Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 18


__ADS_3

Rumah itu sangat besar,


bergaya klasik dengan cat putih bersih, halamannya sangat luas, sebuah air


mancur menghiasai halamnyan itu di tengahnya dan kolam ikan di bawahnya dan


beberapa bunga menghiasi sebagai pelengkap di setiap sudut taman, terdapat


lapangan basket di bagian belakang rumah itu, dan sebuah kolam renang berukuran


cukup besar di sampingnya.


Rumah itu terdiri atas


tiga lantai, setiap yang masuk kerumah itu akan di sambut ruang tamu yang


sanagt besar dengan perabotan yang sangat mahal tentunya sebuah lampu gantung


berukuran besar berada di tengah rumah itu dan beberapa sofa berjejer, lantainya


di dominasi dengan motif catur hitam putih.


Di bagian sampingnya


juga terdapat dapur yang sangat besar dan beberapa kamar, sedangkan di lantai


dua juga terdapat ruang tamu, ruang tv dan beberapa kamar, sedangkan lantai


tiga terdapat beberapa kamar, tapi dalam tahap renovasi dan ruang keluarga.


Anisa memeluk Sofi erat


saat gadis itu datang bersama Diori dan Aktara serta dua orang suruhan


Abramahan untuk membantu mereka pindahan, sebenarnya Sofi tidak membawa banyak


barang, hanya pakaian saja dan buku pelajarannya, begitu juga Diori.


“Ini kamar kamu sayang.”


ucap Anisa pelan.


“Makasih tanate.” Sofi


menatap kamar itu, kamar yang sangat luar berukuran dua kali kamarnya,  semuanya tampak mewah tapi tetep dengan gaya


elegan dan moderen, kamar itu di dominasi warna pink dan terdapat kasur empuk


berukuran besar dan beberapa boneka disana.


Sebenarnya kamar itu


awalnya kamar Aktara waktu kecil, karena kedua orang tuanya ingin mendapatkan


anak perempuan, tapi tidak bisa. Aktara sempat mengamuk, saat orang tuanya


menghias kamarnya seperti itu waktu ia pulang sekolah SD kelas lima.


Sejak saat itu Aktara


menempati kamar lain yang ada di sebelahnya, karena merasa bersalah Anisa


akhirnya mendekor kamar yang di tempati Aktara sesuai keinginanya, Anisaa


bercerita panjang lebar tentang kamar itu pada Sofi membuat gadis itu tertawa


mendengar ceritanya


“Ini kamar kamu.”


Aktara membukanan untuk Diori kamar itu di dominasi dengan warna putih warna


kesukaaan Diori.


“Kamu yang dekor?”


Diori menyipitkan matanya, semua kamar itu hampir sama percis seperti kamarnya


dulu, hanya ukuranya yang besar, Aktara mengankat bahunya, sebuah senyum


terukir dari bibirnya.


“Makasih.” Diori segera


merapikan barang-barangnya di bantu Aktara.


***


Diori sedang memeluk


Sofi di kamarnya, gadis itu menangis menginggat papanya yang sedang berada di


kantor polisi. Diori terus mencobah menenangkan adiknya itu, Diori bercerita


banyak hal, mulai dari kebiasaan Sofi kecil sampai sekarang.


“Dek kamu inget gak, dulu


kamu itu sering banget gangguin kakak main sama Tata, kakak pikir jahil kamu


itu ilang,” Diori mencubit hidung Sofi “Tapi makin kesini jahil kamu itu gak

__ADS_1


berkurang juga.” Sofi memancungkan bibirnya tanda kesal.


“Kakak ini, bukanya ngehibur,


malah ngejekin.” gumam Sofi kesal, Diori tertawa mendengarnya.


“Kamu lucu dek, kakak


sayang kamu, kakak gak bisa bayangi kalau sehari saja kamu gak gangguin kakak


pasti hidup kakak sepi.” Diori masih tertawa


“Kakak, harus bisa


bertahan, kalau Sofi pergi.” Sofi tersenyum lemah.


“Kamu itu, ngomong


seolah kamu bisa pisah sama kakak ha?” Diori mengejek.


“Idih siapa juga yang


mau sama kakak terus, Sofikan mau nikah nanti, Sofi mau ikut suami nanti.”


jawab Sofi sinis.


“Sok, sok an, kayak


punya cowok aja.” Diori mengejek


“Sofi belum pacaran, semua


karena kakak, tapi Sofi bakal cari cowok titik!”


“Cowok kamu harus


ngalahi kakak titik!” Diori kesal


“Terserah,” Sofi acuh,


“Pakaknya akau mau pacaran sama-”


“Aktara” Diori bergumam


pelan, Sofi langsung melihat kearah pintu bersamaa dengan Diori, sudah berdiri


di sana sosok Aktara yang tersenyum lebar pada keduanya.


