anak Papa pakai bedak.” Abraham mengodanya, Anisa juga ikut tersenyum jahil


padanya, Aktara segerah mundur beberapa langkah, lalu berlari keluar kamar


kedua orang tuanya secepat kilat.


Aktara ingat saat ia


masih kelasa satu SD, Anisa dan Abraham dengan tega mendadani Aktara menjadi


wanita karena mereka ingin punya anak perempuan, saat itu Abraham dan Anisa


baru saja menonton acarah tv yang menampilkan bagaimana cara mendandani anak


perempuan, Aktara memang terlihat lucu dan cantik. Aktara mengeleng cepat saat


ingat kejadian itu, ia tidak ingin itu terulang.


Anisa dan Abraham ingin


sekali mempunyai seorang anak lagi, tapi Anisa menderita penyakit mioma yang


telah membesar di kedua saluran telurnya, hingga harus diangkat dan itu membuat


Anisa sulit mempunyai anak lagi.


“Ku rasa ini cukup”


Aktara melihat wajahnya di cermin, dua buah plester menempel menutupi memar di

__ADS_1


jawabnya.


***


Di kelas Aktara bertemu


Diori, mereka masih saling mendiamkan seolah tidak peduli satu sama lain.  Mereka juga selalu mengambil tempat duduk


yang berlawanan.


“Mau ke kantin?” Aktara


mendengar Bram mengajak Diori, laki-laki itu masih diam tidak menjawab, tapi


sekitar lima detik kemudian ia bangun dari bangkunya berjalan keluar kelas dan


diikuti Bram.


***


“Kenapa sih lo deketin


Sofi? Lo kan tahu Diori gak suka sama lo.” Dafa mengoceh di samping Aktara,


laki-laki itu hanya diam tidak menjawab, ia lebih memilih memasangkan dua


headset di telingahnya dari pada mendengar Dafa mengoceh.


“Tara, gue lagi mau


ngomong!” Dafa menarik headset di telingahnya, Aktera berdecak tidak suka. “Gue


gak suka lo berantem terus sama Dio, kalian itu temen gue, lo jangan cari gara-garah


deh.” Dafa menginggatkan.


 Dafa tahu Aktara memang terlihat lebih tenang


dari pada Diori, Aktara lebih bisa mengontrol emosinya selain itu Aktara bukan


tipe orang yang suka mencari masalah, tapi sejak Sofi masuk ke kampus itu,


Aktara lebih terlihat mencari masalah dengan Diori.


“Kalu lo gak tahu apa-apa,


mending loe diem!” Aktara berjalan meninggalkan kelas itu dengan kesal, ia


memilih pergi menuju kelas berikutnya, walau kelas itu masih kosong, Aktara


memilih memejamkan matanya.


***


Sofi menatap langit


yang di penuhi bintang, tadi ia tidak mendengar kabar tengatang Aktara, Sofi


juga tidak melihatnya waktu di kanti, bisanya laki-laki itu akan kesana saat


maka siang, rasa bersalah menyelimuti hatinya. Gadis itu mengetik sesuati di ponselnya


sebenarnya ia ragu untuk mengirimkannya, tapi bagaimana pun ia harus mengetahui


kondisi Aktara dan meminta maaf.


To Kak Tara :


Kak,


Satu menit, lima menit, sepuluh menit,


tidak ada balasan. Sofi kembali mengetik pesan singkatnya.


To  Kak Tara :


 Kak


maafin Sofi dan kak Dio ya, Sofi gak ada nait bikin kalian berantem.


Satu menit, empat menit masih tidak ada


balasan


To   Kak Tara :


Kak


Sofi janji gak akan ganggu kak lagi, semoga cepat sembuh ya kak. Sekali lagi


maafin Sofi dan kak Dio ya.


Setelah mengirimkan


pesan singkat itu Sofi meletakan ponselnya, ‘Kak


Tara pasti benci sama aku dan kak Dio, gimana mau bikin mereka baikan, sekarang


mereka berantem karena aku.’ Sofi menarik napas dalam kemudian memejamkan


mata.


***


Aktara baru saja selesai


mandi karena penat, ia benar-benar lelah hari ini, lelah dengan pikiranya


sendiri karena kejadia kemarin, lelah memikirkan Diori dan Sofi.


