Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 11


__ADS_3

“Kak Jesy!” Sofi berteriak, saat melihat gadis itu berjalan menuju


kantin bersama Aktara dan Dafa, mereka bertiga memberhentikan langkahnya


menoleh Sofi. Jesy tersenyum lembut begitu juga yang lainya. Sofi sempat tidak


berkedip selama tiga detik melihat senyum Aktara, laki-laki yang sangat ia


sukai.


“Ada apa?” Jesy bertanya, Sofi dengan cepat mengerjapkan matanya dan


kembali ke alam sadarnya.


“Maaf kak Dafa, kak Tara, saya mau bicara sama kak Jesy sebentar.” ucap


Sofi kemudian menarik tangan Jesy, kedua laki-laki itu mengangguk.


****


 “Kak, kakak Suka kan sama kak


Dio?” Jesy mengangguk cepat, ia sama sekali tidak menutupi perasaanya terhadap


Diori, “Mau bantu aku gak? Nanti aku bantu kakak buat dapeti kak Dio.” Jesy


semakin menganguk antusias mendengar ucapan Sofi, ini bagaikan tiket mas bagi


Jesy.


“Apa yang bisa kakak bantu?” Jesy bertanya dengan semangat.


“Kakak punya nomer ponselnya kak Tara?” Jesy menautkan alisnya, tadi


Sofi bilang akan membantunya dekat dengan Diori mengapa sekerang menanyakan


nomer ponsel Aktara?


“Kamu suka Tara?” Sofi mengeleng cepat, sebenarnya ia sangat suka


Aktara, tapi sekarang bukan waktu yang tepat, sekarang Sofi akan fokus agar


Diori dan Aktara agar bisa berbaikan.


“Kalau kakak gak mau sih gak apa-apa, aku sih bisa langsung minta nomer


kak Tara pada orangnya langsung.” Sofi pura-pura jual mahal.


“Ada kok.” Jesy segera mengeluarkan ponselnya lalu memberikan nomer


Aktara pada Sofi.          



“Oke, makasih kak, ini nomer ponsel kak Diori,”


“Aku sudah punya,”


“Ups.” nyengir kuda ia tidak tahu hal itu, tadi Sofi pikir ia kan bisa


bertukan nomer telpon sesuatau yang saling menguntungkan bukan?


“Sofi, apa Dio sudah punya pacar?”


“Belum, kak Jesy mau tanya apa tentang kak Dio akan aku kasih tau


semuanya, makanan kesukaan, hoby atau hal lainya yang-” Belum sempat Sofi


menyelesaikan kalimatnya Jesy sudah menyerocos.


“Dio suka semua jenis makanan asal tidak pedas, ia juga hoby main sepak


bola, membaca buku sastra dan taekwondo, selain itu Diori juga orang yang


peduli pada temanya, cinta keluaraga dan penyayang, Diori juga punya tailalat


di dada sebelah kirinya.” Sofi mengangah bagimana bisa Jesy mengetahui semuanya.


“Kakak lebih cocok jadi istrinya.” gumam Sofi membuat pipi Jesy bersemuh


merah.


“Sofi, bisahkan kamu ceritakan apa saja kejelekan Diori?” tanya Jesy antusias


setelah menguasi dirinya.


“Kak Diori cukup keras kepala sih dan egois, kalau kakak mau kak Dio


suka sama kakak, kak Jesy jangan terlalu mengejarnya. Kak Dio tidak terlalu


suka di kejar-kejar gitu, kakak harus sedikit jual mahal dan yang paling utama,


kakak jangan ikut-ikut fans yang tidak jelas itu, aku aja gak suka,” Sofi lalu


memejamkan matanya sejenak lalu berpirir tipe wanita yang di sukai Diori “Kak


Jesy harus jadi diri kakak sendiri, Kak Dio bukan tipe orang yang suka dengan


orang yang berpura-pura baik padanya, ia lebih suka pada orang yang jelas-jelas


benci padanya.” Jesy menatap Sofi serius, ia tidak percaya bahwa Sofi orang


yang jujur.


“Untuk  apa nomer telpon Tara?”


“Oh ini, ini untuk hal lain kak, aku ingin kak Tara berbaikan.” Sofi


tersenyum lembut,


“Dengan siapa?” Sofi mengangkat bahunya.


