
Aktara kembali ke rumahnya dengan
perasaan senang, entah mengapa senyum di bibirnya tidak berhenti terukir
disana. Ia menghempaskan tubuhnya di kasur berukuran king di kamarnya, kamar
itu cukup luas dengan cat biru, sebuah lemari pakaian, serta terdapat karpet
lembut di lantainya dan beberapa bantal sengaja di letakan di sana dan di depan
tempat tidur itu terpasang televisi beserta sutu set, dvd player, serta play station,
selain itu juga terdapa lemari buku dan sebuah lukisan menempel dinding kamar
itu, kamar itu sangat rapi.
Aktara kembali tersenyum sambil melihat
sketsa yang ia gambar tadi, sketsa Sofi yang sedang di duduk menyamping, dengan
cepat laki-laki itu duduk ke meja belajarnya. Aktara memejamkan matanya
sejenak, menginggat waja Sofi saat gadis itu memejamkan mata sambil melihat keatas,
mulutnya bergumam tidak jelas, seketika dada Aktara terasa sakit menginggatnya,
jatungnya berdetak cepat seakan ingin keluar dari ronggah dadanya.
“Kamu tetap sama seperti dulu, cantik,
imut dan aku tetap menyukaimu, maafkan aku.” gumam Tara kemudian mengores pesil
di buku sketsanya.
***
Flas Back On
“Kak Tata!” teriak seorang gadis kecil
berumur sekitar lima tahun yang berjalan mendekat kearah dua anak kecil yang
sibuk bermain.
“Sofi, jangan ganggu kami” Diori segera
menarik Sofi karena menganggu mereka bermain mobil-mobilan, “Cewek itu mainnya
boneka ini aja ya.” Diori menyodorkan boneka beruang ke Sofi, saat itu Aktar
tersenyum melihatnya.
Diori juga binggung setiap Aktara
bermain ke rumah itu, Sofi selalu ingin mengajaknya bermain, mungkin karena ia
tidak mempunyai teman sedangkan Diori tidak mau bermain denganya.
“Aku minum dulu ya.” Diori beranjak
meninggalkan Aktara yang sibuk dengan mobil-mobilannya, Aktara mengangguk
cepat.
“Kak Tata.” pangil Sofi sekali lagi dengan
suarah pelan, gadis kecil itu tidak berani mendekat karena takut Diori
memarahinya lagi.
“Ada apa dek?” Aktara menghampiri gadis kecil
itu, yang sedang memegang boneka beruangnya.
“Sofi ikut main ya.” Mata coklat bulat itu
seakan memohon, dia bahkan memberikan boneka beruangnya agar Aktara mengajaknya
bermain.
“Yuk main bareng kakak.” Aktara memengang
tangan itu membawanya ke tempat ia
bermain mobil-mobilan. Sofi sangat
antusias, ia sangat senang karena dapat bermain bersama.
__ADS_1
Aktara mendudukan Sofi di pangkuanya,
ia juga mengarahkan tangan Sofi untuk memegang remot kontrol mobil-mobilan yang
ia mainkan, dengan sabar Aktara mengarahkan tangan Sofi untuk menggerakan tanganya menekan tombol pada remot
kontrol itu agar mobil-mobilan miliknya dapat berjalan.
“Sofi ngapain sih main sama Tata? Tata
itu temen kakak bukan temen Sofi!” ucapan Diori membuat Sofi menangis di
pangkuan Aktara, lalu berdiri siap untuk berlari, ia sangat takut pada kakanya itu.
“Didi jangan gitu kasian Sofi.” Aktara menenangkan
Sofi,
Diori terlihat kesal, tapi karena
kasihan dengan Sofi, Diori kemudian memeluk Sofi “Maafin kakak ya, kamu boleh
main di sini, tapi jangan janggu ya.” Diori berbisik, Sofi mengangguk sambil
menyekat air matanya.
“Sofi gak boleh nangis ya,” Aktara membelai
rambutnya, membawa gadis itu duduk di pangkuanya lagi, lalu perlahan menghapus
air mata Sofi dengan lembut, ia takut tanganya mengores wajah imut itu.
Aktar tidak masalah ia kala jika bermain balap
mobil-mobilan dengan Diori, karena ia lebih
memilih mengajari Sofi cara mengunakan remot konntrol mobil itu. Bagi Aktara
saat itu adalah saat yang paling menyenangkan karena ia tidak memiliki adik
atau saudara, Sofi dan Diorilah saudaranya.