Aktara segera mengambi


ponselnya dengan tangan kananya sedangkan tangan kirinya masih sibuk dengan


handuk yang masih menempel di kepalanya sambil mengosok-gosok rambutnya yang


basah.


Mendadak mata Aktara


membulat setelah membaca pesan singkat yang masuk “Sofi.” Aktara tersenyum


lebar, rasanya laki-laki itu ingin melompat karena pesan singkat itu dengan


cepat ia menekan tombol call.


“Hallo,”Suara di sebrang sana terdengar lembut dan terdengar seperti orang bangun


tidur, Aktara menatap jam dinding di kamarnya jarum jam itu mengara pada angkah


sembilan, ‘Apa Sofi memang tidur secepat


itu?’

__ADS_1


“Hallo,


siapa ni?”


“Hallo, Sofi.” Ucap


Aktara, mendadak mata Sofi membulat mendengar suara itu, kesadaranya langsung


puluh seratus persen.


“Kak


Tara”ucap gadis itu lemah


“Ehm, Maaf aku baru


selesai mandi, aku baru baca sms kamu.” jelas Aktara


“Kak,


aku minta maaf ya, tolong maafin aku sama kak Dio ya, kak Dio kemaren kayaknya


kecape’an makanya kasar sama kakak, kakak maafin kami kan? Terus pipi kakak gak


papa kan? Atau kalau kakak mau Sofi anterin ke rumah sakit ya besok-”Aktara tertawa mendengar semua ucapan Sofi yang sangat panjang itu.


“Kok


ketawa?”Sofi menautkan alisnya.


“Kamu tuH lucu ya,


siapa juga yang marah sama kamu,” Aktara kembali tertawa, ia benar-benar gemas


mendengar Sofi bicara seperti itu


“Tapikan


kemarin-”


“Sofi, aku gak pernah


marah sama kamu apa lagi sama Dio, aku gak papa kok.” Aktara menjelaskan,


kemudian hening sesaat.


“Sofi-Kak” ucap Aktara dan Sofi bersamaan, membuat


merekah terkekeh bersamaan.


“Ada apa?” Aktara


beratnya.


“Makasih


ya uda maafin aku sama kak Dio, Sofi seneng bisa kenal kakak, kakak orang yang


baik.”Aktara diam ia masih terteguh dengan perkaan Sofi


barusan


“Aku bukan orang yang


baik Sofi, Aku-”


Sofi segerah memotong


ucapan Aktara saat mendengar Diori berteriak sambil mengetuk pintu kamarnya“Kak udah duluh ya, kak Dio manggil.”


“Ya, selamat malam,


tidur yang nyenyak ya.”


“Kakak


juga.”lalu sambungan telpon itu terputus .


‘Aku


bukan orang yang baik Sofi aku nyakiti kamu,’Aktara bebisik


dalam hatinya tapi sesaat kemudian ia tersenyum lembut, ‘Ini kayak mimpi aku bisa ngobrol sama kamu Sofi.’ Aktara


benar-benar seperti orang gila sedari tadi ia tersenyum sendiri.


***


Setelah memutuskan


panggilan dari Aktara Sofi tersenyum ‘Kak Tara.’ gumam Sofi


“Sofi, kamu ngapain sih


dek, cepat buka pintunya!” Doiri berteriak.


“I-iya kak bentar.”


Sofi berlari menujuh pintu ia lupa dari tadi Dio memanggilnya.


“Ada apa sih kak


teriak-teriak, inikan sudah malem.” Sofi mendesa jengkel.


“Kamu tadi telponan


sama siapa?” Diori segera bertanya balik.


“Sama, sama Anda,


bahasa tugas kampus.” Sofi berbohong.


“Oh, ini” Diori


menyodorkan kantung plastik berwarna putih


“Apaan?”


“Seragam karete kamu,


tadi Anis nitip.” Diori menjelaskan, ia tadi beremu Anis dan menitipkan seragam


karate untuk Sofi karena tidak berhasil menemukan gadis itu.


“Makasih ya kak.” Sofi


sangat senang setidaknya ia bisa mengenakan seragam saat mengikuti club karete lusa.


“Sama-sama.” Diori lalu


mencium kening Sofi, itu kebiasaan Diori setiap malam sebelum mereka tidur, walau


Sofi selalu protes dengan itu.

__ADS_1


“Kakak!” Sofi terlihat


kesal Diori segera menjulurkan lidahnya kemudian berlari menujuh kamar nya.


__ADS_2