“Kak aku pergi dulu, Anda sama Alif sudah nunggun dari tadi, makasih ya


kakak ipar.”  Kali ini Jesy benar-benar


merasa terbang dengan panggilan Sofi ‘Kakak


Ipar?’


***


Aktara mengembangkan senyumnya dari tadi mata hitam pekat itu melihat


Sofi yang berbicara dengan Jesy di dekat taman walau Aktara tidak bisa


mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi ia cukup senang bisa melihat Sofi


dari jauh.


“Sofi, kalau di perhatiin cantik juga ya, walau agak cukup.” Suarah Dafa


membuat Aktara melotot pada sahabatnya itu.


“Awas lo, jangan pernah macam-macam dengan Sofiku!” ucap Aktara datar,


Dafa bergidik mendengarnya, ia bisa merasakan kalau Aktara sedang


memperingatkannya, selama ini Aktar tidak pernah bersikap sedingin itu padanya,


tapi mengapa sekarang Aktara terlihat sedang melindungi Sofi atau jangan-jangan?


“Lo suka sama Sofi?”


“Bukan urusan lo.” Dafa terkekeh mendengarnya, benar Aktara suka dengan


Sofi, suka dengan adik sainganya Diori,  “Gue


yakin Diori gak akan ngizin lo deket sama Sofi, yang pasti Dio gak akan pernah


merestui hubungan kalian.” Dafa mengejek.

__ADS_1


“Siapa bilang.” Aktar kemudian beranjak menginggalkan kantin itu.


“Hei, tunggu! Kalian sudah  baikan?” teriak Dafa


“Memangan kami bermusuhan?” jawab Aktara acuh.


Dafa mengaruk lehernya yang tidak gatal, bagaimana bisa Aktara berbicara


seperti itu, mereka tidak pernah saling menyapa kecuali untuk urusan kampus


itupun ala kadarnya, semua orang juga berangapan mereka bermusuhan, hanya


berpura-pura baik saja di depan umum.


***


“Sofi!” seorang wanita berteriak memanggil Sofi yang sedang duduk bersama


dua temanya yang lain.


“Lisa?” Sofi tersenyum melihat gadis itu berlari menujuh Sofi dan


teman-temanya.


“Lo kenal?” Anda menatap Sofi dengan penuh tanya, begitu juga Alif, Sofi


mengangguk cepat.


“Kenalin ini teman club kareteku, mananya Lisa, Lisa ini Anda dan ini Alif.” Sofi mengarahkan tanganya


menunjuk Anda dan Alif bergantian.


“Hai, gue Lisa.” menyalami Alif dan Anda satu persatu.


“Lo sendiri?” Sofi membuka obrolan lalu mempersilakan Lisa untuk duduk


bersama mereka.


“Iya, temen-temen gue pada gak mau ke kantin bareng.” jawab Lisa.


“Kenapa?” Anda menatap bingung.


“Gue gak terlalu akrab dengan teman sekelas gue, mereka bilang gue aneh”


Sofi, Alif dan Anda menatap Lisa binggung.


“Maksudnya?” Alif membuka suaranya yang tadi diam


“Gue-, udalah gak penting, yang penting sekarang gue kenal kalian.” Lisa


tersenyum kaku, tapi yang lain masih diam menatapnya minta penjelasan.


“Oke, mereka bilang gue aneh karena gue sering ngelamun dan tidur di


kelas terus mereka bilang gue terlalau tertutup.”


Lisa masih belum mau menceritakan mengapa ia sering melamu dan menutup


diri, itu semua karena kedua orang tuanya yang baru saja bercerai saat tepat


seminggu sebelum gadis itu masuk kuliah, hal itu membuat Lisa lebih tertutup


dan selalu memikirkan kejadian itu, Lisa terus bertanya mengapa kedua orang


tuanya bercerai, apa karena Lisa bukan anak yang baik?


“Oh...” Sofi, Alif dan Anda kompak membuyarkan lamunan Lisa.


“Lis, kamu pesen apa?” Sofi menginggatkan karena dari tadi gadis itu


hanya bercerita, sedangkan mereka sudah menghabiskan minumannya.


