Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 8


__ADS_3

Aktara kembali ke rumahnya dengan


perasaan senang, entah mengapa senyum di bibirnya tidak berhenti terukir


disana. Ia menghempaskan tubuhnya di kasur berukuran king di kamarnya, kamar


itu cukup luas dengan cat biru, sebuah lemari pakaian, serta terdapat karpet


lembut di lantainya dan beberapa bantal sengaja di letakan di sana dan di depan


tempat tidur itu terpasang televisi beserta sutu set, dvd player, serta play station,


selain itu juga terdapa lemari buku dan sebuah lukisan menempel dinding kamar


itu, kamar  itu sangat rapi.


Aktara kembali tersenyum sambil melihat


sketsa yang ia gambar tadi, sketsa Sofi yang sedang di duduk menyamping, dengan


cepat laki-laki itu duduk ke meja belajarnya. Aktara memejamkan matanya


sejenak, menginggat waja Sofi saat gadis itu memejamkan mata sambil melihat keatas,


mulutnya bergumam tidak jelas, seketika dada Aktara terasa sakit menginggatnya,


jatungnya berdetak cepat seakan ingin keluar dari ronggah dadanya.


“Kamu tetap sama seperti dulu, cantik,


imut dan aku tetap menyukaimu, maafkan aku.” gumam Tara kemudian mengores pesil


di buku sketsanya.


 


***


 


Flas Back On


“Kak Tata!” teriak seorang gadis kecil


berumur sekitar lima tahun yang berjalan mendekat kearah dua anak kecil yang


sibuk bermain.


“Sofi, jangan ganggu kami” Diori segera


menarik Sofi karena menganggu mereka bermain mobil-mobilan, “Cewek itu mainnya


boneka ini aja ya.” Diori menyodorkan boneka beruang ke Sofi, saat itu Aktar


tersenyum melihatnya.


Diori juga binggung setiap Aktara


bermain ke rumah itu, Sofi selalu ingin mengajaknya bermain, mungkin karena ia


tidak mempunyai teman sedangkan Diori tidak mau bermain denganya.


“Aku minum dulu ya.” Diori beranjak


meninggalkan Aktara yang sibuk dengan mobil-mobilannya, Aktara mengangguk


cepat.


 “Kak Tata.” pangil Sofi sekali lagi dengan


suarah pelan, gadis kecil itu tidak berani mendekat karena takut Diori


memarahinya lagi.


 “Ada apa dek?” Aktara menghampiri gadis kecil


itu, yang sedang memegang boneka beruangnya.


 “Sofi ikut main ya.” Mata coklat bulat itu


seakan memohon, dia bahkan memberikan boneka beruangnya agar Aktara mengajaknya


bermain.


“Yuk main bareng kakak.” Aktara memengang


tangan itu membawanya ke tempat  ia


bermain mobil-mobilan.  Sofi sangat


antusias, ia sangat senang karena dapat bermain bersama.

__ADS_1


Aktara mendudukan Sofi di pangkuanya,


ia juga mengarahkan tangan Sofi untuk memegang remot kontrol mobil-mobilan yang


ia mainkan, dengan sabar Aktara mengarahkan tangan Sofi untuk menggerakan tanganya menekan tombol pada remot


kontrol itu agar mobil-mobilan miliknya dapat berjalan.


“Sofi ngapain sih main sama Tata? Tata


itu temen kakak bukan temen Sofi!” ucapan Diori membuat Sofi menangis di


pangkuan Aktara, lalu berdiri siap untuk berlari,  ia sangat takut pada kakanya itu.


 “Didi jangan gitu kasian Sofi.” Aktara menenangkan


Sofi,


Diori terlihat kesal, tapi karena


kasihan dengan Sofi, Diori kemudian memeluk Sofi “Maafin kakak ya, kamu boleh


main di sini, tapi jangan janggu ya.” Diori berbisik, Sofi mengangguk sambil


menyekat air matanya.


“Sofi gak boleh nangis ya,” Aktara membelai


rambutnya, membawa gadis itu duduk di pangkuanya lagi, lalu perlahan menghapus


air mata Sofi dengan lembut, ia takut tanganya mengores wajah imut itu.


 Aktar tidak masalah ia kala jika bermain balap


mobil-mobilan dengan Diori, karena ia  lebih


memilih mengajari Sofi cara mengunakan remot konntrol mobil itu. Bagi Aktara


saat itu adalah saat yang paling menyenangkan karena ia tidak memiliki adik


atau saudara, Sofi dan Diorilah saudaranya.


