
Rumah itu sangat besar,
bergaya klasik dengan cat putih bersih, halamannya sangat luas, sebuah air
mancur menghiasai halamnyan itu di tengahnya dan kolam ikan di bawahnya dan
beberapa bunga menghiasi sebagai pelengkap di setiap sudut taman, terdapat
lapangan basket di bagian belakang rumah itu, dan sebuah kolam renang berukuran
cukup besar di sampingnya.
Rumah itu terdiri atas
tiga lantai, setiap yang masuk kerumah itu akan di sambut ruang tamu yang
sanagt besar dengan perabotan yang sangat mahal tentunya sebuah lampu gantung
berukuran besar berada di tengah rumah itu dan beberapa sofa berjejer, lantainya
di dominasi dengan motif catur hitam putih.
Di bagian sampingnya
juga terdapat dapur yang sangat besar dan beberapa kamar, sedangkan di lantai
dua juga terdapat ruang tamu, ruang tv dan beberapa kamar, sedangkan lantai
tiga terdapat beberapa kamar, tapi dalam tahap renovasi dan ruang keluarga.
Anisa memeluk Sofi erat
saat gadis itu datang bersama Diori dan Aktara serta dua orang suruhan
Abramahan untuk membantu mereka pindahan, sebenarnya Sofi tidak membawa banyak
barang, hanya pakaian saja dan buku pelajarannya, begitu juga Diori.
“Ini kamar kamu sayang.”
ucap Anisa pelan.
“Makasih tanate.” Sofi
menatap kamar itu, kamar yang sangat luar berukuran dua kali kamarnya, semuanya tampak mewah tapi tetep dengan gaya
elegan dan moderen, kamar itu di dominasi warna pink dan terdapat kasur empuk
berukuran besar dan beberapa boneka disana.
Sebenarnya kamar itu
awalnya kamar Aktara waktu kecil, karena kedua orang tuanya ingin mendapatkan
anak perempuan, tapi tidak bisa. Aktara sempat mengamuk, saat orang tuanya
menghias kamarnya seperti itu waktu ia pulang sekolah SD kelas lima.
Sejak saat itu Aktara
menempati kamar lain yang ada di sebelahnya, karena merasa bersalah Anisa
akhirnya mendekor kamar yang di tempati Aktara sesuai keinginanya, Anisaa
bercerita panjang lebar tentang kamar itu pada Sofi membuat gadis itu tertawa
mendengar ceritanya
“Ini kamar kamu.”
Aktara membukanan untuk Diori kamar itu di dominasi dengan warna putih warna
kesukaaan Diori.
“Kamu yang dekor?”
Diori menyipitkan matanya, semua kamar itu hampir sama percis seperti kamarnya
dulu, hanya ukuranya yang besar, Aktara mengankat bahunya, sebuah senyum
terukir dari bibirnya.
“Makasih.” Diori segera
merapikan barang-barangnya di bantu Aktara.
***
Diori sedang memeluk
Sofi di kamarnya, gadis itu menangis menginggat papanya yang sedang berada di
kantor polisi. Diori terus mencobah menenangkan adiknya itu, Diori bercerita
banyak hal, mulai dari kebiasaan Sofi kecil sampai sekarang.
“Dek kamu inget gak, dulu
kamu itu sering banget gangguin kakak main sama Tata, kakak pikir jahil kamu
itu ilang,” Diori mencubit hidung Sofi “Tapi makin kesini jahil kamu itu gak
__ADS_1
berkurang juga.” Sofi memancungkan bibirnya tanda kesal.
“Kakak ini, bukanya ngehibur,
malah ngejekin.” gumam Sofi kesal, Diori tertawa mendengarnya.
“Kamu lucu dek, kakak
sayang kamu, kakak gak bisa bayangi kalau sehari saja kamu gak gangguin kakak
pasti hidup kakak sepi.” Diori masih tertawa
“Kakak, harus bisa
bertahan, kalau Sofi pergi.” Sofi tersenyum lemah.
“Kamu itu, ngomong
seolah kamu bisa pisah sama kakak ha?” Diori mengejek.
“Idih siapa juga yang
mau sama kakak terus, Sofikan mau nikah nanti, Sofi mau ikut suami nanti.”
jawab Sofi sinis.
“Sok, sok an, kayak
punya cowok aja.” Diori mengejek
“Sofi belum pacaran, semua
karena kakak, tapi Sofi bakal cari cowok titik!”
“Cowok kamu harus
ngalahi kakak titik!” Diori kesal
“Terserah,” Sofi acuh,
“Pakaknya akau mau pacaran sama-”
“Aktara” Diori bergumam
pelan, Sofi langsung melihat kearah pintu bersamaa dengan Diori, sudah berdiri
di sana sosok Aktara yang tersenyum lebar pada keduanya.