“Sorry ganggu, waktunya makan malam, Papa sama Mama udah nunggu di


meja makan.” Ucap Aktara.


***


sangat hangat, Abraham, Anisa menganggap mereka seperti anak sendiri bukan


sebanagi tamu, semuanya bercanda, bercerita dengan hangat.


“Jadi kak Dio sering


ngajakin kak Tara kabur saat les sekolah dulu?” Sofi tidak percaya


“Ya, mereka kabur cuma


untuk nyolong mangga yang ada di samping sekolah, karena itu, om sama papa kamu


di panggil ke sekolah.” jelas Abraham, semuanya kembali tertawa, menginggat


kejadian itu, ‘Papa sudah makan belum


ya?’ Sofi bergumam melihat makanan yang tersaji diatas meja itu sangat enak.


“Sofi kamu, gak papa


dek?” Diori memperghatikan adiknya yang melamun saat makan, Diori tahu pasti


adik gadisnya teringat papa mereka. Sebenarnya Diori juga ingat papanya, ia


juga khawatir dengan kondisi Median, apa yang di makan? Papanya tidur


bagaimana? Apa papanya kedinginana atau tidak? Diori selalu memikirkanya, ia


hanya berpura-pura kuat di hadapan adiknya.


“Gak, papa kak, makanya


enak banget tante, sama kayak masakan kak Dio.” ucap Sofi mengalikan


pembicaraan.


“Benarkah? Didi bisa


masak juga ya?”  tanya Abraham Antusias


“Bisa donG om, kak Dio


kan koki di rumah, sebab kak Dio kalah main caturnya.” jelas Sofi.


Abraham dan Anisa


tertawa, mendengarnya mereka tahu peraturan tidak tertulis di rumah Sofi, siapa

__ADS_1


yang kalah main catur akan menyiapkan makanan untuk yang menang.


“Catur?” gumam Aktara


binggung


“Iya, catur Ta.” Anisa


menjawab masih sambil tertawa.


“Begini saja, bagaimana


kalau besok kita main catur dan siapa yang kalah akan memasak.” usul Abraham.


“Setujuh!” ucap Sofi


dan Anisa antusias, Diori dan Aktara masih terdiam mereka bahkan saling bertatapan


satu sama lain.


***


Pagi-pagi sekali Diori


telah membangunkan adiknya untuk membantunya mengerjakan sesuatu yang mereka


kerjakan setiap pagi.


“Didi-Sofi!” Ucap Anisa


hampir berteriak, mendapati dua orang itu sedang sibuk di dapur, keduanya ikut


berbaur bersama penbantu rumah tangga yang lain, yang tampak sibuk menyiapkan


sarapan.


“Aduh, Den Dio, non


Sofi, apa bibi bilang, nyonya Anis pasti akan marah.” bisik bik Ina sambil


menunnduk, dari tadi dia melarang dua orang itu untuk tidak membantunya di dapur


tapi keduanya terus memaksa.


“Pagi tante.” Ucap Sofi


sambil tersenyum begitu juga Diori


“Pagi,” ucap Anisa


datar “Kalian ngapain, di dapur pagi-pagi begini?” Anisa sudah hampir meledak.


“Bikin sarapan tan.”


jawab Diori santai. Anisa mendengus kesal, tidak lama Abraham datang karena


mendengar keributan itu “Ada apa?”


“Ini loh pa, liat dek


kelakuan anak baru kita. Didi sama Sofi itu pagi-pagi uda sibik di dapur, bukanya


mandi siap-siap kuliah, eh malah disini.” Abraham tertawa, mendengarnya.


“Kita uda mandi kok tan.”


selah Sofi


“Kamu itu ya, berani


bantah tante!”Anisa mencubit hidung Sofi gemas “Kan uda ada bi Ina, kalian gak


harus siapin sarapan, kalian itu tamu tante, bukan cuma tamu, kalaian juga


anak-anak tante, tante cuma mau kalian nyaman tinggal disini!” jelas Anisa


panjang lebar.


“Kita nyaman kok tan,


tinggal disini, sakin nyamanya kita juga ngelakuin apa yang biasa di lakuin di


rumah.” jelas Diori dan di balas angukan Sofi.


Anisa mendengus kesal


mendengarnya, ia tidak habis pikir bagaimana Sofi dan Diori bisa menyiapkan


sarapan untuk keluarganya setiap pagi, tapi ia juga ingat apa yang di katakan


Abraham, kalau Median memang biasa mengajarkan anaknya untuk mandiri dan


melakukan semuanya sendiri.


“Sudahlah, sayang lebih


baik kamu bantuin mereka.” usul Abraham, Anisa akhirnya tersenyum lembut, ia


mengangguk lalu membantu mereka turun langsung untuk menyiapkan sarapan. Sarapan


kali ini sangat enak, semuanya menikmati sarapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2