Flas Back Off


 


***


 


Aktara, sambil membelai sketsa yang telah ia selesaikan, “Maafkan kak Tata


tidak bisa menjagamu.” Diori lalu tersenyum tipis.


“Tata!” Anisa berteriak dari lantai


dasar, karena kamar Aktara berada di lantai dua, suarah wanita itu cukup untuk


membangunkan semua orang yang berada di dalam rumah itu.


“Iya Ma!” jawab Akrata lalu menarik


napas dalam, Ibunya selalu berteriak saat memanggilnya, kadang Aktara berpikir


jika dia harus memeriksakan telingahnya ke dokter THT untuk melihat apakah


terjadi gangguan di telingahnya karena ibunya setiap hari berteriak di rumah


itu.


“Makan malam!” suarah Anis terdengar


lebih kencang dari tadi,  Aktara segera


turun menuju dapur sambil mengelus telingahnya yang berdenging.


Dapur itu sebenarnya sangat luas bahkan


meja makannya pun bisa diisi untuk sepuluh orang, tapi hanya terdapat tiga


orang anggota keluarga di rumah itu.


Anisa dan Abraham sudah duduk menunggu


anak semata wayangnya, kedua paru baya itu adalah kedua orang tuan Aktara,


Abraham tersenyum mentap Aktara yang terlihat sumringah.


“Apa kamu sedang menyukai seorang


perempauan?” Abraham bertanya, ya Papanya tidak perah basah basih, ia selalu

__ADS_1


bertanya langsung, Annisa hanya mengeleng mendengarnya


“Tidak.” jawab Aktara setenang mungkin.


“Sungguh?” ya di rumah itu Abraham


selalu menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.


“Iya Pa.” jawab Aktara malas, lalu


mengisi nasi di piringnya


“Aku tidak yakin, aku bahkan lupa kapan


terakhir melihat senyum seperti itu.” Abraham mengodanya.


“Pa, apa salah kalau Tata senyum? Papa


ingin aku diam terus?” Aktara terdengar kesal sambil menyendok makanan itu


masuk kedalam mulutnya.


“Tidak, tentu saja papa suka, hanya


saja papa penasaran siapa perempuan itu?”


“Pa!” Aktara berteriak dan hampir


membuat dirinya sendiri tersedak, jika ia tidak segerah meminum air.


“Bisa kita makan dengan tenang?” Annis


membuka suarahnya, seketika dua laki-laki itu terdiam.


Mereka berdua memilih diam jika Anisa


sudah membuka suarahnya seperti itu, sangat berbahaya untuk mereka, Anisa akan


terus mengoceh tanpa henti nantinya. Aktara bersumpah jika itu terjadi mereka


akan kehilangan selerah makannya.


 


***


 


“Pa, lihat deh.” Sofi


memberikan ponselnya pada Median yang sedang duduk di ruang kerjanya. Median


segerah menghentikan aktivitasanya, ia lebih memilih melayanani anak gadisnya


berbicara, Median selalu berusaha mengutamakan anak-anaknya dari pada


pekerjaanya jika berada di rumah, karena hanya dirinyala tempat anak-anaknya


bersandar.


“Ini Siapa?” Median


lalu menatap putri kesayanganya seakan meminta penjelasan pada objek yang dia


tunjukan tadi.


“Ini Anda, temen baru


Sofi” Sofi menunjuk gambar seorang gadis yang tersenyum lebar di sana “Ini Alif


pa, masa Papa lupa.” Sofi mengingatkan siapa saja yang ada di dalam poto itu


juga, poto itu diambil saat mereka berda di kelas kemarin. Mereka sengaja


berpoto bertiga sebagai kenang-kenangan awal pertemanan mereka akan di mulai.


“Kalau ini aku.” Sofi


menunjuk dirinya sendiri pada poto yang ia tunjukan tadi, sontak Median tertawa,


ia masih ingat jika Sofi adalah anaknya,dan ia masih membedakanya dengan jelas.


Sebenarnya Median


sangat ingat dengan Alif, mereka sering bertemu, karena Alif sering datang ke


rumahnya untuk belajar bersama Sofi, atau mengerjakan tugas kelompok di sana.


Alif adalah anak yang sopan dan baik. Karena itulah Median tidak melarang Sofi


untuk bersahabat dengan Alif.

__ADS_1


__ADS_2