“Sorry ganggu, waktunya makan malam, Papa sama Mama udah nunggu di
meja makan.” Ucap Aktara.
***
sangat hangat, Abraham, Anisa menganggap mereka seperti anak sendiri bukan
sebanagi tamu, semuanya bercanda, bercerita dengan hangat.
“Jadi kak Dio sering
ngajakin kak Tara kabur saat les sekolah dulu?” Sofi tidak percaya
“Ya, mereka kabur cuma
untuk nyolong mangga yang ada di samping sekolah, karena itu, om sama papa kamu
di panggil ke sekolah.” jelas Abraham, semuanya kembali tertawa, menginggat
kejadian itu, ‘Papa sudah makan belum
ya?’ Sofi bergumam melihat makanan yang tersaji diatas meja itu sangat enak.
“Sofi kamu, gak papa
dek?” Diori memperghatikan adiknya yang melamun saat makan, Diori tahu pasti
adik gadisnya teringat papa mereka. Sebenarnya Diori juga ingat papanya, ia
juga khawatir dengan kondisi Median, apa yang di makan? Papanya tidur
bagaimana? Apa papanya kedinginana atau tidak? Diori selalu memikirkanya, ia
hanya berpura-pura kuat di hadapan adiknya.
“Gak, papa kak, makanya
enak banget tante, sama kayak masakan kak Dio.” ucap Sofi mengalikan
pembicaraan.
“Benarkah? Didi bisa
masak juga ya?” tanya Abraham Antusias
“Bisa donG om, kak Dio
kan koki di rumah, sebab kak Dio kalah main caturnya.” jelas Sofi.
Abraham dan Anisa
tertawa, mendengarnya mereka tahu peraturan tidak tertulis di rumah Sofi, siapa
__ADS_1
yang kalah main catur akan menyiapkan makanan untuk yang menang.
“Catur?” gumam Aktara
binggung
“Iya, catur Ta.” Anisa
menjawab masih sambil tertawa.
“Begini saja, bagaimana
kalau besok kita main catur dan siapa yang kalah akan memasak.” usul Abraham.
“Setujuh!” ucap Sofi
dan Anisa antusias, Diori dan Aktara masih terdiam mereka bahkan saling bertatapan
satu sama lain.
***
Pagi-pagi sekali Diori
telah membangunkan adiknya untuk membantunya mengerjakan sesuatu yang mereka
kerjakan setiap pagi.
“Didi-Sofi!” Ucap Anisa
hampir berteriak, mendapati dua orang itu sedang sibuk di dapur, keduanya ikut
berbaur bersama penbantu rumah tangga yang lain, yang tampak sibuk menyiapkan
sarapan.
“Aduh, Den Dio, non
Sofi, apa bibi bilang, nyonya Anis pasti akan marah.” bisik bik Ina sambil
menunnduk, dari tadi dia melarang dua orang itu untuk tidak membantunya di dapur
tapi keduanya terus memaksa.
“Pagi tante.” Ucap Sofi
sambil tersenyum begitu juga Diori
“Pagi,” ucap Anisa
datar “Kalian ngapain, di dapur pagi-pagi begini?” Anisa sudah hampir meledak.
“Bikin sarapan tan.”
jawab Diori santai. Anisa mendengus kesal, tidak lama Abraham datang karena
mendengar keributan itu “Ada apa?”
“Ini loh pa, liat dek
kelakuan anak baru kita. Didi sama Sofi itu pagi-pagi uda sibik di dapur, bukanya
mandi siap-siap kuliah, eh malah disini.” Abraham tertawa, mendengarnya.
“Kita uda mandi kok tan.”
selah Sofi
“Kamu itu ya, berani
bantah tante!”Anisa mencubit hidung Sofi gemas “Kan uda ada bi Ina, kalian gak
harus siapin sarapan, kalian itu tamu tante, bukan cuma tamu, kalaian juga
anak-anak tante, tante cuma mau kalian nyaman tinggal disini!” jelas Anisa
panjang lebar.
“Kita nyaman kok tan,
tinggal disini, sakin nyamanya kita juga ngelakuin apa yang biasa di lakuin di
rumah.” jelas Diori dan di balas angukan Sofi.
Anisa mendengus kesal
mendengarnya, ia tidak habis pikir bagaimana Sofi dan Diori bisa menyiapkan
sarapan untuk keluarganya setiap pagi, tapi ia juga ingat apa yang di katakan
Abraham, kalau Median memang biasa mengajarkan anaknya untuk mandiri dan
melakukan semuanya sendiri.
“Sudahlah, sayang lebih
baik kamu bantuin mereka.” usul Abraham, Anisa akhirnya tersenyum lembut, ia
mengangguk lalu membantu mereka turun langsung untuk menyiapkan sarapan. Sarapan
kali ini sangat enak, semuanya menikmati sarapan mereka.
__ADS_1