“Gue gak haus.” jawab Lisa cepat, benar ia tidak haus. Ia hanya ingin


mempunyai teman yang bisa diajak bicara dan sepertinya Sofi, Alif dan Anda


orang yang tepat mereka terlihat langsung akrab.


“Yakin? Gue mau pesen es jeruk lagi ni, ada yang mau nitip?” Sofi


beranjak dari tempat duduknya menuju tempat duduknya, setelah melihat tiga


temanya mengeleng.


***


Aktar berjalan menuju Sofi, gadis itu sempat memberhentikan langkahnya


sesaat menatap Aktara yang tersenyum kearahnya.


“Ini buat kamu.” Aktara menyerahkan segelas es jeruk yang telah ia beli,


tadi ia berniat meminumnya, tapi setelah mendengar Sofi ingin membeli es jeruk


lagi Aktara merasa tuhan benar-benar berpihak padanya.


“Tapi kak?”


“Diori datang,” Sofi segerah menoleh ke belakang tapi tidak ada Diori.


“Kamu takut banget sama Didi.”


Aktara tertawa kecil, melihat Sofi yang sedikit cemberut karena ulahnya.


“Aku gak takut, aku cuma takut kakak kenapa-napa nanti.” Sofi segera


mengambil segelas es jeruk di tangan Aktara


“Makasih!” Sofi berlalu


meninggalkan Aktara yang masi mematung, karena sentuhan tangan Sofi yang tadi


tidak sengaja menyentuh kulit tanganya saat mengambil jelas itu.


***


Sofi kembali duduk di meja bersama teman-temanya “Bagi dong dek.” Diori


segera mengambil es jeruk di tangan Sofi yang tinggal setengahnya, entah dari


mana laki-laki itu datangnya.


“Kakak!” Sofi protes tapi tidak di pedulikan Diori laki-laki itu segera


menghabiskan es jeruk itu, tapi sesaat kemudian Sofi tersenyum, andai Diori


tahu itu dari Aktara pasti ia akan memuntahkan minuman itu.


Sofi menoleh pada Aktara yang duduk di samping Dafa, laki-laki itu


tersenyum melihat tingkah Diori,Sofi mengejamkan mata sebelah kirinya pada


Aktar membuat laki-laki itu membeku sesaat, ‘Apa yang baru saja aku lihat? Sofi mengijapkan matanya? Apa dia tidak takut


dengan Didi?’ batin Aktar.


“Lihat apa sih dek?” Diori menatap Sofi dengan penuh selidik, Sofi


segera menoleh.


“Tidak ada.” jawab Sofi cepat, Diori tidak percaya ia melihat siapa yang


di lihat adiknya tadi dan benar Aktara sedang menunduk pura-pura mengaduk


minumanya, ‘Sial kenapa harus Tata lagi.’ Diori bergumam kesal.


***


Diori menghempas tubuh ke kasur yang empuk di kamarnya ia benar-benar


merasa lelah hari ini, karena setelah seharian belajar di kelas ia juga juga

__ADS_1


harus memimpin club sastranya, beruntung sahabatnya Beny membantunya tadi,


sehingga Diori tidak terlalu kwalahan mengatur para murid baru di club itu.


Diori memandangi lemarinya di sana tersusun rapi hadiah-hadiah yang di


berikan Aktara padanya saat ulang tahun, mulai dari mobil-mobilan,


robot-robotan hingga beberapa asesoris seperti gelang laki-laki, jam tangan dan


topi, terkadang mereka memakai barang yang sama di hari yang sama, walau mereka


mendiamkan satu sama lain.


Tahun lalu juga Aktara memberikan Diori sebuah dasi, begitu juga Diori


ia memberikan Aktara hadia setiap tahunya terkadang kado mereka sama, hanya


berbeda mode saja, tahun lalu Diori memberika Aktara sebuah pulpen yang sangat


elegan, Diori sangat menyukai pulpen itu, tapi ia tahu Aktara lebih


menyukainya, walau Diori tidak yakin Aktara menyimpan hadiah yang berikan selam


ini, perlahan senyum diori mengembang mengingat kejadian masa kecilnya.