Flas Back Off
***
Aktara, sambil membelai sketsa yang telah ia selesaikan, “Maafkan kak Tata
tidak bisa menjagamu.” Diori lalu tersenyum tipis.
“Tata!” Anisa berteriak dari lantai
dasar, karena kamar Aktara berada di lantai dua, suarah wanita itu cukup untuk
membangunkan semua orang yang berada di dalam rumah itu.
“Iya Ma!” jawab Akrata lalu menarik
napas dalam, Ibunya selalu berteriak saat memanggilnya, kadang Aktara berpikir
jika dia harus memeriksakan telingahnya ke dokter THT untuk melihat apakah
terjadi gangguan di telingahnya karena ibunya setiap hari berteriak di rumah
itu.
“Makan malam!” suarah Anis terdengar
lebih kencang dari tadi, Aktara segera
turun menuju dapur sambil mengelus telingahnya yang berdenging.
Dapur itu sebenarnya sangat luas bahkan
meja makannya pun bisa diisi untuk sepuluh orang, tapi hanya terdapat tiga
orang anggota keluarga di rumah itu.
Anisa dan Abraham sudah duduk menunggu
anak semata wayangnya, kedua paru baya itu adalah kedua orang tuan Aktara,
Abraham tersenyum mentap Aktara yang terlihat sumringah.
“Apa kamu sedang menyukai seorang
perempauan?” Abraham bertanya, ya Papanya tidak perah basah basih, ia selalu
__ADS_1
bertanya langsung, Annisa hanya mengeleng mendengarnya
“Tidak.” jawab Aktara setenang mungkin.
“Sungguh?” ya di rumah itu Abraham
selalu menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.
“Iya Pa.” jawab Aktara malas, lalu
mengisi nasi di piringnya
“Aku tidak yakin, aku bahkan lupa kapan
terakhir melihat senyum seperti itu.” Abraham mengodanya.
“Pa, apa salah kalau Tata senyum? Papa
ingin aku diam terus?” Aktara terdengar kesal sambil menyendok makanan itu
masuk kedalam mulutnya.
“Tidak, tentu saja papa suka, hanya
saja papa penasaran siapa perempuan itu?”
“Pa!” Aktara berteriak dan hampir
membuat dirinya sendiri tersedak, jika ia tidak segerah meminum air.
“Bisa kita makan dengan tenang?” Annis
membuka suarahnya, seketika dua laki-laki itu terdiam.
Mereka berdua memilih diam jika Anisa
sudah membuka suarahnya seperti itu, sangat berbahaya untuk mereka, Anisa akan
terus mengoceh tanpa henti nantinya. Aktara bersumpah jika itu terjadi mereka
akan kehilangan selerah makannya.
***
“Pa, lihat deh.” Sofi
memberikan ponselnya pada Median yang sedang duduk di ruang kerjanya. Median
segerah menghentikan aktivitasanya, ia lebih memilih melayanani anak gadisnya
berbicara, Median selalu berusaha mengutamakan anak-anaknya dari pada
pekerjaanya jika berada di rumah, karena hanya dirinyala tempat anak-anaknya
bersandar.
“Ini Siapa?” Median
lalu menatap putri kesayanganya seakan meminta penjelasan pada objek yang dia
tunjukan tadi.
“Ini Anda, temen baru
Sofi” Sofi menunjuk gambar seorang gadis yang tersenyum lebar di sana “Ini Alif
pa, masa Papa lupa.” Sofi mengingatkan siapa saja yang ada di dalam poto itu
juga, poto itu diambil saat mereka berda di kelas kemarin. Mereka sengaja
berpoto bertiga sebagai kenang-kenangan awal pertemanan mereka akan di mulai.
“Kalau ini aku.” Sofi
menunjuk dirinya sendiri pada poto yang ia tunjukan tadi, sontak Median tertawa,
ia masih ingat jika Sofi adalah anaknya,dan ia masih membedakanya dengan jelas.
Sebenarnya Median
sangat ingat dengan Alif, mereka sering bertemu, karena Alif sering datang ke
rumahnya untuk belajar bersama Sofi, atau mengerjakan tugas kelompok di sana.
Alif adalah anak yang sopan dan baik. Karena itulah Median tidak melarang Sofi
untuk bersahabat dengan Alif.
__ADS_1