***


Flas


Back on


“Di, itu mangganya, belum matang!” Aktara menunjuk Diori yang bertenger


di atas pohon mangga bersamanya, mereka sering melakukan itu, memanjat pohon


mangga di belakang sekolahnya, Diori tidak peduli ia terus memetik buah mangga


itu.


Setelah masing-masing memetik buah mangga satu-satu, mereka turun dari


pohon yang tidak terlalu tinggi itu, Diori mengigit kulit manga itu, bocah itu


meringis karena rasa masam dari buah yang di gigitnya, Aktara tertawa lepas


melihatnya.


“Suda aku bilang itu belum matang Di.” Aktara mengejeknya, Didi


tersenyum kecut lalu melempar buah di tangganya.


“Ini buat kamu” Aktara memberikan buah mangga yang di petiknya,


“Kamu gak gimana Ta?” Diori engan mengambil buah itu.


“Aku makan sisa kamu aja.” Aktara meraih tangan Diori lalu memberikanya,


Diori mengigit satu gigitan buah itu dan benar mangga yang Aktara petik manis,


setelah Diori mengigitnya, ia memberikanya pada Aktara, mereka terus bergantian


mengigit buah itu sampai hanya tersisia biji dan sereabut buah itu.


Keduanya tertawa lepas melihat wajah masing masing, yang terlihat kotor


karena mulut dan dagu mereka belepotan bekas buah mangga tadi.


Flas


Back Of


***


Diori ingat semua itu, mereka saling melengkapi satu sama lain seperti


saudara, walau mereka mendiamkan satu sama lain, tapi keduanya saling


memperhatikan, Diori tahu semua yang di sukai dan tidak di sukai Aktara begitu


juga sebaliknya, termasuk handuk yang kemarin di gunakan Sofi, sebenarnya ia


tahu itu handuk Aktara, ia selalu melihat laki-laki itu mengunakan handuk biru


itu, hanya Aktara yang selalu mengunakan handuk kecil berwarna biru,


kebanyakana yang lainya akan memakai warna putih.


“Di,” Median  tiba-tiba masuk


kekamar anaknya.


“Ada apa Pa?” Diori duduk  membenahi


posisinya, Median segera duduk tepat di samping anak laki-lakinya itu menepuk


bahunya pelan.


“Masih marah sama Tata?” Diori diam mendengar pertanyaan yang di


lontarkan Median.“Sofi ingin kalian berbaikan termasuk Papa”


“Kami tidak bertengkar” jawab Diori enteng.


Median tertawa mendengarnya “Papa lupa, kalian kan sahabatan.” Diori


diam, ia tidak tahu apa hubunganya dengan Aktara masih bisa diangap sahabat


seperti dulu.


“Besok, Papa mau titip sesuatu buat Tata.”


“Kenapa harus aku?” Diori protes.


“Ya sudah kau tidak mau, Papa bisa nyuru Sofi.” mata Diori membulat ia


tidak akan membiarkan Sofi dekat dengan Aktara.


“Tidak boleh, biar Didi yang kasih ke dia!”


***


Diori membawa kue coklat yang di tempatkan dalam kotak berwarna biru,


walau ayahnya sibuk di kantor, tapi di saat waktu lengang dia akan membuat


makanan apapun kesukaan anak-anaknya termasuk kue sukusaan Aktara, karena


selerah Diori dan Aktara sama.


“Kak, buat kak Tara ya?” Sofi menunjuk kotak kue yang di letakan Diori


di bangku penumpang.


Diori hanya diam tidak ingin membahas itu, ini bukan sekali atau dua


kali ayahnya menitipkan makanan untuk Aktara padanya, sebenarnya ia ingin


membuangnya, tapi biasanya ayahnya akan menghubungi Aktara menanyakan titipanya


diantarkan Dori atau tidak. Pernah sekali waktu Diori membuang titipan ayahnya


dan berakhir dengan potongan uang jajanya selama sebulan, bukan hanya potongan


tapi tidak ada uang jajan, walau Diori memiliki tabungan tetap saja itu tidak


menyenakan baginya.


“Aku juga bawa satu kotak, buat temen-temen.” Sofi menunjuk kearah


tasnya, tadi malam papanya membuat kue dengan loyang yang cukup besar, sebagian

__ADS_1


sudah di makan Diori di rumah sebelum berangkat kuliah.


__ADS_2